Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Panggil Aku Sebas
Kesemutan di ujung jari Vivi berubah menjadi rasa terbakar dalam hitungan detik.
“Joce.”
Jocelyn langsung menegakkan tubuh. “Kambuh?”
Vivi mengangguk. Ia mencoba berdiri dari pemandian, tetapi lututnya kehilangan tenaga. Jocelyn menangkap lengannya, menekan tombol darurat, lalu membantu Vivi naik melalui tangga batu.
Udara pegunungan menyentuh kulit basahnya seperti ribuan jarum.
“Sakit,” Vivi terengah.
“Aku di sini.”
Jocelyn mengambil handuk besar dan menutup tubuh Vivi sebelum petugas resort tiba. Seorang perawat perempuan masuk bersama staf klinik, memeriksa nadi, tekanan darah, suhu, serta memastikan tidak ada ruam alergi atau gangguan napas.
“Tanda vitalnya meningkat karena nyeri, tetapi tidak ada tanda anafilaksis,” kata perawat. “Kami pindahkan ke ruang istirahat privat. Apakah ada obat khusus?”
“Tidak,” jawab Vivi melalui gigi yang gemetar. “Sentuhan.”
Jocelyn sudah tahu cara dasar mengatasi penyakit itu. Ia membungkus Vivi dengan jubah mandi, lalu memeluknya erat.
Biasanya kontak kulit akan menurunkan rasa sakit sedikit demi sedikit.
Kali ini, tidak terjadi apa-apa.
Panas di bawah kulit Vivi justru menyebar ke lengan, dada, dan punggung. Ia merasa seperti tubuhnya sedang dikikis dari dalam.
“Lebih kuat,” pintanya.
Jocelyn memeluk sampai lengannya bergetar. “Begini?”
“Tidak... tidak hilang.”
Perawat membantu membawa Vivi ke ruang istirahat tatami di sebelah pemandian. Pintu luar dikunci. Tirai ditutup. Hanya petugas perempuan yang diizinkan masuk agar keadaan Vivi tidak terlihat tamu lain.
Jocelyn menempelkan telapak tangan ke pipi Vivi.
Tetap tidak ada perubahan.
Ketakutan muncul di matanya. “Kenapa sentuhanku tidak bekerja?”
Vivi tidak tahu jawabannya. Sejak menikah, setiap serangan selalu dihentikan Sebastian. Tubuhnya seolah mempelajari satu-satunya bentuk pertolongan itu, lalu menolak semua yang lain.
“Telepon dia,” bisiknya.
Jocelyn tak perlu bertanya siapa.
***
Di ruang rapat Gunawan Group, dua belas ponsel berada dalam mode senyap.
Aturan Sebastian sederhana: telepon berbunyi saat rapat direksi berarti pemiliknya keluar dari ruangan dan menerima surat pemecatan sebelum lift tiba.
Maka ketika nada khusus terdengar dari saku jas Sebastian, seluruh meja membeku.
Ia mengangkat panggilan pada dering pertama.
“Bicara.”
“Sebastian, penyakit Vivi kambuh.” Suara Jocelyn tidak lagi mengejek. “Pelukanku tidak bekerja. Sama sekali.”
Kursi Sebastian terdorong ke belakang.
“Alamat.”
“Aku kirim lokasi sekarang. Resort di Puncak, vila timur, ruang istirahat pemandian privat.”
“Dia sadar?”
Suara tertahan Vivi terdengar dari jauh. Sebastian meremas ponsel.
“Masih, tapi rasa sakitnya naik,” jawab Jocelyn. “Klinik sudah memeriksa. Tidak ada anafilaksis atau gangguan napas. Mereka cuma tidak bisa menghentikan sindromnya.”
“Tempelkan telepon ke telinganya.”
Beberapa detik kemudian, napas Vivi memenuhi sambungan.
“Vivi.”
“Sebas...”
Hanya satu panggilan lemah. Seluruh tubuh Sebastian menjadi dingin.
“Aku datang. Jangan tutup telepon.”
Ia menatap para direktur yang masih duduk kaku.
“Rapat selesai. Semua keputusan ditunda.”
“Pak Sebastian, penandatanganan dengan pihak bank...” salah satu direktur mencoba mengingatkan.
“Batalkan kalau mereka tidak mau menunggu.”
Sebastian berjalan keluar. Sekretarisnya berlari menyusul dengan tablet dan kunci mobil.
