NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POSESIF

Noah menghampiri Ninda yang sedang nongkrong bersama teman-temannya di pub yang ada di kampus, Ninda benar-benar terkejut melihat Noah yang sudah berada di sampingnya.

"Aku tidak mengganggu bukan,"

"Noah!" ucap Ninda pelan, Ninda melongo kaget bukan main dia tak menduga Noah akan nekad datang mencarinya.

"Tentu saja tidak," ucap Ninda kikuk. Sunak menghampiri Noah dan menjabat tangannya.

"Hi Bro," kata Sunak sambil tersenyum ke arah Noah.

"Apa Ninda merepot kan mu hari ini?" tanya Noah sambil menepuk bahu Sunak.

"Yah lumayan," sahut Sunak sambil tertawa di ikuti tawa Noah, Ninda menatap Sunak kemudian matanya mulai melotot.

"Ini Noah pacarnya Ninda," Celetuk Sunak memperkenalkan Noah kepada Anna, Mark. dan Sean.

"Hi, aku Anna," ucap Anna langsung menyambar tangan Noah. Anna tampak terpesona melihat Noah, Mark dan Sean berdehem hampir bersamaan melihat tingkah Anna yang ketara terpesona menatap Noah.

"Hi, aku sean," ucap Sean sambil melambaikan tangan. Sean sedikit menciut setelah melihat penampakan Noah yang sangat sempurna untuk seorang laki-laki.

"Mark," sambung Mark .

"Boleh aku bergabung," ungkap Noah sambil duduk di tengah di antara Ninda dan Sean, Sean sedikit bergeser mendekat ke samping Mark.

"Tentu, santai saja bro," sahut Mark ramah.

Sean tampak memperhatikan Noah dengan seksama Mark yang melihat itu hanya nyengir,

Kemudian Noah merangkul pinggang Ninda, sean membuang muka sejenak dia sedikit tampak kesal melihat pemanandangan itu. Bukannya ingin  mundur Sean malah semakin tertantang melihat sikap Noah yang seolah pamer kemesraan di hadapannya.

"Kenapa nggak bilang mau ke sini," ungkap Ninda menatap Noah sedikit heran.

"Gimana mau bilang telponnya kamu tutup,"sahut Noah pelan sambil menarik tubuh Ninda semakin dekat kearahnya.

Sean menelan ludah tampak ngiler melihat hal itu. Mark yang menyadari hal itu kemudian menyenggol lengan Sean soalnya tatapan Sean mupeng banget.

"Aku yang kasih lokasi ke Noah," celetuk Sunak  sambil tersenyum menatap Ninda, Ninda sedikit melotot ke arah Sunak.

"Apa-apaan sih," ucap Ninda pelan masih melotot ke arah Sunak.

Noah berdehem tatapan Ninda kemudian tertuju ke arah Noah.

"Mau pulang atau mau nonton bola di sini?" tanya Noah menatap Ninda dengan sorot mata yang tajam, walau bibirnya tersenyum tapi sorot matanya sepertinya tampak marah.

Bulu kuduk Ninda mulai berdiri dia tak berani melawan atau bicara sekarang.

"kita puang saja, sepertinya jalanan belum penuh, kalau menunggu akan sulit untuk pulang" ungkap Noah lagi. itu bukan opini melainkan perintah.

"Iya kita pulang saja," ucap Ninda sedikit takut. Dia mengikuti saja dari pada harus menghadapi kemarahan Noah.

Akhirnya Ninda dan Noah memutuskan untuk pamit dari hadapan mereka semua. Namun saat Ninda dan Noah beranjak tiba-tiba saja Sean nyeletuk.

"Ninda, nanti aku hubungi," celetuk Sean sambil melambaikan tangan ke arah Ninda, Ninda balas tersenyum menanggapi Sean, wajah Noah berubah suram seketika.

Mereka pulang ketika pertandingan berlangsung jadi jalanan tampak lengang ,Noah membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia terlihat sangat marah.

Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di apartemen. Namun ada yang berbeda dari raut wajah Noah, dari mulai keluar mobil sampai masuk ke dalam apartemen Noah tampak memasang wajah dingin.

Melihat hal itu Ninda merasa tidak nyaman akhirnya Ninda berusaha berbicara terlebih dahulu kepada Noah.

"Noah apa kamu marah?" ucap Ninda pelan. mata Noah membelalak ke arah Ninda.

"Menurut mu," jawab Noah ketus.

"kamu memutuskan sambungan telpon ku," ungkap Noah lagi kali ini menatap Ninda dangan tatapan mata yang tajam. Ninda menunduk dia sedikit merasa takut di tatap Noah seperti itu.

"Maaf aku merasa tidak enak dengan senior ku," ucap Ninda terbata-bata.

"Merasa tidak enak dengan laki-laki yang ada di samping mu mungkin?" Ucap Noah dengan ketus.

"Siapa Sunak?" Noah semakin melotot menatap Ninda yang belagak bodoh.

"Ninda nanti aku akan menghubungi mu," Noah mulai menirukan cara Sean berbicara. Ninda sedikit tercengang rupanya Noah sangat cemburuan.

