NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan Ketujuh dan Sabotase di Dapur Komunal

​Waktu terus bergulir di Apartemen Puri Kencana. Memasuki bulan ketujuh sejak aliansi mereka terbentuk, dinamika di lantai tiga telah mencapai level baru yang jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan piket jemuran. Hubungan antara Raka dan Bella yang awalnya kaku bagaikan robot yang sedang melakukan debugging, kini sudah memasuki fase "hubungan tanpa status namun sangat protektif". Sementara itu, bisnis Siska dan Maya telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi lokal yang tidak bisa diremehkan.

​Namun, kedamaian yang terlalu lama sering kali membuat orang lengah. Dan di dunia para janda, "lengah" adalah resep untuk bencana.

​Senin pagi yang cerah dimulai dengan teriakan khas Maya Adinda yang sanggup memecahkan kaca jendela tipis. "RAKAAAAA! BELLA! SINI CEPET!"

​Raka, yang sedang melakukan rutinitas pembersihan senjata (yang kini disamarkan sebagai rutinitas membersihkan peralatan pertukangan), langsung berlari keluar dari unit 304. Di koridor, Maya berdiri di depan tumpukan paket berukuran besar yang menutupi hampir seluruh akses jalan.

​"Ini apa, May? Lo borong kain lagi?" tanya Raka sambil mencoba melompati tumpukan kardus.

​"Bukan! Masalahnya, aku nggak pesen ini! Ini labelnya tertulis 'Untuk Tim Janda Hebat', tapi pengirimnya anonim," Maya menunjuk label pengiriman yang dicetak dengan printer laser kelas industri.

​Bella keluar dengan mata menyipit. Ia tidak menyentuh paket itu. Ia mengeluarkan alat pendeteksi panas dari sakunya. "Jangan dibuka. Ada panas yang konstan dari dalam kardus nomor tiga. Tapi bukan panas ledakan... ini panas mesin."

​Siska keluar membawa sutil titaniumnya, bersiap untuk kemungkinan terburuk. "Jangan-jangan kiriman dari musuh lama?"

​Raka menggunakan pisau lipatnya untuk menyayat bagian atas kardus dengan sangat hati-hati. Begitu terbuka, mereka semua tertegun. Di dalamnya bukan bom, melainkan sebuah Robot Vacuum Cleaner seri terbaru yang sudah dimodifikasi dengan berbagai sensor kamera dan lengan mekanis kecil. Total ada sepuluh robot serupa di dalam kardus-kardus tersebut.

​"Ini bukan hadiah, ini mata-mata," gumam Bella. "Seseorang ingin melihat apa yang terjadi di dalam unit kita secara mendetail."

​Sambil Raka dan Bella sibuk membongkar "jeroan" robot-robot mata-mata tersebut untuk mencari tahu sumber sinyalnya, Siska menghadapi masalahnya sendiri. Usaha katering rendangnya, "Masakan Janda Galak", baru saja menerima ulasan buruk secara masal di aplikasi daring.

​"Gila! Masa ada yang bilang rendang gue bau bensin dan sambal terasi gue isinya potongan karet?!" Siska membanting ponselnya ke meja makan (untungnya meja itu kokoh). "Ini jelas sabotase bisnis!"

​Maya, yang juga sedang pusing karena toko online-nya tiba-tiba menerima ratusan komplain barang cacat yang sebenarnya tidak pernah ia kirim, ikut duduk dengan lemas. "May, kayaknya ada yang sengaja mau matiin ekonomi kita di lantai tiga. Apa mungkin faksi Benang Hitam masih ada yang sisa?"

​Raka masuk ke dapur dengan wajah serius. "Bukan cuma bisnis kalian. Gue baru saja nemuin kalau akun bank gue dibekukan dan semua data intelijen yang gue kumpulin selama lima bulan ini dikunci oleh virus 'Ransomware'. Seseorang sedang menyerang kita dari semua sisi: finansial, reputasi, dan privasi."

​Pukul empat sore, seorang wanita elegan dengan setelan jas merah menyala berjalan masuk ke area lobby apartemen. Ia tidak menggunakan senjata, tapi ia membawa selembar surat resmi. Namanya adalah Viona, seorang pengusaha tekstil dan kuliner sukses yang baru saja membuka gerai tepat di seberang apartemen.

​Viona naik ke lantai tiga, langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi berbunyi tuk-tuk-tuk yang sangat berirama. Ia berhenti tepat di depan gerombolan kita yang sedang rapat darurat.

​"Selamat sore, Janda-janda," ujar Viona dengan senyum kemenangan. "Saya hanya ingin memberikan surat pemberitahuan. Saya telah membeli hak sewa seluruh ruko di depan apartemen ini. Dan saya juga baru saja menandatangani kontrak eksklusif dengan pemasok kain katun langganan Maya, serta pemasok daging sapi langganan Siska."

​"Lo siapa?!" tanya Bella, tangannya sudah bersiap di balik punggung.

​"Nama saya tidak penting. Yang penting adalah, saya benci amatir yang mencoba bermain di dunia profesional. Kalian pikir dengan menghancurkan Benang Hitam, kalian bisa hidup damai dan menguasai pasar? Saya adalah The Merchant, rekan bisnis lama Nyonya Besar yang lebih suka menggunakan 'uang' daripada 'senjata' untuk menghancurkan lawan," Viona menatap Raka. "Dan untuk kamu, Raka... pengkhianatanmu tidak akan dilupakan."

​Viona berlalu pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang menyengat dan rasa sesak di dada.

​Malam itu, suasana di lantai tiga sangat berbeda. Tidak ada tawa. Lilin-lilin menyala karena listrik mereka sengaja diputus oleh oknum yang disewa Viona.

​"Kita nggak bisa lawan dia pake cara lama," ujar Bella. "Kalau kita hajar dia secara fisik, kita yang bakal masuk penjara karena dia punya perlindungan hukum yang kuat. Dia main bersih di mata publik, tapi kotor di balik layar."

​Raka membuka laptop cadangannya yang tidak terhubung internet. "Dia mutusin jalur logistik kalian. Itu artinya kita harus cari jalur alternatif. Siska, lo butuh daging? Kita nggak beli dari supplier besar. Kita langsung ke peternak di daerah Bogor."

​"Maya," lanjut Raka, "lo butuh kain? Kita jangan beli kain jadi. Kita pake stok lama di gudang rahasia agensi yang dulu gue simpen. Itu kain berkualitas militer yang nggak bakal bisa dibeli Viona."

​Maya mengangguk, matanya kembali berbinar. "Dan soal ulasan buruk itu? Aku bakal pake jasa followers setiaku buat ngelakuin investigasi digital. Kita bakal buktiin kalau ulasan-ulasan itu palsu!"

​Siska berdiri, memegang sutilnya. "Gue bakal masak sesuatu yang nggak bisa ditiru sama gerai Viona. Rendang asap dengan teknik panas bumi yang gue pelajari di Islandia. Baunya bakal bikin seluruh pelanggan dia lari ke sini!"

​Di tengah ketegangan itu, ada momen kecil antara Raka dan Bella di balkon. Bella sedang menajamkan pisaunya saat Raka mendekat.

​"Bel, maaf ya. Viona dateng ke sini karena dia nyari gue. Seharusnya gue nggak bawa kalian ke dalam masalah masa lalu gue," ujar Raka pelan.

​Bella berhenti mengasah. Ia menatap Raka dengan tajam, namun ada kehangatan di matanya. "Raka, dengerin gue. Setelah tujuh bulan kita hidup bareng, lo masih mikir kita bakal lepasin lo gitu aja? Masalah lo itu masalah Siska, masalah Maya, dan otomatis jadi masalah gue. Kita bukan cuma aliansi lagi, Raka. Kita ini... tim."

