Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara
Tiga hari setelah malam penuh kehangatan di taman mawar bersama Rayhan, Ballroom Hotel Bintang Lima dipenuhi oleh para Bangsawan, pengusaha muda, serta para undangan dari berbagai kalangan.
Di tengah sorot lampu kristal yang berkilau, Adelia berdiri di atas panggung utama malam itu sebagai salah satu perancang yang mempresentasikan perkembangan bisnis mode miliknya.
Langkah kaki Adelia masuk ke area panggung langsung menarik perhatian seluruh pasang mata di ruangan tersebut. Adelia mengenakan gaun hitam elegan berpotongan lurus buatannya sendiri yang memikat perhatian semua orang tanpa terlihat berlebihan.
Potongan kain katun sutra berkualitas tinggi itu menonjolkan siluet tubuhnya dengan rapi, dipadu dengan aksen garis perak tipis di bagian kerah yang memberi kesan profesional dan tajam.
Wajahnya yang dipoles riasan tipis memancarkan keanggunan, kecantikan serta aura wanita sukses berkelas yang memegang kendali penuh atas hidupnya.
Tidak ada lagi sisa-sisa perempuan rapuh di masa lalu; yang ada di hadapan para tamu undangan malam itu adalah Nyonya Adelia, pemilik label Zuri Couture yang namanya sedang naik daun di kota ini.
Di sudut barisan kursi belakang dekat pintu masuk utama, Arkananta berdiri kaku dengan setelan jas lama yang tampak kusut dan tidak terurus.
Pria itu hadir sebagai tamu undangan biasa dari relasi kantor yang hampir dicabut. Saat melihat sosok wanita yang dulu sering ia remehkan kini berdiri di atas panggung dengan kepala tegak, Arkananta tertegun dan hampir meneteskan air mata melihatnya. Penyesalan yang teramat dalam menghantam dadanya bagaikan palu godam.
"Selamat malam bapak dan ibu sekalian. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada Zuri Couture untuk memamerkan koleksi terbaru kami malam ini. Kami fokus menghadirkan potongan busana kerja dan gaun malam yang fungsional, nyaman, serta mengutamakan ketelitian jahitan untuk aktivitas harian," ucap Adelia tenang, lugas, dan profesional melalui mikrofon di tangannya.
Adelia murni berbicara sebagai seorang pelaku usaha yang fokus pada kualitas karya dan perkembangan merek busananya.
Para tamu undangan di dalam ruangan memberikan tepuk tangan apresiasi atas sambutan singkat dan padat tersebut.
Arkananta di barisan belakang mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya memerah menahan Sesak di dadanya yang tertahan. Didorong oleh rasa penasaran dan keputusasaan yang sudah memuncak, Arkananta melangkah cepat menerobos kerumunan tamu untuk menghampiri area panggung utama.
Namun, sebelum Arkananta sempat mendekati tangga panggung, dua orang pengawal berbadan tegap berjas hitam dengan sigap bergerak maju. Arkananta mencoba mendekati Adelia, namun dihalangi oleh pengawal pribadi Faris yang langsung menghadang jalannya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
"Maaf, Tuan. Anda tidak memiliki izin untuk mendekati area tamu kehormatan," cegat salah satu pengawal dengan suara berat dan dingin.
"Lepaskan saya! Saya mantan suaminya! Saya harus bicara sama Adelia!" Bentak Arkananta tertahan, meronta-ronta di hadapan para tamu yang mulai menoleh curiga ke arah keributan kecil tersebut.
Pengawal berbadan tegap itu tidak memberi ampun. Dengan satu gerakan cepat, mereka memegang kedua lengan Arkananta lalu menyeretnya keluar secara paksa melintasi koridor utama ballroom.
Arkananta tersungkur di lantai marmer area parkir luar gedung. Jas lamanya makin kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya memerah padam menahan rasa malu yang tak terhingga.
Beberapa pengunjung luar memandanginya dengan tatapan aneh. Di tempat yang dingin itu, Arkananta meremas jemarinya sendiri, memukulkan kepalan tangannya ke lantai dengan napas tersengal-sengal.
Hancur sudah harga dirinya sebagai laki-laki; ia menyadari betul betapa dalamnya jurang pemisah antara dirinya yang kini terpuruk dan mantan istrinya yang telah berada di puncak kesuksesan.
Sementara itu, di dalam area VIP yang tenang, kejenuhan acara pameran perlahan memudar. Adelia melangkah menuju lorong sepi dekat lounge khusus untuk mengambil napas sejenak setelah melayani belasan pertanyaan jurnalis dan pembeli.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Faris berdiri bersandar di pilar lorong, memegang dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
"Capek ya?" panggil Faris lembut seraya melangkah mendekat dan menyodorkan salah satu cangkir pada Adelia.
Adelia menyunggingkan senyum tipis, menerima cangkir itu dengan kedua tangannya. "Sedikit, Pak Faris..maksudku, Faris . Tapi lega, presentasi tadi berjalan lancar."
Rayhan menatap Adelia penuh kehangatan, pandangannya begitu fokus seolah seluruh keramaian ballroom di luar lorong ini tak lagi berharga. "Penampilanmu di panggung tadi luar biasa,Del"
Adelia menunduk malu, menatap uap teh hangat di cangkirnya. Rona tipis muncul di kedua pipinya. "Semua ini nggak akan terjadi tanpa dukungan dan kepercayaan dari kamu sejak awal."
Faris melangkah satu Langkah lebih dekat, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap mata Adelia secara lurus. Tangannya terangkat pelan, lalu jemarinya menyentuh lembut helai rambut Adelia yang terlepas dan merapikannya ke belakang telinga wanita itu.
"Saya cuma membuka pintu, Adelia," bisik Faris dengan suara rendah dan bergetar halus. "Yang melangkah anggun melewati pintu itu adalah kamu sendiri. Dan malam ini... saya makin yakin kalau keputusan saya untuk menunggu kamu adalah hal terbaik yang pernah saya buat."
Adelia mendongak, menatap manik mata cokelat pekat milik Rayhan yang dipenuhi rasa hormat dan kasih sayang tanpa syarat. Dadanya bergetar hangat, menghapuskan seluruh rasa lelah dan sisa trauma yang pernah hinggap.
"Terima kasih, Faris" bisik Adelia tulus.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel