NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: "Bilang Aja Udah Nikah"

Laras memandangi lampu jalan yang bergerak di luar jendela.

"Belum semua," jawabnya. "Cuma Rosa dan Kirana."

"Kenapa Pak Bagas belum tahu?"

"Kenapa harus Mas Bagas dulu yang tahu?"

Arkan berhenti mengetuk kemudi. Pertanyaan itu memantul kembali kepadanya dengan terlalu tepat.

"Dia atasanmu," katanya.

"Pernikahan bukan urusan operasional. Nanti kalau waktunya tepat, aku bilang ke tim."

Arkan memahami alasannya. Ia hanya tidak suka Bagas menaruh perhatian kepada Laras tanpa tahu bahwa perempuan itu sudah menjadi istri orang.

Sebelum ia menemukan kalimat yang tidak terdengar seperti kecemburuan, ponsel Laras berdering. Nomor tidak dikenal muncul di layar.

"Angkat saja," kata Arkan. "Pakai speaker."

Laras menerima panggilan. Suara perempuan yang sangat ramah langsung memenuhi mobil.

"Selamat malam, Mbak. Kami dari layanan Angkasa Nusantara. Penerbangan Nusantara ZN-418 besok mengalami gangguan mekanis dan dibatalkan. Mbak berhak mendapat pengembalian dana serta kompensasi."

Laras menoleh kepada Arkan. Ia tidak punya tiket besok.

Arkan mengulurkan tangan meminta ponsel, lalu menjawab dengan tenang. "Oh, begitu. Pesawat tipe apa yang rusak, Mbak?"

"Informasi teknis tidak tersedia di sistem kami, Pak. Untuk proses cepat, kami perlu verifikasi data rekening penumpang."

"Nama penumpangnya siapa?"

"Data lengkap akan muncul setelah Bapak membuka tautan yang kami kirim."

"Rute ZN-418 ke mana?"

Suara di seberang sempat tersendat. "Jakarta ke Bali, Pak."

Arkan melirik Laras. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Menarik. Kode penerbangan kami bukan seperti itu. Saya juga nggak punya tiket besok."

"Mungkin nomor Bapak terdaftar sebagai kontak keluarga. Kalau bisa sebutkan nomor kartu untuk verifikasi..."

"Mbak," potong Arkan tetap sopan, "saya sendiri orang Angkasa Nusantara."

Panggilan langsung terputus.

Laras tertawa sampai bahunya berguncang. "Kenapa dilayani selama itu?"

"Aku ingin tahu seberapa jauh dia mengarang."

"Kalau tadi kamu tanya nomor mesin, mungkin dia juga jawab."

"Kemungkinan besar. Blokir nomornya. Jangan buka tautan apa pun kalau masuk."

Setelah Laras memblokir nomor tersebut, suasana di dalam mobil menjadi lebih ringan. Arkan memberi tahu bahwa dua hari lagi ia dijadwalkan untuk penerbangan panjang menuju Jeddah. Ia harus berangkat lebih dulu sebagai penumpang untuk positioning ke titik keberangkatan kru, beristirahat sesuai jadwal, lalu mengambil sektor berikutnya sebagai awak aktif.

"Berapa hari?" tanya Laras.

"Empat, kalau rotasi nggak berubah."

Empat hari terdengar jauh lebih lama setelah mereka mulai terbiasa sarapan dan saling menunggu pulang.

"Aku kirim jadwal lengkap," lanjut Arkan.

"Baik. Aku juga kirim sifku."

Mobil masuk ke area kompleks. Arkan menurunkan kecepatan, lalu kembali ke pembicaraan yang tadi terputus.

"Tentang kantor. Kalau ada yang tanya, bilang saja kamu sudah menikah."

Laras menoleh. "Langsung?"

"Iya."

"Kalau mereka tanya suamiku siapa?"

"Jawab."

"Sebut namamu?"

"Memangnya kamu punya suami lain?"

Laras menahan napas. Nada Arkan tetap datar, tetapi jemarinya mencengkeram kemudi sedikit lebih kuat.

"Bukan begitu," katanya. "Aku cuma nggak mau orang mengira aku memamerkan nama keluarga atau jabatanmu."

"Mengatakan fakta bukan pamer."

"Kamu tiba-tiba ingin semua orang tahu."

Arkan memarkir mobil di garasi, mematikan mesin, lalu menoleh penuh kepadanya.

"Aku nggak minta kamu membuat pengumuman. Tapi kamu juga nggak perlu menyembunyikan bahwa kamu istriku."