​Raka tersenyum, lalu memberanikan diri menggenggam tangan Bella yang kasar karena latihan. "Makasih, Bel. Gue janji, Viona nggak bakal bisa nyentuh kalian selama gue masih napas."

​"Gue juga nggak bakal biarin dia nyentuh lo," balas Bella singkat namun padat.

​Bulan berikutnya adalah bulan peperangan kreatif. Siska memulai kampanye "Makan di Tempat" di area parkir apartemen. Aroma rendang asapnya yang luar biasa menyebar hingga radius dua kilometer, membuat gerai Viona yang mahal dan kaku itu sepi pengunjung.

​Maya meluncurkan daster seri "Anti-Mainstream", di mana setiap pembeli mendapatkan edukasi tentang cara membedakan kain asli dan palsu (secara halus menyindir produk Viona yang ternyata menggunakan bahan campuran murahan).

​Raka dan Bella bekerja di balik layar. Mereka berhasil meretas server pribadi Viona dan menemukan bukti bahwa Viona melakukan suap kepada beberapa oknum dinas pasar untuk menutup usaha kecil di sekitar apartemen.

​"Kita punya bukti suapnya," ujar Raka saat mereka berkumpul di meja makan. "Gue bisa kirim ini ke media massa malam ini."

​"Tunggu," sela Maya. "Jangan cuma dikirim ke media. Kita bikin acara fashion show daster di depan lobby besok. Kita undang wartawan, dan di tengah acara, kita putar video bukti itu di layar raksasa. Biar malunya maksimal!"

​Acara itu sukses besar. Di tengah lenggak-lenggok Maya yang memeragakan daster bermotif macan tutul, layar di belakangnya tiba-tiba berubah menampilkan rekaman pembicaraan rahasia Viona dan oknum pejabat.

​Viona yang hadir di sana mencoba kabur, tapi Bella dan Raka sudah menunggunya di pintu keluar.

​"Bisnis yang dibangun di atas penderitaan orang lain itu kayak jahitan tanpa simpul, Viona," ujar Bella sambil melipat tangannya di dada. "Ditarik dikit, langsung lepas semua."

​Viona ditangkap atas dugaan korupsi dan persaingan bisnis tidak sehat. Gerainya ditutup, dan semua asetnya disita.

​Setelah badai Viona berlalu, kehidupan di lantai tiga kembali ke ritme semula. Siska mendapatkan kembali pelanggannya, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Maya menjadi influencer fasyen yang diperhitungkan. Raka dan Bella? Mereka kini mulai berani jalan berdua ke pasar swalayan tanpa harus pura-pura sedang mengintai musuh.

​Pagi itu, Raka sedang membantu Maya mengepak daster saat ia menemukan sebuah foto lama di bawah tumpukan kain. Foto mereka berempat saat di Bali, tertawa dengan latar belakang matahari terbenam.

​"Sembilan bulan ya," gumam Raka.

​"Iya, Raka. Dan gue masih nunggu lo benerin kran air di unit gue yang bocor sejak bulan lalu," sahut Bella dari arah pintu.

​Raka tertawa, menyambar tas perkakasnya. "Siap, Komandan!"

​Mungkin drama akan selalu ada, entah itu musuh internasional atau sekadar persaingan dagang rendang. Namun di Apartemen Puri Kencana, mereka tahu bahwa selama mereka punya satu sama lain dan selama stok sambal terasi Siska masih ada mereka akan selalu bisa menjahit kembali kebahagiaan mereka.

1
yumin kwan
ish.... kak author keren bingitz.....
semangat kakak 💪
yumin kwan
ide ceritanya unik, lain daripada yang lain. kocak, sangat menghibur....
Talita Rafifah artanti
bagus ceritanya, menghibur, menarik untuk dibaca
yumin kwan
jadi... bakal tamat nih??!
Ayu Arsila: gak kokk... amann. 🤭
total 1 replies
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!