Erik, Sorang pemuda dari keluarga miskin sering di hina dan bully. dia tidak taku kalo dirinya adalah orang kaya.
hingga suatu hari ayah angkatnya sakit dan memberitahu Erik kalo dirinya bukanlah anaknya dan kedua orang tuanya memberitahukan dirinya salah orang berada.
sejak saat itu kehidupan Erik berubah, diapun membalas. semua orang yang sudah menghina dan membully nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taofik irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 10
Hari demi hari berlalu, hari kelulusan yang di nanti Erik pun tiba. Dia begitu antusias pagi itu."Rik, bapak doakan kau lulus"ucap ayahnya ketika Erik akan berangkat.
"Iya pak, semoga saja. Erik ingin pergi kerja setelah ini."sahut nya, melihat sepatunya yang sudah butut. Ibunya sedang menyuapi anaknya yang masih kecil,"pak, kasih jajan sama Rio. Ibu gak ada duit."ucap ibunya.
Ayah nya melihat di saku celana hanya ada 5 ribu, dia menatap erik karena gak ada uang lagi buat Erik sekolah. "Sudah pak, gak apa kasih saja sama Rio."Sahut Erik.
Sudah biasa baginya tidak bawa uang jajan ke sekolah,"alah pak udah gede ini, dia bisa nyari sendiri ngapain di kasih"celetuk ibu, ayah nya menoleh "Bu, jangan bicara seperti itu. Bagaimana pun Erik anak kita."ujar ayah angkat Erik.
"Ya sudah pak, Erik berngkat doakan ya semoga hasilnya memuaskan. "Ujarnya, sambil beranjak dari rumahnya bersama Rio adiknya.
Hari terlihat cerah, dalam angan nya dia ingin cepat kerja. Mandiri bisa membantu orang tuanya. Melihat ponsel yang di berikan Mira."aku harus menanyakan kerjaan itu pada Lulu,"ucap Erik dalam hati.
Dia senang bisa punya ponsel,"Rik, tunggu..."panggil Eza saat Erik menoleh. "Kak cepat ah sudah telat, Rio duluan ya..."ucap Rio melihat jam sudah hampir pukul tujuh. "Ya sudah sana,"sahut Erik.
"Ponsel dari siapa?,"tanya Eza sambil berjalan bersama menuju sekolah. "Punya Mira, mungkin hanya di kasih pinjam." Erik sambil terus memainkan ponselnya selama di perjalanan.
Mira terlihat sudah menunggu di depan gerbang sekolah, saat Erik datang dia langsung berlari menghampirinya. "Yang, gimana suka. Nanti kabari ya ."ucap Mira, sambil berjalan menggandeng tangan nya. "Mira kita di sekolah, bisakah lepaskan tangan mu"pinta Erik, dia tidak nyaman melihat Mira yang terus nempel.
Eza pun sama sekali tidak menyukai hubungan mereka. Sejak Erik dekat dengan Mira Eza sering di cuekin. "Rik, ku harap nanti setelah lulus sekolah kita masih berteman ya" ucap Eza, seperti mengucapkan perpisahan ,"Lo bicara apa sih, kita tetap sahabat walau kita jauh. Lagian kita bisa chat kan tiap hari."sahut Eza.
Di sekolah sudah terlihat banyak siswa yang menunggu guru datang. Hari kelulusan yang mereka nantikan tiba "guru datang."ucap teman sekelas.
Langsung duduk rapi, saat guru datang terlihat membawa tas. "Ini tekahir kalinya Kalina duduk si kelas ini. Ibu berharap kalian melanjutka pendidikan kalian. Iya Kalo ada yang gak lulus jangan patah semangat. Kalian masih bisa ikut tahun depan."ucap nya.
Deegggg!!
Erik langsung tidak tenang, deg-degan dia takut dirinya yang tidak lulus. Dia jarang belajar. Saat teman-teman di kasih amplop ia terus berdoa supaya dirinya lulus.
"Jangan di buka dulu ya, nanti setelah semua pegang baru bisa di buka."ucap guru.
"Erik..."ucap guru, sambil berjalan ke depan dia terus gemetaran.
Eza dan Mira menatap ku, semua sudah pegang amplopnya "silahkan kalian buka."Erik langsung membuka . Dia langsung tersenyum senang "za, gue lulus "ucap Erik langsung memeluk Eza, begitupun Eza merekapun bahagia bisa lulus bersama.
Hari itu juga mereka merayakan ke lulusan, "Lo mau lanjut kemana?,"tanya Nino pada Erik yang sedang berjalan bersama Eza dan mira . Erik hanya diam "sudah Pasti jadi tukang tambal ban." Mereka punya tertawa.
"Gue tahu keluarga Lo, ibu Lo tukang jualan keliling kan? gue lihat tiap hari lewat rumah gue. Dengar Rik. Ibu Lo sering ngemis baju bekas di rumah gue." Ucap teman sekelas Erik.
Iya ibu Erik memang sering minta pakaian bekas dari warga, Bahkan pakaian erik banyak yang bekas.
Yang tadinya senang, Erik langsung kesal pada mereka yang telah menghina dirinya dan ibunya.
"Ayo pergi, jangan dengarkan mereka."ucap Eza menarik tangan nya bergitu juga Mira. "Anak pengemis, Lo tahu baju yang Lo pake sehari-hari itu bekas gue." Ujar nya saat Erik akan pergi dari sekolah nya.
Nino dan gengnya menertawakan Erik dengan puas, "Anak pengemis hahaha." Ucap nya.
Erik pun berbalik, dia emosi di katakan begitu dan di tertawakan Nino ."awas Lo ya, gue akan balas semua perkataan kalian."ucap Erik dengan berapi-api mengatakan nya.
"Hahaha katanya mau balas,"Nino tertawa terbahak-bahak. Erik makin emosi. "Sudah, Rik ayo pergi."Eza menarik tangan nya. "Silahkan gue tunggu, anak pengemis."teriak Nino.
Mereka pun berjalan bertiga, "eh kita rayakan di rumah gue yuk,"ucap Eza, Mira terus menatap Erik. "Ya sudah ayo,tapi za gue minta makan ya. Lapar gue,"sambil merangkul Eza teman nya.
Mira berjalan sendiri di belakangnya, seakan Erik melupakan nya. "Rik, kau lapar. Aku bawa bekal untuk mu."ucap Mira, Erik dan Eza menoleh ke belakang.
"Mira, bawa apa?"tanya Erik,
"Ini, tapi apakah kau bakalan suka. Aku buatnya untuk mu ." Sambil memberikan makanan entah apa ada bentuk hati. Erik pun melihatnya. "Ya sudah nanti makan di rumah Eza ya ." Erik terus melanjutkan perjalanan ke rumahnya Eza.
Sampai di rumahnya begitu sepi, hanya ada ibu nya ."Bu, Eza lulus." Ibunya langsung senang . "Sudah tahu pasti anak ibu lulus ."ucapnya.
"Eh, Erik bilang sama ibumu cepat lunasi hutang nya ya. "Ucap ibunya Eza, Erik tidak tahu kalo ibunya juga punya hutang pada ibunya Eza.
Ibu begitu banyak hutang , Bahkan Mira aku jadi punya hutang padanya gara-gara ibuku.
Ayo masuk , sambil makan-makan Mira memberikan bekal nya. "Ini apa sih, Mira?"tanya Erik , Mira malu-malu terlihat hiasan berbentuk hati. "itu nasi goreng khusus untuk mu" ujar nya sambil menunduk malu.
"Ya sudah ayo makan," erikpun memakan nya, dia tidak ingin melihat Mira kecewa.
"Za, Lo kuliah di mana?"tanya Erik sambil makan,"sepertinya mau di kota. Tinggal di sana bersama Kaka ku"jawab Eza , dia beruntung punya Kaka yang menikah dengan orang kota.
"Lo mau keman?," Eza balik bertanya, Erik Hanya tertawa," gue kuliah, itu Hanya mimpi. Bisa sekolah saja sudah beruntung. Gue mau kerja sepetinya . Tahu kan cewek cantik kemarin, gue mau hubungi dia. Dia sudah janji mau masukin gue kerja ."ucap Erik, Mira langsung melihat Erik.
