"Selamanya masa lalu adalah pemenang, siapapun pengisi hati hari ini, akan kalah dengan masa lalu yang datang kembali."
Untuk Sheila, itu tidak berlaku, karna masa lalu yang dicintai suaminya setengah mati itu sudah tiada hampir sepuluh tahun yang lalu karna jatuh ke jurang.
Karna itu, suaminya hanya bisa mencintai dirinya yang masih hidup di dunia ini.
Lantas, bagaimana jika masa lalu yang dikatakan telah meninggal dunia, datang kembali seperti keajaiban dengan anak perempuan berusia sepuluh tahun?
Lantas, apakah benar masa lalu akan tetap menjadi pemenang setelah kembali?
Apakah Sheila hanya menjadi istri pengganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia mengetahuinya?
......................
Shei terduduk lemas, setelah kepergian Haren satu menit yang lalu. Pria itu pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, pria itu pergi melangkah tanpa ragu setelah Shei menandatangani surat itu.
Memangnya apalagi yang Haren inginkan, hanya itu kan yang Haren mau? Dan dia sudah mendapatkannya, tandatangannya Shei.
Ingin berteriak menahan Haren pun Shei enggan, harga dirinya sudah koyak rabak, dia jatuh sejatuh-jatuhnya.
Harga diri Shei hancur, rumah tangganya lebur, ayah dari anaknya pergi meninggalkannya. Lalu bagaimana dengan Shei? Cintanya tertolak.
Seperti mimpi buruk yang datang dalam sekejap, keadaan rumah ini berbeda hanya dengan satu malam, itu pun penyebabnya hanya Kayna seorang.
Shei menangis, ia tidak bisa berhenti menangis. Harus dia jawab apa jika anak laki-lakinya datang dan bertanya kemana sang ayah pergi? Shei harus jawab apa?
Detik kemudian, Shei pingsan!
Bisa jadi karna kekurangan cairan tubuh, dia sudah menangis banyak sekali, dia tidak tidur semalaman, kondisi tubuhnya lemah, belum lagi pikiran dan mentalnya yang tidak stabil saat ini.
......................
Shei terbangun secara perlahan. Ketika ia sadar sudah membuka mata, ternyata orangtuanya sudah ada disini, termasuk orangtua Haren juga yang mendampinginya dengan rasa khawatir. Tidak lupa, ada hal yang paling menenangkan Shei temui ketika ia bangun dari pingsannya, yaitu anak kesayangannya yang sudah menggenggam erat tangannya di sebelah dengan wajah yang penuh air mata, bahkan sampai Shei membuka mata, Arthur masih menangis saat sesegukan.
"Ma, mama jangan nangis, jangan sedih, jangan mati. Papa memang jahat, tapi mama punya Arthur disini, ada Arthur yang selalu ada disini dan ga bakal ninggalin mama kayak papa ninggalin mama." Arthur semakin erat menggenggam tangan Shei, ia masih sesegukan. Detik kemudian dia memeluk Shei, menenggelamkan wajah mungilnya di antara leher ibunya.
Shei terdiam, dia kaget. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dia jadi semakin khawatir, perasaan takut langsung menyelimuti dirinya.
Bagaimana bisa Arthur tau?
Bukan! Bukan ini yang Shei inginkan! Dia tidak mau anak sematawayangnya ini menderita, atau mengalami depresi ringan di usianya yang belia karna masalah orangtuanya.
Shei tidak mau itu terjadi. Dia masih ingin menyembunyikan ini dari Arthur, Arthur terlalu dini untuk mengetahui fakta ini.
Shei tidak ingin Arthur terjerumus kedalam kebencian, apalagi itu rasa benci untuk ayah kandungnya sendiri.
Tapi bagaimana bisa putranya tau?
"Ma, mama jangan sedih lagi yaa? Kalaupun papa nggak mau tinggal sama kita lagi, ga apa-apa ma, kita bisa tinggal berdua." Arthur melihat mata sang mama yang masih sembab dan agak gelap karena kurang tidur dan terus saja menangis.
"Mama jangan sedih, Arthur punya mama, mama segalanya, mama udah lebih dari cukup untuk Arthur. Asal mama jangan sedih, jangan sakit. Arthur gak apa-apa asal ada mama, ya?" Lanjut Arthur dengan wajah mungilnya.
Shei tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, perasaannya yang kacau kembali tenang, wajah putranya menenangkan, tatapan penuh cinta dan kasih sayang yang Arthur tunjukkan membuat Shei terharu, perasaan gundah sebelumnya, perlahan mereda hanya karna Arthur seorang.
Tatapan tulusnya, perkataan yang menenangkan itu, Arthur sungguh semangat terbesar Shei yang ia punya.