Kata terakhir itu kembali membuat dada Laras bergetar.

Arkan menambahkan, "Terutama kalau ada yang mendekati kamu karena mengira kamu masih sendiri."

Akhirnya, alasannya muncul.

"Ini karena Mas Bagas?" tanya Laras hati-hati.

"Bukan cuma dia."

Jawaban itu membuat Laras menatapnya lebih lama. "Ada orang lain?"

"Aku nggak tahu. Itu justru masalahnya."

Arkan mengembuskan napas, lalu melonggarkan tangannya pada kemudi. "Aku nggak akan datang ke kantormu untuk mengumumkan pernikahan atau mencampuri penilaianmu. Di ruang kerja, kamu tetap Laras Anjani, controller yang dinilai dari kemampuanmu sendiri."

"Lalu?"

"Di luar pekerjaan, kalau orang bertanya apakah kamu sendiri, jangan bilang iya."

"Aku nggak pernah bilang begitu."

"Bagus."

"Dan kalau mereka tahu nama Wibisana lalu mulai memperlakukanku berbeda?"

"Kamu boleh menegur mereka. Kalau mereka menyeret namaku untuk merendahkan pekerjaanmu, bilang ke aku. Bukan supaya aku membereskan penilaianmu, tapi supaya aku tahu siapa yang nggak bisa membedakan urusan pribadi dan profesional."

Laras memahami perbedaannya. Arkan tidak meminta hak untuk mengatur ruang kendali atau memilih dengan siapa ia bekerja. Ia hanya tidak mau keberadaan mereka sebagai suami istri dihapus demi kenyamanan orang lain.

Laras memikirkan Bagas, lalu memilih tidak menggodanya. "Baik. Kalau ada yang tanya, aku jawab."

Arkan tampak lebih tenang. Tatapannya turun ke tangan Laras. Cincin akad sederhana masih melingkari jari manisnya. Cincin itu dipilih cepat untuk upacara yang juga disiapkan dalam waktu singkat.

Tiba-tiba Arkan merasa benda itu terlalu biasa.

Ia ingin Laras memakai sesuatu yang dibuat khusus untuknya, sesuatu yang tidak bisa disamakan dengan cincin mana pun yang dipakai orang lain. Pikiran itu datang tanpa diminta dan langsung menetap.

"Kenapa lihat cincinku?" tanya Laras.

"Nggak ada."

Mereka masuk rumah. Teknisi yang dihubungi Arkan baru bisa datang keesokan siang. Untuk sementara, shower utama tidak dapat dipakai dan kunci kamar mandi tamu belum bisa diandalkan. Mereka menggantung handuk kecil di gagang sebagai tanda jika ada orang di dalam.

Keesokan pagi, Laras bangun karena ingin mencuci muka. Tidak ada handuk di gagang kamar mandi tamu. Ia mengetuk sekali, tidak mendengar jawaban, lalu membuka pintu.

Arkan berdiri di depan cermin sambil menyikat gigi.

Ia hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana olahraga. Rambutnya masih berantakan, bahunya tampak jauh lebih lebar di ruang sempit itu, dan beberapa tetes air mengalir dari rahang ke leher.

Laras lupa mengapa ia membuka pintu.

Arkan menoleh melalui cermin. "Kenapa?"

"Handuknya nggak ada."

Dengan sikat gigi masih di mulut, Arkan melihat gagang pintu. "Jatuh."

Handuk kecil itu memang tergeletak di lantai bagian dalam.

"Maaf. Aku nanti saja."

Laras menutup pintu terlalu cepat dan hampir mengenai kening sendiri. Ia berdiri di lorong sambil menekan kedua pipi. Semalam Arkan yang telinganya merah. Pagi ini giliran seluruh wajahnya terbakar.

Beberapa menit kemudian, Arkan keluar dengan ekspresi terlalu tenang. "Sekarang kosong."

Laras masuk tanpa berani menatapnya. Ia mencuci muka lebih lama daripada perlu, menunggu jantungnya kembali normal. Ketika selesai dan membuka pintu, Arkan ternyata belum pergi.

Laki-laki itu bersandar di dinding tepat di samping pintu, kedua tangan terlipat di dada.

Tak satu pun dari mereka langsung bergerak. Aroma mint dari pasta gigi masih tertinggal di udara, bercampur dengan wangi sabun Laras dari ruang sempit di belakangnya.

Laras berhenti di ambang. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mendengar napas Arkan di atas napasnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!