NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno

Terlempar Ke Zaman Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / Ruang Ajaib
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.

Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.

Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.

Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penawar

Lin Jia berdiri mematung di depan meja laboratorium modernnya yang tampak kontras dengan atmosfer dunia kuno di luar sana. Tatapannya tertuju pada barisan botol kaca dan wadah perak berisi tanaman herbal langka yang memancarkan pendar cahaya tipis. Di tangannya, sehelai catatan medis darurat mengenai kondisi Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian yang kian kritis akibat racun kiriman Permaisuri bergetar pelan.

"Racun Sembilan Gerhana Jantung ini benar-benar kejam," bisik Lin Jia pada dirinya sendiri, sementara jemarinya mulai bergerak lincah menyusun peralatan distilasi.

"Untung saja aku pernah membaca soal ini sebelumnya, untuk menambah pengetahuan ku sebagai seorang dokter."

Ia mengembuskan napas lega saat pandangannya menyapu sudut ruangan, tempat tiga bahan legendaris yang sangat langka tertata rapi. Ada Rumput Embun Surga yang kelopaknya masih basah oleh cairan bening, Inti Batang Teratai Hitam yang pekat, serta Akar Ginseng Seribu Tahun yang memancarkan aroma tanah yang magis.

Lin Jia tersenyum sinis, lalu bergumam, "Untuk apa aku repot-repot pergi ke pasar untuk membeli atau mencari bahan ini, jika semua bahan penawar paling mustahil di dunia ini justru tumbuh subur di dalam Ruang Ajaibku sendiri?"

Dengan sisa waktu yang kian menipis sebelum fajar menyingsing, Lin Jia langsung memposisikan diri sebagai seorang ahli bedah sekaligus farmakolog andal dari abad modern.

Tangan dokternya seolah bekerja dengan presisi tinggi; ia menghancurkan Inti Batang Teratai Hitam menggunakan mortar, mengekstrak sari Rumput Embun Surga dengan teknik pemanasan konstan, dan mengiris tipis Akar Ginseng Seribu Tahun menggunakan pisau bedah titanium miliknya.

Di bawah pendar lampu laboratorium, bayangannya bergerak cepat dan ritmis, memadukan pengetahuan medis masa depan dengan masa lalu demi menciptakan sebutir pil penawar yang akan mengubah kehidupan Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian.

Sementara itu, kepanikan hebat melanda kamar pribadi Pangeran Lin Tian. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun mengabdi, Wu Kevin dibuat benar-benar panik saat menyaksikan sang Pangeran kembali memuntahkan darah hitam pekat yang mengotori lantai dan jubah sutranya.

Aroma anyir darah langsung menguar di udara. Namun, saat Wu Kevin bergerak dengan tergesa-gesa hendak memanggil tabib istana, cengkeraman lemah namun penuh penekanan dari tangan Pangeran Lin Tian menghentikan langkahnya.

"Jangan... Aku tidak percaya pada siapapun di Kekaisaran yang penuh dengan ular ini, Kevin," bisik Pangeran Lin Tian dengan napas yang memburu kesakitan.

Wu Kevin seketika membeku. Ia kembali teringat pesan mendalam Lin Jian untuk menjaga kamar ini dengan ketat, dan tidak membiarkan siapapun masuk tanpa terkecuali, termasuk sang Kaisar maupun Permaisuri.

"Tapi, Yang Mulia... jika tubuh Anda tidak segera diobati, hamba takut efeknya akan semakin parah dan merusak organ dalam Anda," kata Wu Kevin dengan suara yang bergetar menahan cemas.

Di tengah rasa sakit luar biasa yang seolah menggerogoti setiap jengkal tubuhnya, Pangeran Lin Tian justru tertawa pelan. Sebuah tawa getir yang sarat akan ironi. "Diobati? Berapa banyak obat yang telah mereka berikan selama ini, Kevin? Tapi lihat, jangankan menyembuhkan, setetes pun tidak ada yang membuat kondisiku menjadi lebih baik," kata Pangeran Lin Tian, menyeka sisa darah hitam di bibirnya yang memucat.

"Tapi, Yang Mulia, setidaknya obat-obatan dari paviliun medis bisa---"

"Mereka mencoba menyingkirkan ku secara perlahan!" potong Pangeran Lin Tian dengan cepat, matanya menyala oleh amarah yang teredam rasa sakit. "Mereka melakukan semua ini hanya karena mereka begitu takut aku akan menggantikan posisi Putra Mahkota dan merebut takhta yang mereka agung-agungkan itu. Jika aku terus meminum obat-obatan kiriman mereka... sama saja aku menyerahkan leherku dan mempercepat kematianku sendiri," lanjutnya dengan suara yang kian melemah, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar.

