Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Malam di Rumah Sakit
Alexander Wijaya tiba di RS Kota dengan napas belum stabil.
Di depan ruang IGD, Herlina Halim berdiri sambil menggenggam tas kainnya terlalu erat. Di sampingnya, Yanti Halim duduk di bangku plastik, wajah pucat, mata kosong, kedua tangannya memeluk map cokelat seolah map itu bisa menggigitnya.
"Alex." Herlina langsung mendekat.
"Di mana Paman Anwar?"
"Masih diperiksa dokter."
Alexander menoleh kepada Yanti. "Tante Yanti, suratnya mana?"
Yanti seperti baru sadar ia sedang memegang sesuatu. Ia menyerahkan map cokelat itu dengan tangan gemetar. "Mereka bilang kalau saya tanda tangan, biaya awal bisa dibantu. Kalau tidak, prosesnya lama. Saya takut, Alex. Anwar di dalam..."
"Tante belum tanda tangan?"
Yanti menggeleng cepat. "Belum. Ibumu bilang tunggu kamu."
Alexander membuka map.
Surat pelepasan tanggung jawab.
Bahasanya halus. Terlalu halus. MakanYuk menawarkan santunan awal dan bantuan administrasi rumah sakit, tetapi di paragraf bawah tertulis bahwa keluarga memahami hubungan antara Anwar Halim dan PT MakanYuk Digital Indonesia adalah kemitraan independen, bukan hubungan kerja. Ada juga kalimat bahwa keluarga tidak akan mengajukan tuntutan hukum lanjutan terkait kecelakaan tersebut.
Alexander membaca sampai selesai, lalu menutup map.
"Ini bukan bantuan," katanya. "Ini jebakan."
Seorang pria berbatik rapi yang sejak tadi berdiri dekat loket administrasi mendekat. Di dadanya tergantung kartu bertuliskan MakanYuk.
"Maaf, Bapak siapa?"
"Alexander Wijaya. Keluarga Pak Anwar."
"Kami dari MakanYuk hanya ingin membantu. Kondisi darurat seperti ini butuh keputusan cepat."
"Keputusan cepat tidak berarti keluarga harus melepas hak hukum sebelum tahu kondisi pasien."
Pria itu tersenyum tipis. "Pak Anwar adalah mitra. Kami tidak punya kewajiban seperti pemberi kerja. Tapi perusahaan tetap beritikad baik."
Alexander mengangkat surat itu. "Itikad baik tidak biasanya meminta keluarga berjanji tidak menggugat."
Senyum pria itu mengeras.
Herlina memegang lengan Alexander. "Alex..."
"Tidak apa-apa, Bu."
Alexander menatap pria MakanYuk. "Mulai sekarang, semua komunikasi ke keluarga lewat saya. Jika perusahaan benar-benar ingin membantu, bayar deposit rumah sakit tanpa syarat pelepasan tanggung jawab. Kalau harus ada dokumen, tulis sebagai bantuan kemanusiaan, bukan pengakuan status hubungan kerja."
"Bapak bukan kuasa hukum resmi."
"Belum. Tapi saya keluarga, dan Tante Yanti belum menandatangani apa pun. Kalau Bapak terus menekan di depan IGD, saya akan minta rumah sakit mencatatnya sebagai tekanan terhadap keluarga pasien."
Pria itu menahan napas, lalu mundur setengah langkah. "Saya akan koordinasi dengan kantor."
"Silakan."
Begitu pria itu pergi, Yanti menutup wajah dengan kedua tangan. "Saya hampir tanda tangan..."
"Tante tidak salah. Mereka datang saat Tante panik." Alexander menaruh map itu di tasnya. "Itu cara termudah membuat orang kehilangan hak."
Pintu IGD terbuka. Seorang dokter jaga keluar dengan masker diturunkan ke dagu.
"Keluarga Pak Anwar Halim?"
Yanti langsung berdiri. "Saya istrinya, Dok."
"Kondisi pasien stabil sementara, tetapi ada beberapa luka yang perlu dipantau. Tulang rusuk retak, memar berat di sisi kiri, luka gesek di lengan dan kaki. Kami juga melihat tanda benturan di belakang kepala."
"Dia jatuh dari motor?" tanya Alexander.
Dokter menatapnya. "Katanya kecelakaan tunggal. Tapi pola memarnya tidak sepenuhnya bersih. Saya tidak bisa menyimpulkan tanpa pemeriksaan lanjutan, namun keluarga sebaiknya menyimpan semua catatan medis."
Alexander menangkap kalimat itu.
"Dok, apakah keluarga bisa meminta salinan resume medis sementara dan foto hasil pemeriksaan ketika sudah tersedia?"
