Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Peringatan.
Bang Satria mengalah, ia rela menjadi 'sopir' pribadi Abangnya. Abang yang memiliki emosional cukup tinggi. Sejauh ini, ia sudah memendam rasa dalam dada. Bukan hanya karena perasaan sayangnya pada Pitta, tapi juga karena ia tau betul bagaimana gadis itu berusaha menjalani hidup dengan baik.
Di sisi lain, perasaan Bang Oscar merasa adiknya itu seakan menyembunyikan sesuatu darinya, tentang Pitta, tentang masa lalu istrinya. Tapi saat ini ia berusaha keras menahan diri agar tidak memperburuk suasana.
"Kalau kau balik ke Batalyon bawa saja mobil saya..!!" Kata Bang Oscar membuka ucapan.
"Gampang. Nanti saya sama anak-anak saja." Balas Bang Satria seadanya menanggapi Abangnya. Tak sengaja ekor matanya melirik Pitta dan Bang Oscar memergokinya, ia pun berusaha bersikap santai dan kembali menatap jalanan.
"Sebelum balik ke Batalyon, Abang mau bicara sama kamu..!!!"
Kata 'Abang' yang tidak seperti biasanya dari Bang Oscar sudah menegaskan bahwa pria tersebut sedang memimpin situasi saat ini.
"Iya, Bang." Jawab Bang Satria tegas, namun menaruh rasa hormat yang tinggi sebagai seorang adik.
...
"Pitta tidur duluan, ya. Nanti Abang nyusul. Abang mau ngobrol sebentar sama Satria."
Pitta mengangguk, menurut apa kata suaminya.
Bang Oscar menutup pintu kamar perlahan, memastikan Pitta sudah nyaman di balik selimutnya sebelum ia berbalik menemui adiknya yang sedang duduk di teras depan rumah. Langkah kakinya tenang, namun raut wajahnya serius, bukan marah, tapi sungguh-sungguh ingin bicara dari hati ke hati.
Kemudian keduanya menyulut rokok, angin malam berhembus pelan, membawa kesunyian yang membuat suasana semakin menuntut kejujuran.
Bang Oscar menatap lurus ke arah halaman yang gelap, suaranya rendah namun tegas.
"Abang bukan mau menuduhmu, Sat. Abang juga bukan orang yang terus menutup mata. Sejak dulu Abangpercaya sama kamu. Tapi belakangan ini... ada yang berubah dari caramu memandang istri Abang."
Bang Satria menghisap batang rokoknya lalu menguarkan perlahan. Nampak ia menelan ludah dari rasa manis sisa rokok namun berusaha menjaga ketenangan.
"Apa maksud Abang?"
Bang Oscar menatap mata adiknya dalam-dalam. "Kamu adik yang Abang banggakan. Abang tau harga dirimu tinggi, punya masa depan yang cerah. Pitta sudah jadi istri Abang. Dia wanita yang lembut, polos, dan sedang mengandung anak Abang. Tolong lupakan perasaanmu untuk istri Abang, atau sungguh Abang akan menghajar mu karena mencoba mengganggu Pitta."
"Apa selama ini Abang lihat saya berusaha merebut Pitta dari Abang??? Saya teguh dengan harga diri saya. Sekalipun saya mencintai Pitta, saya tidak akan merampasnya dari tanganmu, kecuali kau membuatnya menangis."
Mendengar hal itu Bang Oscar begitu geram. Ia mencengkeram krah pakaian adiknya dengan eratnya. Asap mengepul di wajah Bang Satria dari hisapan rokok membuat aura pembunuh Letnan Oscar semakin kuat.
"Memang tidak terang-terangan. Abang tau kamu paham maksud Abang. Abang nggak pernah tau apa yang sebenarnya kamu rasakan dan kamu rahasiakan. Dan mungkin Abang nggak mau tau, tapi Abang minta satu hal saja..." Bang Oscar berhenti sejenak, menarik napas panjang. "Jagalah batas itu, Sat. Bukan karena Abang cemburu buta, tapi karena Pitta sudah cukup banyak diuji. Dia berharga, dan kehormatannya juga kehormatan keluarga kita. Jangan sampai hal yang tak terucap ini menyakiti siapapun, apalagi dia."
