NovelToon NovelToon
Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Dark Romance / Tamat
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Larissa Marcelle

Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.

Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".

Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 - Ingin Berciuman

...ADALBERTO FERRAZ...

Setelah kejadian di pesta pertunangan, aku sadar Fiorella dalam bahaya di Australia ini. Argo Romanov memang sangat berkuasa, tapi sisi buruknya adalah musuh-musuhnya. Aku sudah bicara dengan banyak orang dan bisa memastikan dia salah satu pria paling kejam yang memimpin sebuah mafia. Mengelola organisasi penyelundup senjata memang berbahaya. Jared Romanov tampaknya anak muda yang tidak peduli pada bisnis ayahnya. Dia juga tidak mau bicara denganku, padahal aku calon besannya.

Loretha Romanov berbeda, dia tampak sangat peduli pada keluarga, dan aku melihatnya sendiri waktu dia menyusul putriku di pesta. Tapi keputusanku sudah bulat, aku bayar berapa pun untuk membawa Fiorella pulang bersamaku. Meninggalkannya di sini dengan hati was-was, takut terjadi sesuatu padanya, membuatku tidak bisa tidur semalaman.

Kukira dia akan berseri-seri mendengar kabar itu, tapi sesaat dia ragu. Putriku sempat bimbang apakah mau pulang ke Jerman. Kemarin dia sudah mantap, hari ini dia bimbang.

"Dari mana kamu?" tanyaku saat melihat Jonah mendekati ruangan.

"Keliling aja, Pa. Fiorella mana?"

"Di dalam bersama Argo."

"Bersama Argo?"

"Papa juga tidak suka ini. Apa yang mau dibicarakan seorang gadis berdua saja dengan pria seperti dia?"

"Tenang, Pa. Fiorella bukan cewek seperti itu."

"Papa tahu, Jonah, justru itu yang menenangkan Papa."

"PAPA?" Kami masuk ke ruangan tepat saat dia berteriak.

"Sudah memutuskan, Nak?" Argo, yang tadi berdiri, kembali ke kursinya.

"Sudah, Papa."

"Nah, Dik. Ayo pulang?"

"Aku akan menikah dengan Jared Romanov."

"Kamu yakin, Fiorella?" Jonah memegang wajah adiknya. "Kamu baik-baik saja? Kepalamu terbentur?"

Aku mengaku, aku tidak tahu apa yang merasuki Fiorella sampai dia mau tinggal, setelah begitu keras menolak menikah. Aku cemas, tapi juga senang. Kalau dia mundur, aku akan rugi banyak uang, dan itu buruk bagi Don, bosku di Jerman.

Kukeluarkan ponsel baru dari saku dan kuberikan padanya.

"Kamu yakin?" tanyaku sambil mencium kepalanya.

"Yakin, Pa. Aku akan merindukan Papa dan Jonah."

"Papa juga, Sayang, Papa sangat menyayangimu. Papa akan meneleponmu setiap malam, simpan ponselnya di dekatmu."

Aku menoleh ke Argo Romanov.

"Jaga putriku baik-baik." Kami berjabat tangan.

"Dia akan dijaga dengan baik, Adalberto Ferraz. Kalian sudah ditunggu di bawah."

"Terima kasih atas keramahannya, Argo."

"Kita bertemu sebulan lagi untuk pernikahan?"

"Kita bertemu sebulan lagi."

...FIORELLA FERRAZ...

Sejak hari Papa pergi, aku merasa benar-benar sendirian di sini. Rumah penuh pegawai dan penjaga di gerbang, mengawasi siapa pun yang keluar masuk. Aku seperti Rapunzel yang terkurung di kamar ini. Aku ingin bicara dengan seseorang seusiaku yang bukan Jared. Aku ingin kuliah, sesuatu untuk melupakan dunia kriminal tempatku hidup.

Aku mengurung diri di kamar sambil menonton film, "menonton film", itu sudah jadi rutinitas. Aku mulai menonton serial-serial yang membangkitkan gairah, sesuatu yang tak pernah kubayangkan seminggu lalu. Dan adegan-adegan seks itu sangat mengusikku, bahkan sampai ke kepalaku, karena aku tidak bisa melupakan si pitbull galak Argo Romanov. Lagi pula, karena dialah aku memutuskan tinggal, juga karena takut dinikahkan dengan Victor. Tapi waktu dia mengucapkan kata-kata itu: "Semua ucapanku kamu bantah, perintahku kamu langgar. Kamu kurang ajar dan aku tidak mau membesarkan anak pemberontak kedua". Aku terangsang mendengarnya. Aku tidak takut pada wajah galak itu, aku ingin dia menyentuhku. Semua ini baru bagiku dan aku tidak bisa mengabaikan perasaanku lalu mengambil risiko menikah dengan seorang tua pemarah di Jerman.