"Bisa melalui administrasi sesuai prosedur. Untuk rekam medis lengkap, nanti ada formulir permintaan."
"Terima kasih, Dokter."
Yanti mencengkeram ujung kerudungnya. "Dok, suami saya akan sadar?"
"Kami usahakan. Malam ini dia harus dipantau ketat."
Dokter kembali masuk.
Alexander melihat ke arah pintu IGD. Di balik kaca kecil, tubuh Anwar Halim tampak terbaring dengan selang infus, wajahnya lebam, satu sisi tubuhnya tertutup selimut rumah sakit. Pria yang tadi pagi mungkin masih mengejar order untuk bonus harian kini tidak bisa membela satu tanda tangan pun dari dirinya sendiri.
Panel Status muncul tipis.
Pengumpulan Bukti aktif.
Objek awal: kecelakaan kerja mencurigakan.
Catatan: surat pelepasan tanggung jawab, status mitra, pola luka, tekanan tanda tangan, kemungkinan saksi perjalanan.
Misi belum terbuka penuh.
Alexander tidak menunggu misi.
Ia mengeluarkan ponsel. "Tante Yanti, mulai sekarang jawab pertanyaan saya pelan-pelan. Jam berapa Paman Anwar berangkat? Order terakhir ke mana? Siapa yang menghubungi Tante pertama kali?"
Yanti mencoba bernapas. "Dia berangkat sore. Katanya mau ke daerah Melati dulu, lalu ambil order makanan di pusat kota. Yang telepon saya bukan rumah sakit. Teman sesama pengemudi. Dia bilang motor Anwar ditemukan dekat tikungan underpass."
"Ada saksi?"
"Katanya tidak jelas. Tapi..." Yanti berhenti.
"Tapi apa?"
Yanti menatap pintu IGD, lalu merendahkan suara. "Beberapa hari ini Anwar gelisah. Dia bilang ada orang mengikuti dari jauh. Saya pikir dia cuma capek. Dia juga cerita ada suster yang terlalu baik."
Herlina mengerutkan dahi. "Suster?"
"Iya. Bukan suster rumah sakit ini, sepertinya. Perempuan itu beberapa kali datang ke pos pengemudi, bawa minuman, bilang peduli dengan kesehatan pengemudi MakanYuk. Anwar bilang aneh. Terlalu ramah. Terlalu ingin tahu jadwal dia."
Alexander berhenti mengetik.
"Tante ingat ciri-cirinya?"
Yanti menggeleng, panik lagi. "Saya tidak pernah lihat. Anwar cuma bilang seragamnya rapi sekali. Dia juga sempat bercanda, 'Kalau orang terlalu baik tanpa alasan, pasti ada alasan yang belum kelihatan.'"
Kalimat itu membuat koridor rumah sakit terasa lebih dingin.
Pria MakanYuk kembali dari arah lift, kali ini wajahnya tidak setenang tadi. "Pak Alexander, kantor kami bisa membantu biaya awal, tapi dokumen tetap perlu diproses."
Alexander memasukkan ponsel ke saku. "Kalau dokumen itu masih berisi pelepasan hak, jawabannya tetap tidak."
"Bapak membuat keadaan keluarga semakin sulit."
"Tidak. Saya membuat perusahaan tidak bisa mengambil jalan paling mudah."
Pria itu menatapnya tajam. "Pak Anwar hanya mitra. Sistem kami jelas."
"Kalau sistemnya jelas, Bapak tidak perlu meminta keluarga pasien yang belum sadar untuk menandatangani pelepasan tuntutan."
Beberapa orang di ruang tunggu mulai menoleh.
Pria itu merendahkan suara. "Hati-hati, Pak. MakanYuk perusahaan besar."
Alexander melangkah setengah maju. "Bagus. Perusahaan besar seharusnya punya keberanian lebih besar untuk bertanggung jawab."
Untuk sesaat, pria itu tidak punya jawaban.
Herlina menatap Alexander dengan cemas sekaligus bangga. Yanti memeluk map kosongnya lebih erat, tetapi kali ini tangannya tidak segemetar sebelumnya.
Di layar ponsel Alexander, catatan baru terbuka.
Kasus Anwar Halim vs MakanYuk.
Baris pertama ia tulis tanpa ragu.
Jangan biarkan keluarga menandatangani pelepasan hak.
Baris kedua:
Cari bukti status kerja terselubung.
Baris ketiga:
Cari suster yang terlalu baik.
Di balik pintu IGD, monitor jantung berbunyi pelan dan stabil.
Alexander menatap bunyi itu seperti tenggat waktu.
Malam ini, ia datang sebagai keluarga.
Besok, ia akan kembali sebagai pengacara.