NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Perjanjian yang Goyah

Lengan Arya masih berada di bahu Keisha ketika pintu lift terbuka.

Keisha baru menyadari kehangatan telapak itu setelah beberapa pasang mata di koridor tidak lagi terlihat. Ia bergeser setengah langkah. Arya langsung melepaskannya tanpa protes.

Ruang kosong di antara mereka terasa lebih mengganggu daripada sentuhannya.

"Nyonya Meriam," gumam Keisha sambil masuk ke lift. "Kalian benar-benar memanggil istri orang dengan nama itu?"

"Hanya orang-orang tertentu."

"Dan kamu tidak berniat memperingatkanku?"

"Aku baru tahu mereka akan seberisik itu."

"Si Meriam yang ditakuti semua orang ternyata tidak bisa mengendalikan satu koridor."

Arya menatapnya. "Satu dokter saja sudah cukup sulit dikendalikan."

Pintu lift menutup sebelum Keisha menemukan balasan yang tepat.

Setelah masa observasi selesai dan Firdaus mengizinkan Arya pulang, mereka kembali ke Dago. Sepanjang perjalanan, Keisha pura-pura membaca instruksi perawatan. Arya memandang keluar jendela. Tidak seorang pun membahas kalimat Ini istri saya, tetapi gema suaranya masih memenuhi mobil.

Di lampu merah, Keisha akhirnya menurunkan lembar instruksi. "Aku tidak meminta rahasia tugasmu. Tapi kalau pekerjaanmu bisa membuat rumah sakit menelepon tengah malam, aku harus masuk daftar kontak darurat."

"Sudah kuubah pagi ini. Namamu menjadi kontak pertama."

Keisha menoleh. "Tanpa bertanya?"

"Kamu istriku secara hukum. Tapi kalau kamu keberatan, aku akan mengubahnya."

"Bukan itu maksudku." Ia merapikan kertas yang sebenarnya sudah lurus. "Beri tahu aku sebelum membuat keputusan yang menyeretku masuk."

Arya mengangguk. "Baik. Mulai sekarang aku akan memberi tahu sebatas yang boleh kamu ketahui."

Janji itu kecil, tetapi mengubah pernikahan mereka dari sekadar tinggal bersama menjadi berbagi risiko nyata.

Bu Yati menunggu di teras. Begitu melihat perban di bahu Arya, wajahnya memucat.

"Ya Allah, Pak Arya. Katanya hanya dinas biasa."

"Luka ringan," jawab Arya.

"Tujuh jahitan bukan ringan," potong Keisha. "Dia tidak boleh mengangkat beban, tidak boleh latihan, dan harus minum obat sesuai jadwal."

Bu Yati mengangguk cepat. "Saya siapkan bubur dan kamar utama."

Arya langsung menggeleng. "Aku tidur di kamar biasa."

"Kamar kerjamu terlalu sempit kalau Bu Keisha perlu merawat luka," kata Bu Yati.

"Saya bisa merawatnya di sana," Keisha menyela terlalu cepat.

Bu Yati menatap mereka bergantian, lalu tersenyum kecil. "Tentu. Saya tidak mengatakan Bu Keisha harus tidur di kamar yang sama."

Panas memanjat ke wajah Keisha. Arya berdeham dan berjalan masuk, tetapi langkahnya lebih kaku dari biasanya.

Sore itu, ia terbukti menjadi pasien yang menyebalkan. Arya menyembunyikan obat pereda nyeri di bawah serbet, mencoba membuka laptop, lalu berdalih hanya akan membaca satu laporan.

Keisha menyita laptopnya.

"Ini rumahku," protes Arya.

"Dan ini ranah medis saya."

"Aku tidak menandatangani penyerahan kekuasaan."

"Kamu menandatangani buku nikah. Cukup untuk membuat saya menjadi kontak keluarga yang berhak mengomel."

Arya menatapnya lama, lalu meminum obat tanpa bantahan lagi.

Kepatuhan itu seharusnya membuat Keisha puas. Sebaliknya, cara Arya menatapnya membuat denyut di lehernya tidak tenang.

Menjelang pukul sembilan malam, Keisha membawa baki berisi kasa, cairan pembersih, plester medis, dan obat oles ke kamar Arya. Lelaki itu baru selesai membersihkan diri. Rambutnya masih lembap. Ia mengenakan kaus hitam longgar, tetapi perban putih terlihat dari kerahnya.

"Buka bajumu," perintah Keisha.

Alis Arya naik.

Ingatan tentang ruang periksa pertama mereka menyambar. Keisha buru-buru menambahkan, "Bagian atas saja. Saya harus mengganti balutan."

"Kali ini berkas pasiennya benar?"

