Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Kita sudah sampai, Nadira. Kamu siap?" tanya Pierre.
"Siap. Dari dulu aku bermimpi jadi ibu, dan sekarang mimpi itu bakal terwujud. Cuma caranya nggak seperti yang pernah kubayangkan."
"Lupakan si pengkhianat busuk itu. Fokus ke dirimu sendiri."
"Nona Nadira dan Tuan Pierre?" panggil seorang perawat.
"Itu kami," jawab Pierre.
"Silakan ikut saya."
Keduanya pun menuju ruang pengambilan sampel dan inseminasi.
Nadira tumbuh di lingkungan yang stabil dan penuh kasih. Haryo dan Ratna adalah orang tua yang luar biasa bagi ketiga anak mereka. Banyak hal sudah terjadi sejak itu. Erlangga dan Sinta kini menikah dan hidup bahagia bersama keluarga kecil yang indah. Dimas sudah jadi laki-laki dewasa, tak lagi seperti waktu remaja dulu, ketika ia berbuat bodoh dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Sementara Nadira lulus kedokteran dengan predikat cum laude, sama seperti ayahnya, lalu memilih mengabdi di komunitas-komunitas miskin lewat Dokter Lintas Batas. Dalam salah satu perjalanan itulah ia bertemu seorang ahli geologi muda yang ambisius, yang berjuang mati-matian untuk memenangkan hatinya, bukan demi nama besar keluarganya.
Mereka bersama selama tiga tahun. Nadira mengira ia telah menemukan cinta seperti milik orang tuanya, cinta yang tak melihat penampilan. Ternyata ia keliru. Selama dua tahun terakhir, ia dan Lukas nyaris tak pernah terlihat berdua. Setiap kali ada pesta di perusahaan tempat Lukas bekerja, ia selalu bilang acaranya hanya untuk karyawan.
Sampai akhirnya Nadira tahu bahwa lelaki yang mengaku mencintainya itu punya pacar lain. Suatu malam ia makan di sebuah restoran bersama sahabatnya, Pierre, dan melihat Lukas sedang melamar seorang perempuan. Perempuan itulah yang selama ini Lukas perkenalkan kepada semua orang, yang ia bawa ke pesta-pesta yang katanya khusus karyawan.
Dokter muda itu patah hati, tapi harga dirinya tak goyah. Ia menghampiri meja tempat perayaan lamaran itu berlangsung, mengucapkan selamat dengan kepala tegak, lalu pergi tanpa menjatuhkan setetes air mata pun. Ia pulang, mengemasi barang-barangnya tanpa menunggu Lukas datang, dan keluar begitu saja dari apartemen itu. Beberapa hari ia menumpang di tempat Pierre, sahabat terbaiknya. Lukas, dengan muka setebal tembok, masih berusaha menjelaskan sesuatu yang tak punya penjelasan. Nadira pergi tanpa menoleh, menutup episode itu dari hidupnya.
Ia menerima tawaran kerja di sebuah kota di Albania. Pekerjaannya sederhana: membantu laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang membutuhkan pertolongan.
Hidup berjalan monoton. Ia bekerja, pulang ke tempat tinggalnya, dan tidak mencari masalah dengan kelompok-kelompok kriminal di sekitar sana. Lukas masih terus menelepon dan mengirim pesan, memohon agar ia pulang.
Hidup terus berjalan, begitulah pikirnya, sampai hasil beberapa pemeriksaan rutin keluar.
Nadira didiagnosis sindrom ovarium polikistik, gangguan hormonal yang umum dan menyebabkan haid tidak teratur serta gangguan ovulasi (sel telur tidak dilepaskan), sehingga pembuahan jadi sulit.
Singkatnya, Nadira hanya punya waktu tiga tahun lagi untuk hamil. Ia sempat limbung. Mimpi terbesarnya adalah menjadi ibu. Kakaknya, Erlangga, sudah punya anak laki-laki yang baru berusia lima tahun dan sedang menanti anak kedua bersama Sinta tercinta. Dimas, walau belum menikah, sudah punya seorang putri kecil. Dan ia akan jadi satu-satunya di antara saudara-saudaranya yang tak punya bayi.
Maka ia mengambil keputusan. Ia meminta tolong pada sahabat terbaiknya, pria Prancis berkulit hitam dan gay yang tak berniat punya anak, tapi bersedia membantu seorang teman. Dan di sinilah mereka sekarang.
"Berbaringlah di ranjang dan letakkan kakimu di penyangga," kata perawat kepada gadis berbaju pasien itu.
"Terima kasih." Nadira berbaring.
"Saya mau memastikan teman Anda siap. Sebentar lagi saya kembali, silakan rileks." Nadira mengangguk, lalu perawat itu keluar.
Lama ia menatap langit-langit, memikirkan hidupnya. Mimpi untuk menikah lalu membangun keluarga sudah tak ada lagi. Tapi mimpi menjadi ibu masih hidup, dan ia akan mewujudkannya.
Di tengah lamunan, ia tersentak oleh keributan di luar ruangan. Pintu dibanting, ada yang berteriak, lalu tiba-tiba seorang pria yang belum pernah ia lihat menerobos masuk.
Pria itu tampan, tinggi, kekar, tipe yang bisa memikat perempuan mana pun dan membuat laki-laki gentar di hadapannya.
Matanya terpaku di wajah Nadira, lalu turun ke antara kedua kaki perempuan itu, yang dalam posisi seperti itu membuat bagian-bagian pribadinya terlihat jelas.
Nadira merona karena malu. Pria itu menatapnya dengan campuran hasrat, amarah yang lama tertahan, dan sesuatu yang lain, yang tak sanggup Nadira terka.
"Tuan, bisa tolong beri saya privasi?" ucapnya begitu suaranya kembali.
"Maaf." Pria itu masih sempat melirik sekali lagi ke antara kedua kaki Nadira, lalu pergi.
Beberapa menit kemudian Pierre masuk dengan wajah sama kagetnya.
"Sayang, di luar ada pasukan dua puluh pria yang bersenjata sampai ke gigi. Aku hampir ikut 'bersenjata' juga, soalnya satu lebih ganteng dari yang lain."
"Tahan dulu kegenitanmu."
"Maaf, tapi kamu tahu sendiri aku nggak bisa lihat cowok, langsung centil."
"Halo," sapa perawat sambil masuk lagi. "Maaf lama, tadi ada sedikit kendala dengan pasien lain. Kita mulai sekarang?"
"Tentu." Nadira sedikit melemaskan tubuhnya sementara perawat itu bekerja.
Semua berjalan lancar, sampai Pierre bertanya untuk memastikan sesuatu.
"Yakin ini botol yang benar? Rasanya aku hampir yakin tadi menampungnya di wadah nomor 389, bukan 384."
"Saya sudah lama bekerja di bidang ini. Tidak mungkin saya keliru."
"Oh, tentu saja. Maaf."
Perawat itu menyelesaikan inseminasi, dan beberapa menit kemudian Nadira diizinkan pulang, tanpa membayangkan apa yang sebenarnya ia bawa pergi.