Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Jatah Obat yang Hilang
Tiga hari setelah utang rumah perawatan dilunasi, Renata membawa semangkuk bubur ayam ke kamar Mama Yolanda.
Pagi itu ibunya sedang sadar.
Yolanda duduk di dekat jendela dengan selimut menutupi lutut. Rambutnya sudah banyak memutih, tetapi ia masih mengenali Renata begitu pintu terbuka.
“Ren.”
Satu panggilan pendek itu membuat langkah Renata melambat.
“Mama sudah sarapan?”
Yolanda menggeleng. “Mereka kasih roti. Mama nggak suka.”
“Makanya aku bawa bubur. Tapi Dokter bilang Mama harus makan pelan-pelan.”
Renata meletakkan wadah makanan di meja kecil. Ia membuka tutupnya, mengaduk bubur agar uapnya turun, lalu menyuapi ibunya sedikit demi sedikit.
Pada hari-hari buruk, Yolanda bahkan tidak mengizinkan Renata mendekat. Ia akan berteriak, menyebut nama orang dari masa lalu, atau bersembunyi di bawah meja karena mengira seseorang datang untuk mengambilnya. Hari ini, tangan kurus itu justru terulur dan menyentuh bekas luka di lengan kiri Renata.
“Ini apa?”
“Tergores waktu kerja.”
“Nathan tahu?”
Sendok di tangan Renata berhenti sesaat.
“Sudah, Ma.”
Ia tidak mengatakan bahwa Nathan baru mengetahuinya setelah melihat perban. Ia juga tidak mengatakan dirinya sudah pindah dari Puri Teratai dan menyiapkan perceraian. Dokter berulang kali mengingatkan agar Yolanda tidak menerima kabar mengejutkan ketika kondisinya sedang rapuh.
Yolanda menggenggam tangan Renata. Kekuatan jemarinya tidak seberapa, tetapi sorot matanya mendadak tajam.
“Jangan mau dibohongi orang, Ren.”
“Iya, Ma.”
“Jangan percaya mereka.”
“Siapa?”
Tatapan Yolanda bergerak ke pintu. Wajahnya berubah. Ia menarik tangannya, lalu mundur sampai punggungnya menempel pada kursi.
“Mereka datang.”
“Nggak ada siapa-siapa, Ma.”
“Kunci pintunya. Jangan biarkan dia masuk.”
Napas Yolanda semakin cepat. Mangkuk bubur tersenggol dan hampir jatuh. Renata menahannya dengan tangan kanan sambil memanggil perawat.
Seorang perawat masuk, berbicara pelan, lalu membantu Yolanda kembali ke tempat tidur. Renata berdiri di sisi ranjang sampai ibunya berhenti meronta dan tatapannya kehilangan fokus.
Beberapa menit kemudian, Yolanda tidak lagi mengenalinya.
“Jam kunjungnya cukup dulu, Bu Renata,” ujar perawat lembut. “Biar Ibu Yolanda istirahat.”
Renata mengangguk. Ia merapikan selimut ibunya sebelum keluar.
Dokter yang menangani Yolanda sudah menunggu di ujung koridor. Pria itu mengajaknya masuk ke ruang konsultasi, menutup pintu, lalu mengeluarkan map obat.
“Ada masalah dengan obat impor yang kita bicarakan bulan lalu.”
Renata duduk lebih tegak. “Bukannya jatah Mama sudah dikonfirmasi?”
“Seharusnya begitu.” Dokter itu melepas kacamatanya. “Jumlah yang datang lebih sedikit daripada perkiraan. Nama Ibu Yolanda tidak lagi masuk daftar penerima untuk pengiriman kali ini.”
“Kenapa?”
“Bagian farmasi bilang ada penyesuaian prioritas.”
Renata menatapnya tanpa berkedip. “Prioritas medis?”
Dokter itu terdiam terlalu lama.
“Dokter,” kata Renata, tetap tenang, “Mama menunggu hampir enam bulan. Kondisinya juga sudah dinilai cocok dengan obat itu. Prioritas apa yang bisa menghapus namanya begitu saja?”
“Secara medis, seharusnya tidak ada.”
Jawaban itu cukup jelas.
Dokter merendahkan suara. “Daftar seharusnya berjalan menurut waiting list. Tapi rumah sakit swasta punya banyak jalur administrasi. Kadang ada keluarga yang memakai orang dalam dan meminta nama mereka didahulukan. Saya sudah mengajukan keberatan, tetapi keputusan pengadaan bukan wewenang saya.”
“Siapa yang mengambil jatahnya?”
“Saya tidak memegang data pasien lain.”
