NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Relikui Ruang dan Target Ketiga

​Malam turun menyelimuti Zona Strategis D-34. Untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai tiga hari yang lalu, ratusan manusia di dalam Rumah Tahanan Seoul bisa bernapas lega.

​Kubah cahaya biru yang sangat tipis menutupi seluruh kompleks penjara, berfungsi sebagai Perisai Anti-Monster Tingkat Rendah. Makhluk buas di luar sana yang mencium bau manusia hanya bisa menggaruk-garuk perisai tersebut tanpa mampu menembusnya.

​Di dalam, api unggun dinyalakan di tengah lapangan. Bau daging monster yang bisa dimakan—salah satunya adalah daging Orc yang telah dibersihkan dari racun—mulai dipanggang oleh kelompok pekerja.

​Di ruang kepala sipir lantai tiga, Han Do-Yoon duduk di kursi kulit yang mewah, menatap layar hologram berwarna emas di hadapannya. Jendela manajemen Serikat telah terbuka.

​[Informasi Serikat]

Nama: Ketiadaan

Ketua: Han Do-Yoon (Tingkat 26)

Anggota Resmi: 2/100

Pekerja/Pengikut: 187

Fasilitas Terbuka: Perisai Pelindung (Tingkat Rendah), Gudang Bersama.

​"Anggota resmi baru kau dan aku," sebuah suara lembut terdengar dari ambang pintu. Yoo Ji-Ah melangkah masuk membawa dua gelas kopi instan yang ia seduh dari persediaan kantin penjara. Ia meletakkan salah satu gelas di atas meja Do-Yoon.

​"Karena aku belum memasukkan Kang Tae-Ho ke dalam sistem," jawab Do-Yoon seraya menyesap kopi hitam tersebut. "Tae-Ho adalah perisai yang sempurna, tetapi perisai itu membutuhkan alasan yang kuat agar tidak pernah goyah. Jika aku hanya mengandalkan rasa takut, suatu saat ia mungkin akan patah."

​"Lalu, bagaimana kau akan mengikat kesetiaannya?" tanya Ji-Ah, duduk di kursi seberang meja.

​Do-Yoon meletakkan gelas kopinya, lalu berdiri. "Dengan memberinya sesuatu yang sangat berharga untuk dilindungi."

​Do-Yoon mengayunkan tangan kanannya, memanggil sebuah benda dari Ruang Penyimpanan. Kompas perak yang memancarkan cahaya keemasan lembut—Kompas Dimensi—muncul di telapak tangannya.

​"Ini adalah saat yang tepat untuk menguji pusaka peninggalan zaman kuno ini," ucap Do-Yoon. Ia memutar jarum kompas tersebut, menyesuaikan koordinatnya. "Ingat griya tawang di lantai seratus Menara Surga tempat kita meninggalkan adikmu pagi tadi?"

​Mata Ji-Ah berbinar. "Kau bisa memindahkan kita kembali ke sana?!"

​"Keahlian bawaan dari kompas ini adalah Lompatan Ruang. Memiliki waktu jeda selama tujuh hari, tetapi bisa membawa maksimal empat orang dalam satu kali lompatan bolak-balik jika titik tujuannya sudah ditandai," Do-Yoon menjelaskan.

​Ia memegang pundak Ji-Ah. "Pegang kompas ini bersamaku. Kita akan menjemput adikmu sekarang."

​Ji-Ah segera meletakkan tangannya di atas tangan Do-Yoon.

​"Aktifkan," perintah Do-Yoon di dalam kepalanya.

​WUSSH!

​Seketika, pemandangan ruang kepala sipir yang hancur itu terpelintir hebat. Cahaya keemasan menelan pandangan mereka. Sensasinya seperti ditarik paksa melalui sedotan yang sangat sempit. Hanya dalam hitungan dua detik, suara bising dari luar penjara menghilang, digantikan oleh keheningan mutlak dari ketinggian.

​Saat Ji-Ah membuka matanya, ia merasakan karpet tebal yang familier di bawah kakinya. Pintu kayu mahoni yang tersegel bayangan berada tepat di depannya. Mereka telah kembali ke lantai seratus Menara Surga.

​"Luar biasa..." bisik Ji-Ah takjub. Sihir ruang adalah sesuatu yang bahkan melampaui elemen anginnya.

​Do-Yoon menyentuh pintu kamar, menyerap kembali segel bayangannya ke dalam telapak tangannya. "Bawa dia. Kita akan langsung kembali ke markas. Menara ini terlalu terbuka untuk dijadikan tempat berlindung jangka panjang bagi seorang anak kecil."

