NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Sedikit Gejolak

Bagaga Alam turun dari kudanya. Ni Kirana juga segera turun.

"Mereka mestinya dari padepokan silat yang cukup kuat, Tapak Watu  itu Kang mas." Ni Kirana berbisik kepada Bagaga Alam.

Palimo Alam melangkah menuju Danang Wesi yang telah mengisi pojok lain. Berseberangan dengan kelompok pendekar muda padepokan Tapak Watu. Danang sempat mengangguk kepada kelompok pendekar muda dari padepokan Tapak Watu. Namun diacuhkan begitu oleh para pendekar muda itu.

Namun ketika melihat Ni Kirana berjalan menuju Danang Wesi bersama Bagaga Alam. Mata semua pendekar muda itu melotot melihat kecantikan Ni Kirana.

Ni Kirana sudah mau memaki orang orang itu. Tapi akhirnya dia menahan diri karena Bagaga Alam menyentuh punggung tangannya.

Ni Kirana menghembuskan nafas besar dan berjalan sambil memegang lengan Bagaga Alam. Dia sengaja melakukan itu, tidak jelas apa maksudnya.

Namun para pendekar muda dari padepokan Tapak Watu malah dengan sengaja mengganggu gadis cantik itu.

Pria yang menggunakan ikat kepala warna kuning melihat Ni Kirana lekat lekat. Dia menjelajahi lekuk tubuh Ni Kirana dengan niat penuh hasrat. Ni Kirana merasa jijik melihat kumpulan para pendekar muda padepokan Tapak Watu.

Namun gadis cantik itu kembali menahan diri, karena tepukan dipunggung tangannya yang memegang lengan Bagaga Alam.

Danang Wesi mengeluarkan tiga ekor ayam hutan yang sudah dibersihkan dari kantong penyimpanan.

Wangi aroma ayam hutan bakar mulai tercium. Beberapa orang mulai sering melihat kearah Danang Wesi memanggang ayam hutan.

Ni Kirana mengeluarkan beberapa makanan kecil kopi. Melihat semua itu dua orang dari lima orang pendekar muda padepokan Tapak Watu bangkit mendekati Danang Wesi, Ni Kirana dan Bagaga Alam.

"Serahkan dua ekor ayam panggang yang kalian buat untuk kami...?" Bagaga Alam tidak peduli dengan dua orang pendekar muda itu. Begitu juga dengan Ni Kirana. Gadis cantik itu sibuk menyeduh kopi untuk Bagaga Alam dan Danang Wesi.

Salah satu dari dua pendekar muda itu melihat kearah Ni Kirana dan berucap.

"Neng cantik. Bikinkan lima kopi untuk kami. Setelah itu kau ikut t kami untuk menemani kakang Ngadir ngopi sambil menikmati ayam panggang."

Ni Kirana tidak peduli. Gadis cantik itu melirik sedikit lalu bicara dengan Bagaga Alam.

"Kang mas Bagaga. Aku kok seperti mendengar anjing buduk koreng menggonggong ya Kang mas...?"

"Oouh  yaaa ??"

Dua orang itu sangat kesal mendengar ucapan Ni Kirana dan Bagaga Alam. "Perempuan kurang ajar. Siapa yang kau maksud dengan anjing buduk koreng ?"

Ni Kirana melihat dua pria itu dengan tatapan aneh.

"Aku tidak bicara dengan kalian. Aku bicara dengan Kang mas ku. Apakah kalian berfikir kalian adalah anjing buduk koreng ?"

Tentu saja dua pendekar muda itu terperangah. Mulut mereka sudah terbuka hendak bicara. Namun tidak jadi karena didahului oleh Ni Kirana.

"Heh... Kalian memandang diri kalian terlalu tinggi."

"@#*????!!"

Kedua pendekar muda tidak bisa bicara, saking kesalnya. Mereka tertawa keras dan sumbang karena marah. Bagaimana tidak, bukankah kalimat Ni Kirana sangat menghina, sangat sangat melecehkan mereka. Memandang diri sendiri lebih tinggi dari anjing buduk koreng ?#>??!

"Kau...!!  Gadis kurang ajar. Nyawamu saja, tidak akan pernah cukup untuk membayar pelecehan mu...!"

"Kau berani menghina kami ? Kami adalah pendekar muda padepokan Tapak Watu....!!  Tidak cukup hanya dengan nyawamu membayar penghinaan ini." Dua orang itu bicara bergantian dengan wajah menghitam karena marah.