Shei bangkit perlahan, ia duduk menyandar, membuka tangannya dengan sebuah senyuman lebar, juga air mata yang tak terbendung.
"Mama ...! Mama jangan sedih lagi, jangan nangis lagi!" Arthur menangis hebat, masuk ke dalam pelukan sang ibu.
Seperti sihir, ini menenangkan, pelukan hangat Arthur ternyata adalah jawaban dari kegundahan Shei yang dia tahan. Shei memeluknya erat, memeluk putra satu-satunya itu.
"Maafin ibu Shei, ibu yang kasih tau Arthur, tadi ibu kebawa emosi, Haren datang terus bilang mau cerai sama kamu, karna dia mau nikahin Kayna yang udah kembali, padahal udah ibu larang, udah ibu marahin, ibu juga udah nangis, segala cara udah coba ibu lakuin buat Haren mau rujuk sama kamu. Tapi dia tetep pilih Kayna, salah ibu, maafin ibu."
Suara pengakuan yang terdengar tulus dari hati itu, Shei dapatkan dari sang ibu mertua yang juga ada disana untuk menjenguknya. Dari cerita sang ibu, sepertinya Shei sudah tau bahwa Haren sudah memberitahu ibunya mereka sudah bercerai, dan bahkan langsung meminta izin mungkin? untuk menikahi Kayna segera.
Tapi menurut Shei, sebesar apapun emosi sang ibu mertua sekarang ini, tidaklah tepat untuk memberi tahu Arthur. Shei kurang setuju kalau sang ibu mertua mulai memberitahu Arthur segalanya, dan sang anak jadi mulai membenci ayahnya. Itu bukan kemauan Shei, sampai kapanpun Haren adalah ayahnya Arthur, membuat Arthur membenci Haren bukanlah keinginan Shei sedikitpun.
Nasi sudah menjadi bubur, tampaknya Arthur sudah sedikit membenci sang ayah?
Shei menghela napasnya, sebagai ibu, sudah tugasnya untuk mengeluarkan segala kebencian di hati sang anak, secara perlahan-lahan nantinya.
"Maafin mama sama papa juga ya Nak, karna kita. Coba kami gak maksa kamu buat nikah, itu salah kami. Kamu menikah bukan dengan orang pilihan mu, melainkan keinginan kami, kami yang egois." Hatur sang ibu dengan lembut dan hati-hati, beliau juga menangis tersedu. Hati ibu mana yang tidak terluka melihat putrinya dicampakkan oleh suaminya demi wanita lain?
"Keinginan mama sama papa adalah kebahagiaan Shei. Selama tujuh tahun, Shei bahagia kok menikah dengan Mas Haren, mungkin sekarang bukan jalannya. Bukan salah mama sama papa, jadi jangan terlalu dipikirkan yaa?" Shei menggelengkan kepalanya dengan lembut. Sang ibu sudah cukup sakit dan tertekan, dia tidak mau menekan sang ibu lagi untuk merasa bersalah.
Hari itu, permintaan maaf, dan pengakuan ego masing-masing saling terucap, mereka mulai saling mengerti sedikit demi sedikit. Orang tua Shei juga tidak ingin melarang Shei untuk tetap sendiri kedepannya, atau memaksa Shei segera menikah lagi. Tidak. Tidak ada tekanan yang mereka berikan pada Shei sedikitpun. Apapun keputusan Shei, apapun pilihan Shei, mereka akan terus mendukungnya, bahkan sampai orang tua Haren juga ingin mendukungnya.
......................
3 jam sudah berlalu, dan hari sudah sore. Ayah dan ibu Shei istirahat di kamar tamu rumah ini, sementara orang tua Haren kembali ke rumah mereka, karna katanya ada hal-hal yang mau mereka selesaikan.
Dan saat ini Shei sedang terbaring dengan Arthur yang tertidur lelap di sebelahnya. Mungkin efek habis menangis, jadi Arthur tampak begitu lelah.
Hati sang ibu itu berdenyut perih memikirkan apa yang sedang Arthur alami sekarang, apakah Arthur tetap bisa menjaga senyumannya? Bisakah Shei menjaga kebahagiaan Arthur seorang diri.
Jujur saja, Shei takut Arthur akan berubah, ia takut putranya yang ceria akan menjadi murung nantinya.
ada kami yg mendukungmu
dia bilang shei murahan tpi dia gak ngaca gitu saat dia ciuman & pelukan didepan istri sahnya dengn wanita lain... meski orang itu org zg prnah dicintainya tpi kn dia dah punya istri jdi dia hrusnya bs tahan kan nafsunya itu.... bahkan dia ceraikan shei krna jalang itu pula, skrg mlah berlagak sok benar dan sok suci ,cuiiihh... jijik liatnya 😤😤😤