NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Menikah Dengan Ketua OSIS Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.

Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.

Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan Protektif Suami 23.

Suara denting garpu Novia yang beradu dengan piring kaca terdengar seperti kaca pecah di tengah keheningan meja mereka.

Reyhan langsung mengalihkan tatapannya dari cangkir kopi, menangkap perubahan drastis pada wajah Novia.

Gadis di depannya tidak lagi sekadar pucat—dia tampak seperti mayat hidup yang kehilangan seluruh pasokan oksigennya.

Mengikuti arah pandang Novia, manik mata hitam pekat milik Reyhan langsung mengunci area resepsionis restoran.

Di sana, Baroto—ayah kandung Novia—sedang melangkah masuk dengan tawa berwibawa yang menggema ringan.

Tangan pria itu mendekap mesra pinggang seorang wanita muda bergaun satin merah marun yang usianya mungkin belum genap tiga puluh tahun.

"Ayah..." bisik Novia. Suaranya begitu tipis, nyaris tercekik di tenggorokan.

Dada Novia berdenyut begitu hebat hingga menimbulkan rasa sakit fisik yang nyata.

Setahun. Baru satu tahun gundukan tanah makam ibunya mengering. Baru satu tahun jerit tangis ibunya mereda dari rumah yang dingin akibat kejaran utang-utang yang sengaja ditinggalkan pria itu.

Namun sore ini, di tempat semewah ini, Baroto memamerkan kebahagiaan baru seolah masa lalu mereka hanyalah sampah yang sudah selesai dibakar.

Air mata Novia lolos begitu saja, mengalir deras melewati pipinya yang mendadak dingin.

"Nov, lihat gue." Suara Reyhan terdengar rendah, mencoba mengalihkan perhatian gadis itu.

Reyhan bergerak cepat, setengah berdiri untuk menghalangi pandangan Novia dari siluet menjijikkan di ujung sana. "Kita pergi dari sini. Sekarang."

Namun, kehancuran di dalam diri Novia sudah terlanjur meluap.

Bayangan ancaman sang ayah yang tega mengatakan akan membakar seluruh album foto dan barang peninggalan almarhumah ibunya jika Novia menolak perjodohan ini, berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Semua pengorbanan ini, semua kebohongan yang dia telan bulat-bulat di sekolah bersama Reyhan, ternyata hanya demi membiayai tawa bahagia pria yang mengkhianati ibunya hingga akhir hayat.

"Dia... dia nggak pernah berubah, Rey," isak Novia, napasnya mulai memburu, tidak beraturan. Panic attack-nya kembali mengintai.

"Novia, berdiri. Ikut gue lewat pintu samping," perintah Reyhan lagi, nadanya mendesak namun tetap berusaha menjaga ketenangan agar tidak menarik perhatian pengunjung lain—termasuk Baroto.

Tapi Novia sudah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Rasa sesak yang teramat sangat membuatnya mendadak berdiri dari kursi hingga menggeser meja dengan kasar.

Tanpa memedulikan tasnya, Novia berbalik dan berlari kencang menuju pintu keluar.

Dia menerobos pelayan yang hendak mengantar pesanan, mengabaikan denting lonceng pintu yang berdenting nyaring, dan membiarkan tubuhnya dikejar oleh hawa dingin angin sore yang mulai menggelap.

"Novia!"

Reyhan menggeram rendah. Dia menyambar tas Novia, melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke atas meja tanpa menghitungnya lagi, lalu melesat mengejar langkah gadis itu.

Novia terus berlari tanpa arah.

Air matanya mengaburkan pandangan, membuat lampu-lampu jalanan kota terlihat seperti bias cahaya yang pecah.

Kakinya yang masih terbalut sepatu sekolah membawanya masuk ke dalam area taman kota yang terletak beberapa ratus meter dari restoran. Taman itu mulai sepi karena azan magrib baru saja berkumandang di kejauhan.

Tepat di bawah pohon mahoni yang rindang, langkah Novia terhenti.

Paru-parunya terasa membakar. Dia mencengkeram dadanya sendiri, menekuk lutut, lalu meluruh di atas rumput.

Tangis yang sejak tadi ditahannya kini pecah menjadi raungan histeris.

Suaranya terdengar begitu pilu, membelah keheningan taman kota.

Semua rasa sakit atas kepergian ibunya, penghinaan Laura di koridor sekolah tadi pagi, ketakutan akan masa depan, dan pengkhianatan telak dari ayahnya menyatu menjadi satu hantaman yang menghancurkan seluruh pertahanannya.

"Kenapa harus aku yang nanggung semua ini, Bu?!" jerit Novia ke arah langit yang mulai menggelap. "Kenapa Ayah jahat banget..."

Sret.

Sebuah aroma maskulin yang familiar—campuran wangi sabun dan kain hoodie yang khas—mendadak mengepung indra penciuman Novia.

Sebelum Novia sempat mendongak, sepasang lengan yang kuat dan kokoh terulur dari belakang, langsung menarik tubuhnya yang gemetar hebat ke dalam sebuah pelukan erat.

Reyhan mendekapnya dari belakang, menyembunyikan wajah menangis Novia di dada bidangnya, membiarkan air mata gadis itu membasahi hoodie hitamnya tanpa peduli.

"Nangis aja. Keluarin semuanya," bisik Reyhan di dekat telinga Novia. Suaranya tidak lagi dingin atau ketus. Ada nada bergetar yang sarat akan rasa protektif dan luka tersembunyi yang mendalam di sana.

Novia sempat berontak kecil, mencoba melepaskan diri karena merasa dirinya terlalu kotor dan menyedihkan untuk disentuh oleh seorang Ketua OSIS yang sempurna seperti Reyhan. Namun, cengkeraman tangan Reyhan di bahu dan pinggangnya justru semakin mengerat, mengunci tubuh Novia agar tidak terjatuh lebih dalam ke dasar jurang keputusasaannya.

"Gue bilang nangis, Novia. Jangan ditahan," tegas Reyhan lagi, dagunya bertumpu di pucuk kepala Novia yang masih terisak hebat.

Merasakan kehangatan yang nyata dan perlindungan mutlak dari cowok itu, pertahanan terakhir Novia runtuh total.

Dia berbalik di dalam dekapan Reyhan, mencengkeram erat pinggiran hoodie cowok itu dengan kedua tangannya yang lemas, lalu menumpahkan seluruh sisa tangis histerisnya di sana.

Di bawah temaram lampu taman kota yang baru menyala, Reyhan hanya diam. Dia terus memeluk tubuh kecil yang rapuh itu dengan erat, mengusap punggung Novia dengan gerakan perlahan yang menenangkan.

Untuk pertama kalinya, sang Ketua OSIS yang selalu diagungkan karena ketegasannya, membiarkan hatinya ikut terkoyak melihat separuh jiwa gadis di pelukannya hancur berkeping-keping.

......................

...****************...

Tbc,

1
Shabrina Darsih
laura laura naksir Rehyan samoe segitu nya sm Novia
Gege Mas
otor berusaha untuk mulai mematik apa yang bisa di sulut...naees...🤣
Gege Mas
Dan terjadi lagi...Nov..Nov...ck..ck..ck
Gege Mas
Dan ondolomon pun muncul ditengah kegelapan...🤣
Gege Mas
lanjuut Thor..belom berasa ini....10k kata gasss luncurkan
Gege Mas
yuklaah gass kasih intrik intrik kekinian yang membakar cemburu Dan bikin senyum senyum sendiri...semangaat..luncurkan 10k kata Thor...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!