NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Cincin di Jari Tengah

Pesan itu masuk pukul tiga sore, ketika Nala sedang menyetrika blus di paviliun.

Dari Om Darto. Bukan telepon. Pesan singkat, diketik dengan huruf besar semua seperti kebiasaan orang tua yang tidak tahu cara mematikan caps lock.

NDUK. TADI SIANG ADA YANG TELEPON DARI BANK. UTANG OM SUDAH LUNAS SEMUA. KATANYA DIBAYAR ATAS NAMA PAK DAMAR HADIWIJAYA. TERIMA KASIH UNTUK PAK DAMAR. KAMU... JAGA DIRI.

Nala mematikan setrika.

Dia membaca pesan itu dua kali. Lalu tiga kali. Jaga diri. Dua kata itu terasa lebih berat daripada semua kata-kata di telepon tadi pagi.

Dia berjalan ke rumah utama tanpa sandal.

Damar sedang duduk di teras belakang dengan laptop di pangkuan dan secangkir teh yang sudah dingin. Dia tidak mengangkat kepala ketika Nala berdiri di depannya.

"Kamu bayar utang omku."

"Hm."

"Berapa?"

"Tidak penting."

"Damar."

Laki-laki itu akhirnya mendongak. "Aku tidak suka orang lain menagih punyaku."

Punyaku. Nala menatapnya, dan untuk sesaat dia tidak tahu apakah dia ingin menampar laki-laki itu atau menangis.

"Aku tidak minta."

"Aku tahu."

Damar mengambil ponselnya dari meja, membuka sesuatu, dan menyodorkannya. Bukti transfer. Jumlahnya membuat Nala menahan napas. Jauh lebih besar dari yang dia kira. Omnya tidak pernah bilang utangnya sebanyak itu.

Lalu matanya turun ke baris berikutnya.

Nama penerima: SUDARTO WIRATAMA.

Darahnya berhenti.

Wiratama. Nama keluarga ayahnya. Nama yang tidak pernah dia sebut di depan laki-laki ini, tidak di surat lamaran kerja, tidak di formulir apa pun. Anala Paramitha, itu saja yang dia tulis selama dua tahun.

Dia mengangkat matanya dari layar. Damar sedang menatap ponsel itu juga. Menatap nama yang sama. Matanya berhenti di sana satu detik terlalu lama.

"Wiratama," katanya pelan. Seperti menimbang kata itu.

Nala tidak bergerak. Tangannya yang memegang ponsel itu tetap tenang. Jantungnya tidak.

"Omku dari pihak ayah," katanya. "Kenapa?"

Damar menatapnya. Lalu dia mengambil kembali ponselnya dan menguncinya.

"Tidak apa-apa." Dia kembali ke laptopnya. "Nama yang bagus."

***

Menjelang magrib, Tagih datang membawa sebuah kardus besar.

"Lampu meja, Bu," katanya pendek. "Bos yang suruh. Buat kamar atas."

Kamar atas. Nala mengikutinya naik tangga ke lantai dua rumah utama. Dia belum pernah naik ke sini. Dua tahun, dan dia tidak pernah melewati anak tangga keempat belas.

Tagih membuka pintu kamar utama dengan kunci cadangan, masuk, dan meletakkan kardus itu di meja kerja kecil di dekat jendela. Dia mengeluarkan lampunya: lampu baca berlengan panjang, dengan kap logam berwarna perunggu. Lampu untuk seseorang yang suka membaca berkas sampai larut malam.

Dia memasang lampu itu, mencolokkan kabelnya, menyalakannya sekali untuk mengetes, lalu mematikannya lagi.

Lalu dia berbalik, dan menatap Nala.

Hanya sebentar. Tapi tatapan itu aneh. Tagih yang biasanya tidak pernah menatap siapa pun lebih dari satu detik, yang matanya selalu turun ke lantai atau ke pintu, sekarang menatap wajahnya seperti orang yang sedang mencari sesuatu di sana. Seperti orang yang mengenalinya dari tempat lain.