"Apa gak bisa cari kerja sendiri aja, kenapa harus sama cewek itu. " Mira cemburu rupanya. "Mira, dia hanya mau masukan gue kerja , gak ada apa-apa" Erik mencoba menerangkan pada Mira supaya dia tidak marah.
Mira terus cemberut, dia tidak Suka Erik dekat dengan cewek lain. Meski sebenarnya Erik menyukai Lulu dari pandangan pertamanya.
"Mira, nanti akan ku bayar semua hutang Lo. Dan untuk ponsel ini aku pinjam ya." Ucap Erik .
"Apa karena hutang kau menerima ku? Apa itu hah.."mira tiba-tiba berdiri. "Mira dengar, jangan marah begini. Ayo duduk" Erik Kembali membujuknya.
Tapi apa Yang dia katakan benar, memang karena hutang erik ingin segara melunasinya supaya dia bisa melapaskan Mira. Meski Erik tahu dia begitu mencintai dirinya.
Sore hari , Erik dan Mira berpamitan pulang. Hari itu hari terakhir Erik melihat Eza. Dia akan pergi ke kota. Eza nampak tak kuasa menahan air matanya sambil memeluk Erik . Teman SMA nya yang sudah lama menemaninya dari kelas 1 SMA .
"Jangan lupakan gue ya,"ucap Eza , Erik menatap eza menjitak kepala ya,"gak akan bodoh, Sampai kapan pun kita sahabat,"mereka pun tertawa.
Erik meninggalkan rumah Eza, berjalan bersama Mira. Sepanjang jalan hanya diam. Mira terlihat sedih, dia tidak ingin berpisah dengan orang yang ia cintai. Tapi Erik dia harus pergi merantau untuk mencari jati dirinya.
"Maaf, Erik bisakah kita mengabiskan waktu berdua sebelum kau pergi ,"pinta Mira. Erik langsung menoleh. "iya tentu saja "jawab Erik.
"Ayo ikut aku," sambil berlari, siang hari menuju sore itu. Erik mengikutinya entah Mira akan membawanya kemana.
Melawati rel kereta , perkebunan warga. Hingga sampai lah di atas bukit. Dengan nafas terengah-engah Erik dia tidak tahu ada tempat sebagus ini di tempatnya tinggal.
Melihat kampung nya dari bukit itu. "Lo tahu dari mana tempat ini?,"tanya Erik sambil tersenyum.
"Sini duduk,"ucap Mira , erik pun duduk di sampingnya Sambil melihat pemandangan kampunya dari atas bukit. "Gue tahu temat ini saat masih sekolah SMP. Tempat ini tempat terindah menurutku di kampung, aku sering ke sini ketika sedih."sahut mira.
Melihat cuaca yang mulai mendung. Angin bertiup kencang. Mira tiba-tiba menangis membuat Erik bingung ,"kenapa?,"tanya Erik.
Mira langsung memeluk nya, "kau tahu, sejak dari SMP aku selalu melihat mu. Sudah begitu lama aku mencintaimu tapi kau tidak pernah peka. Dan sekarang aku bahagia bisa memliki mu. Aku gak peduli dengan uang atau ponsel yang itu. Aku hanya ingin terus bersamamu." Ucap Mira sambil menangis di pelukan Erik.
Erik merasa kasihan padanya, dia membelai rambut Mira. "gue tahu,maaf buat Lo menunggu." Sahut Erik , dia bingung harus bagaimana. Erik hanya menggap Mira sahabatnya.
"Tapi gue juga tidak bisa di sini terus. Lo tahu ibu tiap hari hanya mengatakan gue beban. Karena gue anak terbesar. Gue harus pergi ,"ucap erik sambil menatap Mira menghapus air matanya.
Terlihat awan ber iringan tertiup angin, Erik dan Mira mengabiskan waktu bersama sore itu. Mira sedih karena Erik harus pergi meninggalkan nya. Entah Mira apakah dirinya akan bertemu lagi bersama Erik?