Wu Kevin perlahan menunduk dalam-dalam. Jari-jemarinya meremas sarung pedangnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat penuh kebencian dan keputusasaan. Namun, kebencian itu bukan hanya tertuju pada para konspirator di istana, melainkan pada dirinya sendiri. Ia merasa menjadi pengawal yang sama sekali tidak berguna karena hanya bisa berdiri menyaksikan tuannya menderita tanpa bisa berbuat apa-apa.

Sampai tiba-tiba, Wu Kevin terdiam cukup lama. Sebuah memori usang melintas di kepalanya, memercikkan setitik harapan di tengah kegelapan.

"Pangeran... apa hamba harus pergi ke luar ibu kota dan mencari tabib misterius itu?" tanya Wu Kevin, menatap sang Pangeran dengan pandangan mata yang kembali hidup seolah baru saja menemukan secercah harapan.

"Tabib misterius?" ulang Pangeran Lin Tian. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada tiang ranjang dengan mata terpejam lemah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.

"Benar, Yang Mulia. Hamba pernah mendengar desas-desus di kalangan para bangsawan. Tabib misterius itu memiliki cara pengobatan yang sangat tidak biasa dan di luar nalar tabib istana. Bahkan, wabah virus mematikan yang pernah melanda beberapa desa terpencil empat tahun lalu, berhasil disembuhkan total olehnya," lanjut Wu Kevin dengan nada bicara yang meyakinkan.

Perlahan, kelopak mata Pangeran Lin Tian terbuka, menatap langit-langit kamarnya yang megah namun terasa seperti penjara. "Tapi... dia sudah lama menghilang, kan? Ada rumor kuat yang mengatakan jika dia sebenarnya sudah tewas dibunuh oleh orang-orang yang membenci kekuatannya. Karena tepat setelah wabah itu lenyap, tabib itu juga menghilang bak ditelan bumi," kata Pangeran Lin Tian mendesah lelah, keputusasaan kembali menyelimuti suaranya.

"Apa mungkin... takdirku memang harus berakhir tragis dan mati di tempat ini?"

Krek!

Suara gesekan kayu yang tajam memecah ketegangan. Pintu kamar pribadi yang seharusnya terkunci rapat itu perlahan terbuka dari luar. Suara itu seketika membuat Wu Kevin menoleh dengan cepat sembari menghunuskan setengah bilah pedangnya.

Sementara Pangeran Lin Tian berusaha keras memicingkan matanya, mencoba melihat siapa sosok berani yang telah melanggar perintah dan menyusup masuk ke dalam kamar pribadinya di saat genting seperti ini.

"Tidak akan ada yang mati di bawah pengawasanku," sebuah suara lembut namun tegas dan penuh penekanan bergema di seluruh ruangan.

Sosok gadis anggun mengenakan hanfu sutra berwarna putih salju melangkah masuk dengan anggun, membelah keheningan malam. Selembar kain cadar tipis menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan parasnya dan hanya memperlihatkan sepasang bola mata jernih yang memancarkan kecerdasan serta keteguhan luar biasa.

"Putri Mahkota, Lin Jian..." Wu Kevin langsung menyarungkan pedang nya kembali---- membungkuk dalam, memberikan penghormatan paling khidmat kepada sosok yang baru saja tiba.

Lin Jian tersenyum tipis di balik cadarnya, menatap lembut ke arah sang kakak yang terbaring lemah. Ia melambaikan tangannya memberi isyarat agar Wu Kevin segera bertindak tanpa membuang waktu lagi.

"Bawa Kakak ke Paviliun Bulan Sabit sekarang juga," perintah Lin Jian dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Aku akan menyembuhkannya bersama Ibu. Kita masih memiliki harapan."

1
Cty Badria
up lg ni hadiah /Rose/
Mydar Diamond
lanjuutt upnya mungkin calon suami masa depan telah di temukan🤔
Dewiendahsetiowati
apakah ini calon imam Lin Jia
Hendri Wirawan
bagus....lanjutkan
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Anonim
ceritanya bagus, masih awal tapi menarik buat dibaca. lanjut semangat yaaa/Determined//Rose/
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. semangat✍️👈😍☺
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Dania
semangat tor di tunggu upnya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak bgus crita'y😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!