Lalu matanya turun, seperti biasa.

"Sudah, Bu."

Dia keluar dengan langkah yang tidak rata, kaki kirinya sedikit terseret di lantai kayu. Nala berdiri di kamar itu sampai bunyi langkah pincang itu hilang di bawah tangga.

***

Di paviliun, Nala membuka laci lemarinya yang paling bawah.

Di sana, terlipat rapi, sebuah mukena putih dengan bordir bunga kecil di pinggirnya. Mukena ibunya. Sudah dicuci ratusan kali, warnanya tidak lagi putih bersih, ujung renda di bagian dahinya sudah sedikit robek.

Dia tidak mengeluarkannya. Dia hanya meletakkan telapak tangannya di atas kain itu.

Dia tahu apa artinya malam ini. Dia sudah tahu sejak tadi malam, sejak kunci kuningan itu jatuh ke telapak tangannya. Dia tahu apa namanya dalam keyakinan yang ibunya ajarkan kepadanya, dengan mukena ini, di kamar kecil di Solo. Dia tahu apa namanya di mulut orang-orang. Perempuan simpanan. Tidak ada buku nikah, tidak ada nama di kartu keluarga mana pun, tidak ada apa pun yang melindunginya kalau laki-laki itu bosan besok pagi. Om Darto akan menunduk setiap kali keluar rumah. Grup keluarga di Solo akan punya cerita untuk sepuluh tahun.

Di malam setelah dia dijual di Batam, dia pernah menarik garis. Sampai ciuman saja. Tidak lebih.

Malam ini dia akan melangkahinya dengan kakinya sendiri.

Karena di rumah utama itu ada sebuah kamar. Di sebelah kamar itu ada ruang kerja. Di ruang kerja itu ada brankas, dan berkas-berkas, dan laptop yang tidak pernah dia sentuh. Dan di suatu tempat di antara semua itu, ada jawaban yang sudah dia cari selama hampir tiga tahun.

Tidak ada jalan lain menuju ke sana.

Dia menutup laci itu pelan-pelan.

Bi Iyah sedang menyapu teras paviliun ketika Nala keluar membawa tas kecil. Perempuan itu melihat tasnya. Melihat wajahnya. Lalu dia meletakkan sapunya, mengambil kunci paviliun dari tangan Nala, dan mengunci pintunya sendiri.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menepuk lengan Nala dua kali dan masuk ke rumah utama lewat pintu dapur.

***

Kamar mandi di kamar utama dua kali lebih besar dari seluruh kamar paviliunnya.

Nala berdiri di depan cermin panjang di atas wastafel marmer hitam. Lampu di atas cermin itu putih dan terang, tidak menyisakan bayangan di wajahnya. Dia sudah mandi di paviliun tadi. Dia tidak tahu kenapa dia di sini sekarang, berdiri di depan cermin, seperti malam itu di paviliun, setelah sepuluh miliar.

Di luar pintu kamar mandi, dia bisa mendengar Damar. Langkah kakinya di karpet. Bunyi jam tangan dilepas dan diletakkan di nakas.

Nala menatap matanya sendiri.

"Maaf, Mas," bisiknya.

Tidak ada yang menjawab.

Dia membasuh tangannya, mengeringkannya, dan membuka pintu.

***

Damar berdiri di dekat jendela, di samping meja dengan lampu perunggu yang baru dipasang Tagih. Dia sudah berganti kaus abu-abu. Dia berbalik ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka.

Nala berjalan ke arahnya. Ketika dia berdiri di depannya, dia mengangkat tangan kanannya dan melepas cincin dari jari tengahnya.

Cincin Air Mata Sedap Malam. Tetesan merah muda itu menangkap cahaya lampu kamar.

Damar menatap cincin itu, lalu wajahnya. Ada sesuatu yang mengeras di rahangnya.

"Kamu mau mengembalikannya?"

