NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 021: Panas 55 Derajat, Ingatan yang Terbukti

Pada pukul dua belas lewat sembilan menit, termometer digital di dashboard Hendra menunjukkan 55°C.

Bandung seperti dimasukkan ke dalam tungku.

Aspal di jalan utama tampak mengilap oleh permukaan yang mulai lunak. Udara bergetar di atas kap mobil. Di trotoar, seorang pengendara ojek duduk memeluk botol air kosong, wajahnya merah gelap. Dua orang mendorong motor yang mogok, tetapi tangan mereka terus terlepas dari setang karena panas.

Klakson terdengar dari segala arah.

Lalu padam satu per satu.

Jalan sama sekali tidak lancar.

Karena mobil-mobil mulai mati.

Hendra mengemudi dengan kaca tertutup rapat. AC mobil bekerja keras, tetapi udara di kabin tetap terasa kering. Di luar, papan reklame digital berkedip, menampilkan iklan minuman dingin selama tiga detik, lalu mati total.

Jaringan listrik kota mulai jebol.

Di radio, suara penyiar darurat bergetar.

"Warga Bandung diminta tetap berada di dalam ruangan. Hindari aktivitas luar. Suhu terpantau... lima puluh lima derajat Celsius di beberapa titik. Ulangi, lima puluh lima derajat Celsius. Petugas masih berusaha menangani pemadaman bergilir dan gangguan gardu..."

Suara itu terpotong derau.

Lima puluh lima.

Angka yang dulu terdengar mustahil.

Angka yang di kehidupan lalu membuat orang tertawa saat Hendra pertama kali menyebutnya.

Sekarang angka itu muncul di radio.

Muncul di dashboard.

Muncul di kulit orang-orang yang terbakar matahari siang.

Hendra menatap jalan di depannya.

Tidak ada rasa senang.

Hanya kepastian yang dingin.

Semua benar.

Panas ekstrem datang lebih dulu. Setelah itu hujan besar. Setelah itu badai. Setelah itu dunia memutih.

Ingatan yang selama ini menjadi senjata akhirnya berubah menjadi vonis.

Di pinggir jalan, sebuah minimarket penuh orang. Pintu kacanya dibuka paksa. Orang-orang berebut air mineral, es batu, minuman elektrolit, apa pun yang terasa bisa menunda pingsan. Seorang kasir berteriak agar antre, tetapi rak sudah tumbang.

Di seberang, mesin ATM mati. Seorang pria berjas menendang pintunya berkali-kali, lalu terduduk di lantai panas sambil menatap ponsel tanpa sinyal.

Uang masih ada di rekening.

Air tidak ada di tangan.

Hendra melewati mereka tanpa berhenti.

Ruang Penyimpanan di dalam cincin menyimpan air, obat, makanan, BBM, senjata, kendaraan, bahkan tanker raksasa.

Namun pintu itu tidak dibuka untuk dunia.

Ia sudah pernah membuka pintu terlalu lebar di kehidupan lalu.

Hasilnya racun di tenggorokan.

Mobil keluar dari jalan utama menuju jalur yang lebih kecil. Beton berubah menjadi jalan menanjak. Rumah-rumah menipis. Kebun dan lahan kosong mulai muncul di sisi kiri kanan, tetapi panas tetap mengejar sampai ke bukit.

Di kejauhan, satu gardu PLN mengeluarkan percikan.

Kilatan putih.

Lalu ledakan kecil.

BAM!

Daun-daun di pepohonan bergetar seperti tersengat. Lampu rumah-rumah di lereng padam bersamaan.

Hendra tidak memperlambat.

Ia sudah menghitung semua ini.

Pembangkit kecil kota tidak siap.

Pompa air akan mati.

Kulkas akan berhenti.

Orang yang kemarin masih mengejek berita panas hari ini akan mencari generator dengan harga berapa pun.

Dan toko-toko generator sudah kosong sejak Hendra membelinya berminggu-minggu lalu.

Gerbang luar lahannya terlihat setelah tikungan terakhir.

Dari luar, bangunan itu masih tampak seperti gudang pendingin bawah tanah dengan tembok beton, pagar tinggi, dan pos kecil. Tanpa papan mewah atau lambang keluarga, tempat itu menyembunyikan benteng yang bisa bertahan ketika dunia lama berhenti.

Hendra turun dari mobil.

Panas langsung memukul wajahnya.

Tubuhnya kini jauh lebih kuat setelah Unsur Logam tuntas, tetapi panas 55°C tetap seperti tangan besar yang menekan kulit. Orang biasa akan pusing dalam beberapa menit.

Hendra berjalan ke panel gerbang.

Sidik jari.

Kode.

Kunci paduan bentuk bunga.

Klik.

Gerbang bergerak pelan. Motor listriknya menggunakan baterai mandiri yang sudah ia isi penuh. Di atas pagar, kawat listrik belum diaktifkan, tetapi kabelnya siap.