"Kalau kamu terus mengingatkan kejadian itu, aku akan menggunakan plester yang paling sakit saat dilepas."

Arya mencoba menarik kaus melewati kepala dengan satu tangan, tetapi jahitan di bahunya membuat gerakannya terhenti. Keisha meletakkan baki.

"Jangan dipaksa." Ia berdiri di depannya. "Boleh aku bantu?"

Tatapan Arya turun ke wajahnya. "Boleh."

Keisha menyelipkan jari ke ujung kaus dan mengangkatnya perlahan. Kain tersangkut di lengan yang terluka, memaksa Keisha mendekat. Punggung jarinya menyapu sisi pinggang Arya. Otot di bawah kulitnya mengeras seketika.

Napas Keisha ikut berhenti.

Ia pernah memeriksa ratusan tubuh sebagai dokter. Namun ini bukan pasien biasa. Ini lelaki yang tidur di kamar sebelah, yang menyebutnya istri di depan satu koridor, dan yang panas tubuhnya kini menembus jarak tipis di antara mereka.

"Angkat lengan kanan," katanya, lebih pelan.

Arya menurut. Saat kaus akhirnya terlepas, dada dan bahunya terbuka. Bekas memar menjalar di bawah balutan, kontras dengan garis otot yang terbentuk dari latihan bertahun-tahun. Keisha memaksa tatapannya tetap pada luka.

"Duduk."

Arya duduk di tepi ranjang. Keisha berdiri di antara kedua lututnya agar dapat menjangkau bahu tanpa membuatnya bergerak. Posisi itu terasa terlalu dekat. Napas Arya menyentuh bagian bawah dagunya setiap kali ia membungkuk.

Keisha melepas plester sedikit demi sedikit. "Sakit?"

"Tidak."

"Jangan berbohong."

"Yang mengganggu bukan lukanya."

Jari Keisha berhenti. "Lalu apa?"

Arya tidak menjawab. Tatapannya turun sesaat ke bibir Keisha, lalu kembali ke matanya.

Udara di kamar seolah mengental.

Keisha merasakan panas menyebar dari leher ke dada. Ia berusaha mundur, tetapi betisnya menyentuh lutut Arya. Tangan lelaki itu terangkat, berhenti beberapa sentimeter dari pinggangnya.

"Boleh?" tanya Arya lirih.

Satu kata itu jauh lebih berbahaya daripada sentuhan mendadak.

Keisha tahu ia bisa berkata tidak. Arya akan menurunkan tangan dan jarak mereka akan kembali aman. Namun setelah satu detik yang terasa terlalu panjang, ia mengangguk.

Telapak Arya menyentuh sisi pinggangnya, ringan, hanya untuk menjaga keseimbangan agar Keisha tidak tersandung baki di belakang. Tidak ada tarikan. Tidak ada paksaan. Justru kehati-hatian itu membuat kulit Keisha seolah terbakar melalui kain.

"Bakinya," kata Arya.

Keisha melihat ke belakang. Tumitnya memang hampir mengenai baki.

Ia seharusnya lega. Sebaliknya, ada kekecewaan kecil yang membuatnya malu.

"Lepaskan," katanya cepat.

Tangan Arya langsung turun.

Keisha menyelesaikan pembersihan dengan jari yang tidak setenang tadi. Luka tetap kering, tidak ada tanda infeksi. Ia memasang kasa baru dan menempelkan plester lebih hati-hati daripada perlu.

"Selesai. Besok pagi diperiksa lagi."

"Terima kasih."

Arya mengucapkannya dengan canggung, seolah dua kata itu lebih sulit daripada menghadapi luka.

"Saya dokter. Ini kebiasaan kerja."

"Kamu juga istriku."

Keisha mengangkat wajah. Jarak mereka masih terlalu dekat.

"Istri kontrak," koreksinya.

Sesuatu melintas di mata Arya, lalu menghilang. "Aku tahu."

Jawaban itu seharusnya menenangkan. Malah terasa seperti pintu yang ditutup perlahan di depan Keisha.

Ia mengangkat baki dan keluar terlalu cepat. Begitu tiba di kamar utama, Keisha menutup pintu, lalu menyandarkan punggung padanya. Detak jantungnya menghantam tulang rusuk.

Di kamar sebelah, lampu masih menyala melalui celah bawah pintu.

Ponselnya bergetar.

Pesan pertama dari Bu Sukma.

Ingat, kontraknya hanya satu tahun, ya.

Dada Keisha mengencang.

Sebelum ia sempat membalas, pemberitahuan lain muncul dari akun yang tidak dikenalnya. Foto profilnya menampilkan siluet seorang perempuan di atas panggung.

Kamu tahu Arya sudah pernah menjadi milik siapa?

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!