"Kalau aku memang punyamu," kata Nala, "pakaikan lagi."

Dia meletakkan cincin itu di telapak tangan Damar.

"Supaya cincin ini punya arti."

Damar diam lama. Lalu dia mengambil tangan kanan Nala. Jarinya, yang malam itu di tangga hotel masih dingin dan basah oleh hujan, sekarang hangat. Dia memegang cincin itu dengan hati-hati, seperti benda yang bisa pecah. Dan dia mengarahkannya ke jari manis.

Nala menekuk jari manisnya.

Pelan. Tapi jelas. Jari itu melengkung ke telapak tangan, dan jari tengahnya terulur sendirian.

"Di sini saja," katanya.

Damar menatap jari yang ditekuk itu. Dia menatapnya lama sekali. Nala menunggu pertanyaan itu datang. Kenapa. Untuk siapa jari itu kamu simpan.

Pertanyaan itu tidak datang.

Damar menyematkan cincin itu ke jari tengahnya, pelan, sampai ke pangkal. Lalu dia tidak melepaskan tangan Nala. Dia mengangkatnya dan menempelkan bibirnya di atas cincin itu, di atas buku jari Nala, dan menahannya di sana.

Nala memejamkan mata.

Ketika Damar menciumnya, dia membalas. Ketika tangan laki-laki itu menyusuri punggungnya, dia tidak menahannya. Ketika lututnya menyentuh tepi ranjang, dia membiarkan dirinya duduk.

Ponsel di nakas berdering.

Damar tidak bergerak. Ponsel itu berhenti, lalu berdering lagi. Dan lagi.

Dia mengumpat pelan dan meraihnya. "Apa."

Suara Reza terdengar panik, cukup keras untuk Nala dengar dari tempatnya duduk. "Mar, sori, sori banget. Pemilik lahan Bukit Selatan nolak tanda tangan. Mendadak. Padahal alat berat udah masuk dari minggu lalu. Dan Batam... Mar, Batam juga ada masalah. Tagih udah di bawah. Kita harus ketemu sekarang."

Damar memejamkan mata. Napasnya berat.

"Sepuluh menit," katanya, dan menutup telepon.

Dia berdiri. Dia mengambil kemeja dari lemari, memakainya dengan cepat, memasang jam tangannya lagi. Nala tetap duduk di tepi ranjang dan memperhatikannya.

Di ambang pintu, Damar berhenti. Dia menoleh.

"Tunggu aku," katanya.

Lalu dia pergi. Nala mendengar langkahnya di tangga, suara Pak Ujang di carport, bunyi mesin mobil yang menyala lalu menjauh.

Kamar itu sunyi.

***

Pukul tiga pagi, Damar belum pulang.

Nala duduk di tepi ranjang yang masih rapi. Di jari tengahnya, cincin itu terasa dingin. Lampu perunggu di meja dekat jendela menyala, satu-satunya cahaya di ruangan.

Dari jendela itu, dia bisa melihat pintu ruang kerja di ujung lorong lantai dua. Tertutup. Belum malam ini. Terlalu cepat. Tapi pintu itu ada di sana, dan kunci kamar ini ada di tangannya.

Dia mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor yang tidak dia simpan di daftar kontak mana pun. Dia hafal nomor itu di luar kepala.

Nada sambung berbunyi dua kali.

"Halo?" Suara laki-laki. Berat, mengantuk, langsung waspada.

"Sudah," kata Nala. "Kuncinya di tanganku."

Hening di seberang.

Lama sekali. Cukup lama untuk Nala mendengar napas laki-laki itu, cukup lama untuk dia menghitung detak jam di dinding kamar.

"Nala," kata suara itu akhirnya, pelan. "Kamu tidak harus sejauh ini."

Nala menatap cincin di jari tengahnya. Lalu jari manisnya yang kosong.

"Aku harus," katanya.

Dia memutus sambungan sebelum laki-laki itu bisa mengatakan apa-apa lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!