"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
"Biar aku yang bangunkan anak-anak, Mas." ucap Aluna saat mendengar langkah kaki Bian yang hendak keluar kamar.
Tidak ada drama harus tidur dimana semalam. Keduanya memutuskan untuk menjalani pernikahan biasa seperti pasangan lainnya. Walaupun masih ada jarak di antara mereka karena keduanya memang tak saling mencintai. Entah jarak itu nanti akan semakin lebar atau tipis seiring waktu, keduanya hanya bisa berusaha menjalankan pernikahan ini dengan baik. Bian begitu takjub dengan Aluna yang cepat beradaptasi di rumahnya. Apalagi mau mendekatkan diri dengan kedua anaknya yang bandel, terutama Reyhan.
"Kamu yakin?" Bukannya ragu, tapi Bian merasa kalau seharusnya Aluna tidak bisa melakukan ini dengan kondisinya. Namun ternyata Aluna mau berusaha untuk menjadi seorang Ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya. Bian juga belum tahu mengenai semalam Aluna yang masuk kamar Elova. Dia sedang memantau kebun yang tengah diserang hama.
"Yakin, Mas. Kalau kamu tidak yakin, ayo sama kamu aja. Kita bangunkan anak sama-sama," ucap Aluna mengajak Bian untuk pergi bersama ke kamar anak-anak.
"Aku tidak terbiasa mem..."
"Harus dibiasakan, Mas. Jangan karena kesibukanmu, anak-anak tidak merasakan kehadiran sosok orangtuanya. Mereka juga butuh Papanya," sela Aluna dengan tegasnya.
Melihat bagaimana Elova semalam tidur sendirian, seperti melihat dirinya saat malam. Sama sekali tak ada yang menemani sejak Ibu kandungnya meninggal. Aluna tak mau Reyhan dan Elova tumbuh dalam rasa kesepian. Mempunyai orangtua tapi sama sekali tak merasakan kehadirannya. Bian hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Biasanya yang akan membangunkan mereka adalah pengasuh Elova. Namun sepertinya pengasuh Elova belum datang.
"Baik lah. Ayo," Bian pun membawa Aluna ke kamar Reyhan terlebih dahulu. Terlihat sekali jika Reyhan masih tidur, padahal sudah pukul 6 pagi.
"Reyhan masih tidur ya, Mas?" tanya Aluna saat tidak mendengar suara apapun di kamar Reyhan.
"Iya. Dia masih ngorok," Bian pun duduk di kasur anaknya kemudian menepuk lengan Reyhan.
"Bangun, Reyhan. Sudah pagi, mandi lalu berangkat sekolah." ucap Bian dengan nada kakunya.
"Nanti, Lova. Kamu main sendiri dulu sana. Nanti Mbak juga datang," ucap Reyhan tak menyadari kalau yang datang adalah Bian. Pasalnya selama ini yang jadi alarm Reyhan ketika pagi adalah Elova dan pengasuhnya.
Sebentar... Suara Lova kok jadi kaya laki-laki,
Reyhan yang tadinya ingin kembali tidur, langsung membuka matanya. Di sana dia melihat ada Bian dan Aluna yang tersenyum kepadanya. Walaupun senyuman Aluna itu tertuju pada arah lain. Reyhan sangat terkejut melihat kedatangan Papa dan Ibu tirinya itu kemudian dengan cepat duduk. Aluna terlihat meraba kamar Reyhan dengan tongkat kayunya. Setidaknya untuk mengetahui keadaan kamar ini. Jika nanti akan membangunkan Reyhan, tidak perlu dengan bantuan Bian atau Bibi Tari.
"Papa ngapain di sini sama dia?" Tanya Reyhan dengan raut wajah tak suka.
"Dia itu sekarang Ma..."
"Tidak. Selamanya..."
"Tidak usah buru-buru, Reyhan. Tante nggak memaksa kamu untuk menganggap Tante sebagai Ibumu kok. Kita bisa jadi teman dulu atau saudara," sela Aluna menengahi perdebatan antara Reyhan dan Bian.
Bian berusaha memaksa Reyhan untuk segera menganggap Aluna sebagai Ibunya. Sedangkan Reyhan tetap kekeh untuk tidak mau menganggap Aluna sebagai Ibunya. Bagi Reyhan, tidak ada yang bisa menggantikan sosok Ibu kandungnya. Padahal Aluna sama sekali tidak berniat untuk menggantikan sosok Ibu kandung Reyhan. Bian menghela nafasnya berulangkali untuk menahan emosinya. Sepertinya akan sangat susah mendekatkan Reyhan dengan Aluna. Reyhan pun segera pergi ke kamar mandi tanpa menanggapi ucapan Aluna.
