Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Sikap tak sopan Li Mei membuat tabib istana langsng menghentikan pengobatannya, para tabib istana juga cukup heran dengan wajah Li Mei yang sulit di obati.
"Menteri Li, Aku menyerah. Penawaran racun terhebat yang aku punya pun tidak mampu menjinakkannya, Aku rasa putri mu tidak akan bisa di sembuhkan, " ujar tabib istana dengan serius.
Mendengar itu Li Mei yang sudah tidak tahan menahan panas perih di wajahnya langsung pingsan karena syok, Li Mei tidak terima dengan diagnosa tabib istana hingga jatuh pingsan.
Menteri Li juga sangat marah rasanya ingin menghabisi tabib yang tidak berguna di hadapannya. Tapi ia harus menahan diri, tidak boleh gegabah.
Para tabib istana berpamitan pulang, meski tidak menyembuhkan tapi tetap saja menteri Li harus membayar.
...****************...
"Di mana dia?! Di mana kakek tua itu?!" raung Menteri Li di tengah aula.
Keputusasaan melanda . Tabib-tabib lain yang didatangkan hanya bisa menggeleng kepala, bahkan ada yang tertular gatal-gatal karena ceroboh.
Suasana siang hari di kediaman Menteri Li benar-benar memilukan. Li Mei meraung histeris sambil memukul-mukul lantai kamarnya yang mewah. Wajahnya yang dulu ia banggakan kini ditutupi kain sutra tebal yang mulai basah oleh rembesan cairan luka.
"Ayah! Cari kakek itu! Aku tidak mau menikah dengan Tuan Muda Wang dalam keadaan seperti ini! Aku akan jadi bahan tertawaan seluruh ibu kota!" teriaknya parau.
Menteri Li tampak menua sepuluh tahun dalam semalam. Menteri Li sudah mengirim puluhan pengawal untuk menggeledah setiap sudut kota, setiap gubuk tua, hingga ke hutan-hutan terpencil hanya untuk mencari jejak si kakek petapa.
Namun hasilnya nihil. Tabib Agung itu seolah lenyap ditelan bumi saat matahari terbit. Keputusasaan begitu kental menyelimuti kediaman itu pelayan-pelayan menangis ketakutan karena terus-menerus disalahkan, sementara sang Selir pingsan berkali-kali karena rasa gatal yang membakar kulitnya.
Namun, begitu matahari terbenam, dan bulan mulai naik, suasana di pasar gelap berubah drastis.
Kabut tipis menyelimuti lapak kayu tua di bawah pohon ginkgo. Tiba-tiba, sesosok pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah abu-abu sederhana duduk tenang di sana. Di sampingnya stands Ji Yu yang memakai caping bambu, terlihat gagah namun tetap patuh.
"Tabib Agung! Beliau datang! Dewa penolong telah kembali!" seru seorang pria yang sudah menunggu sejak sore.
Orang-orang langsung mengerumuni lapak itu seperti semut yang menemukan gula. Mereka yang sudah putus asa siang tadi kini menatap si kakek dengan pandangan penuh puja, seolah ia adalah satu-satunya harapan di dunia yang gelap ini.
Li Zie, di balik janggut ekor kudanya. Namun, matanya langsung berbinar saat seorang bangsawan menjatuhkan dua kantong berat berisi emas di mejanya.
KLING!
"Seratus keping emas! Tolong Ibu saya, Tabib Agung!"
Li Zie berdehem, mencoba menjaga wibawa kakek petapa nya meski hatinya ingin bersorak melihat tumpukan emas itu.
"Tenanglah... Emas adalah kunci, tapi ketulusan adalah jalan," ujar tabib agung dengan suara berat yang menenangkan.
Di antara kerumunan itu, beberapa pengawal Menteri Li yang menyamar tampak terengah-engah. Mereka langsung berlari kembali ke kediaman utama untuk melaporkan bahwa Sang Dewa Penolong telah menampakkan diri.
"Lapor! Tabib Agung ada di pasar gelap! Tapi dia mematok harga selangit! Dan kami mendengar jika tabib agung tidak bisa di bawa ke kediaman, Tuan. " ujar penjaga.
Menteri Li yang mendengar laporan itu langsung bangkit dengan mata merah, dan berteriak, "Siapkan lima ratus koin emas! Ambil dari kas pribadi! Kita harus mendapatkannya malam ini juga sebelum ia menghilang lagi!"
Malam semakin larut di pasar gelap, namun suasana di lapak Tabib Agung justru semakin panas. Di tengah kerumunan, muncul dua sosok wanita yang mengenakan jubah hitam lebar dan cadar yang sangat rapat, menutupi seluruh wajah hingga leher mereka.
Gerak-gerik mereka sangat gelisah, terus-menerus menunduk seolah takut ada yang mengenali identitas mereka sebagai Selir dan Putri Menteri Li.
"Minggir! Beri jalan!" bisik seorang pelayan pria yang mengawal mereka dengan suara ditekan.
Begitu sampai di depan meja Li Zie, sang Selir meletakkan sebuah kotak kayu jati yang berat. Saat dibuka, cahaya kuning berkilau dari lima ratus keping koin emas menerangi wajah kakek petapa.
"Tabib... mohon tolong kami. Kami memiliki penyakit kulit yang sangat menyiksa. Sembuhkan kami sekarang, dan emas ini milikmu," ujar Selir dengan suara yang gemetar menahan gatal.
Li Zie di balik penyamarannya hampir saja tertawa terbahak-bahak. "Wah, lima ratus koin emas! Benar-benar dompet berjalan," batinnya girang.
Matanya melirik Li Mei yang berdiri di belakang ibunya, tubuhnya gemetar hebat menahan keinginan untuk menggaruk wajahnya yang bernanah di balik cadar.