SUV masuk.

Gerbang menutup.

Suara dunia luar langsung turun setengah.

Hendra menuju pintu baja utama yang tersembunyi di balik pintu gudang pendingin. Pintu luar terlihat seperti akses logistik biasa. Di baliknya, pintu anti-ledak setebal hampir tiga puluh sentimeter menunggu.

Ia menempelkan kunci.

Pintu berat itu membuka dengan dengung rendah.

Udara dingin menyentuh wajahnya.

Untuk pertama kalinya hari itu, Hendra menarik napas penuh.

Di dalam bunker, lampu putih menyala stabil. Panel indikator menunjukkan baterai penuh, genset utama siap, tangki air terisi, sumur dalam berfungsi, ventilasi searah aktif, kamera perimeter online, ruang kontrol hidup.

Rak makanan tersusun rapi.

Obat-obatan berlabel jelas.

Drum solar cadangan berdiri berbaris.

Di ruang lain, pakaian termal, alat komunikasi, baterai, panel cadangan, senjata, dan peralatan survival menunggu tanpa suara.

Semua yang dulu ia cari sambil berdarah dan menggigil, kini ada di depannya sebelum kiamat benar-benar membuka mulut.

Hendra berjalan ke ruang kontrol.

Ia menyalakan layar utama.

Enam kamera perimeter menampilkan halaman, gerbang, jalan tanah, sisi kebun, belakang lereng, dan pintu gudang. Termometer luar di pagar menunjukkan 54,8°C. Termometer dalam bunker menunjukkan 22°C.

Selisih itu seperti dua dunia.

Hendra duduk di kursi kontrol.

Di radio darurat, penyiar masih mencoba bertahan.

"...beberapa rumah sakit melaporkan lonjakan pasien heatstroke. Warga diminta tidak memenuhi jalan. Pemerintah daerah menyiapkan posko pendinginan sementara..."

Suara itu pecah lagi.

Hendra mematikan radio sebentar.

Sunyi bunker menutup telinganya.

Di kehidupan lalu, pada hari seperti ini ia masih berlari dari satu toko ke toko lain, membeli air dengan harga sepuluh kali lipat, memohon orang agar tidak panik, lalu pulang membawa stok yang terlalu sedikit.

Kali ini, ia duduk di pusat bentengnya.

Dengan satu tanker BBM di Ruang Penyimpanan.

Dengan emas yang sudah menjadi kekuatan di tulangnya.

Dengan pintu baja tertutup.

Foreknowledge bukan lagi tebakan.

Itu sudah terbukti.

Hendra membuka radio kembali, tetapi volumenya kecil.

Ia memeriksa daftar akhir di tablet.

Pintu anti-ledak: terkunci.

Genset utama: siap.

Genset cadangan: siap.

Sumur dalam: tekanan stabil.

Filter udara: aktif.

Kamera: aktif.

Stok di Ruang Penyimpanan: aman.

Ia menyentuh cincin.

Di dalam ruang gelap, kapal tanker, palet makanan, obat, drum, kendaraan, dan peti senjata diam seperti pasukan mati yang menunggu perintah.

Hendra menutup daftar.

"Mulai sekarang," gumamnya, "dunia di luar bukan tempat tinggal. Hanya medan."

Sore berubah menjadi malam tanpa sejuk.

Di layar perimeter, jalan tanah di depan lahan kosong beberapa jam, lalu mulai muncul orang lewat. Mereka membawa tas, botol kosong, bahkan kipas tangan. Sebagian berhenti di depan pagar, membaca plang gudang pendingin, lalu lanjut karena tidak melihat aktivitas.

Hendra tidak bergerak.

Pukul delapan malam, suhu luar masih 43°C.

Itu saja sudah cukup membuat orang putus asa.

Hendra membuka satu kaleng minuman dingin dari Ruang Penyimpanan. Kaleng itu masih sama seperti saat pertama ia masukkan: dingin, berembun, seperti berasal dari dunia yang belum rusak.

Ia baru meneguk sekali ketika layar kamera gerbang berkedip.

Lampu mobil muncul di tikungan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Mobil hitam berhenti di depan gerbang bunker.

Pintu mobil pertama terbuka.

Manajer Bonar turun dengan kemeja basah keringat, wajah pucat, dan mata yang tidak lagi terlihat seperti kontraktor sopan.

Di belakangnya, seorang pria tua berbadan besar keluar dari mobil kedua. Pak Bahtiar.

Beberapa pria lain ikut turun, berdiri terlalu rapi untuk disebut tamu biasa.

Bonar menunjuk gerbang Hendra.

Mulutnya bergerak di kamera tanpa suara.

Hendra menaruh kaleng minumannya di meja.

Udara dalam bunker tetap 22°C.

Di luar, orang-orang yang terlambat mulai mengetuk pintu pertama.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!