Bang Satria terdiam, hanya membiarkan asap rokoknya lenyap terbawa angin malam. Ia tak menepis, tak pula membela diri terlalu jauh. Dalam diam ia mengakui kebenaran itu, sekaligus menyadari betapa beratnya beban yang ia pikul sendirian.
"Jangan lancang..!!" Ucap terakhir dari Abangnya sungguh menyadarkan dirinya bahwa memang dirinya telah menaruh perasaan yang salah.
Suara bariton itu pendek, namun terasa berat menekan dada Bang Satria. Ia menunduk dalam, membuang puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya pelan, seolah menekan juga perasaannya yang bergejolak itu ke dalam tanah. "Iya, Bang." Jawab Bang Satria.
Napas Bang Satria serasa tercekat. Sekeras apapun pendirian dari perasaannya, ia sadar akan posisinya. Di sini Oscar adalah kakak sekaligus suami Pitta. Wibawa dan amarahnya bukan sekadar kata-kata atau ancaman atau peringatan semata, melainkan batas yang tak boleh ia langkahi sedikit pun.
"Saya paham." ucapnya pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke mata Abangnya tanpa berkedip. "Saya tidak akan melampaui batas kehormatan itu. Bukan karena saya takut saat Abang marah, tapi karena saya menghormati Pitta, dan saya juga menghormati Abang."
Bang Oscar melepaskan cengkeramannya perlahan. Napasnya masih berat, namun ia melihat ketulusan di mata adiknya. Ia tau Satria bukan orang yang mudah mengumbar janji.
"Pulanglah, Sat. Semakin lama kau di sini, semakin sulit bagi kita berdua untuk berpikir jernih. Abang capek sekali, Abang stress mikir Pitta." Kata Bang Oscar berusaha melunak.
Bang Satria mengangguk pelan, lalu berbalik perlahan. Ia melangkah pergi namun terasa berat, seolah ada bagian dari hatinya yang tertinggal di tempat itu. Ia tidak menoleh ke belakang, takut jika ia menoleh sekali saja, tekadnya untuk menjaga jarak sesuai janjinya akan hilang begitu saja.
'Cukup mencintaimu dari kejauhan saja, Pitta. Cukup melihatmu bahagia dari tempat saya berdiri. Itu sudah lebih dari cukup. Abangku bukn orang sembarangan dan kamu tidak akan tersia-sia dalam penjagaannya.'
Saat langkah itu semakin menjauh, Bang Oscar menyandarkan punggungnya dengan kasar. Ada rasa sakit tersendiri yang sulit ia jabarkan.
'Kok bisa sih, Sat??? Apapun yang terjadi antara kalian dulu, seharusnya kamu hapus saat tau Pitta istri Abang. Dengan kamu yang seperti ini, kamu malah membuat Pitta ikut terbawa angin. Abang percaya Pitta, tapi kita ini laki-laki.. Abang nggak percaya kamu, Satria.'
Flashback Bang Oscar on..
Pesiar akademi saat itu di mulai. Barak Taruna muda mulai bersiap 'keluar kandang'. Bang Oscar sudah siap dengan seragamnya.
"Cepatt.. Kau ini lama sekali." Bang Satria menegur Abang sekaligus lettingnya yang perfect dalam penampilan itu.
Sebenarnya keduanya sama saja, hanya Oscar lebih detail dalam hal apapun.
"Kemana kita hari ini??" Tanya Bang Oscar.
"Clubbing." Jawab Bang Satria asal.
"Berani???? Ayoo, cabuuuuutt..!!!" Ujar Bang Oscar.
Kala itu, keduanya seakan tak pernah kenal rasa takut hingga membuat tensi sang Papa mendadak naik.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