seorang gadis yang terbangun dari tidur dan mendapatkan dirinya berada di tubuh wanita lain.
Geishana Deborah, tujuh belas tahun terkejut ketika bangun dan mendapatkan dirinya di tempat yang asing. Sosok gadis bar-bar hidup sebagai ratu yang dikucilkan karena kebodohannya. Terlebih ia sudah memiliki suami yang tidak mencintainya.
Geisha yang pintar, cekatan dan jago bela diri merubah tubuh kurus dan lemah. Hingga ia sadar jika sang ratu ternyata terlalu baik hati, makanya dimanfaatkan orang banyak.
"Aku bukan ratu kalian yang dulu. Bersiaplah!" gumamnya menyeringai dalam hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN 2
Henry menatap lahan lain. Sebagai raja, kemarin ia tak melihat potensi daerahnya sendiri. Akibat memperluas wilayah dan keinginannya menjadi kaisar hingga ia menelantarkan daerah kekuasaannya sendiri. Bahkan ketika ia masih menjabat putra mahkota.
"Jadi kita juga punya lahan gandum sendiri?" gumamnya.
"Marquez Arthur!"
Sosok yang dipanggil datang. Pria tampan lain selain Sang raja dan Marquez Albert. Pria itu langsung membungkuk hormat.
"Data semua kepemilikan lahan ini, lalu periksa apa ada rakyat kita yang bisa mengelolanya. Kita bayar mereka dengan sistem bagi hasil!" titahnya.
"Baik Yang Mulia!" sahut Arthur.
"Mana Ratu?" tanya Henry.
"Sedang berlatih memanah Yang Mulia!" Henry mengangguk.
Pria itu mendatangai ratunya. Raisa tengah menarik busur panah. Henry melihat cara yang dilakukan oleh istrinya salah.
"Seperti ini Yang Mulia!" ujar Henry lebih mengangkat tangan sang ratu.
"Lepas!" titahnya.
Panah dilepas dan tepat pada sasaran. Raisa senang bukan main. Henry mengusap telapak tangan istrinya yang mulai kasar.
"Cukup latihannya Yang Mulia. Aku tak mau kau jadi laki-laki setelah keras berlatih!" ujar Henry.
Pria itu mengambil busur dan anak panah yang dipegang Raisa. Ia meletakkannya dan menyuruh beberapa prajurit yang ada di sana membereskan semuanya.
"Ayo!" ajak Henry.
Tangan Raisa digenggam. Gadis itu menunduk karena menyembunyikan wajahnya yang merona.
'Ck ... jantung ... tenanglah!' ujarnya dalam hati.
"Tegakkan kepalamu Ratu. Kau adalah Ratuku!"
Raisa menegakkan kepalanya. Ia mengikuti langkah raja yang elegan dan penuh kharisma.
Semua membungkuk hormat ketika keduanya lewat. Ada beberapa pasang mata yang menatap sinis kemesraan keduanya. Mereka pelayan-pelayan Sonya, masih tak menyukai Raisa.
'Cis, dasar wanita penggoda!' runtuk pelayan itu kesal.
Keduanya pun sudah berada di singgasananya. Beberapa pelayan berjejer dalam posisi berdiri dan kepala menunduk. Ada dua pelayan di kanan dan kiri yang mengipasi keduanya dengan kipas sedang.
Raisa mengingat jika di tahun ini kipas angin sudah ada. Ia akan mencoba menggali lagi sumber daya istana, untuk mendapatkan listrik secara permanen.
"Yang Mulia!" Albert datang dengan simbol kerajaan.
"Ada apa Albert?"
"Lapor Yang Mulia persidangan para menteri korup dan para bangsawan akan segera dilaksanakan!"
"Hukum pancung bagi mereka yang terbukti mencuri keuangan negara. Lalu beri surat perintah pada semua kerajaan di bawah kita untuk melaporkan semua hasil pajaknya!" titah Henry.
"Laksanakan Yang Mulia!"
Albert senang melihat rajanya mulai berubah. Bukan ia tak suka dengan cara kerja sang raja kemarin-kemarin. Kemungkinan karena usia Henry yang terbilang masih muda. Albert berikut cara kerja sang raja.
"Viscount Lorry!" panggilnya kemudian.
"Yang Mulia!" sahut kepala pengaturan kerajaan.
"Apa para menteri dan juga bangsawan sudah berkumpul di aula istana sebelah barat?" tanya Henry.
"Semua sudah Yang Mulia!"
Henry berdiri dan kembali mengamit tangan istrinya. Ia menggandeng sang ratu untuk ikut dan duduk bersamanya.
"Aku ingin kau ikut serta menyuarakan semua pendapatmu Yang Mulia Ratu," pinta Henry.
"Baik Yang Mulia!" sahut Raisa.
Jiwa Geisha seperti mendapat tantangan baru. Gadis itu dulu di jamannya adalah kepala aktivis yang membawahi semua masalah mulai dari lingkungan, sosial, kesehatan juga karya cipta.
"Yang Mulia Raja Henry dan Yang Mulia Ratu Raisa tiba!" pekik Kasim memberitahu.
Semua orang dalam ruangan berdiri. Henry masuk bersama Raisa. Semua membungkuk hormat. Keduanya duduk di kepala meja dengan kursi berukiran indah.
"Rapat di mulai!" seru Viscount Lorry.