Tubuhku tidak bereaksi pada Jared seperti saat aku hanya memikirkan ayahnya. Andai aku bisa keluar dan bertemu cowok-cowok lain. Aku harus tahu apakah aku merasakan ini hanya pada Argo atau juga pada pria lain. Aku ingin mengenal diriku sendiri, mengenal tubuhku, dan membayangkan Jared akan jadi orang pertama yang memilikiku saja sudah membuatku marah. Aku tidak mau dia yang pertama menyentuhku.

Sambil memikirkannya, kuambil ponsel dan mulai mencari tentang ciuman, "cara belajar berciuman". Hasil pencarian membawaku ke seorang gadis yang bilang cara terbaik belajar berciuman adalah di punggung tangan. Kudekatkan tanganku ke mulut, tapi aku malu bahkan hanya membayangkan melakukannya. Sial! Aku 18 tahun dan belum bisa berciuman. Aku mulai malu pada diri sendiri.

Jared tampan, dan walaupun aku tidak mau kehilangan keperawananku padanya, soal bibir perawan tidak masalah. Mungkin kalau aku mencium tunanganku, aku akan merasakan sesuatu padanya.

Ide itu terus menempel di kepalaku, mencium Jared pasti menyenangkan, dan aku ingin melakukannya secepat mungkin. Kenapa tidak terpikir dari tadi? Cuma sebuah ciuman, akan berlangsung sangat singkat.

Kumatikan TV di kamar dan mandi dengan santai, menyikat gigi baik-baik, dan memakai baju yang manis dan agak pendek supaya dia tidak sanggup menolakku. Kalau dia menolak ciumanku, aku akan mati malu. Baru pukul 18.30 malam, dia pasti sudah di rumah. Aku tidak tahu ke mana dia pergi setiap hari, tapi tiga hari terkurung di rumah ini membuatku hafal jadwal masing-masing. Tante Loretha pergi setiap hari setelah makan siang dan pulang saat makan malam, Jared pergi pagi hari dan pulang pukul 16.00 atau 17.00 sore. Kalau Argo, sudah dua hari aku tidak melihatnya, tapi sebelum itu aku mendengar suaranya di lorong, bicara dengan seorang penjaga, sudah larut malam.

Aku keluar kamar dengan perasaan seperti baru lepas dari sangkar, dan tak melihat siapa pun kecuali seorang pelayan di lantai bawah.

"Permisi, apa Mbak lihat Jared?"

"Kamu tunangannya?"

"Ya, aku." Perempuan itu tampak ramah.

"Aku jarang lihat kamu, seharian di kamar saja?"

"Nggak ada yang bisa dikerjakan di rumah ini," keluhku.

"Ada kolam renang di luar, ada bioskop di lantai tiga."

"Nggak, terima kasih. Di kolam renang banyak penjaga, dan film sudah kutonton di kamar."

"Mengerti. Namaku Angela, kalau butuh apa-apa, aku ada di sekitar sini seharian. Soal Jared, kurasa dia di kamarnya, aku dengar suaranya di sana."

"Kamu baik sekali, Angela."

...ARGO ROMANOV...

Seharian aku cemas memikirkan serangan yang kami alami di hari pertunangan. Polisi sedang mengejar kami karena mobil yang kami tembak, seharusnya kami tidak melakukan itu. Mereka menemukan jejak kami lewat selongsong peluru yang tertinggal di aspal.

Sialan! Kepalaku penuh gara-gara si Barbie itu bicara terus di telingaku, dan aku jadi ceroboh. Semua ini salahnya, hanya salahnya. Satu-satunya cara agar penyelidikan menjauh dari kami adalah meretas sistem mereka, dan aku ingat Jared jago soal itu. Ada orang yang lebih mampu, tentu saja! Tapi tidak bisa kupercaya.

Aku pulang lebih awal dengan satu tujuan, membujuk Jared bekerja untukku. Sudah saatnya dia berbuat sesuatu untuk organisasi. Kupegang lengannya dan kuseret ke kamarnya.

"Aku butuh kamu melakukan sesuatu, Bocah."

"Pertama, berhenti panggil gue bocah."

"Kamu memang bocah, seharian di jalanan ngapain saja?"

"Nggak usah tahu," katanya dengan nada sinis.

Aku menarik napas dalam dan berusaha menahan diri. Kalau kuteriaki anak ini, dia pasti tidak mau membantu.

"Aku butuh kamu meretas sistem Kepolisian Wilayah Selatan."

