Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.Nasib Derita Istri kuli bangunan
m
Suara derit roda troli medis dan aroma khas cairan antiseptik mengiringi langkah Burhan di sepanjang koridor RSUD. Setelah bertarung dengan kecemasan selama beberapa hari, napas lega akhirnya bisa ia embuskan dengan penuh kesyukuran.
Hari ini, pihak rumah sakit secara resmi mengizinkan Anisa dan bayi mungil mereka untuk pulang.
Di dalam kamar rawat kelas tiga yang dihuni beberapa pasien lain, Anisa tampak sedang merapikan pakaian bayi ke dalam tas kain lusuh. Di atas ranjang besi, sebuah bungkusan kain jarik merah hati membungkus sosok mungil yang sedang tertidur lelap.
"Sudah selesai semua urusan administrasinya, Mas?" tanya Anisa begitu melihat Burhan melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah namun berseri.
Burhan mengangguk hangat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih jemari Anisa dan menggenggamnya erat. "Sudah, Dek. Surat izin pulang dan resume medisnya sudah Mas pegang. Obat untukmu dan vitamin si kecil juga sudah diambil di apotik."
Anisa menghela napas lega, matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah... Berapa total biayanya, Mas? Uang simpanan kita cukup?"
Burhan tersenyum menenangkan, mengusap lembut punggung tangan istrinya. "Cukup, Dek. Berkat bantuan keringanan dari pihak pelayanan sosial RSUD dan sedikit tambahan pinjaman dari Pak RT kemarin, semuanya bisa tertutupi. Kamu tidak usah memikirkan biaya lagi, ya. Yang penting sekarang kamu dan Arfan sehat."
Anisa menatap suaminya dengan pandangan haru. Ia tahu betul betapa gigihnya Burhan mengurus berkas ke sana-kemari di tengah impitan ekonomi mereka.
"Terima kasih ya, Mas. Kalau tidak ada Mas, aku tidak tahu harus bagaimana," bisik Anisa lirih.
"Justru Mas yang harus terima kasih. Kamu sudah berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkan anak kita," jawab Burhan lembut. Ia kemudian menunduk, menatap wajah polos bayi laki-lakinya yang memerah. "Lihat, Arfan makin mirip kamu, Dek. Alisnya tebal."
Anisa terkekeuh pelan. "Hidungnya yang mekar itu jelas-jelas meniru hidung bapaknya, Mas."
Momen hangat itu terinterupsi oleh ketukan pelan di pintu. Suster Nani, perawat yang selama ini telaten merawat Anisa, melangkah masuk membawa map catatan medis.
"Selamat pagi, Ibu Anisa, Pak Burhan. Wah, si kecil Arfan sudah siap pulang, ya?" sapa Suster Nani ramah.
"Pagi, Suster. Iya, alhamdulillah hari ini sudah diperbolehkan pulang," jawab Anisa penuh rasa terima kasih.
"Baik, sebelum pulang, ada beberapa hal penting yang harus diingat ya, Bu," tutur Suster Nani seraya memeriksa pita identitas bayi. "Jadwal kontrol pertama si kecil minggu depan di poli anak. Jangan lupa ASI eksklusifnya diteruskan. Ibu Anisa juga harus menjaga pola makan dan istirahat yang cukup agar ASI-nya tetap lancar."
"Baik, Suster. Untuk tali pusatnya bagaimana, ya? Saya masih agak takut membersihkannya," tanya Anisa cemas.
"Tidak perlu khawatir, Bu. Cukup dibersihkan dengan kasa steril dan jaga agar tetap kering. Jangan diberi ramuan atau dedaunan apa pun, ya," jelas Suster Nani tegas namun lembut. Kemudian ia beralih menatap Burhan. "Pak Burhan juga harus siap bantu-bantu istrinya di rumah, ya. Tugas ayah baru tidak kalah penting."
Burhan terkekeh dan mengangguk mantap. "Siap, Suster. Saya siap jadi tim siaga 24 jam."
Setelah menyampaikan terima kasih dan berpamitan dengan para perawat serta pasien sekeranjang, Burhan membawakan tas pakaian sementara Anisa menggendong Arfan dengan hati-hati. Mereka berjalan menuju pintu keluar gedung RSUD.
Udara luar yang hangat menyambut mereka di area parkir. Burhan berjalan agak cepat mendahului Anisa untuk memanggil bentor (becak motor) langganannya yang sudah menunggu di gerbang.
"Ayo, Dek, pelan-pelan naiknya," ujar Burhan memegangi siku Anisa saat istrinya hendak duduk di kursi bentor.
