NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Tiga Miliar Rupiah

Hanya keputusan yang berjalan tanpa menoleh lagi.

Keesokan sore, Jakarta macet seperti biasa, tetapi apartemen Keira terasa lebih sunyi dari biasanya.

Rayhan masih di Jerman. Pesannya tentang kejutan belum Keira balas. Di layar laptopnya, folder "Rencana Kepergian" sudah berisi daftar yang terlalu rapi: pengunduran diri dari unit Jakarta, transfer internal ke HEALER Surabaya, jadwal pemindahan Safira ke rumah sakit swasta di Surabaya, dan daftar barang Rayhan yang harus dikembalikan.

Keira baru pulang kerja ketika melihat seorang perempuan paruh baya berdiri di depan pintu apartemennya.

Perempuan itu mengenakan kebaya modern warna krem, tas kulit mahal, dan wajah yang terlalu anggun untuk koridor apartemen staf. Dua pengawal berdiri beberapa langkah di belakang, tidak mencolok tetapi jelas bukan penghuni gedung.

Keira berhenti.

Perempuan itu menoleh.

"Keira Salim?"

"Ya."

"Saya Lilian Hartono. Ibunya Rayhan."

Tidak ada kejutan di wajah Keira. Setelah semua yang terjadi, kedatangan Lilian justru terasa terlambat.

"Silakan masuk, Tante."

Lilian tampak sedikit terkejut oleh panggilan itu. Mungkin ia mengira Keira akan gugup, atau tersinggung, atau pura-pura tidak tahu siapa dirinya. Keira hanya membuka pintu, menyalakan lampu ruang tamu, dan mempersilakannya duduk.

Apartemen itu kecil, rapi, dan bersih. Sofa abu-abu, meja kecil, rak buku, beberapa botol sampel parfum, dan satu vas kaca berisi bunga putih yang mulai layu. Tidak ada kemewahan mencolok. Tidak ada barang yang berteriak tentang uang Rayhan, kecuali mungkin kesunyian yang terlalu teratur.

Lilian duduk, matanya memeriksa ruangan.

Ia terbiasa melihat perempuan mendekati Rayhan dengan tanda-tanda yang mudah dibaca: tas baru yang dipamerkan, jam tangan mahal di foto, apartemen yang tiba-tiba naik kelas. Di ruangan Keira, yang paling mencolok justru map kerja, sandal rumah sederhana, dan mug retak kecil di dekat wastafel dapur.

Itu membuat Lilian lebih tidak nyaman daripada kemewahan.

"Kamu tinggal di sini?"

"Ya."

"Rayhan tidak membelikan tempat yang lebih layak?"

"Ini cukup."

"Siapa yang mengurus rumah?"

"Saya."

Keira tidak mengatakan bahwa Rayhan pernah memasak bubur gagal di dapur kecil itu. Tidak mengatakan bahwa pria yang sama pernah tidur di sofa, pernah memanjat jendela, pernah membuat ruangan ini terasa penuh dan sesak sekaligus. Beberapa hal tidak perlu diberikan kepada Lilian untuk dinilai.

Lilian membuka tas. Dari dalamnya, ia mengeluarkan map bank dan satu lembar dokumen transfer.

"Tiga miliar rupiah," katanya. "Bisa ditransfer hari ini juga. Atau tunai bertahap kalau kamu lebih nyaman. Tinggalkan Rayhan."

Keira duduk di seberangnya.

Ia bahkan tidak menuang teh, karena percakapan ini tidak datang sebagai kunjungan biasa.

"Tante datang sendiri untuk ini?"

"Aku datang sebagai ibunya."

"Kalau begitu Tante seharusnya tahu Rayhan bukan anak kecil yang bisa dipindahkan dengan uang."

Mata Lilian menajam. "Jangan balikkan pembicaraan. Uang ini untukmu."

"Saya tidak membutuhkannya."

"Semua orang membutuhkan uang."

"Tidak semua orang menjual keputusan."

Lilian tersenyum dingin. "Kamu pikir tiga miliar terlalu sedikit?"

"Saya pikir Tante salah membaca saya."

Untuk pertama kalinya, Lilian benar-benar menatap Keira. Perempuan muda di depannya tidak memakai perhiasan mahal, tidak menangis, tidak marah, dan tidak menatap map bank dengan mata lapar. Ia duduk tegak, tangan di pangkuan, seperti orang yang sedang menerima tamu biasa, bukan penawaran yang bisa mengubah hidup banyak orang.