"Meretas?"

"Ya, Jared, bisa kamu lakukan? Tidak ada orang lain yang bisa kupercaya."

"Jadi cuma karena itu, ya, Pa? Cuma karena nggak ada orang lain yang Papa percaya."

"Setidaknya aku percaya padamu, Jared. Dan aku akui kamu jago dalam hal begini."

"Oke, gue coba. Gue bisa bikin tautan jebakan, tapi mereka harus membukanya."

"Maksudnya?"

"Gue bisa pasang virus di sebuah situs, tapi harus ada orang di dalam yang buka situs itu, ngerti?"

"Itu gampang bagiku."

"Gue juga mau bayaran besar buat ini."

"Sialan, Bocah. Kenapa butuh uang? Buat dihabiskan di rumah bordil? Aku tahu kamu ke sana hampir setiap malam."

"Papa suruh anak buah Papa ngikutin gue?"

"Bersiaplah, karena setelah menikah, semua itu berakhir."

Dia membuka mulut untuk memprotes, tapi ponselku berbunyi. Kulihat itu panggilan penting dan rahasia, jadi aku keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar kosong di sebelah untuk menjawab.

"Bicara!"

"Halo, Bos?"

"Cepat bicara, sialan! Aku di rumah, bangsat, dan aku tidak membahas itu di rumahku."

"Soal pengiriman itu."

"Hari apa?"

"Besok, tengah hari."

"Tengah hari? Kamu gila?"

"Itu jam yang diberikan bos saya, kalau dia curiga saya habis, saya serahkan kalian."

"Kamu mengancamku, sampah?"

"Tidak, Bos. Saya cuma..."

"Tunggu!" Kujauhkan ponsel dari telinga saat mendengar langkah di lorong. Aku bersembunyi di balik pintu untuk tahu siapa itu.

"Jared, kamu di dalam?"

Si Barbie. Sudah lama aku tidak mendengar suara lembut itu. Sejak hari ayahnya pergi. Tiga hari aku menghindari bocah ini. Sulit membaca isi kepala perempuan, apalagi yang berumur 18 tahun. Kukira dia akan pergi dan aku bahkan sudah lega. Begitu dia memutuskan tinggal, aku memutuskan menghindarinya.

Tunggu! Untuk apa dia ke kamar Jared? Aku mendekati pintu untuk mendengarkannya dan mematikan telepon.

"Bisa buka pintunya?"

Dia mau masuk ke kamar anak itu? Tidak mungkin! Aku mulai marah pada bocah ini. Apa dia benar-benar perawan? Untuk apa dia ke kamar seorang laki-laki?

...FIORELLA FERRAZ...

Begitu Jared membuka pintu, aku langsung masuk. Aku ingin segera melakukannya sebelum mundur dan menyesal.

"Hai, cantik. Ada apa tunanganku datang ke kamarku?"

"Jadi..." Aku mulai berkeringat karena gugup, tapi tetap kudekati dia. "Jared, aku mau melakukan sesuatu."

"Melakukan sesuatu? Astaga! Jangan bercanda soal ini, aku sudah mulai membayangkan macam-macam."

Anak ini tidak menciumku, sial! Aku sudah sedekat ini, jangan-jangan napasku bau? Bermacam-macam hal buruk mulai lewat di kepalaku. Kenapa dia tidak ambil inisiatif?

"Jared, aku..."

"Kamu mau sesuatu?"

"Aku mau menciummu," kataku, dia tampak kaget.

"M-mencium? T-tenang dulu, cantik." Dia menjauh dariku. "Serius?"

"Kamu bilang aku cantik."

"Kamu bukan cantik, kamu luar biasa, cantik banget."

"Lalu?" tanyaku lesu.

"Masalahnya... aku mau menciummu... tapi Papa."

"Papamu?" potongku. "Dia nggak perlu tahu, Jared, cuma ciuman."

"Kamu BV? Maksudku, bibir perawan? Berarti belum pernah berciuman?"

"Ya sudah, Jared. Aku paham, aku ke kamarku saja."

Aku berbalik, dia memegang lenganku, menempelkan tubuhnya ke tubuhku dan membelai rambutku:

"Papa melarangku menciummu. Bukan aku nggak mau, aku mau banget, banget, sejujurnya aku sudah nggak sabar." Argo melarang anaknya mencium tunangannya sendiri. Mengetahui itu membuatku curiga. "Tapi dia nggak perlu tahu, kan?"

Aku mengangguk. Aku gugup setengah mati. Dia menjilat bibirnya, dan itu agak seksi. Dia memegang leherku dengan kedua tangan dan mendekatkan mulutnya ke mulutku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!