Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032: Akhir Takeshi
Tim audit Yamamoto Group tiba di Jakarta tanpa konferensi pers.
Mereka tidak membawa kamera, tidak membawa spanduk, dan tidak memberi tahu media. Mereka hanya membawa koper hitam, laptop terenkripsi, dan wajah orang-orang yang dibayar mahal untuk menemukan kebohongan.
Takeshi Yamamoto menyambut mereka di kantor Jakarta dengan senyum tipis.
"Perjalanan melelahkan?"
Kepala auditor membalas dengan anggukan singkat.
"Kita mulai sekarang."
Senyum Takeshi mengeras.
Dalam dua jam pertama, audit terlihat seperti prosedur biasa. Dokumen diminta. Laporan dibuka. Alokasi dana diperiksa. Tim keuangan lokal masih berusaha tenang.
Pada jam ketiga, wajah auditor pertama berubah.
Pada jam keempat, ruang rapat dikunci.
Pada jam kelima, Takeshi diminta menyerahkan akses administrator.
"Apakah ini perlu?" tanyanya, masih mencoba terdengar dingin.
Kepala auditor menatapnya tanpa emosi.
"Sangat perlu."
File demi file terbuka.
Dana dari unit logistik Jepang dipindahkan ke akun Indonesia.
Cadangan investasi regional digunakan untuk menutup kompensasi N+3.
Kerugian Es Madu Kopi dicatat sebagai "biaya ekspansi tertunda".
Proyeksi pendapatan yang seharusnya turun dibuat naik.
Beberapa invoice yang dilampirkan ternyata berasal dari vendor yang tidak pernah mengirim barang.
Jumlah awalnya ratusan miliar.
Lalu melewati Rp 500 miliar.
Di hotel tempat Kenji Yamamoto menginap, laporan awal itu dibacakan melalui panggilan tertutup. Ketua Yamamoto Group itu tidak banyak bicara. Usianya membuat suaranya pelan, tetapi setiap katanya seperti batu.
"Takeshi mencuri dari keluarga."
Seorang direktur regional berkata, "Secara hukum, ini juga pelanggaran di Indonesia."
Kenji menutup mata sebentar.
"Lepaskan semua jabatannya. Serahkan berkas kepada pihak berwenang. Yamamoto Group tidak akan tenggelam bersama orang bodoh."
Keputusan itu turun ke kantor Jakarta seperti pedang.
Takeshi dipanggil ke ruang rapat yang sama tempat ia dulu membicarakan ekspansi dengan suara percaya diri. Kali ini, di atas meja tidak ada proposal akuisisi. Hanya ada laporan audit, printout transaksi, dan surat pencabutan jabatan.
"Ini salah paham," kata Takeshi.
Kepala auditor mendorong satu halaman ke depan.
"Tanda tangan digital Anda ada di semua persetujuan."
"Saya memindahkan dana sementara. Untuk stabilisasi."
"Anda mengubah laporan."
"Pasar sedang tidak stabil."
"Anda membuat vendor fiktif."
Takeshi diam.
Ketika pintu terbuka dan dua petugas kepolisian Indonesia masuk bersama perwakilan hukum Yamamoto, wajahnya akhirnya kehilangan sisa warna.
"Takeshi Yamamoto," kata petugas, "Anda diminta ikut untuk pemeriksaan terkait dugaan penggelapan dana, pemalsuan laporan keuangan, dan penyalahgunaan wewenang perusahaan."
Di luar gedung, beberapa karyawan sudah tahu ada sesuatu yang terjadi. Ketika Takeshi keluar dengan pengawalan, ponsel-ponsel terangkat seperti rumput terkena angin.
Ia tidak berteriak.
Tidak meminta maaf.
Tidak melawan.
Ia hanya berjalan dengan wajah kaku, seperti orang yang masih berharap semua ini bagian dari rapat yang buruk.
Namun borgol di pergelangan tangannya membuat harapan itu terlihat bodoh.
Dalam dua puluh menit, video itu menyebar.
#YamamotoScandal naik ke daftar tren.
Media bisnis menulis: Wakil Presiden Yamamoto Group Ditangkap di Jakarta.
Media sosial menulis lebih sederhana: Yang serakah akhirnya kena.
Beberapa mantan karyawan Es Madu Kopi menonton video itu dari gerai yang setengah kosong. Tidak ada sorak besar. Hanya napas panjang, seperti orang-orang yang akhirnya melihat pintu tertutup di belakang mimpi buruk.
"Semoga hak kita dibayar," kata seseorang.
