Follow IG : othor_barbar
Siapa yang tak terluka jika kita menikah dengan orang yang tak pernah menganggap kita ada.
Hari-hari disuguhkan dengan pemandangan yang membuat hati kita terhempas dan jatuh berkeping-keping, akankah kita bisa bertahan dengan rumah tangga yang dijalani penuh dengan kepalsuan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tufa_hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambruk
Pagi harinya.
"Graccc..." teriak Brian dari kamarnya.
Pak Andra menghampiri tuannya karena mendengar Brian memanggil Gracia. "Maaf Tuan, adakah yang bisa saya bantu? Nona Cia sedang tidak enak badan. Demamnya tadi malam tinggi. Jadi kami membiarkannya untuk beristirahat." Pak Andra menundukkan kepalanya.
"Aku tidak menyuruhmu untuk datang kemari, aku bilang panggil Gracia sekarang!" sentak Brian.
"Baik Tuan." Pak Andra membungkuk lalu melangkah pergi meninggalkan tuannya yang sedang emosi.
Alasan saja, paling dia cuma pura-pura sakit agar terbebas dari tugasnya, batin Brian.
...🌙🌙🌙🌙🌙...
Setelah beberapa saat Gracia datang dengan wajah pucat nya. Brian menatap kedatangan Gracia dari ranjangnya karena sedari dia bangun, Brian tak beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya.
"Baru ku siksa sedikit saja kau sudah pura-pura sakit, ingat ya! Ini baru permulaan." Brian menuding Gracia dengan jari telunjuknya.
"Aku akan terus menyiksamu hingga kau menyerah." Brian menyunggingkan sudut bibirnya.
Gracia hanya tersenyum dengan wajah pucat nya. Ia tak membalas perkataan Brian, ia hanya sibuk menyiapkan perlengkapan Brian untuk mandi.
"Sekarang lepaskan pakaianku!" perintah Brian tersenyum sinis. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Gracia melepaskan pakaian Brian tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dan hal itu sukses membuat Brian terkejut karena niatnya hanya ingin mengerjai Gracia saja. Namun, ternyata yang terjadi tidak sesuai harapan Brian. Brian melihat Gracia santai tanpa protes sedikitpun. Saat sampai di bagian celananya Gracia hampir menyentuh resleting celana Brian. Namun, tangan Brian menghalanginya dan menatap Gracia tajam.
Aku tau Mas, kau hanya ingin mencari kesalahanku saja. Sekalipun kau memang ingin aku melayani mu yang sesungguhnya, aku tidak masalah karena itu memang kewajiban ku. Gracia membatin dan tersenyum tipis bahkan Brian tak dapat melihat senyuman Gracia.
"Lancang kamu ya? Ternyata kau berbakat menjadi seorang j-a-l-a-n-g," teriak Brian memenuhi kamar tersebut dan menghempaskan tangan Gracia kasar.
Deg
Gracia tersenyum untuk menutupi kepedihan hatinya. Lalu Gracia beranjak dari tempat tidur Brian dan hendak pergi dari kamar tersebut.
"Apa begitu caramu menghormati ku sebagai suami?" ucap Brian yang membuat langkah Gracia terhenti.
"Aku tidak menyuruhmu pergi, jadi kau tunggu di sini sampai aku selesai mandi," ucap Brian.
Gracia berbalik dan berdiri mematung menatap Brian dengan wajah pucat nya. Sedangkan Brian melangkah pergi ke kamar mandi tanpa memperdulikan Gracia yang berdiri mematung di sisi ranjangnya.
Gracia merasakan kepalanya semakin berdenyut, semakin lama pandangannya semakin kabur dan samar-samar dia melihat kamar Brian se akan berputar-putar, hingga akhirnya Gracia tak dapat menahan keseimbangannya dan tak dapat melihat apapun lagi, mata Gracia terpejam seiring kesadarannya menghilang. Gracia ambruk di lantai kamar Brian tanpa ada seorangpun yang menangkapnya.
Setengah jam berlalu Brian sudah selesai dengan ritual mandinya. Brian keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya memakai handuk sebatas pinggang, dan untuk beberapa saat Brian terpaku menatap Gracia yang tidak sadarkan diri.
Entah kenapa ada rasa tak tega melihat Gracia pingsan. Brian langsung menghampiri Gracia dan mengangkat tubuh Gracia ke tempat tidurnya.
"Grac, bangun Grac! Kau kenapa? Aku nggak mau ya dianggap KDRT padahal siksaan ku belum seberapa." Brian menepuk-nepuk pipi Gracia. Namun, Gracia tak kunjung membuka matanya.
"Bik Yeti...," teriak Brian. Brian Khawatir melihat keadaan Gracia yang tak sadarkan diri.
"Apa aku memang sangat keterlaluan padanya?" Brian menyentuh kening Gracia dengan telapak tangannya.
"Benar kata pak Andra. Demamnya tinggi aku harus panggil dokter pribadiku untuk memeriksanya." Brian panik melihat keadaan Gracia yang tak kunjung sadar.
......💋💋💋💋💋......
......TBC......