"Bos gila ku" maksudnya adalah gila dalam artian benar-benar membuat Thifa stress. Bagaimana tidak? status Thifa yang merupakan sekretaris orang gila itu harus membuatnya menahan amarah.
"Selain bos ku, untungnya kau juga suami ku. kalau tidak, sudah ku gedik habis kau ini." Geram Thifa mengepalkan kedua tangannya.
Bagaimana kisah Arfen dan Thifa selanjutnya? yuk simak kekesalan Thifa bekerja di sana!
~Sequel dari My Special Boyfriend~ Diharap mampir dulu kesana baru ke sini yah^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Keributan pagi Hari
***
Beberapa bulan sudah terjadi sejak kejadian itu. Semuanya baik-baik saja, meski ada gangguan kecil selama ini. Perusahaan yang Arfen kelola semakin membesar. Bahkan menjadi salah satu cabang perusahaan ternama dari Arkasa Grub.
Tentu itu juga tak lepas dari pengaruh dan kerja keras para karyawan.
Pagi ini harusnya rapat bos buncit itu sudah di kantor, tapi Arfen yang lalai masih saja bersembunyi di dalam selimut. Rasanya pagi ini benar-benar dingin.
Thifa menyingkap selimutnya, wanita yang sudah berpakaian rapi itu duduk di sebelah suaminya. Entah sampai kapan Arfen akan semanja itu, dan hanya bangun jika Thifa yang membangunkannya, dengan lembut dan kata-kata manis tentunya.
"Arfen, ayo ke kantor." kata Thifa seraya tangannya menggoyang tubuh kekar itu.
"Bentar lagi sayang. Masih ngantuk."
Thifa tidak bisa berkata-kata lagi. Dia memilih untuk menyiapkan baju Arfen,
Brukhhh!!
Tapi sayangnya Arfen tidak akan membiarkannya semudah itu. Dia menarik tangan Thifa, menyekapnya dalam pelukan hangat itu.
"Ke kantornya nanti aja. Kantornya kan punya kita, enggak akan bangkrut kalau kita libur sehari."
Arfen mencium harum rambut Thifa, meninggalkaj jejak kepemilikannya di Leher Thifa. Entah bagaimana cara Thifa menutupi itu saat ke kantor nanti.
Thifa yang kemarin malam juga begadang karna suatu proyek malah ikut terlelap dalam pelukan Arfen pagi ini.
***
Thifa memijit keningnya, menatap dirinya bentar di salah satu cermin yang ada di kamarnya. Ya, satu cermin dari banyaknya cermin, maklum orang ganteng cerminnya harus banyak. Begitulah celotehan tak jelas Arfen berbunyi.
Gimana bisa aku malah ikut tidur sama orang itu. Hadeuhh, jadi telat kan.
Thifa menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, ia terfokus pada bintik merah di sekitar lehernya.
Ini nutupinnya gimana?
Thifa mengambil syal merah marun itu, dan melilitkannya sampai benar-benar menutupi lehernya.
"Sayang, bisa gak ke kantor jangan style cantik-cantik gitu. Aku cemburu oke?" tiba-tiba sudah ada Arfen yang memeluk Thifa dari belakang.
Thifa memutar bola matanya jengah. Ini sudah style paling sederhana. Rok hitam, baju kemeja putih, dan kali ini Thifa pakai cardigan hitam.
Kalau memang Thifa cantik, yah karna emang udah dari lahir.
"Kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang gak percaya diri. Dan sekarang kamu? Kamu merasa gak percaya diri gitu?"
Arfen terdiam. Mana bisa orang narsiser super pede ini tiba-tiba kehilangan ke narsisannya.
"Kalau penampilan aku yang biasa sih, aku pasti bakal percaya diri. Lah ini? Begini,"
"Udah ah ngaco, mending kita ke kantor sekarang. Udah telat banget nih." Thifa menarik tangan Arfen cepat.
"Fen, apa kamu pernah merasa gak percaya diri?"
"Always percaya diri." sahut Arfen blak-blakan.
Jujur saja, Thifa sedikit iri oleh kepercayaan diri Arfen. Entah bagaimana dia bisa mendapatkan itu, bahkan Thifa sendiri masih merasa dirinya kurang pantas bersanding dengan Arfenik Arkasa. Bahkan meski Arfen bilang bahwa dirinya adalah wanita paling layak bersamanya.
Percaya diri, dua kata yang mudah di ucapkan dan sulit di lakukan.