"Mas... tidak apa-apa kita naik bentor? Anginnya agak kencang, aku takut Arfan kedinginan," bisik Anisa agak ragu melihat kendaraan roda tiga itu.
"Mas sudah siapkan selimut tebal dan penutup kain jarik tambahan, Dek. Nanti Mas duduk di pinggir untuk menutupi angin dari samping. Uang kita tidak cukup kalau harus sewa mobil," jawab Burhan jujur namun penuh perhatian.
Anisa menatap mata Burhan yang tulus. Rasa ragunya seketika sirna. "Iya, Mas. Tidak apa-apa. Yang penting kita pulang bersama-sama."
Sepanjang perjalanan menuju rumah kontrakan sederhana mereka, Burhan duduk mendekat, memasang badannya menjadi benteng dari terpaan debu dan angin jalanan. Matanya tak pernah lepas dari wajah anak dan istrinya.
Setibanya di lorong kontrakan kumuh tempat mereka tinggal, beberapa tetangga yang sedang duduk di pos ronda dan teras rumah menyapa mereka dengan hangat.
"Wah, Burhan! Sudah pulang bayinya?" seru Pak RT yang sedang mengobrol di depan gang.
"Alhamdulillah, Pak RT. Baru saja keluar dari RSUD," balas Burhan seraya menghentikan bentor dan membantu Anisa turun.
Ibu-ibu tetangga sekitar berdatangan menghampiri dengan wajah berseri.
"Alhamdulillah, Anisa! Selamat ya! Ganteng sekali bayinya," puji Bu Rahmi, tetangga sebelah rumah, seraya mengintip wajah Arfan dari balik selimut.
"Terima kasih banyak, Bu Rahmi, Pak RT... Terima kasih juga atas bantuan dan doanya selama kami di rumah sakit," tutur Anisa tulus.
"Sama-sama, Anisa. Di kampung ini kita semua saudara. Kalau butuh bantuan apa-apa, jangan sungkan bilang ya," sahut Pak RT menepuk bahu Burhan.
Burhan membuka pintu kayu kontrakan mereka yang sederhana. Meski ruangan sempit itu terasa sepi dan sederhana, aroma rumah sendiri membawa ketenangan yang tak ternilai harganya. Burhan membimbing Anisa duduk di dipan kayu yang sudah dialasi kasur busa tipis berselimut kain bersih.
Setelah membaringkan Arfan yang tertidur pulas di tengah ranjang, Anisa menyandarkan punggungnya ke dinding papan. Wajahnya memancarkan kelelahan sekaligus kedamaian.
Burhan menyodorkan segelas air hangat pada istrinya. "Minum dulu, Dek."
Anisa menerima gelas itu dan meminumnya perlahan. "Mas... bagaimana dengan pekerjaanmu besok? Apa mandor sudah memberi kabar?"
Burhan diam sejenak, mengusap kasar wajahnya yang lelah. Masalah keuangan dan kelanjutan pekerjaannya di proyek memang masih menjadi ganjalan besar. Namun, melihat anak dan istrinya berada di rumah dalam keadaan selamat, keberanian baru merayap di dadanya.
"Kemarin malam Bang Jaka telepon, Dek. Katanya proyek bangunan di kota mulai jalan lagi lusa. Mas sudah minta izin untuk mulai kerja lusa pagi," terang Burhan.
"Tapi Mas belum istirahat sama sekali sejak kemarin..." kata Anisa cemas.
"Mas masih kuat, Dek. Tubuh Mas sehat," jawab Burhan mantap sambil memegang tangan Anisa. "Kehadiran Arfan justru bikin Mas makin semangat.
Mas tidak akan membiarkan anak dan istri Mas kekurangan. Besok Mas akan cari kasbon dulu ke Bang pak Herman" ucap Burhan
untuk beli beras dan perlengkapan ASI kamu."
Anisa menatap suaminya dengan rasa haru yang mendalam. Di tengah gubuk sederhana dan impitan ekonomi yang serba terbatas, ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki suami yang bertanggung jawab dan tak pantang menyerah.
"Terima kasih ya, Mas... Kita berjuang sama-sama, ya?" ujar Anisa lembut.
"Iya, Dek. Kita hadapi semuanya bersama-sama," bisik Burhan.
Di atas kasur tipis itu, si kecil Arfan menggeliat pelan, menyunggingkan senyum tipis dalam tidurnya. Meskipun dunia luar begitu keras dan penuh ujian, di dalam rumah kecil berselimut cinta itu, keluarga muda tersebut siap menyongsong esok hari dengan penuh harapan.