*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Harta Karun Purba
Jauh di bawah Kota Suci Tianyu tersembunyi sebuah ruang rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh sebagian besar Dewa Kuno.
Ruang Rahasia Alkimia Suci.
Ketika pintu batu yang dipenuhi ukiran Hukum Penciptaan perlahan terbuka, Lin Xuan melangkah masuk.
Di balik pintu itu terbentang ruang luas yang menyerupai sebuah dunia kecil. Ratusan pulau tanah roh melayang di tengah kehampaan, masing-masing dipenuhi tanaman purba yang memancarkan cahaya kehidupan.
Kabut emas memenuhi udara dan setiap tarikan napas mengandung energi murni yang jauh melampaui apa pun yang pernah ditemukan Lin Xuan di Sembilan Benua.
Tatapannya akhirnya berubah.
Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajahnya sedikit retak dan senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Di Sembilan Benua, Rumput Jiwa Naga atau Teratai Es berusia ribuan tahun sudah cukup untuk memicu perang antar sekte. Namun, di tempat ini, bahan-bahan seperti itu hanya tumbuh di pinggiran pulau roh dan bahkan tidak dianggap berharga.
Lin Xuan berjalan lebih dalam.
Di hadapannya, Akar Kabut Bintang berdenyut mengikuti hukum ruang. Tidak jauh dari sana, Bunga Matahari Purba memancarkan panas yang menyerupai inti bintang. Bahkan terdapat sungai kecil yang mengalir perlahan di antara pulau-pulau roh, membawa Sari Darah Kosmik yang berkilauan seperti galaksi.
“Menarik.”
Lin Xuan membungkuk dan mengambil sehelai rumput dari tanah.
“Kandungan energinya jauh lebih murni daripada pil dewa terbaik di Sembilan Benua.”
Hun Yuan keluar dari bayangan Lin Xuan dan memandang sekeliling dengan penuh minat.
“Bahannya memang luar biasa, Tuanku.”
Ia mengambil sebuah botol kristal dari salah satu rak lalu membukanya.
Namun, begitu melihat pil di dalamnya, ekspresinya langsung berubah.
“Sayang sekali.”
Hun Yuan meremas sebuah pil hingga hancur di antara jarinya.
“Bahan sebagus ini justru diracik seperti sampah.”
Lin Xuan meliriknya sekilas.
“Seperti yang kuduga.” Ia kembali berjalan.
“Ras yang sejak lahir memiliki kekuatan besar biasanya tidak memahami pentingnya membangun sesuatu dari dasar. Mereka hanya mengandalkan bakat bawaan.”
Hun Yuan mengangguk.
“Mereka tahu cara menumpuk tenaga, tetapi tidak memahami bagaimana menyelaraskan sifat setiap bahan.”
Lin Xuan tersenyum tipis.
“Itulah perbedaan antara kekuatan dan seni.”
Ia mengangkat satu tangan.
Tekanan dari Tungku Daging Kesepuluh segera menyebar ke seluruh ruangan.
Dalam sekejap, ratusan bahan alkimia terangkat dari pulau-pulau roh dan melayang mengelilinginya.
Tatapan Lin Xuan bergerak dari satu bahan ke bahan lainnya.
“Racun yang ditinggalkan Mo Xie bukan racun biasa.”
Suaranya menjadi lebih serius.
“Kalau ingin menyembuhkan Shen Ziyue, cahaya suci saja tidak akan cukup.”
Tangannya bergerak perlahan.
“Teratai Es Kosmik.” Sebuah bunga putih terbang ke telapak tangannya.
“Inti Darah Bintang.” Kristal merah keemasan melayang di hadapannya. “Dan Sari Darah Kosmik.”
Ketiga bahan itu perlahan berkumpul.
Pada saat yang sama, Api Primordial Kekosongan muncul di antara kedua telapak tangannya.
Api hitam itu tidak membakar bahan-bahan tersebut. Sebaliknya, setiap nyala api menyelimuti mereka dengan hati-hati dan memurnikan esensi masing-masing.
Teratai Es Kosmik berubah menjadi aliran energi dingin.
Inti Darah Bintang melebur menjadi cahaya keemasan.
Keduanya kemudian menyatu dengan Sari Darah Kosmik.
Cahaya emas dan perak memenuhi ruang alkimia.
Setelah beberapa saat, seluruh energi mulai memadat dan membentuk sebuah pil yang berkilauan.
Pil Darah Bintang.
Lin Xuan menatap pil tersebut.
Namun, bukannya langsung menyimpannya, sorot matanya justru perlahan menjadi dingin.
“Dia telah memberiku kedudukan tinggi.” Lin Xuan menutup telapak tangannya. “Tetapi aku belum benar-benar mengenal wanita itu.”
Shen Ziyue terlalu kuat untuk dianggap sebagai sekutu biasa.
Di alam asing ini, Lin Xuan membutuhkan seseorang yang dapat melindunginya dari para leluhur Dewa Kuno. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan orang tersebut suatu hari berbalik menjadi ancaman.
Api Primordial Kekosongan kembali menyala.
Dari dalam api hitam itu, Lin Xuan menarik seutas benang kehampaan yang sangat tipis.
Benang tersebut nyaris tidak terlihat bahkan bagi indera spiritual seorang Kaisar Hukum.
Lin Xuan memasukkannya ke dalam inti Pil Darah Bintang.
Setelah itu, setetes darahnya sendiri jatuh ke permukaan pil dan menyegel aura kehampaan tersebut.
Sebuah segel tersembunyi perlahan terbentuk.
Tidak terlihat. Tidak berbau. Bahkan Hukum Langit dan Bumi akan kesulitan menemukan keberadaannya.