***
Pagi itu Thifa ke kantor sendirian, karna Arfen yang telat bangun langsung pergi ke perusahaan lain untuk mengadakan rapat.
Masih pagi, dan Thifa sudah di hadapkan keributan di depannya.
Tampak Manda dan Nadin berdebat di sana. Juga ada beberapa anak magang yang ikut menyaksikannya.
"Ada apa? Udah drama aja." tanya Thifa kepada resepsionis.
"A-anu bu, itu..., si Manda minta anak magang buatin di kopi, bolak balik fotokopi, terus marah-marah ga jelas karna katanya hasil kerja anak magang itu jelek, padahal hasilnya bagus loh bu. Dia berbakat."
Thifa menatap gadis mungil yang tengah menangis di antara Manda dan Nadin yang tengah berdebat.
"Manda gabut atau gimana? Apa ada alasannya?" entah kenapa, Thifa sedikit tertarik.
"Katanya sih bu, si cewek anak magang itu ngerebut pacarnya Manda. Yah, ehmm menurut Manda si cewek magang itu selingkuhan pacarnya. Tapi, gak ada bukti yang jelas bu." lanjut resepsionis. Gayanya udah kayak ibu-ibu hapal gosip aja.
"Terus hubungannya sama Nadin? Bukannya Nadin pendiam dan paling males sama keributan?"
"Itu dia buk, mbak Nadin sepupunya si cewek magang."
"Oh gitu, ya udah lanjut kerja yah. Oh dan satu lagi, kamu saya beri tugas buat ekstra awasin Manda dan cewek magang itu, laporkan aja semuanya sama saya kalau ada yang aneh. Akan sangat merepotkan kalau pertengkaran keduanya menjadi penyebab jeleknya nama perusahaan. Tapi, ini rahasia ya~"
"Siap bu, laksanakan."
Mungkin sedikit bosan, Thifa sepertinya ingin sedikit main-main dengan orang-orang yang kalut dalam cinta ini. Masih dalam fase, kenalan, pdktan, pacaran, selingkuh dan putus.
"Ekhmmm, ekhmmm, ribut pagi-pagi? Kerjaan udah selesai? Mau saya siram kopi panas?" Ujar Thifa yang sukses besar menghentikan cekcok di antara Nadin dan Manda.
"Ma-maaf mbak! Maaf! Ini semua salah aku. Karna aku lalai, jadi aku yang salah, bukan mbak manda. Ini salah aku, hikss..., aku lalai." tiba-tiba gadis itu sudah berlutut di depan Thifa memohon maaf.
Sesaat sebelumnya Thifa bisa melihat namanya, Yona.
Wajah Manda sudah begitu geram dan kesal. Jika Manda bisa dia ingin sekali menarik rambut gadis ini.
"Maafin kegaduhan yang kami buat pagi-pagi begini bu, ini salah kami yang tidak disiplin dan profesional." timpal Nadin ikut menunduk.
Thifa menoleh ke arah Manda. "Gak mau minta maaf dan mengakui kesalahan bahwa kau bukan profesional dalam bekerja?"
"Bukan salah ku, dan selama ini aku selalu profesional." sahut Manda angkuh seperti biasa.
Harus Thifa akui Manda begitu berbakat, makanya dia tidak pernah ingin memecatnya. Jarang sekali ada orang seberbakat Manda. Ketelitiannya itu sangat luar biasa. Meskipun Manda banyak berulah, Thifa tak kan melepas orang seberguna ini.
Thifa menaikkan sebelah alisnya. "Semuanya bubar, kembali ke pekerjaan masing-masing. Manda ikut ke ruangan ku."
***
"Amanda Fitriani, berbakat dan sangat berbakat, tapi kalau kau tidak bisa bekerja sama dengan baik, angkuh dan begitu sombong. Apalagi jika tidak profesional bukan tak mungkin untuk aku memecat mu." Ujar Thifa duduk di kursi kehormatannya, menatap Manda di depannya.
"Aku akui aku sulit bekerja sama, sedikit angkuh dan arogan. Tapi, aku selalu profesional dalam bekerja. aku punya otak." sahut Manda tegas, matanya tidak memancarkan sedikit keraguan pun.
"Mari kesampingkan urusan pribadi. Apa kamu benci dia?"
"Ya dalam urusan pribadi aku memang benci dia, dia udah jadi selingkuhan pacar ku!"
Thifa mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti.
"Jadi marah-marah di kantor terbawa urusan pribadi, begitkah?"
"Sudah aku bilang, aku ini profesional dalam bekerja."
***
IPA dan IPS besanan