Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bohong
"Kok gawat?" Radit ikut beranjak dan berlari kecil mensejajari langkah kakinya dengan Jenna.
"Kenapa gawat?" tanyanya lagi.
Langkah kaki Jenna terhenti, "ya gawat aja ... takut aku gak bisa kalo harus ada second date ... lagi."
"Oh ... berarti ini pertemuan kita pertama dan terakhir?"
"Ya gak gitu, maksud aku tuh ... takut gak bisa janji, gitu maksudnya." Jenna pun bingung dengan jawaban yang ia berikan pada Radit. "Ya gitulah maksudnya ... aku gak janji," ulangnya lagi lalu kembali melangkah.
"Kamu punya pacar pasti," ujar Radit, dan Jenna menghentikan langkahnya. "Cowok yang waktu itu, di coffee shop dan di depan toko buku?"
"Cieee kepo," Jenna tersenyum.
"Tapi ... bener kan aku?"
"Mas Radit tuh ternyata kepo an orangnya ... ayo pulang," ujar Jenna santai.
"Ya iyalah ... perhatian sama kepo itu bedanya tipis," ujar Radit memberikan helm pada Jenna. "Bisa gak?" tanyanya saat Jenna memakai helm di kepalanya.
"Bisa ... tuh bisa kan," ujar Jenna mengancingkan helmnya.
"Langsung pulang?"
"Mau kemana?"
"Pasti takut dicariin pacarnya kan?"
"Dih ... mulai lagi," Jenna memegang pundak Radit saat naik ke atas motor.
"Bener gak?"
"Apanya?"
"Dicariin sama cowok kemarin."
"Gak ... gak ada yang nyariin aku, udah gak ada ... kecuali—"
"Tuh kan ... siapa?"
"Mama ... Abang ... sama Papa."
"Tambah satu lagi."
"Siapa?"
"Aku." Radit mengukir senyum.
"Apaan sih," Jenna tersipu malu untung saja dia sudah duduk di belakang Radit. "Ayo, pulang." Jenna menepuk pundak Radit, motor itupun melaju membelah jalan menuju kota Bangka sore itu.
...----------------...
Menjelang pukul setengah enam, Jenna sudah berada di depan pintu pagar rumahnya.
"Makasih ya Mas," ucap Jenna lalu menyerahkan helm pada Radit.
"Sama-sama ... makasih udah mau keluar sama aku," jawab Radit meletakkan helm dari Jenna.
"Em ... kapan-kapan jalan lagi," kata Jenna malu
"Aku tunggu," ujar Radit.
"Makasih," Jenna mengangkat tangannya seraya melambai.
"Masuk gih ... udah mau Magrib."
"Masuk ya ...." Jenna membalikkan tubuhnya.
"Jenna."
"Ya," Jenna buru-buru berbalik.
"Aku boleh chat atau telpon kan?"
Jenna mengangguk dengan senyum tipis.
"Oke ... take care (jaga diri) see you ... very soon (sampai ketemu lagi ... secepatnya)" ujar Radit melambaikan tangan. "Masuk sana."
Jenna memutar tubuhnya, perlahan menutup pintu pagar, seiring terdengar suara motor Radit menjauh dari kediamannya. Jenna melangkah masuk ke dalam dengan senyum simpul dan hati yang tak menentu.
"Diantar siapa?"
Jenna terkejut saat mendapati sang Mama sudah duduk di ruang tamu, menunggu Jenna kembali pulang.
"Mama ... ngagetin."
"Kamu belum jawab pertanyaan Mama ... diantar siapa?"
"Temen ... temen SMA," bohong Jenna.
"Tadi siang bilangnya pergi dengan temen kuliah, sekarang pulang dengan temen SMA ... Mama harus percaya yang mana nih?"
"Iya ... itu temen kuliah dari SMA, jadi kayak ada reuni gitu Ma, terus karena gak ada yang anterin pulang temen aku inisiatif nganterin," ujar Jenna.
"Kamu jangan bohong-bohong sama Mama, Jenna." Jenna menatap Mama Kartina.
"Jenna gak bohong, Jenna memang pergi sama temen ... karena mau Magrib, temen Jenna inisiatif nganterin Jenna pulang ...." Jenna harus berbohong. "Kenapa sih Ma, susah sekali percaya sama Jenna, Jenna udah gede Ma, umur Jenna 25 tahun bahkan beberapa bulan lagi bakal 26 tapi perlakuan Mama ke Jenna seakan Jenna masih duduk di bangku SMP!" Jenna berlari menaiki tangga dan berpapasan dengan Akbar yang baru saja akan turun.
"Kenapa?" tanya Akbar meraih lengan Jenna.
"Gak papa ... biasalah, Jenna capek Bang."
Jenna pergi meninggalkan Akbar, Akbar hanya bisa memandangi punggung adiknya. Sementara di bawah anak tangga Mama Kartina melipat kedua tangannya menandakan ia masih kesal dengan bantahan Jenna.
