Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 5 — Topeng Tersembunyi
Matahari pagi Kota Huzhou menyelinap di antara celah-celah atap genteng, namun bagi Qin Mu, pagi ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia tidak bangun dengan rasa sesak di dada. Ia telah mencapai Tahap Pengumpulan Spiritual. Meskipun masih di dasar perjalanan kultivasi, sensasi energi yang berputar di dalam meridiannya memberinya rasa aman yang baru.
"Kultivasi adalah perjalanan yang teramat panjang, bukanlah sebuah perjalanan singkat. Kalau aku terus-terusan lari dalam perjalanan itu, aku bisa kelelahan dan kaki ku bisa kram juga," gumamnya sambil meregangkan tubuh.
Alih-alih pergi ke lapangan latihan untuk dihina, Qin Mu memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan: Menjadi manusia biasa.
Qin Mu mengganti pakaian latihannya yang lusuh dengan jubah katun bersih berwarna kelabu, mengikat rambutnya dengan rapi, dan melangkah keluar dari kediaman Keluarga Qin.
Sepanjang jalan di pasar utama Kota Huzhou, Qin Mu menikmati segala hal yang dulu ia abaikan karena rasa malu. Ia melahap bakpao daging yang masih mengepul, menyeruput teh melati di kedai pinggir jalan, bahkan sempat tertawa melihat pertunjukan monyet sirkus. Ia merasa hidup kembali.
Sesekali ia mengobrol dengan beberapa penduduk yang tidak mengenalnya sebagai anggota keluarga besar Kota ini. Perasaan ini benar-benar beda, layaknya bumi dan langit tidak terlalu jauh saat obrolan demi obrolan ringan itu dilakukan.
Menjelang sore, langkah kakinya membawanya ke Danau Chiwei disebelah timur kota, sebuah danau yang airnya berwarna kemerahan saat terkena pantulan matahari terbenam. Di sana, di atas sebuah dermaga kayu yang mewah, ia melihat sosok yang tidak asing.
"Bukankah itu... Qin Mu?"
Seorang pemuda dengan jubah sutra hijau zamrud melambai ke arahnya. Di sampingnya duduk seorang gadis cantik dengan kipas lipat yang menutupi sebagian wajahnya.
"Saudara Wei?" Qin Mu sedikit terkejut.
Baotian Wei adalah putra tunggal Patriark Keluarga Baotian, salah satu dari tiga keluarga besar di Kota Huzhou selain Keluarga Qin dan Keluarga Rong.
Qin Mu dan Baotian Wei adalah teman bermain saat kecil sebelum jalur di dalam keluarga mereka memisahkan mereka secara kejam.
"Lama tidak bertemu, Kawan Lama!" Baotian Wei berdiri dan menyambut Qin Mu dengan pelukan hangat seolah mereka baru saja berpisah kemarin.
"Aku dengar kau mengurung diri untuk berlatih keras. Lihatlah dirimu, kau tampak... sehat."
Di sampingnya, gadis itu menurunkan kipasnya. Dia adalah Rong Shuxing, putri pertama Patriark dari Keluarga Rong yang terkenal akan kecantikannya yang dingin.
Rumor mengatakan mereka berdua telah bertunangan dan akan segera menikah di usia dewasa mereka.
"Salam kenal, Tuan Muda Qin Mu," sapa Rong Shuxing dengan nada datar, matanya hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap permukaan danau. Baginya, berbicara dengan Qin Mu yang tidak memiliki bakat dalam kultivasi adalah pemborosan waktu.
"Duduklah, Saudara Mu! Mari memancing bersama," ajak Baotian Wei ramah.
Awalnya, percakapan mengalir lancar. Mereka mengenang masa-masa saat mereka jatuh ke lumpur sawah bersama. Namun, seiring matahari yang semakin tenggelam, nada bicara Baotian Wei mulai berubah.
"Kau tahu, Saudara Mu," ujar Baotian Wei sambil menarik kail pancingnya yang kosong.