​Beberapa menit kemudian, setelah Ji-Hye yang masih mengantuk digendong oleh kakaknya, Do-Yoon kembali mengaktifkan kompas tersebut. Cahaya keemasan kembali berpendar, dan mereka berteleportasi kembali menembus ruang, tiba tepat di tengah-tengah lapangan Rumah Tahanan Seoul.

​Kemunculan mereka dari ketiadaan di tengah lapangan yang diterangi api unggun membuat ratusan tahanan dan pekerja terkesiap. Namun saat melihat itu adalah sang Ketua, mereka segera menundukkan kepala.

​Kang Tae-Ho yang sedang mengatur jadwal jaga malam segera berlari menghampiri.

​"Ketua! Anda... dari mana Anda baru saja muncul?" tanya Tae-Ho, matanya terbelalak menatap sihir yang tidak masuk akal itu.

​Lalu, tatapan raksasa itu jatuh pada gadis kecil yang bersembunyi di balik kaki Ji-Ah, menatap sekeliling dengan mata bulat yang ketakutan. Penampilan Tae-Ho yang tinggi besar, penuh luka, dan berwajah kasar memang cukup untuk membuat anak kecil mana pun menangis.

​"Tae-Ho," panggil Do-Yoon, memecah kecanggungan tersebut. "Buka Jendela Statusmu dan terima undanganku."

​[Pemain 'Han Do-Yoon' mengundang Anda untuk bergabung dengan Serikat 'Ketiadaan' (Peringkat: Pemula).]

[Apakah Anda menerima?]

​Tae-Ho segera menekan tombol 'Ya' di dalam benaknya.

​[Anda kini adalah Anggota Resmi dari Serikat 'Ketiadaan'.]

[Ketua Serikat telah menunjuk Anda sebagai: 'Wakil Ketua / Kepala Keamanan Markas Utama'.]

​"Tugas pertamamu sebagai Wakil Ketua bukan hanya menjaga tembok-tembok kotor ini," ucap Do-Yoon, nadanya tegas namun memiliki makna tersembunyi. Ia menunjuk ke arah Ji-Hye. "Ini adalah Yoo Ji-Hye. Adik dari pedang utamaku. Tugas utamamu adalah memastikan tidak ada satu pun makhluk—baik monster maupun manusia berengsek—yang berani menyentuh sehelai rambutnya."

​Tae-Ho terdiam. Ia menatap gadis kecil yang rapuh itu, lalu menatap Ji-Ah yang mempercayakan keselamatan adiknya, dan akhirnya menatap Do-Yoon.

​Di kehidupan lamanya, Tae-Ho dipenjara karena melindungi keponakan kecilnya dari rentenir kejam. Insting pelindungnya adalah sesuatu yang mendarah daging, lebih kuat dari kelas Pembela Baja yang ia miliki. Do-Yoon tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk mengikat kesetiaan pria raksasa ini selamanya.

​Mata Tae-Ho melembut. Ia berlutut hingga sejajar dengan wajah Ji-Hye, mengabaikan nyeri pada luka di dadanya.

​"Halo, Nona Kecil," sapa Tae-Ho dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meski masih terdengar seperti gema di dalam gua. Ia mengangkat Perisai Menara Baja Hitam miliknya dan menancapkannya di tanah. "Namaku Tae-Ho. Selama Paman masih bernapas dan memegang perisai ini, tidak akan ada satu hal buruk pun yang bisa menyakitimu. Paman bersumpah."

​Ji-Hye menatap mata pria raksasa itu. Entah mengapa, ia tidak merasakan niat jahat. Gadis kecil itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan.

​[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' tersenyum lembut melihat pemandangan ini.]

[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' memberikan berkah ringan kepada Sang Garda Depan.]

​Melihat pemandangan itu, Do-Yoon tersenyum sinis di dalam hati. Sempurna. Sekarang, benteng utama Serikat Ketiadaan telah memiliki hati yang tidak akan pernah goyah.

​"Bagus," ucap Do-Yoon. "Ji-Ah, siapkan barang-barangmu. Kita berangkat besok pagi saat matahari terbit."

​"Kita akan pergi lagi?" tanya Ji-Ah, terkejut. Ia pikir mereka akan beristirahat dan mengurus markas selama beberapa hari.

​"Tae-Ho bisa mengurus tempat ini. Lima puluh Pembangkit di bawah komandonya sudah cukup untuk menahan gelombang kecil," Do-Yoon menengadah menatap langit malam tanpa bintang. "Kita tidak punya waktu untuk berpuas diri. Target nomor tiga dari daftarku tidak akan bertahan lama jika kita tidak segera menjemputnya."

​"Siapa dia, dan di mana kita akan menemukannya?"

​"Seo Ah-In. Kelas yang ia miliki adalah Penyembuh Jiwa Suci," jawab Do-Yoon. "Dan saat ini, ia terjebak di tempat yang paling mematikan di hari-hari awal kiamat."

