Takdir sangat kejam bukan, saat kita berpisah aku pikir tak ada alasan lagi untuk kita kembali bersama, namun dia membuat kehidupan kita seolah sebuah permainan, mempertemukan kita kembali dalam lingkaran kehidupan yang semakin sulit.
Penasaran kisah nya yukkk langsung baca
Hati hati bucin tingkat akut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan (2)
"nak besok kamu dan Reva pergi ke butik ya untuk milih baju pengantin kalian. " ucap Helen yang duduk di sofa melihat anaknya baru pulang menuju kamar nya.
"jadi besok kalian barengan pulang sekolahnya ya biar kamu ngak capek lagi jemput Reva dari rumahnya ya. " sambung mama lagi.
" knapa gk skalian mama juga yang milih baju pengantin kami ma" tolak Rey tak terima.
" nak yang nikah sekarang kan itu kalian bukan mama, jadi kalian yang milih baju pengantin untuk kalian kenakan." balas mama sambil menghampiri anaknya tersebut.
" baiklah bu besok Rey dan Reva pergi ke butik. " ucap Rey sambil berlalu meninggalkan mama nya menuju kamar dengan perasaan kesal. "
"huh dasar anak itu " gumam Helen
melihat Rey yang sedang berjalan menjauh menuju kamarnya dengan menghela nafas panjang.
Keesokan harinya
" lo mesan apa biar gue aja yang mesanin" ucap Feni kepada Reva di meja kantin, mereka sekarang sedang dikantin untuk mengisi perut mereka.
"gue kayak biasa aja " balas Reva kepada Feni.
" ok tunggu ya " ucap Feni sambil meninggalkan Reva menuju ke tempat jualan.
Pada saat dia duduk sendiri menunggu temannya itu tiba tiba datang seorang pria menghampiri dia dengan membawa makanan yang sudah ada ditangan ya.
" Hai gue boleh ngak duduk di sini? " ucap pria itu sambil melihat Reva.
" eh kk Adelardo silahkan duduk. "jawab Reva mempersilahkan Adelardo duduk.
" makasih jangan terlalu formal panggil gue Ardo aja. " balas Ardo sambil tersenyum dan duduk didepan Reva.
" lo ngk mesan? " tanya Ardo.
"pesan kok, tapi lagi diambil kan sama temen gue tu. " balas Reva sambil menunjuk ke arah Feni yang sedang memesan makanan.
Ardo hanya mengiyakan dan manggut manggut tanda mengerti.
" btw bagaimana keadaan kepala kamu kemarin apa masih sakit ? " ucap Ardo dengan nada bertanya.
" oh udah baikan kok, ngk sakit lagi makasih ya udh bantuan gue kemarin." balas Reva sambil memegangi kepalanya dan tersenyum kearah Ardo.
" Oh baguslah lain kali lo harus hati hati ya" jawab Ardo sambil ikut tersenyum juga.
" siap bos " ucap Reva sambil membuat gerakan menghormat.
Tak lama kemudian Feni datang membawakan pesanan mereka berdua.
" Eh ini bukanya kk Adelardo ya." tanya Feni sesampainya di samping Reva.
" iya, santai aja panggil aja gue Ardo. " jawab Ardo sambil tersenyum.
" ada apa ini, kenapa kk sama Reva bisa berdua jangan jangan kalian.." ucap Feni sambil menunjuk kearah mereka berdua dengan nada mengantimidasi.
" jangan bilang yang aneh aneh kami kemaren kebetulan ketemu karena kk Ardo nolong gue pas gue kena bola basket. " jawab Reva tak terima.
"Apa!! lo kena bola basket mana mana yang kena masih sakit ngk? Kok gue ngk tau sih? " balas Feni dengan nada khawatir.
" Udah ngak papa kok, lagian makanya lo sih terlalu semangat ngedukung itu manusia es sampai lupa sama sahabatnya sendiri. " balas Reva kesal.
Feni hanya membalas dengan cengesesan nya.
"Siapa yang manusia es? Rey ya? " ucap Ardo ikut gabung dalam percakapan mereka berdua sambil tersenyum.
" heheh habis dia ngeselin sih sok sok cool padahal ganteng aja kagak, sok sok tebar pesona lagi, emang dia pikir semua cewek suka sama dia iddih ngak semua, gue aja gak malah pengen muntah. " ucap Reva terbawa emosi.
" Reva sssttt diam jangan dilanjutkan." balas Feni yang pucat Pasi sambil berusaha mendiamakan Reva.
" Emang knapa kan benar sih dia itu sok keren " balas Reva lagi.
" Siapa tadi yang lo bilang sok keren?" ucap seseorang dari belakang Reva
" Mati gue " batin Reva
Dia pun melirik kearah belakang dan sudah menebak siapa pemilik suara itu.
" ikut gue. " ucap laki laki yang berada dibelakang Reva tak lain adalah Rey.
" udah deh ikutin aja toh juga gue ngk bisa membantah kan?ya tuhan cobaan apa lagi ini " batin Reva sambil mengikuti Rey.
Reva melirik ke arah feni dan Ardo mencoba meminta pertolongan
Tapi apalah daya mereka, mereka juga tidak bisa membantu kan.
Rey menarik Reva ke halaman belakang sekolah.
" Tadi itu gue ngak bermaksud untuk.. " ucap Reva ingin membela diri.
" Udah ngak usah dibahas gue cuman bilang lo nanti pulang bareng sama gue, Mama nyuruh kita ke butik milih baju pengantin." balas Rey memotong pembicaraan Reva.
" Apa, ngak mau males banget gue berdua di mobil sama lo lagi. " balas Reva ketus.
" Emang lo pikir gue mau satu mobil lagi sama lo? ini karena perintah mama kalau ngak gue lagi lebih ngk mau, dan satu lagi nanti tunggu gue di terminal kemarin aja jangan disekolah gue ngak mau mereka curiga mengenai ini nanti. " balas Rey dengan nada meremehkan dan pergi begitu saja tanpa menunggu Reva membalas.
" Aoa!!! dasar manusia es seenaknya aja. " gumam Reva tak terima.
Sesampainya dibutik mereka sudah memilih baju yang akan mereka kenakan nanti, ya walaupun milihnya asal sih yang penting bagi mereka cepat pulang dan tak mau berjumpa satu sama lain.
" Hei manusia es gue mah turun bentar mau beli es krim." ucap Reva didalam mobil sambil menunjuk ke arah penjual es krim di pinggir jalan.
" lo pikir gue supir lo makanya gue harus nurutin perintah lo. " balas Rey sambil mengernyitkan dahinya.
"isss bentar aja gue lagi pengen nih. " ucap Reva merengek.
" ckckc ya udah bentar." balas Rey dan menepi kan mobil ya.
Reva pun langsung keluar mobil dan menuju penjual es krim disana dia terlihat senang, apalagi dia sempat bermain main sebentar dengan anak anak yang berada disana sambil menunggu es krim milik nya.
Rey yang berada balik kaca mobil matanya tak lepas memandangi Reva yang sedang asyik bermain dengan anak anak yang ada di tempat itu.
Salam "Suami Bajinganku Tersayang"
Salam "Suami Bajinganku Tersayang"