NovelToon NovelToon
Melarikan Diri dari Sang Mafia

Melarikan Diri dari Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Meche

Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.

Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.

Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Menjijikkan, Dasar Mesum

Keesokan paginya Arkana merasakan nyeri hebat di tulang rusuknya. Begitu bergerak, ia teringat bahwa semalam ia tidur bersama putrinya untuk pertama kalinya. Alika meringkuk di dekat rusuknya bagai gulungan benang, meringsut karena dinginnya kamar.

Arkana geli sekali melihat bocah sekecil itu menyusup ke sisi rusuknya, penuh liur dan rambut awut-awutan.

Perlahan ia turun dari ranjang, membungkus si bocah dengan selimut, lalu tanpa suara masuk ke kamar mandi. Saat membasuh wajahnya, ia masih merasakan bekas luka yang mulai sembuh, ada keropeng di goresan yang dibuat perempuan cilik itu.

Ia mengenakan setelan hitam untuk ke perusahaan. Namun saat hendak memakai jas, ia mendengar keributan hebat di luar rumah. Ia akan membunuh siapa pun biang keributan itu jika sampai membangunkan putrinya.

Ia turun ke area taman, tempat sekelompok pegawai berkerumun.

Ternyata biang keributan itu tak lain adalah Salsabila yang mencoba kabur.

"Ada apa ini?" tanya Arkana.

"Tuan, mohon maaf, saya terpaksa memanggil satpam. Nyonya mencoba melarikan diri," ujar kepala rumah tangga.

"Lepaskan tanganku, tolol, aku mau pergi dari sini," seru Salsabila.

Salsabila tergeletak di tanah sementara dua pria mencengkeram lengannya.

"Kau mau pergi dan meninggalkan putrimu sendirian?" tanya Arkana.

"Saya tidak punya anak. Saya belum pernah bersama pria mana pun, apalagi pria seperti Anda, dan saya juga bukan Nyonya. Saya Salsabila, seorang gadis."

"Kau tak akan pergi dari sini sampai kondisimu membaik. Bawa dia ke kamarnya, borgol dia, dan kalau ia banyak ribut, lakban mulutnya," perintah Arkana.

"Kau bajingan, dasar binatang, kasar. Aku benci kau, kau iblis."

Arkana mendekatinya dan berjongkok agar sejajar dengannya, menatap lurus ke matanya. Salsabila berlutut di tanah, balas menatap tajam mata Arkana. Mata itu menimbulkan rasa takut yang mengerikan padanya, begitu pekat hitamnya hingga di dalamnya tak tersisa perasaan sedikit pun.

"Ulangi apa yang tadi kau ucapkan!" ujar Arkana.

"Aku mau pergi, dan kau bajingan, binatang, kau..."

Salsabila belum selesai melafalkan kata terakhirnya ketika Arkana sudah membekap bibirnya dengan sebuah ciuman. Ciuman itu lembut dan penuh kasih, tapi bagi Salsabila justru sebaliknya. Pria itu telah merampas ciuman pertamanya.

"Jangan pernah ulangi itu, menjijikkan, dasar mesum," ucap Salsabila.

"Selama kau terus bersikap kurang ajar seperti itu, inilah hukumanmu," balas Arkana.

Arkana berbalik hendak pergi dengan senyum lebar. Sekian hari menanti untuk bisa menciumnya, dan bibir itu ternyata begitu manis dan lembut.

Sementara itu Salsabila dibawa ke kamar. Mereka hanya menguncinya di dalam, meninggalkannya seperti burung dalam sangkar.

Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan sentuhan menjijikkan pria itu, melumuri setiap sudut tubuhnya dengan sabun, sampai ia merasakan sebuah bekas luka di perut bagian bawah. Ia keluar dari kamar mandi, dan di depan meja rias ada cermin besar. Di sana ia melihat tubuhnya yang lebam oleh pukulan, wajahnya seperti rakun, dengan bercak gelap di bawah kedua matanya.

Bekas luka itu ada di sana, tapi ia tak ingat pernah melukai dirinya sendiri. Mungkinkah ia memang pernah punya anak? Bahwa ia pernah tidur dengan pria itu? Sudah jadi apa dirinya sekarang? Apa yang terjadi dengan rencananya untuk kuliah? Ke mana perginya janji untuk jadi wanita mapan dulu sebelum terlibat dengan pria mana pun? Ke mana perginya cinta yang ia rasakan pada Devan, janji untuk menunggunya...

Salsabila terguncang. Kenapa ia bisa kehilangan ingatannya? Siapa pria itu? Di mana ia mengenalnya? Selagi tenggelam dalam pikirannya, pintu berbunyi berulang kali sampai seseorang masuk.

"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Marni.

"Mama, beritahu aku, apa yang terjadi denganku? Apa yang sudah kuperbuat dengan hidupku?"

"Benar kamu tidak ingat apa-apa?"

"Mama, aku tidak ingat pernah punya anak, apalagi pernah tidur dengan pria itu..."

"Sayang, Devan memukulmu keras sekali sampai kamu pingsan. Saat di rumah sakit kamu terkena serangan jantung. Sudah lebih dari seminggu sejak kejadian itu."

"Kenapa aku di sini dan tidak bersama kalian?"

"Arkana tidak mau melepas si kecil. Ia ingin mengenalnya."

"Memangnya dia belum mengenalnya?"

"Sayang, dia sudah bersikap sangat baik. Kalian berdua perlu bicara baik-baik."

"Di mana anak itu?" tanya Salsabila.

"Alika masih tidur," jawab Marni.

"Aku ingin melihat dan mengenalnya."

"Tapi pakai baju dulu, Nak, kamu telanjang begitu."

Karena tenggelam dalam lamunannya, Salsabila hanya duduk di atas ranjang berbalut handuk. Ia bangkit dan mengenakan salah satu dari sekian banyak pakaian di lemari besar itu. Semuanya seukuran tubuhnya, dari alas kaki sampai pakaian dalam. Keduanya lalu keluar mencari Alika.

"Ini kamar Alika, ayo masuk," ajak Marni.

Kamar itu luas dengan langit-langit tinggi. Ada ranjang ukuran besar bergaya putri, dan boneka-boneka di dalamnya tak terhitung jumlahnya. Kamar si kecil itu seluas tiga kamar di rumah mereka.

"Mama, kamar ini besar sekali. Anakku jadi manja tidak dengan segala kemewahan ini?" tanya Salsabila.

"Ia baru seminggu tinggal di sini. Sejak Arkana tahu keberadaan Alika, ia tak mau berpisah barang sedetik pun darinya."

"Kenapa anak itu tidak tahu kalau dia ayahnya, dan malah memanggilnya Om?"

"Dia bilang kamu sendiri yang memutuskan begitu."

"Katakan yang jujur, Mama. Dulu aku mencintai atau membenci pria itu?"

"Sayang, tak seorang pun di keluarga ini tahu tentang keberadaannya," jawab Marni.

"Aku sudah jadi apa, Mama? Sekarang aku menyimpan rahasia darimu, padahal dulu tidak pernah begitu."

"Ceritanya panjang. Nanti kalau kamu sudah pulih, kamu sendiri yang akan menceritakannya padaku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!