​"Di mana?"

​"Rumah Sakit Universitas Yonsei."

​Mendengar nama tempat itu, wajah Ji-Ah memucat. Ia bukan orang bodoh. Di awal kiamat, jutaan orang terluka parah, terinfeksi racun monster, dan kehilangan nyawa. Rumah sakit adalah tempat di mana kematian berkumpul dalam jumlah yang paling pekat.

​"Sebuah rumah sakit... di saat kiamat?" bisik Ji-Ah. "Tempat itu pasti..."

​"Ya," potong Do-Yoon dingin. "Rumah potong hewan terbesar di Seoul. Tempat di mana mayat tidak diam berbaring, melainkan bangkit untuk memangsa yang masih hidup."

​Keesokan paginya, tepat pada hari keempat kiamat.

​Do-Yoon dan Ji-Ah meninggalkan Rumah Tahanan Seoul. Kang Tae-Ho berdiri di atas tembok beton, memberi hormat dengan memukul perisai bajanya saat panggung bayangan Do-Yoon melesat menembus udara pagi.

​Perjalanan udara menghemat banyak waktu dan tenaga. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, mereka tiba di wilayah distrik Seodaemun, mendekati kompleks Universitas Yonsei.

​Namun, semakin mereka dekat, suasana semakin mencekam.

​Panggung bayangan Do-Yoon terpaksa harus diturunkan dan mendarat di atap sebuah ruko berlantai tiga, sekitar setengah kilometer dari rumah sakit tersebut. Mereka tidak bisa terbang lebih dekat.

​"Apa itu?" tanya Ji-Ah ngeri, menatap lurus ke depan.

​Rumah Sakit Universitas Yonsei, dengan gedung-gedung putihnya yang megah, kini tidak terlihat seperti fasilitas medis. Seluruh kompleks rumah sakit itu diselimuti oleh kabut berwarna kelabu yang sangat tebal, menjulang ke atas layaknya kubah raksasa.

​Lebih mengerikan lagi, sulur-sulur daging berwarna hitam, menyerupai akar pohon yang membusuk, merambat dari dalam rumah sakit, melilit tembok, memecahkan kaca jendela, dan merayap ke jalanan sekitarnya. Bau formalin yang bercampur dengan kebusukan mayat tercium tajam, dihembuskan oleh angin dari arah kabut tersebut.

​[Peringatan Mutlak!]

[Anda memasuki 'Kawasan Wabah Kematian' (Tingkat Bahaya: C+ ~ B-).]

[Wilayah ini dikendalikan oleh entitas Mayat Hidup tingkat tinggi!]

​"Sial," umpat Do-Yoon pelan, matanya menyipit melihat sulur-sulur daging hitam itu.

​Di garis waktu sebelumnya, Rumah Sakit Yonsei memang menjadi sarang mayat hidup, namun tidak pernah mencapai tingkat anomali sebesar ini secepat ini. Pembentukan Kawasan Wabah biasanya baru terjadi di bulan ketiga.

​"Do-Yoon... kau yakin targetmu masih hidup di dalam sana?" tanya Ji-Ah, suaranya sedikit bergetar. "Tempat itu terlihat seperti mulut neraka. Bagaimana mungkin manusia biasa bisa bertahan di dalam kabut beracun itu selama tiga hari?"

​"Seo Ah-In bukan manusia biasa," jawab Do-Yoon seraya melompat turun dari atap ruko ke atas aspal jalanan. "Kelasnya adalah satu-satunya penawar alami untuk wabah semacam ini. Ia pasti bersembunyi di salah satu bangsal dengan menggunakan perisai sucinya."

​Do-Yoon memanggil Bilah Penebas Malam miliknya. Pedang bayangan itu mendesis saat terbentuk, memancarkan kilau perak di ujung bilahnya.

​"Tetap berada di dekatku, Ji-Ah. Jangan hirup kabut itu langsung, dan jangan biarkan sulur daging hitam itu menyentuh kulitmu," peringat Do-Yoon, matanya kembali berubah menjadi sekelam malam. "Jika ada makhluk yang mendekat, hancurkan kepala mereka. Menusuk jantung tidak akan menghentikan mayat yang sudah mati."

​Mereka melangkah menembus kabut kelabu tersebut.

​Tepat saat sepatu Do-Yoon menginjak batas wilayah kabut, suara erangan yang panjang, serak, dan penuh penderitaan bergema dari dalam lorong-lorong rumah sakit. Bayangan-bayangan puluhan dokter, perawat, dan pasien berseragam pucat mulai bermunculan dari balik kabut.

​Mata mereka bersinar dengan api hijau yang redup, dan rahang mereka terbuka lebar, memperlihatkan barisan gigi yang telah bermutasi menjadi setajam hiu.

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!