“Batalkan seluruh jadwal hari ini,” perintah Sebastian. “Hubungi keamanan resort. Kosongkan koridor vila timur. Pastikan tidak ada kamera mengarah ke ruangnya.”
“Sopir sudah disiapkan.”
“Aku menyetir.”
“Jalan ke Puncak licin setelah hujan.”
Sebastian mengambil kunci. “Kirim satu mobil pengawal. Jangan menghalangi jalanku.”
Ia melaju keluar dari SCBD, memilih jalur tol dengan pembaruan lalu lintas tercepat. Tim keamanan mengirim kondisi jalan setiap lima menit. Sebastian tidak memutus telepon. Napas Vivi tetap terdengar melalui pengeras suara, kadang terputus oleh erangan yang membuat kakinya menekan pedal lebih dalam.
Ia tidak mengemudi membabi buta. Kecelakaan hanya akan membuatnya terlambat. Namun, setiap celah lalu lintas diambil, setiap pemberhentian dipangkas, dan mobil pengawal membuka jalur ketika kendaraan lain menghambat pintu keluar.
“Berapa lama?” tanya Jocelyn.
“Enam puluh menit.”
“Terlalu lama.”
“Aku akan sampai.”
Tak ada kemungkinan lain yang diizinkannya hidup.
***
Di Puncak, Vincent membantu dari jarak jauh setelah Jocelyn menghubunginya. Ia menelepon manajer resort atas nama keluarga Kusuma, memastikan koridor vila dikosongkan dan lift layanan hanya bisa dipakai Sebastian serta petugas medis.
“Aku menuju ke sana,” katanya melalui telepon.
“Tidak perlu masuk,” jawab Jocelyn. “Tunggu di lobi dan urus orang-orang. Jangan biarkan siapa pun mengambil foto.”
“Baik. Bagaimana Vivi?”
Jocelyn memandang sahabatnya yang meringkuk di tatami. “Masih menunggu suaminya.”
Selama satu jam berikutnya, perawat memantau nadi dan napas Vivi. Kompres sejuk membantu panas permukaan, tetapi rasa sakit di bawah kulit tidak berubah. Jocelyn memegang tangannya tanpa putus, meski sentuhan itu tidak lagi menjadi obat.
Ketika suara langkah cepat terdengar di koridor, Vivi mengangkat kepala.
Ia belum melihat siapa pun.
Namun, aroma dingin seperti cedar setelah hujan sudah menembus celah pintu.
Tubuhnya mengenali Sebastian lebih dulu daripada matanya.
Pintu terbuka.
Sebastian berdiri di sana dengan napas berat. Jasnya hilang, lengan kemeja digulung sampai siku, dan rambutnya berantakan oleh perjalanan. Tatapannya menemukan Vivi dalam satu detik.
“Keluar,” katanya kepada semua orang selain dirinya.
Jocelyn berdiri. “Dia sudah diperiksa. Tidak ada alergi atau masalah napas. Nadinya tinggi karena sakit. Kalau dia kehilangan kesadaran, panggil perawat.”
Sebastian mengangguk. “Terima kasih.”
Ucapan itu begitu langka hingga Jocelyn hampir tidak bereaksi. Ia hanya menekan bahu Vivi.
“Aku di luar. Pintu tidak dikunci.”
Perawat meninggalkan alat pemantau portabel. Jocelyn keluar terakhir dan menutup pintu tanpa menguncinya.
Sebastian belum sempat mencapai tatami ketika Vivi bangkit.
Kakinya goyah. Ia hampir jatuh, tetapi pria itu menangkap pinggangnya.
Begitu kulit mereka bersentuhan, rasa sakit surut seperti api yang disiram hujan.
Vivi mengeluarkan isak lega. Kedua lengannya melingkari leher Sebastian. Ia menempelkan seluruh tubuh, mencari setiap bagian kulit yang bisa menyentuhnya.
“Peluk aku.”
Sebastian mengangkatnya. Vivi otomatis melilitkan kaki di pinggangnya, tertutup aman oleh jubah mandi. Pria itu membawa Vivi ke tatami dan duduk dengan tubuhnya di pangkuan.
“Lihat aku.”
Vivi mengangkat wajah yang basah oleh keringat dan air mata.
“Sakitnya turun?”
“Sedikit.”
Sebastian membuka dua kancing atas kemejanya dan menarik telapak tangan Vivi ke dada telanjang. Kontak kulit yang lebih luas membuat rasa nyeri melemah lagi.
“Masih?”
Vivi mengangguk. Bagian paling sakit berada di bibir dan tengkuk, menuntut jenis sentuhan yang telah dipelajari tubuhnya malam mereka berciuman.