Yang lain menjawab, "Dan semoga manajemen baru berikutnya bukan seperti mereka."
Di sisi lain kota, Vina Maharani menerima pesan dari kontak banknya.
Rekening pribadi dibekukan.
Beberapa aset investasi ditandai.
Permintaan klarifikasi dari regulator masuk.
Nama Vina muncul dalam lampiran audit karena ia menyetujui beberapa laporan restrukturisasi Es Madu Kopi yang memakai angka terlalu indah untuk menjadi nyata.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi CEO, Vina tidak terlihat seperti ratu.
Ia berdiri di apartemennya, menatap lemari pakaian yang penuh blazer mahal. Ponselnya bergetar berkali-kali. Takeshi tidak bisa dihubungi. Kantor hukum Yamamoto hanya memberi satu pesan pendek: kerja sama penuh dengan penyidik.
Artinya, lindungi diri masing-masing.
Malam itu, kamera CCTV bandara merekam seorang perempuan berkacamata hitam berjalan cepat sambil menarik satu koper besar. Rambutnya diikat lebih rendah dari biasa. Tidak ada asisten. Tidak ada sopir. Tidak ada senyum tajam.
Tiketnya menuju luar negeri.
Tujuan akhirnya tidak jelas.
Vina Maharani, yang beberapa minggu lalu menyebut Es Madu Kopi harus belajar siapa pemiliknya, kini meninggalkan Indonesia seperti orang yang takut dikenali oleh bayangannya sendiri.
Rian melihat semua itu dari layar televisi di kantor PT Garuda Emas Group.
Bagas duduk di sampingnya, memegang gelas Kopi Sejati.
"Bos," katanya pelan, "orang jahat ternyata capek juga ya jatuhnya. Satu-satu."
Rian menatap Takeshi yang dibawa masuk ke mobil polisi.
"Mereka jatuh karena perbuatan mereka sendiri."
"Tapi semua orang bakal bilang ini rencana lu."
Rian menghela napas.
"Aku sudah lelah membantah hal-hal yang tidak akan dipercaya orang."
Bagas menyeruput minumnya.
"Berarti jangan dibantah. Nikmati aja jadi legenda."
Rian menatapnya.
"Legenda biasanya tidak punya laporan keuangan."
"Legenda versi lu punya."
Berita berlanjut. Reporter menyebut Es Madu Kopi kini berada dalam kekosongan manajemen. Dua puluh ribu karyawan menunggu kepastian. Yamamoto Group berjanji akan menunjuk tim transisi, tetapi publik sudah kehilangan kepercayaan.
Rian tidak tersenyum.
Bagas memperhatikan itu.
"Bos, lu mikirin karyawan Es Madu?"
"Mereka dulu orang kita."
Kalimat itu pendek, tetapi cukup.
Di dalam diri Rian, tidak ada euforia melihat Takeshi jatuh. Ada rasa lega karena orang bersalah diproses. Ada rasa puas kecil karena Vina tidak lagi bisa menghina Bagas. Tetapi ada juga kekhawatiran yang lebih besar: bisnis yang ia jual untuk kabur dari keuntungan kini meninggalkan dua puluh ribu orang di tengah badai.
Dan, tentu saja, ada masalah paling pribadi.
Ia membuka sistem panel.
Cahaya biru muncul.
[Siklus 4 sedang berjalan.]
[Dana dan aset terafiliasi mengalami peningkatan signifikan.]
[Hasil penjualan aset, kenaikan nilai portofolio, dan dampak reputasi tercatat.]
Angka yang muncul membuat Rian hampir menjatuhkan gelas.
Ia menjual Es Madu Kopi.
Investor mendapat untung.
Kopi Sejati mulai ramai.
Dapur Garuda punya pelanggan setia.
Kopi Segar runtuh.
Musuh jatuh.
Dan entah bagaimana, kapasitas uang yang harus ia kelola menjadi lebih mengerikan.
Panel menampilkan rekomendasi baru.
[Bidang investasi disarankan: pengembangan properti.]
[Catatan: proyek jangka panjang, modal besar, risiko tinggi.]
Rian perlahan menoleh ke jendela.
Jauh di luar kota, pada garis senja yang samar, bayangan bangunan mangkrak Taman Hijau Lestari berdiri seperti gigi patah di langit.
Untuk pertama kalinya hari itu, mata Rian sedikit menyala.
"Risiko tinggi," gumamnya.
Bagas langsung curiga.
"Bos, nada lu barusan bahaya."
Rian masih menatap kejauhan.
"Mungkin sudah waktunya kembali ke proyek yang benar-benar bisa menelan uang."