"Rayhan butuh istri dari keluarga yang setara," kata Lilian.

"Setara dalam apa?"

"Latar belakang. Pendidikan keluarga. Nama. Jaringan. Seseorang yang tidak membuatnya berperang dengan darahnya sendiri."

"Vanessa Tanujaya?"

"Vanessa pilihan yang masuk akal."

Keira menatapnya tenang. "Vanessa Tanujaya bukan pilihan yang tepat untuk Rayhan."

Lilian mengangkat alis. "Dan kamu pikir kamu tepat?"

"Saya tidak bilang begitu."

"Lalu kenapa kamu masih di sisinya?"

Pertanyaan itu seharusnya mudah. Karena rencana. Karena balas dendam. Karena Rayhan berguna. Jawaban-jawaban itu pernah cukup. Namun sore itu, di depan Lilian, Keira tidak bisa mengeluarkannya.

"Karena ada masa ketika saya memilih tetap tinggal," jawabnya akhirnya.

"Masa itu selesai?"

Keira menatap map bank di meja. Tiga miliar rupiah. Angka yang bisa merenovasi Panti Asuhan Kasih Sayang, membiayai perawatan Safira bertahun-tahun, membeli hidup baru yang lebih ringan. Namun jika ia menerima uang ini, semua rasa sakit Safira, semua strategi, semua malam bersama Rayhan, akan diringkas menjadi transaksi kotor yang Lilian inginkan.

Keira mendorong map itu kembali.

"Saya akan meninggalkannya," katanya.

Lilian terdiam.

"Bukan karena uang Tante. Bukan karena Tante meminta. Tapi karena memang sudah waktunya."

Kemenangan yang disiapkan Lilian mendadak kehilangan bentuk. Ia datang membawa uang untuk membeli kepergian. Namun perempuan di depannya sudah memilih pergi sebelum dibeli.

"Kamu tidak akan meminta apa pun?"

"Tidak."

"Rumah? Saham? Perlindungan?"

"Tidak."

"Kamu pikir pergi tanpa apa-apa membuatmu lebih mulia?"

"Tidak. Hanya lebih bersih."

Lilian menatapnya lama. Sesuatu di wajahnya berubah, sangat kecil, hampir tidak terlihat. Bukan suka. Belum. Mungkin hanya retak tipis pada prasangka.

"Rayhan tidak tahu aku datang," kata Lilian.

"Saya tahu."

"Jangan beri tahu dia."

"Tante tidak perlu khawatir. Saya juga tidak sedang banyak bicara dengannya."

Kalimat itu membuat Lilian sedikit menunduk. Ia teringat koridor rumah sakit, Rayhan yang duduk seminggu tanpa tidur cukup, ponsel di tangan tetapi tidak pernah menekan kirim. Untuk sesaat, ia hampir mengatakan sesuatu. Lalu ia menutup map bank.

"Kalau kamu benar pergi," kata Lilian, "pergilah dengan tenang. Jangan buat Rayhan hancur."

Keira berdiri. "Tante meminta hal yang terlambat."

Lilian tidak menjawab.

Setelah Lilian pergi, apartemen kembali sunyi. Keira mengunci pintu, lalu berdiri beberapa detik dengan tangan masih di kenop. Bau parfum mahal Lilian tertinggal di ruang tamu, dingin dan rapi.

Keira membuka laptop.

Kevin sudah mengirim dua opsi final.

Opsi pertama: beasiswa luar negeri untuk riset parfum, dengan jalur pemindahan Safira menyusul setelah kondisi administrasi aman.

Opsi kedua: transfer internal ke HEALER Surabaya, mulai bulan depan, dengan pemindahan Safira ke rumah sakit swasta di Surabaya dalam satu paket koordinasi medis.

Keira memilih opsi kedua.

Ia tidak ingin meninggalkan Safira terlalu jauh. Ia juga tidak ingin pergi ke tempat yang membuat semua orang menyebutnya kabur. Surabaya cukup jauh dari Rayhan, cukup dekat untuk tetap menjaga Fira, dan cukup besar untuk memulai hidup yang tidak memakai nama Hartono sebagai atap.

Pesan dari Rayhan masuk saat ia membuka folder "Rencana Kepergian."

Ada kejutan untukmu. Aku tidak sabar pulang.

Keira membaca pesan itu lama.

Lalu ia memindahkan kursor ke dokumen jadwal pemindahan Safira dan mulai mengisi tanggal keberangkatan mereka dari Jakarta diam-diam.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!