"Kenapa Ma?"
"Adik kamu, ijin pergi siang tadi pulang-pulang dianter sama temannya, Mama gak tau itu teman apa ... Jenna bilang teman sekolahnya."
"Ya mungkin teman sekolahnya, lagian sekarang aku juga jarang liat Raka, sibuk banget kayaknya anak itu," ujar Akbar menghampiri meja makan dan menarik kursi di sana.
"Ibu Raka bilang, Raka sekarang pegang kantor ayahnya di Jakarta, mereka kan memang lagi besar-besaran mengembangkan usaha apalagi sekarang main tendernya dengan perusahaan-perusahan besar dan pemerintah, si Jenna aja banyak tingkah sama Raka, maksud Mama tuh udah Jenna diem aja, toh hasilnya nanti juga buat dia."
Akbar menggelengkan kepalanya saat mendengar sang Mama menggerutu tentang hubungan Jenna dan Raka. Seumur hidup Akbar, hidup Mama Kartina sedari kecil sudah berlimpah materi kenapa sepertinya Mama takut sekali anaknya mendapatkan pasangan hidup yang tidak sepadan.
"Kamu juga Bar, besok Mama mau kenalin kamu sama anak teman Mama ... mereka baru datang besok liburan ke Bangka, ikut Mama sama Papa makan malam sama mereka di Tanjung Pesona ya." Dan Akbar pun tak dapat menolak.
...----------------...
Matahari menyeruak masuk dari celah tirai jendela, nyanyian burung-burung terdengar merdu. Suara Pak Sofyan memainkan burung-burungnya di taman samping membangunkan Jenna pagi itu.
Gadis itu beranjak melangkah ke balkon kamar, momen seperti ini sudah jarang terjadi. Entah sejak kapan burung-burung itu berada lagi di taman samping. Seingat Jenna, Pak Sofyan memelihara burung terakhir empat tahun yang lalu, sampai dengan akhirnya satu per satu burung-burung itu diberikan pada orang.
"Papaa ...," panggil Jenna dari atas. "Sejak kapan ada burung lagi, kemarin belum ada."
"Sejak pagi ini ... Papa mau pelihara lagi," ujar lelaki setengah baya itu.
"Tumben."
"Buat hiburan ... kan sebentar lagi Papa pensiun ... cuci muka, sini turun," titah Pak Sofyan.
Tak berapa lama, Jenna sudah bergabung dengan Pak Sofyan. Kedekatan mereka berdua memang cukup erat, selain itu Pak Sofyan lah yang selalu membela Jenna jika istrinya mulai mengintimidasi kehidupan anak gadisnya.
"Yang kemarin siapa?" tanya Pak Sofyan.
"Kemarin apa?"
"Cowok yang antar Jenna magrib-magrib," bisik Pak Sofyan.
"Oh."
"Kok oh ... Papa nanya jawabnya oh." Pak Sofyan tersenyum lalu memberikan makan pada burung berwarna-warni.
"Teman Jenna."
"Papa tau teman Jenna ... tapi Papa baru liat, bukan Raka, kan?"
"Bukan Pa ... teman baru."
"Oh teman baru." Pak Sofyan melirik putrinya. "Lalu Raka?"
"Raka ada ... belum sempat ketemu." Bohong Jenna.
"Kalian baik-baik saja?" Pak Sofyan mulai menggantungkan kembali satu per satu sangkar burungnya.
"Baik ... baik kok, kita baik-baik aja." Dan sekali lagi Jenna berbohong.
"Berteman dengan siapa aja Papa gak larang, sudah saatnya Jenna memilih teman untuk pasangan hidup. Seumpama memang bukan Raka, Papa juga gak larang ... tapi ingat, ada nama baik keluarga yang harus Jenna jaga. Hati-hati bergaul Nak, jaga diri, jaga nama baik keluarga ... Jenna seorang gadis dari keluarga baik-baik." Pak Sofyan meletakkan kedua tangannya di bahu Jenna.
"Kalo seandainya Jenna gak terima perlakuan mama selama ini, itu semata-mata karena mama sayang dengan kalian berdua, tapi mungkin caranya yang salah ... sekarang tugas Jenna adalah membuka mata dan pikiran mama agar bisa menerima yang seharusnya jadi jalan hidup kalian, paham maksud Papa?"
"Paham Pa," Jenna tersenyum, setidaknya di dalam keluarga ini ada yang mengerti jalan pikirannya. " Makasih Pa," ujarnya lagi.
"Sana mandi, anak gadis kalo libur bangunnya siang ... keburu jodohnya lari di ambil orang nanti." Pak Sofyan tertawa dan berlalu meninggalkan Jenna yang terpaku dengan kata-kata bijak lelaki tua itu.
***enjoy reading 😘
terkadang hidup selalu jauh dari ekspektasi kita, tapi tergantung kita menerima dan menjalaninya maka semuanya akan berjalan baik-baik saja.
like komen please 😘😘***
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba