Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Cynthia Si Dewi Saham
Tiga hari berlalu dengan cepat.
Kota Biru tampak tenang dari luar, tetapi di bawah permukaannya, beberapa arus mulai bergerak ke arah yang sama.
Jessica sibuk menyiapkan proposal untuk PT Surya Abadi Group.
Nenek Ratna mengirim pesan hampir setiap pagi.
Jangan kecewakan keluarga.
Mama Ayu menelepon dua kali sehari.
Jessica, kontrak ini wajah kita.
Tante Juanita mengirim daftar orang yang katanya harus disebut dalam ucapan terima kasih.
Pak Yunan dan Pak Junaidi bahkan mengirim catatan tentang pembagian keuntungan, seolah kontrak itu sudah berada di tangan mereka.
Jessica membaca semuanya tanpa membalas banyak.
Hendry melihat lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
Ia tidak menegur.
Ia hanya menyiapkan jalan agar wanita itu tidak harus jatuh.
Pagi hari ke-18, Hendry duduk di ruang kerja kecil Taman Indah Residence. Kamera baru dari Dimas menyala di layar samping. Setiap sudut rumah terlihat jelas.
Di layar utama, wajah Cynthia Wulandari muncul dalam panggilan video.
Rambutnya terikat rapi. Kemeja putihnya sederhana, tetapi aura profesionalnya tajam. Di belakangnya, papan kaca penuh angka, grafik, dan catatan posisi.
"Pagi, Hendry."
"Pagi, Cynthia."
Cynthia menatap wajahnya beberapa detik lebih lama dari perlu.
"Kamu kurang tidur."
"Rumah kemasukan tamu."
Mata Cynthia langsung berubah. "Tamu?"
"Belum perlu kamu urus. Dimas sudah bergerak."
"Kalau ada kaitan dengan keluarga besar, beri tahu aku."
Hendry tidak menjawab langsung.
Cynthia mengerti. Ia menurunkan pandangan ke laporan.
"Baik. Untuk dana awal PT Timur Jaya, saya gunakan Rp 50 Miliar sesuai batas yang kamu izinkan. Posisi futures komoditas dan indeks regional sudah ditutup bertahap. Laba bersih setelah biaya transaksi Rp 9 Miliar."
Hendry mengangkat alis.
"Beberapa hari."
"Pasar sedang panik. Panik adalah diskon bagi orang yang punya uang tunai."
Nada Cynthia datar.
Seolah menghasilkan Rp 9 Miliar hanya pekerjaan mencuci gelas.
Hendry tersenyum tipis. "Tidak salah orang-orang memanggilmu dewi saham."
Cynthia menatapnya. "Aku lebih suka dipanggil orang yang kamu percaya."
Kalimat itu ringan.
Tapi ada sesuatu yang tertinggal di udara.
Hendry memilih tidak masuk ke sana.
"Kita mulai target berikutnya."
Cynthia menyentuh layar. Grafik baru muncul.
PT Megah Sentosa Group.
Nama Hadiprana ada di bawahnya seperti noda lama.
"Vincent Hadiprana masih bergerak di lingkaran sosial Kota Biru," kata Cynthia. "Perusahaannya terlihat kuat, tapi utang jangka pendek mereka menumpuk. Ada beberapa proyek properti yang arus kasnya buruk."
"Siapkan tim khusus."
"Short position?"
"Belum eksekusi penuh. Kumpulkan saham pinjaman, petakan broker, cari titik tekan berita. Saat waktunya datang, bawa harga mereka di bawah Rp 800."
Cynthia diam sejenak.
"Itu sudah masuk tekanan serius."
"Aku tahu."
"Itu mematahkan tulang punggung Hadiprana."
Mata Hendry dingin.
"Mereka akan memberi alasan sendiri."
Cynthia tersenyum tipis.
"Baik. Saya siapkan."
Sebelum panggilan ditutup, Hendry berkata, "Satu lagi. Hari ini Jessica datang ke PT Surya Abadi."
"Kontrak Wirawan?"
"Ya."
"Mau aku bicara dengan Adrian?"
"Aku sudah kirim instruksi. Beri Jessica syarat terbaik yang tetap masuk akal. Jangan terlalu berlebihan sampai dia curiga."
Cynthia mengangguk. "Kamu selalu begitu kalau menyangkut dia."
"Dia istriku."
Cynthia menatapnya beberapa detik.
"Aku tahu."
Panggilan berakhir.
Siang itu, Jessica berdiri di lobi PT Surya Abadi Group.
Gedung kaca itu menjulang seperti menara matahari. Logo Surya Abadi di dinding utama memantulkan cahaya emas. Di belakang Jessica, dua wakil Wirawan keluarga ikut datang, dikirim Nenek Ratna untuk "menyaksikan".
Pak Junaidi juga hadir dengan jas abu-abu dan map kosong di tangan.
Ia tidak dipercaya memimpin negosiasi, tetapi tetap ingin terlihat punya peran.
"Jessica," bisiknya, "ingat, jangan terlalu lunak. Target kita minimal Rp 300 Miliar."
Jessica menahan napas.
"Proposal yang realistis ada di angka Rp 30 sampai 40 Miliar untuk tahap pertama."
Pak Junaidi mendengus. "Kalau kecil begitu, untuk apa kita semua repot?"
Jessica tidak menjawab.
Resepsionis mendekat.
"Bu Jessica Mahendra?"
"Saya."
"Pak Adrian Chandra sudah menunggu. Silakan."
Ruang rapat PT Surya Abadi berada di lantai dua puluh enam. Dari sana, Kota Biru terlihat seperti peta yang bisa digeser dengan tangan.
Adrian Chandra berdiri saat Jessica masuk.
"Bu Jessica, selamat datang."
Sikapnya formal.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu dingin.
Tepat.
Jessica merasa sedikit lega.
Negosiasi berlangsung satu jam.
Jessica memaparkan kemampuan PT Daun Kreasi, kapasitas produksi Wirawan, jaringan distribusi keluarga, risiko, jadwal, dan desain kemasan yang bisa disesuaikan untuk wilayah timur.
Ia tidak bicara berlebihan.
Ia tidak menjanjikan hal mustahil.
Adrian mendengar dengan tenang.
Pak Junaidi beberapa kali mencoba menyela dengan angka besar dan klaim kosong, tetapi Adrian hanya menatapnya sekali.
"Kami lebih menghargai data operasional daripada ambisi verbal."
Wajah Pak Junaidi langsung kaku.
Jessica melanjutkan presentasi.
Pada akhir rapat, Adrian membuka dokumen.
"PT Surya Abadi bersedia memberi kontrak tahap pertama senilai Rp 30 Miliar. Jika enam bulan pertama memenuhi KPI, nilai kerja sama dapat dinaikkan pada tahap kedua."
Jessica terdiam.
Rp 30 Miliar.
Itu bukan angka kecil.
Bagi Wirawan keluarga, itu bisa menghidupkan kembali beberapa lini usaha yang mulai tua. Bagi PT Daun Kreasi, keberhasilan mengawal desain dan kemasan tahap pertama akan menaikkan reputasinya berkali-kali lipat.
Namun ia juga tahu.
Nenek Ratna meminta lebih.
Terlalu lebih.
"Syarat pembayaran?" tanya Jessica.
"Uang muka tiga puluh persen setelah penandatanganan. Sisanya bertahap berdasarkan milestone. Kami juga mencantumkan klausul bahwa pelaksana operasional utama adalah tim yang Bu Jessica tunjuk. Tidak boleh diganti tanpa persetujuan kami."
Jessica mengangkat kepala.
Klausul itu melindunginya.
Melindungi dari Pak Yunan.
Dari Pak Junaidi.