"Oh yaa ?  Jadi benar berita yang kini beredar. Kalian yang mengaku pendekar muda padepokan Tapak Watu. Sering bertindak sebagai penjahat. Kalianlah yang merusak nama baik padepokan Tapak Watu. Kalian pula yang menghancurkan nama baik padepokan Tapak Watu sehingga padepokan yang dulu dikenal sebagai salah satu aliran tengah kini mulai dipandang sebagai aliran hitam."

Ni Kirana bicara panjang lebar. Dua pendekar muda itu tidak lagi bicara banyak. "Kalau begitu kalian semua akan mati disini."

"Jangan disini. Mari kita keluar jika benar kau laki laki." Ucap Ni Kirana sambil berjalan keluar dengan lenggok yang dibuat buat.

Dua orang yang mengaku sebagai pendekar muda padepokan Tapak Watu segera menyusul. Mereka berdiri berhadapan dengan posisi kuda-kuda tempur mereka.

Danang Wesi merapikan panggangan yang sudah matang. Dia segera bangkit berdiri untuk melihat kearah pertarungan yang mulai pecah.

Dua orang pendekar muda sekarang mencabut golok yang tergantung di pinggang mereka. Tanpa banyak bicara langsung menyerang Ni Kirana.

Whuuuuzzt...!

Whuaaaaaaaaamm...!

Suara udara terbelah kencang ketika golok dua pendekar muda itu menderu menuju Ni Kirana.

Menggunakan jurus dua belas langkah ajaib tingkat dasar, Ni Kirana menghindar dari dua serangan dengan mudah. Kedua pendekar muda itu cukup kaget.

"Hooooh... Ternyata kau punya sedikit kepandaian. Sehingga begitu kurang ajar. Sekarang kami tidak lagi main main." Kedua pria yang mengaku pendekar muda.

Danang Wesi dan para pedagang babelok telah berdiri di pinggir pondok singgah untuk menonton pertarungan. Tiga orang pendekar muda yang lain juga sudah berdiri di luar. Wajah mereka serius melihat kearah pertarungan Ni Kirana dan dua rekan mereka.

Tiba-tiba semua orang dikejutkan oleh suara Danang Wesi.

"Yayi Kirana, bereskan dengan cepat. Biar kita bisa segera makan  malam bersama."

Ni Kirana mengangguk dan mencabut pedangnya.

"Kalian berdua majulah. Aku tidak akan main main lagi."

Niat membunuh muncul merebak dari dua pendekar muda padepokan Tapak Watu. Mereka kembali menyerang. Kekuatan serangan mereka meningkat dua kali lebih kuat dari sebelumnya.

Ni Kirana bergerak dengan cepat. Dia meliuk menghindar. Pedang ditangannya mengayun, membuat jejak melebar diudara.

Slaaaaaassshh...!!

Satu dari dua pendekar muda itu menjerit ketika pedang Ni Kirana merobek punggungnya.

Pendekar muda itu segera berbalik dan menyerang lebih ganas. Namun serangan tentulah tidak sempurna karena sudah terluka.

Craasssh...!  Aaakkhhh...!!

Pendekar muda itu kembali menjerit dan terdorong beberapa langkah dan terjatuh. Satu luka baru melintang di dadanya.

"Huh ternyata hanya segitu saja. Kenangan doang yang gede." Ni Kirana mendengus.

"Kau sungguh keterlaluan dan harus membayar mahal atas semua ini." Dua orang pendekar muda yang lain ikut maju.

Kini Ni Kirana dikurung oleh empat orang pendekar muda. Gadis cantik itu tetap tenang.

"Hm bagus. Hai kau...!!" Ni Kirana menunjuk orang terakhir dari pendekar muda dengan pedang nya.

Wajah pria itu langsung mengeras dan dia ikut melangkah maju.

"Melihat keganasan mu. Kau cocok sekali menjadi selir ku untuk menghangatkan malam malam ku."

Pria muda itu bicara dengan nada cukup menyakitkan. Wajah cantik Ni Kirana memerah mendengar ucapan pria itu.

"Dasar lelaki hina. Aku akan merobek mulutnya." Ni Kirana mendesis.

Gadis cantik itu segera bergerak maju dan membuat serangan. Pedangnya meliuk menyambar mulut pria itu.

Zhuiiiiiinng....!!

Suara tajam terdengar saat pedang membelah udara tipis.

\=\=\=\=\=***\=®

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!