"Aku sungguh mengagumi keteguhan hatimu. Jika itu aku, sudah setahun di Tahap Penempaan Tubuh tanpa kemajuan, mungkin aku sudah gantung diri di pohon Ginkgo keluargamu."
Qin Mu terdiam, senyumnya tetap terjaga namun matanya mulai menyipit.
"Wei'ge, jangan bicara begitu. Qin Mu adalah putra tunggal Patriark Qin, dia punya tanggung jawab moral untuk tetap bertahan meskipun hanya sebagai pajangan," sela Wei Murong dengan tawa kecil yang terdengar seperti gesekan pisau.
Baotian Wei tertawa keras, menepuk bahu Qin Mu dengan cukup kuat, sebuah tepukan yang disengaja menggunakan sedikit energi spiritual tahap Pengumpulan Spiritual untuk menekan bahu Qin Mu.
"Benar juga! Tapi tenang saja, Saudara Mu. Sebagai teman, aku sudah bicara pada ayahku. Jika nanti kau benar-benar diusir dari Keluarga Qin setelah Upacara Uji Bakat, Keluarga Baotian punya posisi kosong sebagai pengawas kandang kuda. Kau punya fisik yang kuat dari latihan setahun ini, kan? Itu pekerjaan yang cocok!"
Rumor tentang di keluarkannya ahli waris Keluarga Qin bukan hanya diketahui internal Keluarga Qin, namun sudah menyebar luas keluar. Tentu saja yang menyebabkan rumor itu meluas adalah faksi pembenci Patriark Qin Feiyan.
Baotian Wei menatap Qin Mu dengan tatapan yang seolah-olah menunjukkan rasa kasihan, namun di balik itu ada kepuasan yang mendalam melihat seseorang yang dulu dianggap setara dengannya kini jatuh begitu rendah.
"Pengawas kandang kuda?" Qin Mu mengulang kalimat itu dengan nada rendah.
"Iya! Kau tidak perlu khawatir soal uang. Gaji di sana cukup untuk membeli bakpao setiap hari," lanjut Baotian Wei, merasa di atas angin karena Qin Mu tidak menunjukkan perlawanan fisik. Ia berpikir tekanan energinya tadi telah membuat Qin Mu ketakutan.
Qin Mu melepaskan tangan Baotian Wei dari bahunya dengan gerakan yang sangat halus, namun anehnya, Baotian Wei merasa tangannya seperti terpeleset dari permukaan yang licin dan kokoh.
"Terima kasih atas tawaran murah hatimu, Baotian Wei," ucap Qin Mu sambil berdiri. Ia menatap lurus ke mata Baotian Wei, sebuah tatapan yang membuat pemuda Keluarga Baotian itu merasa sedikit merinding tanpa alasan.
"Tapi aku lebih suka menunggangi kuda daripada membersihkan kotorannya. Lagipula, danau ini mulai terasa amis... bukan karena ikannya, tapi karena aroma kepalsuan yang dibawa angin."
Wei Murong menghentikan kipasnya, wajahnya berubah masam. "Apa yang kau katakan? Beraninya kau..."
"Benar sekali Baotian Wei... kalau kau menjadi aku, kau pasti sudah gantung diri. Sampai jumpa suatu hari nanti," potong Qin Mu sambil berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya, wajah Baotian Wei memerah karena marah.
"Sampah tidak tahu diri! Dia pikir dia siapa? Kita lihat saja setelah dia dikeluarkan dari keluarganya, saat dia berlutut memohon pekerjaan padaku!"
Qin Mu berjalan menjauh dengan langkah tenang. Hinaan itu tidak membuatnya marah, justru membuatnya semakin sadar: Di dunia ini, tanpa kekuatan, bahkan kenangan masa kecil pun bisa berubah menjadi senjata untuk menusukmu dari belakang.
"Tahap Pengumpulan Spiritual saja sudah membuatmu sesombong itu, Baotian Wei?" batin Qin Mu.
"Kalau begitu, aku harus memastikan saat kita bertemu lagi, kau bahkan tidak akan berani menatap mataku."