NovelToon NovelToon
Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Liontin Dewi: Jalan Sang Raja Obat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Matahari pagi baru saja terbit saat Rizky melangkah keluar dari hotel bintang tiga tempatnya menginap semalam.

Tubuhnya terasa sangat segar dan penuh tenaga setelah mendapatkan tidur yang sangat layak dan sarapan bergizi.

Dia segera memesan taksi online menuju tempat pertama yang mengubah nasibnya kemarin.

Tujuannya tidak lain adalah Pasar Sentra Flora.

Jalanan masih cukup lengang sehingga taksi yang ditumpanginya bisa melaju dengan sangat lancar.

Sesampainya di gerbang pasar, Rizky langsung berjalan cepat menyusuri lorong becek menuju kios terpal biru di sudut belakang.

Pak Somad terlihat sedang menyeruput kopi hitam panasnya sambil menghisap sebatang rokok kretek.

"Selamat pagi Pak Somad, bagaimana kabarnya hari ini?" sapa Rizky dengan suara lantang dan ceria.

Pak Somad hampir tersedak kopi panasnya saat melihat sosok pemuda rapi dan bersih yang berdiri di depannya.

"Loh, Mas yang kemarin beli akar mati itu kan?" tanya Pak Somad memastikan penglihatannya.

"Penampilan Mas hari ini rapi sekali seperti bos kantoran, saya sampai hampir tidak kenal."

Rizky tertawa pelan mendengar komentar jujur dari pedagang tua yang baik hati tersebut.

"Alhamdulillah Pak, rezeki saya sedang bagus setelah beli akar dari kios Bapak kemarin."

"Syukurlah kalau begitu Mas, hari ini mau cari ranting aneh buat tugas prakarya adiknya lagi?" canda Pak Somad ramah.

"Hari ini saya mau memborong dagangan Bapak, bukan cuma ranting mati."

Rizky menunjuk ke arah deretan pot bibit jahe merah, kunyit putih, dan kumis kucing di sudut kios.

"Saya beli semua bibit tanaman herbal yang Bapak punya hari ini, semuanya tanpa sisa."

Mata Pak Somad terbelalak lebar hingga rokok kretek di sela jarinya nyaris terjatuh ke tanah.

"Mas Rizky tidak sedang bercanda kan? Totalnya ada sekitar tiga ratus pot bibit di sini."

"Saya sangat serius Pak, tolong hitung total harganya dan carikan mobil pikap sewaan untuk mengangkut semuanya sekarang."

Rizky mengeluarkan setumpuk uang pecahan seratus ribu yang masih terikat pita bank dari dalam saku jaketnya.

Melihat tumpukan uang merah itu, Pak Somad langsung melompat dari kursi kayunya dengan semangat 45.

"Siap Mas Bos, saya hitung sekarang juga dan saya panggilkan mobil pikap langganan saya di depan."

Satu jam kemudian, sebuah mobil pikap penuh muatan bibit tanaman melaju meninggalkan pasar.

Rizky duduk di kursi penumpang di sebelah sopir pikap yang terlihat masih muda dan banyak bicara.

Mereka menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam menuju lahan perbukitan di pinggiran barat kota.

BRUM BRUM BRUM.

Mobil pikap itu meraung keras saat mendaki jalanan tanah bergelombang menuju area lahan milik Rizky.

"Berhenti di dekat gerbang kayu yang rusak itu saja Mas, biar saya bongkar muatannya di situ," perintah Rizky.

Sopir pikap itu mengangguk dan menghentikan mobilnya tepat di depan hamparan lahan ilalang yang luas.

Setelah membayar lunas ongkos sewa dan jasa angkut, mobil pikap itu segera melaju pergi turun bukit.

Kini Rizky berdiri sendirian di depan tumpukan ratusan pot bibit tanaman di pinggir jalan tanah tersebut.

"Langkah pertama adalah memindahkan bibit-bibit ini ke area Tanah Spiritual di tengah lahan."

Rizky menyingsingkan lengan kemejanya dan mulai mengangkat pot-pot itu dua buah sekaligus.

Fisiknya yang sudah diperkuat oleh energi Liontin Dewi membuat pekerjaan berat ini terasa sangat ringan bagai mengangkat kapas.

Dalam waktu kurang dari dua jam, seluruh pot itu sudah tersusun rapi di dekat gundukan tanah kehitaman tersebut.

Baru saja Rizky hendak duduk beristirahat di bawah pohon rindang, telinganya menangkap suara mesin motor yang sangat berisik.

NGENG NGENG NGENG.

Tiga buah sepeda motor bodong berknalpot bising melaju kencang dan berhenti mendadak di depan lahan Rizky.

Enam orang pria berwajah garang dan berpakaian preman turun dari motor dengan gaya arogan.

Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh gempal, berkulit gelap, dan memiliki bekas luka sayatan di pipi kirinya.

"Heh anak muda, siapa yang kasih kamu izin menaruh barang rongsokan di tanah ini?" teriak preman gempal itu dengan suara kasar.

Rizky bangkit berdiri perlahan dan menepuk debu dari celananya dengan wajah sangat tenang.

"Saya pemilik sah lahan ini, baru saja beli kemarin, jadi saya bebas menaruh apa pun di tanah saya sendiri," jawab Rizky datar.

Keenam preman itu saling pandang lalu tertawa terbahak-bahak seolah baru mendengar lelucon paling lucu abad ini.

"Dengar ya Bos kecil, di wilayah perbukitan ini sertifikat tanah dari negara itu tidak ada harganya sama sekali."

Preman gempal itu berjalan mendekat sambil menepuk-nepuk dada bidangnya sendiri.

"Kenalkan, namaku Bang Jali, penguasa tunggal keamanan di seluruh desa perbukitan ini."

"Kalau kamu mau buka usaha atau menanam apa pun di sini, kamu wajib bayar uang keamanan ke aku tiap bulan."

Rizky menghela napas panjang melihat birokrasi jalanan yang selalu merugikan rakyat kecil ini.

"Berapa uang keamanan yang Bang Jali minta untuk lahan dua hektar ini?" pancing Rizky dengan nada santai.

Bang Jali tersenyum miring memamerkan giginya yang kuning dan berbau asap rokok murah.

"Karena lahanmu luas, bayar sepuluh juta per bulan, itu harga teman buat pendatang baru."

"Sepuluh juta? Kalian ini preman kampung atau perampok berdasi yang sedang pakai baju gembel?" sindir Rizky tajam.

Wajah Bang Jali langsung memerah padam mendengar hinaan telak yang keluar dari mulut pemuda kurus di depannya ini.

"Kurang ajar, kamu berani cari mati ya di daerah kekuasaanku?" bentak Bang Jali sambil mencabut sebilah belati dari pinggangnya.

1
Abady Ehm
cerita sampah, seharusnya dia obati dulu ibunya yg sakit2an, habis beli lahan, carilah pekerja untuk dibersihkan dan dipagar keliling, lalu dibuatkan pondok untuk preman penjaga lahan tuh, jgn ngsal gitu ceritanya, baru bab 11 udah bosan bacanya,.....
Nissa Safira: Terima kasih atas kritiknya kak😅
Saya paham concern-nya soal ibu Rizky dan pengelolaan lahan.
Semua itu sengaja belum dieksekusi sekarang karena ada konflik dan konsekuensi yang mau saya bangun di bab-bab selanjutnya.
Kalau Rizky langsung "sempurna" dari awal, cerita dan pertumbuhannya jadi kurang greget.
Mohon bersabar ya, saya janji bakal dijawab semua di bab bab berikutnya 🙏😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!