Dari semua orang yang ingin merebut hasil setelah ia bekerja.
Ia tidak tahu mengapa Adrian memberi klausul sebaik itu.
Namun ia tahu satu hal.
Ini kesempatan.
"Saya setuju."
Tanda tangan jatuh di atas kertas.
Rp 30 Miliar resmi menjadi kontrak Wirawan dengan PT Surya Abadi.
Sore itu, Jessica membawa dokumen ke rumah Nenek Ratna.
Ia pikir, setidaknya kali ini keluarga akan tersenyum.
Ia salah.
Begitu Nenek Ratna melihat angka di halaman utama, wajah wanita tua itu langsung mengeras.
"Tiga puluh miliar?"
Jessica berdiri di tengah ruang.
"Itu kontrak tahap pertama, Nenek. Kalau KPI baik, bisa naik tahap kedua."
Nenek Ratna membanting dokumen ke meja.
Prak!
"Yang Nenek minta tiga ratus miliar!"
Ruangan itu langsung sunyi.
Mama Ayu terkejut. "Ma, tiga puluh miliar juga sudah..."
"Diam."
Mama Ayu menutup mulut.
Pak Yunan yang kemarin berlutut kini mencibir.
"Saya sudah bilang, menyerahkan negosiasi kepada cucu perempuan terlalu berisiko."
Pak Junaidi menyambung cepat, "Dia terlalu konservatif. Kalau saya yang bicara, mungkin angka bisa naik."
Tante Juanita menghela napas panjang. "Jessica, kamu sudah membuat keluarga berharap."
Jessica menatap mereka satu per satu.
Kemarin, lutut mereka menyentuh lantai.
Hari ini, mulut mereka menyentuh lukanya.
"Kontrak ini punya uang muka sembilan miliar," kata Jessica pelan. "Ada klausul tahap kedua. Ada perlindungan operasional. Ini kontrak yang sehat."
Nenek Ratna tertawa dingin.
"Sehat? Wirawan tidak butuh sehat. Wirawan butuh besar."
"Kalau angka terlalu besar tanpa kapasitas, kita bisa gagal kirim."
"Alasan."
Satu kata itu menusuk lebih dalam daripada makian.
Jessica menahan air mata.
Ia tidak akan menangis di depan mereka.
Tidak lagi.
Hendry tidak berada di rumah Nenek Ratna.
Namun saat Jessica keluar dari sana menjelang malam, ia meneleponnya.
Suara Jessica terdengar datar.
Terlalu datar.
"Kontrak sudah ditandatangani."
"Bagus."
"Mereka bilang aku membuat keluarga malu."
Tangan Hendry yang memegang ponsel perlahan mengeras.
Di ruang kerja, layar kamera rumah memantulkan wajahnya yang dingin.
"Pulanglah," katanya. "Aku tunggu."
"Aku cuma ingin duduk sebentar."
"Aku jemput?"
Jessica diam lama.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang."
Telepon ditutup.
Hendry berdiri di depan jendela.
Kota Biru menyala di bawah malam.
Wirawan keluarga meminta Jessica bekerja, lalu menghina hasilnya.
Baik.
Mereka akan segera tahu, nilai seorang Jessica Mahendra bukan mereka yang menentukan.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor yang masuk bukan Jessica.
Brandon Mahesa.
Hendry mengangkat.
Suara Brandon terdengar cerah, seperti orang yang selalu hidup di bawah lampu pesta.
"Mas Hendry, besok malam ada pesta besar. Kamu harus datang."
"Pesta apa?"
"Pesta orang-orang yang suka merasa memiliki Kota Biru."
"Aku tidak tertarik."
Brandon tertawa. "Kali ini harus tertarik. Ada orang penting yang ingin bertemu."
Mata Hendry menyipit.
"Siapa?"
Di seberang sana, Brandon hanya tertawa.
"Datang saja, Mas. Kalau aku sebut namanya sekarang, pestanya tidak seru lagi."