"Yang Mulia, kenapa banyak sekali bangsawan dan para menteri ditangkap?" tanya salah seorang bangsawan bergelar Duke.
"Mereka adalah orang-orang terpilih yang begitu kompeten di bidangnya!" lanjut salah satu Duke lagi.
"Mohon pertimbangan Yang Mulia!"
"Apa kalian buta!" teriak Henry murka.
Semua menunduk takut. Raisa juga bergidik ngeri mendengar kemarahan raja yang menjadi suaminya itu.
"Mereka mencuri uang dan juga harta kerajaan. Kalian bilang manusia-manusia berkompeten?" teriaknya.
"Semua bukti bahkan harta kekayaan yang sangat jauh dari kekayaan kerajaan sendiri. Para prajurit yang tak dibayar. Pantas saja kemarin aku nyaris kalah di pesisir ketika menyerang Raja Namont!" serunya marah. "Ternyata mereka lemah karena belum dibayar!"
Semua menunduk. Beberapa adalah bangsawan yang berpengaruh. Mereka mulai ketakutan jika Raja mengambil alih semua kekuasaan seperti ketika Raja Goerge Horton yang marah dan mengambil alih semua kekuasaan.
"Aku akan mengambil alih semua kekuasaan!"
"Yang Mulia, kami akan bekerja lebih keras dibanding sebelumnya!" sahut para Duke.
"Saya mendukung keputusan Yang Mulia untuk mengambil alih semua kekuasaan!" sahut Raisa.
Maka semuanya terdiam. Duchess Raisa Deborah adalah bangsawan yang paling kuat pengaruhnya juga kekuasaannya. Wanita yang diperistri Raja mereka itu kini memegang kendali penuh wilayah kekuasaan mendiang ayahnya.
Sebagai putri satu-satunya, Raisa adalah ahli waris yang memegang kekuasaan penuh wilayah selatan yang subur.
"Yang Mulia boleh saya bicara?" pinta Raisa.
"Silahkan Ratu!" sahut Henry.
"Di sini, saya melihat sekali jika para Duke, Marquez, Viscount dan Baron tak mendukung keinginan Kaisar," ujar gadis itu begitu berani.
"Maka saya Duchess Raisa Deborah mendukung penuh kekuasaan Raja Henry untuk menjadi kaisar di negara ini!"
"Ehem ... maaf saya Baron Hoberto juga mendukung Raja menjadi Kaisar!"
"Saya Marquez Albert mendukung penuh Raja menjadi Kaisar!" sahut Albert dari luar.
Pria itu membawa sebelas prajurit gagah dan empat perwira yang bergelar bangsawan. Mereka membawa banyak bukti pada para bangsawan yang terlibat.
"Duke Carlos, Duke Robert, kalian ditangkap karena diduga terlibat suap atas pembelian lahan anggur milik Kerajaan!" ujar Albert mengagetkan semua orang termasuk Henry.
"Itu fitnah!" teriak dua Duke yang tertuduh.
"Tangkap mereka!" titah Albert.
Kedua pria berontak. Mereka memaki kerajaan, sedang Henry makin berang.
"Sita semua kekayaan, ambil alih lahan yang sudah terjual!" titah Henry benar-benar murka.
"Copot semua gelar bangsawan yang terlibat!" lanjutnya.
"Viscount Lorry, minta semua data kekayaan para bangsawan, selidiki semua kekayaan mereka!" lanjutnya memberi perintah.
Semua bangsawan yang bersih langsung membantu Lorry memberi data kekayaan mereka.
Henry kembali menggandeng Raisa. Pria itu membawa ratunya ke tempat favoritnya.
"Yang Mulia ... air hangat sudah siap. Mari Ratu," ajak pelayan pada Raisa.
Beberapa pelayan hendak melepas jubahnya. Tapi Henry menghentikan mereka.
"Madam Audrey!" panggilnya.
Kepala pelayan bernama Audrey datang dengan membungkuk hormat.
"Pecut semua pelayan yang melirik sinis ratu dan mulai saat ini. Tak ada satupun dari kalian yang boleh menyentuhku kecuali Yang Mulia Ratu!" titah Henry menatap Raisa dengan pandangan penuh cinta.
Semua pelayan terdiam, mereka sangat tidak yakin jika rajanya dapat melihat pandangan mereka yang sinis pada sang ratu.
"Apa kau dengar Audrey!" sentak Henry yang membuat semuanya terkejut.
"De—dengar Yang Mulia!" sahut Audrey gugup.
"Pecut juga dirimu lebih kuat Audrey!" ujar Henry menatap tajam kepala pelayan itu.
Semua keluar ruangan dengan kepala tertunduk dan mata basah. Tak lama sepuluh pelayan termasuk Audrey menjerit kesakitan karena dihukum cambuk.
"Yang Mulia, mereka akan tambah membenciku nanti," ujar Raisa tak enak hati.
"Jika demikian, maka aku pancung kepala mereka dengan tanganku sendiri!" sumpah Henry.
Pria itu memeluk istrinya. Kepala Raisa yang menunduk ia angkat dagunya dengan jemari.
"Apa aku masih harus menunggu?" tanyanya penuh harap.
Raisa menatap pendaran mata gelap di depannya. Jiwa Geisha dan tubuh Raisa sudah menyatu, gadis itu menggeleng.
"Aku milikmu Yang Mulia," ucapnya lirih.
Bersambung.
eh ... kok nggak nganu? 🤭
next?