"Ya tuhan Noah, aku baru bertemu denganya hari ini," ucap Ninda lagi mencoba menenangkan Noah yang terbakar api cemburu.

Tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel Ninda, Ninda sedikit deg-degan dia melihatnya kemudian menyimpan kembali ponselnya. Mata Noah seketika menatap Ninda sorot matanya sangat menakutkan.

"Siapa?" tanya Noah ketus.

"Sean," sahut Ninda singkat.Dia tak berani berbohong kemudian Noah merampas ponsel Ninda dan membaca pesan itu.

'Ninda apa kau baik-baik saja' Begitu lah isi pesan Sean.

Wajah Noah berubah menakutkan di tatapnya Ninda.

"Tampaknya senior mu itu sangat kuatir pada mu," Wajah dan suara Noah tampak dingin

Ninda hanya terdiam menatap Noah bicara pun tak akan ada gunanya, saat ini Noah sedang cemburu buta pikir Ninda.

"Kau tau cara mu tersenyum kepadanya membuat ku marah," Noah mulai mendekat ke arah Ninda.

Ninda terkejut melihat raut wajah Noah, dia tak menyangka Noah akan semenakutkan ini.

"Noah aku hanya tersenyum itu tidak berarti apa-apa," ucap Ninda heran dia sedikit membela dirinya.

Noah mendekat ke arah Ninda dengan cepat kali ini wajahnya masih tampak marah, Ninda berlahan mundur sampai mentok ke dinding.

"Noah jangan seperti ini aku takut?" ucap Ninda sedikit ketakutan.

Noah menggenggam tangan Ninda kemudian mengangkat keduan tangan Ninda ke atas.

"Aw sakit!" ungkap Ninda.

Bibir Noah mulai mencium Ninda, Ninda tampak membuang muka namun Noah berhasil mendapatkan bibir Ninda.

"Noah hentikan kamu kasar sekali," Noah tak menghiraukan Ninda dia terus mendesak Ninda ke dinding

Nafas Noah memburu, sorot matanya gelap oleh hasrat yang bercampur cemburu. Ninda terengah-engah meladeni sentuhan kasar itu, jantungnya berdegup tak karuan.

Dengan gerakan penuh emosi, Noah menarik kemeja Ninda. Kancing-kancingnya terlepas dan jatuh berderak ke lantai. Ninda sempat menatap wajah Noah—lalu segera membuang muka, ngeri melihat ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Noah tak memberi jeda. Pakaiannya dilucuti satu per satu dengan gerakan tergesa dan dominan. Tubuh Ninda menegang, dadanya naik turun, pikirannya dipenuhi perasaan yang saling bertabrakan—takut, terkejut, namun juga ada sensasi lain yang tak bisa ia sangkal ketika Noah mencengkeramnya dengan kuat.

Noah membalikkan tubuh Ninda hingga ia menghadap dinding. Tangannya menekan pinggang Ninda, membuat tubuh itu sedikit menunduk. Serangan bertubi-tubi membuat Ninda terkejut, suara rintih dan desahan lepas begitu saja saat ia menopang tubuhnya pada dinding agar tetap seimbang.

“Kau nakal,” bisik Noah pelan di telinga Ninda, napas panasnya menyusup. “Berani-beraninya kau tersenyum pada laki-laki lain.”

Ninda tak menjawab. Desahannya justru kian terdengar, membuat Noah semakin kehilangan kendali. Keringat membasahi tubuhnya, bibirnya sesekali menyentuh leher Ninda, menambah panas yang membakar di antara mereka.

Hingga akhirnya, setelah emosi itu tumpah seluruhnya, Noah terdiam. Napasnya perlahan mereda. Ia memeluk Ninda dari belakang, erat—seolah ingin memastikan perempuan itu benar-benar miliknya.

Ninda sendiri masih terengah, tubuhnya lemas, mabuk oleh keperkasaan Noah.

Noah kemudian membalikkan tubuh Ninda. Mata Ninda tampak sayu saat menatapnya.

“Apa kau mengakui kesalahanmu?” tanya Noah.

Ninda mengangguk, tersenyum kecil sambil memeluknya.

“Aku tak mungkin menggantikanmu dengan laki-laki seperti itu,” ucapnya lirih, sebelum mengecup bibir Noah.

Noah tersenyum, jemarinya membelai rambut Ninda.

“Kau tidak boleh tersenyum kepadanya,” katanya tegas.

Ia memangku tubuh Ninda dan mendudukkannya di atas sofa, membuat Ninda semakin tenggelam dalam pelukan dan tatapan itu.

“Kalau kau nakal,” lanjut Noah, “aku akan menghukummu seperti ini.”

Ninda mengalungkan tangannya ke leher Noah, tersenyum nakal.

“Kalau begitu aku akan selalu tersenyum padanya, supaya kau terus menghukumku.”

Noah mendengus, menoyor kepala Ninda ringan. Ninda tertawa kecil lalu memeluknya manja.

“Baru lima puluh menit. Masih ada waktu,” kata Noah sambil menyalakan televisi. Skor di layar menunjukkan 1–1.

Ninda menggeleng pelan, menatap Noah dari samping sebelum ikut merangkulnya. Mereka duduk berdampingan, menyaksikan pertandingan antara Belanda dan Jerman—dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!