Ia menarik kerah Sebastian.
“Cium aku.”
Mata gelap itu berubah.
“Kamu sadar apa yang kamu minta?”
“Ya.”
“Karena sakit?”
“Karena aku butuh kamu.”
Sebastian menahan tengkuknya, tetapi tidak langsung mencium. “Aku siapa?”
Vivi menggeliat karena panas di kulit. “Jangan tanya sekarang.”
“Aku siapa, Vivi?”
Nada itu rendah, menuntut, dan terluka sekaligus.
“Suamiku.”
“Namaku.”
Air mata lain jatuh. Selama ini panggilan itu bisa dipakai sambil bercanda, meniru Joce, atau sekadar mengikuti kebiasaan. Malam ini tidak ada yang menyuruh. Tidak ada peran.
Hanya Vivi dan pria yang tubuhnya kenali sebagai satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit.
Ia memegang wajah Sebastian dengan kedua tangan.
“Sebas,” bisiknya. “Tolong aku.”
Kendali pria itu runtuh.
Bibirnya menghantam bibir Vivi, panas dan dalam. Satu tangan mengunci pinggangnya, tangan lain menahan tengkuk agar Vivi tidak menjauh. Ciuman itu menelan erangan sakitnya, menggantinya dengan panas yang menyebar dari mulut sampai ujung kaki.
Vivi membalas tanpa malu. Jemarinya masuk ke rambut Sebastian. Ia menempel semakin dekat sampai tak ada ruang udara di antara dada mereka.
Ketika napas Vivi mulai kacau, Sebastian memutus ciuman.
“Tarik napas.”
Vivi menghirup udara, dahinya jatuh ke bahu pria itu. Rasa sakit tinggal garis tipis di bawah kulit.
“Lagi,” pintanya setelah napas stabil.
Sebastian mengangkat dagunya. “Yakin?”
Vivi mengangguk dan mencium lebih dulu.
Ciuman kedua lebih lambat pada awalnya. Lalu Sebastian mengambil kendali, menelusuri bibirnya seolah ingin menghafal setiap reaksi. Telapak tangannya bergerak di punggung, tetap di atas jubah, tetapi tekanannya membuat tubuh Vivi bergetar.
Nyeri terakhir lenyap.
Yang tersisa hanya kelelahan setelah serangan panjang dan kehangatan Sebastian. Kepala Vivi menjadi ringan. Tangannya melemah di bahu pria itu.
Sebastian langsung berhenti.
“Vivi?”
“Sudah tidak sakit,” gumamnya.
Kelopak matanya turun. Bukan kekurangan udara. Tubuhnya akhirnya melepaskan ketegangan setelah lebih dari satu jam melawan rasa sakit.
Sebastian memeriksa napas dan nadinya, lalu memanggil perawat melalui tombol interkom. Setelah memastikan tanda vital Vivi stabil dan ia hanya tertidur karena kelelahan, semua orang kembali keluar.
Ia membaringkan Vivi di tatami, tetapi perempuan itu menolak melepaskan kemejanya bahkan dalam tidur.
Sebastian akhirnya berbaring miring di sampingnya, membiarkan tangan kecil itu tetap menggenggam kain.
***
Nama itu masih terasa di telinga Sebastian.
Sebas.
Bukan suara manja yang direkam atas dorongan orang lain. Bukan panggilan ringan di meja makan. Malam ini Vivi memilih namanya ketika sedang paling rapuh, lalu meminta dirinya tetap dekat.
Sebastian menyentuh sudut bibir Vivi dengan ibu jari. Ada warna merah lembut akibat ciuman tadi. Ia menunduk dan memberi satu kecupan ringan, berhenti sebelum membangunkannya.
Di luar pintu, Jocelyn menjaga koridor. Vincent mengurus manajemen resort. Perawat menunggu di ruangan sebelah.
Semua orang telah melakukan hal yang benar.
Namun, hanya sentuhan Sebastian yang membuat rasa sakit Vivi berhenti.
Fakta itu tumbuh seperti sesuatu yang gelap dan memuaskan di dadanya.
Kalau Vivi selalu membutuhkan dirinya seperti ini, tak ada seorang pun yang bisa benar-benar mengambilnya pergi.
Ia merapatkan selimut di bahu Vivi, lalu membiarkan jemarinya tetap dikunci perempuan itu.
“Akhirnya,” bisiknya, “kamu memanggilku karena memang menginginkanku di sini.”