Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Dante : Still Confuse
Hari ini aku akan pulang kerumah, katanya aku sudah dua puluh hari di rumah sakit ini. Kubsama sekali tidak mengingat. Saat aku terbangun tadi pagi, rasanya baru berasa di sini, hari sebelumnya rasanya aku tidak di sini.
Perempuan bernama Lily yang mengaku sebagai istriku itu dari tadi mondar-mandir keluar masuk ruanganku, sekarang dia sibuk memasukan perlengkapan pribadiku kedalam tas besar.
Tatapanku terus mengikutinya, mungkin tatapanku menyiratkan kebingungan, jadi dia terus bertanya, "Ada apa Mas Dante? Kau ingin sesuatu? Ada yang bisa kubantu?"
Aku menggeleng. Tidak ada apa-apa sebenarnya. Aku hanya binggung. Bukan, bukan tidak percaya, aku percaya, dia memperlihatkan foto pernikahan kami yang tersimpan di galeri ponselnya, juga menujukan cincin nikah kami. Tidak mungkin dia berbohong tentang status pernikahan kami. Aku hanya ... yah, bingung. Bingung kenapa aku bisa menikah dengannya, aku tidak mengenalnya sama sekali.
Dia berjalan mendekat, aku gugup sekali, aku grogi.
"Hari ini Mas Dante boleh pulang, aku sudah membereskan semua perlengkapan Mas Dante. Kita tinggal menunggu dokter untuk pemeriksaan akhir," ucapnya saat berada di hadapanku
Aku menelan ludah berkali-kali untuk membasahi tenggorokanku yang kering karen kegugupan ini. "Oh. Iya. Bagus."
"Mas juga harus bersiap."
"Oh, iya. Tentu." Aku diam sejenak memikirkan maksudnya. "Bersiap untuk apa? Aku harus apa?"
Dia tertawa, tawanya renyah sekali, juga menular. Aku jadi ikut tertawa karena melihatnya tertawa.
"Maaf aku sedikit, yah ... linglung kurasa," tambahku.
"Mas Dante harus mandi. Sudah 20 hari Mas tidak mandi." Dia tertawa lagi.
"Bauku pasti parah sekali."
"Tidak juga. Aku membantu menyeka badan Mas Dante setiap hari?"
"Kamu? Menyeka badanku?"
Dia mengangkat bahunya. "Ya. Memang siapa lagi?"
Aku menelan ludah lagi. Membayangkan dia Menyeka tubuhku setiap hari. Aku merasa agak canggung jika perempuan asing menyentuhku. Termasuk dia. Dia wanita asing?
"Mas perlu bantuanku juga untuk mandi?" tanyanya memecah lamunanku.
"Tidak. Tidak. Aku sudah bisa sendiri," kataku cepat. "Ya aku bisa. Kurasa," bisikku pada diri sendiri,seolah tidak yakin.
"Oke baiklah. Aku akan menyiapkan kamar mandinya dulu. Di sini tidak ada bath up, aku akan meletakan kursibplastik di bawah pancuran, jadi Mas tidak perlu berdiri, aku khawatir Mas tidk kuat. Dokter bilang 10 hari tidk sadarkan diri, kemudian 10 hari setelah sadarkan diri hanya berdiam di atas ranjang akan membuat otot-otot Mas Dante kaku dan mungkin sedikit kehilangan kemampuan, terutama bagian kaki. Aku akan membantu Mas Dante berjalan sampai ke kamar mandi. Di dlm Mas hanya perlu duduk saja, aku juga akan meletakan sabun dan yang lainnya di dalam jangkauan Mas Dante."
"Ide bagus. Terima kasih."
"My pleasure. Mari." Dia mengulurkan tangannya padaku.
Aku merasa gugup saat menyambut tangannya. Tangannya halus dan lembut namun pegangannya pada tanganku cukup kuat.
Aku menurunkan kakiku perlahan menginjak lantai.
"Kamu benar, kakiku terasa kaku." Aku meringis saat mencoba menggerakan kakiku untuk memulai langkah pertama.
"Relax, pelan-pelan saja. Aku memengangi Mas Dante," ucapnya sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggangku dn sebelah tangannya yang lain memegangi bahuku.
Jarak dari ranjang perawatanku menuju ke pintu kamar mandi hnya beberapa meter. Namun, rasanya seperti sebuah perjalanan yang panjang. Bukan hanya kakiku yang kaku membuat pergerakanku lamban, namun juga detak jantungku yang tidak beraturan akibat sensasi aneh yang timbul dari tangan Lily di bahu dan pinggangku.
Baiklah, Dante, kau harus terbiasa dengan ini.
"Mas yakin tidak perlu bantuan?" tanyanya seaaat setelah aku duduk di kursi plastik di bawah pancuran yang sebelumnya Lily siapkan.
"Ya, tentu aku bisa sendiri. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu," ucapku untuk meyakinkannya.
"Baiklah. Aku ada di luar, kalau Mas perlu bantuan, panggil saja."
Aku mengannguk. Dia tersenyum manis sekali sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup.
***
Aku bergidik saat merasakan air yang jatuh menerpa kulitku. Tidak. Air ini tidak dingin. Hangat lebih tepatnya. Tapi tetap saja membuatku begidik. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan bulir-bulir air menghujam kulitku membuatku merasakan sensasi asing, seasing sensasi sentuhan Lily.
***