Hun Yuan menyeringai. “Segel Kehidupan?”
Lin Xuan mengangguk. “Jika suatu hari dia berniat membunuhku, segel ini akan bangkit.”
Hun Yuan tertawa pelan.
“Kalau begitu, Putri Bintang itu sekarang memiliki rantai yang tidak terlihat.”
“Dia bukan budak.” Lin Xuan memasukkan pil tersebut ke dalam kotak giok. “Dia adalah tameng kita.”
Tatapannya menjadi semakin dalam.
“Selama dia tetap hidup dan berada di pihak kita, para tetua Dewa Kuno akan berpikir dua kali sebelum menyentuhku.”
Di puncak Menara Kota Suci Tianyu, Shen Ziyue terbaring di atas dipan batu giok.
Zirah Bintangnya telah dilepas. Perban cahaya menutupi bahu dan pahanya, tetapi racun ungu masih merayap perlahan di bawah kulitnya.
Beberapa tabib terbaik Kota Suci Tianyu berdiri berlutut di sisi ruangan.
Tidak satu pun dari mereka mampu menghilangkan racun tersebut.
Saat pintu terbuka, Lin Xuan masuk.
Ziyue segera mengangkat tangannya.
“Kalian semua keluar.”
Para tabib tidak berani membantah. Mereka segera meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakang mereka.
Ziyue kemudian menatap Lin Xuan.
“Kau datang.” Suaranya masih terdengar lemah. “Racun ini bahkan tidak mampu disembuhkan oleh para tabib terbaikku.”
Lin Xuan mengeluarkan kotak giok.
“Kalian terlalu bergantung pada cahaya suci.”
Ia membuka kotak tersebut.
Aroma obat yang pekat langsung memenuhi ruangan.
Begitu aroma itu menyebar, racun ungu di tubuh Ziyue bahkan mulai bergetar.
“Racun yang ditinggalkan itu tidak bisa dilawan hanya dengan kekuatan. Sifatnya harus diseimbangkan.”
Lin Xuan mengambil Pil Darah Bintang. “Telan.”
Ziyue menatap pil di tangannya.
Sebagai Putri Mahkota Dewa Kuno, ia telah melihat banyak pil langka. Namun, pil di hadapannya jelas berbeda. Bahkan persepsinya tidak mampu memahami seluruh hukum yang terkandung di dalamnya.
“Kau seorang alkemis?”
Lin Xuan tidak menjawab.
Ziyue tersenyum tipis. Tanpa ragu, ia membuka mulut.
Lin Xuan memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya. Begitu Pil Darah Bintang memasuki tubuhnya...
Boom!
Cahaya emas dan perak meledak dari tubuh Ziyue.
Energi dingin dari Teratai Es Kosmik menyebar melalui meridiannya dan membekukan racun yang mengamuk. Sesaat kemudian, Sari Darah Kosmik mengalir ke seluruh tubuhnya dan mulai memurnikan racun yang tersisa.
Garis-garis ungu di kulit Ziyue perlahan memudar. Rasa sakit yang selama ini menekan tubuhnya ikut menghilang.
Napasnya kembali teratur.
Hanya dalam sepuluh tarikan napas, seluruh racun telah lenyap.
Bahkan auranya menjadi lebih kuat daripada sebelum terluka.
Namun, tidak seorang pun menyadari bahwa jauh di dalam inti jantung dewanya, seutas benang kehampaan telah tertanam.
Segel itu tersembunyi begitu dalam hingga bahkan Shen Ziyue sendiri tidak menyadari keberadaannya.
Ziyue membuka mata.
Kekuatan lamanya telah pulih sepenuhnya.
Ia bangkit dari dipan lalu berjalan mendekati Lin Xuan. Setelah berdiri tepat di hadapannya, ia tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu.
“Kau menyelamatkanku.” Tatapannya dipenuhi ketertarikan yang semakin dalam. “Kau benar-benar pria yang penuh rahasia.”
Lin Xuan tidak bergerak.
Ziyue merapatkan tubuhnya. “Mulai hari ini, hidupku adalah milikmu.”
Senyumnya semakin dalam. “Begitu pula kekuasaanku.”
Lin Xuan membiarkannya memeluk. “Yang Mulia terlalu baik.”
Ziyue menggelengkan kepalanya. “Tidak, Kau adalah orangku.”
Lin Xuan menatap dinding ruang rahasia di belakangnya. Wajahnya tetap tenang tanpa menunjukkan sedikit pun perubahan.
Ziyue mengira dirinya telah berhasil menaklukkan pria misterius ini.
Ia tidak tahu bahwa sejak Pil Darah Bintang masuk ke tubuhnya, sebuah rantai tak terlihat telah mengikat hidupnya kepada Lin Xuan.
Selama Lin Xuan tidak mengaktifkan segel tersebut, Shen Ziyue tidak akan pernah mengetahui keberadaannya.
“Kalau begitu…” Lin Xuan tersenyum tipis. “Aku akan berada di sisimu, Yang Mulia.”
Ziyue tersenyum puas.
“Kalau begitu, kita akan menguasai Kekaisaran ini bersama-sama.”
Lin Xuan tidak menjawab.
Di balik tatapannya yang tenang, pikirannya telah bergerak jauh lebih jauh.
Perpustakaan Suci.
Gudang Alkimia.
Para Tetua Dewa Kuno.
Dan rahasia Alam Primordial.
Satu demi satu, semuanya mulai berada dalam jangkauannya.
Ia datang ke Kota Suci Tianyu untuk mencari pijakan.
Namun, tanpa disadari siapa pun, sang Putri Bintang justru telah membukakan pintu menuju seluruh rahasia kekuasaan Dewa Kuno.