“Tapi Dokter tahu sesuatu.”
Pria itu mengusap wajah. “Saya hanya mendengar nama keluarga Chandra disebut dalam rapat. Jangan bilang informasi itu dari saya.”
Dingin menjalar ke ujung jari Renata.
“Kapan pengiriman berikutnya?”
“Belum ada kepastian. Bisa dua bulan, bisa lebih.”
Dua bulan adalah waktu yang terlalu lama. Obat lama membuat Yolanda lebih sering gelisah dan hampir tidak memiliki masa sadar utuh. Dokter pernah menjelaskan bahwa obat impor tersebut bukan keajaiban, tetapi pada uji pemberian sebelumnya respons tubuh Yolanda jauh lebih baik.
Seseorang mengambil peluang kecil itu hanya karena memiliki uang dan telepon yang tepat.
Renata menutup map di depannya. “Terima kasih sudah jujur, Dok.”
“Saya akan terus mengajukan keberatan.”
“Saya juga.”
Sebelum meninggalkan gedung utama, Renata mendatangi loket farmasi. Petugas di sana memeriksa nomor pasien Yolanda, lalu mengulangi jawaban yang sama.
“Nama Ibu Yolanda masuk pengiriman berikutnya, Bu.”
“Kapan pengiriman berikutnya?”
“Belum ada jadwal pasti.”
“Saya sudah membayar uang muka dan menerima konfirmasi tertulis untuk pengiriman hari ini.”
Petugas itu memanggil atasannya. Seorang perempuan keluar membawa lembar perubahan daftar, tetapi hanya memperlihatkannya dari balik meja.
“Kami bisa mengembalikan uang muka kalau Ibu tidak mau menunggu.”
“Saya tidak meminta uang kembali. Saya meminta alasan tertulis kenapa urutannya berubah.”
Perempuan itu tersenyum kaku. “Kami hanya menjalankan daftar terbaru.”
“Kalau begitu, berikan salinan daftar terbaru.”
“Maaf, itu dokumen internal.”
Renata mengangguk dan mundur. Mereka telah menutup semua pintu resmi tanpa menyadari dirinya masih bisa melihat jendela yang mereka lupa kunci.
Di luar ruang farmasi, Renata tidak langsung kembali ke kamar ibunya. Ia duduk di ujung koridor yang sepi, mengeluarkan ponsel, lalu menyambungkannya ke laptop lama yang masih menyala di apartemen Tania.
Sejak kembali menjadi JK, ia telah memasang jalur aman agar bisa memeriksa pekerjaannya dari perangkat mana pun. Kali ini ia tidak mencari rekam medis. Ia hanya menelusuri perubahan daftar pengadaan dan urutan distribusi obat.
Nama Yolanda semula berada di posisi pertama.
Dua malam lalu, sebuah akun administrasi memindahkannya ke daftar tunggu pengiriman berikutnya. Pada menit yang sama, satu nama baru ditempatkan di atas seluruh pasien lain.
Yulia Chandra.
Renata membaca nama itu dua kali.
Yulia bukan pasien rumah perawatan tersebut. Permintaannya didaftarkan melalui klinik rekanan dan disisipkan ke pengiriman yang sama. Di bawah catatan persetujuan terdapat penanda panggilan dari kontak VIP, seseorang yang terhubung dengan mitra Prima Aeroteknik.
Nama pemberi rekomendasi disembunyikan oleh hak akses khusus.
Renata memandangi bagian kosong itu. Ia tidak tahu apakah Cheryl meminta bantuan Nathan, atau apakah orang lain di Prima yang membuka jalan. Namun pola yang dilihatnya terlalu akrab. Keluarga Chandra meminta sesuatu, lalu orang-orang bergegas memindahkan hak orang lain agar mereka tidak kecewa.
Persis seperti Nathan meninggalkannya di lobi demi menopang Cheryl.
Perawat lewat sambil mendorong troli obat. Renata mematikan kecerahan layar dan menunggu sampai koridor kembali sepi.
Setelah itu, ia menyimpan salinan urutan awal, waktu perubahan, akun pelaksana, dan catatan panggilan VIP. Satu per satu. Tanpa melewatkan apa pun.
Ia tidak akan menyerbu rumah Yulia. Tidak akan berteriak di depan orang-orang yang sudah memutuskan dirinya kalah.
Kali ini, bukti yang akan berbicara.
Renata menatap nama Yulia Chandra di layar, lalu menekan tombol simpan terakhir.
Jatah obat Mama Yolanda belum hilang.
Seseorang hanya sedang memegangnya untuk sementara.