"Reyhan masih butuh waktu, Mas. Jangan dipaksa. Seperti Mas yang membutuhkan waktu untuk menerima aku sebagai istrimu," ucapnya menenangkan Bian.
"Hari ini kita urus pernikahan resmi secara negara di KUA," ucap Bian mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Nanti kita antar Reyhan ke sekolah dulu. Baru pergi ke KUA," ucap Aluna yang tak ingin mengenyampingkan urusan sekolah Reyhan.
"Dia beneran tulus nggak sih atau cuma sok baik?" Gumam Reyhan dari dalam kamar mandi saat mendengar perbincangan antara Aluna dan Bian.
Tak dapat dirinya pungkiri, ada rasa aneh yang menyelinap dalam hati Reyhan sejak semalam. Dia melihat sendiri bagaimana Aluna membacakan cerita pada Elova hingga tidur terlelap. Padahal dia dan Elova sudah terbiasa untuk tidur tanpa didampingi siapapun.
Bahkan Bian saja yang sudah tinggal bersama mereka sejak lahir, jarang menemani keduanya saat tidur. Ada rasa ingin ditemani tidur atau mendengarkan cerita dari Aluna seperti Elova. Kemudian pagi ini, tiba-tiba Papanya datang ke kamar. Membangunkan dan memastikan dia mandi. Ada rasa hangat yang masuk dalam hatinya. Namun dia berusaha menepis semua itu.
"Ayo kita ke kamar lobak," ajak Aluna setelah menyiapkan seragam untuk Reyhan. Tentu saja dibantu oleh Bian dengan membuka ponselnya untuk mengetahui seragam apa yang akan digunakan pada hari itu.
"Baru juga sehari di sini, udah hafal aja letak kamar. Nggak nabrak lagi," ucap Bian yang salut dengan istrinya.
"Aku masih punya telinga dan tangan untuk tahu dimana letak dari barang-barang di sekitar sini. Nanti biasanya juga hafal sendiri," ucap Aluna sambil terkekeh pelan.
"Lobak... Bangun..." serunya setelah mereka memasuki kamar Elova. Namun Elova masih tidur dengan posisi yang kurang estetik.
"Astaga... Sepertinya aku harus beli kasur baru yang lebih besar untuk Lova. Ngeri sekali ini kalau dia jatuh," ucap Bian sambil menepuk dahinya pelan.
"Emangnya lobak gimana tidurnya, Mas?" tanya Aluna dengan raut wajah penasarannya.
"Tangan dan kaki terlentang. Kepalanya di bawah. Selimutnya udah jatuh ke lantai. Padahal tahu sendiri kalau kasurnya itu kecil," ucap Bian menjelaskan posisi tidur Elova.
Aluna pun segera meraba kasur milik Elova dengan tangannya. Benar saja, dia langsung memegang kaki Elova yang posisinya berada di bagian atas kasur. Aluna menggoyangkan kaki Elova agar segera bangun. Nanti Elova akan diajak untuk pergi ke KUA. Aluna sudah meminta pada Bian untuk mengajak Elova pergi keluar. Pasalnya Elova hampir tidak pernah keluar rumah kecuali jika pergi ke tempat Oma dan Opanya. Itu yang dikatakan ART di rumah Bian.
"Lobak, ayo bangun dan mandi. Tante mau ajak kamu jalan-jalan," ucap Aluna mencoba membangunkan Elova.
"Jalan-jalan?" teriak Elova tiba-tiba dan dengan cepat terbangun dari posisi tidurnya. Bahkan matanya sampai memelotot tak percaya.
"Iya. Jalan-jalan sama Tante mau nggak?" tanya Aluna pada Elova yang sudah bangun.
"Mau dibawa pelgi telus dibuang di hutan ini pasti Lopa," ucap Elova dengan tuduhannya.
Iya, biar dimakan sama macan.
Papa...
Hahaha...
Ayo buruan mandi. Papa dan Tante Aluna udah siap lho,
Siapa yang mandikan Lopa?
Aku saja,
Ha?
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..
🙏😍💪