Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Jejak Cairan di Drainase
Pendaran cahaya lentera minyak tanah di tangan Hans mengayun lambat, memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding batu Gotik. Hawa dingin di laboratorium Rotherhithe terasa kian menggigit, membawa bau ozon yang begitu tajam hingga memicu rasa gatal di tenggorokan.
Pip melangkah pelan di belakang Hans, berhati-hati agar sepatu lusuhnya tidak menginjak genangan cairan misterius yang bertebaran di lantai batu.
"Jika Dr. Finch lenyap menembus retakan ruang..." Pip berbisik, matanya menatap ruang kosong di tengah aula, "apakah itu berarti tidak ada lagi jejak fisik yang tersisa dari dirinya?"
"Setiap fenomena alam selalu meninggalkan bekas pada lingkungan sekitarnya, Pip," sahut Hans datar. Tangan kanannya menurunkan posisi lentera hingga beberapa sentimeter di atas permukaan lantai. "Anomali spasial sekalipun membutuhkan pelepasan energi dan materi reaksi."
Mata kelabu Hans memicing tajam saat berkas cahaya kuning lenteranya menyapu celah-celah susunan batu lantai.
Di antara genangan cairan bening berbau ozon, terdapat jejak noda kental berwarna biru kehitaman yang tidak bercampur secara sempurna. Noda itu memancarkan pendaran fosforisens tipis, seperti darah yang bercampur dengan minyak mesin pelayaran murni.
Sret...
Hans merunduk dengan satu lutut bertumpu pada lantai batu yang dingin. Ujung tongkat besi di tangan kanannya menyapu tepi jejak cairan tersebut, menguji kekentalan zat itu tanpa menyentuhnya secara langsung.
"Darah organik yang mengalami oksidasi anomali," gumam Hans pelan.
"Darah kebiruan?" Pip ikut berlutut di samping Hans, membelalakkan matanya heran. "Apakah darah Dr. Finch berubah warna?"
"Bukan darahnya yang berubah," sahut Hans dingin.
Darah merah Dr. Finch bercampur dengan cairan spesimen abyssal saat retakan spasial terbuka. Reaksi kimia antarmolekul mengubah warna hemoglobin menjadi kebiruan.
Hans meneliti arah aliran noda cair tersebut. Alih-alih menggenang merata mengikuti kemiringan lantai biasa, bercak darah kebiruan dan cairan ozon licin itu membentuk garis memanjang yang konsisten. Aliran tipis itu merembes cepat menuju sudut ruangan di dekat tumpukan rak buku yang roboh.
Hans berdiri tegak, melangkah mengikuti jejak noda itu dengan langkah terukur. Tuk... tuk...
Di balik reruntuhan kayu rak buku, terdapat sebuah jeruji besi tempa melengkung berkarat—sebuah celah saluran drainase kuno yang tertanam di dasar dinding batu bawah tanah. Celah jeruji itu cukup lebar untuk dilewati tubuh manusia dewasa jika besi berkaratnya dibongkar.
Cairan darah kebiruan dan minyak ozon mengalir masuk menembus celah jeruji besi tersebut, menetes menuruni kegelapan lorong bawah tanah yang tak terjangkau cahaya lentera.
Hans meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya, memiringkan kepalanya sedikit saat benaknya mulai menyusun peta infrastruktur lama Rotherhithe.
Sistem drainase ini tidak dibangun pada era industri abad ke-19. Konstruksi lengkung batu bata merah dan ukuran celah jerujinya adalah ciri khas jaringan drainase pelabuhan abad ke-17 yang terhubung dengan bendungan kuno Sungai Thames.
Jalur air ini membentang di bawah jaringan gudang kargo Rotherhithe, melintasi kedalaman delapan meter di bawah permukaan lumpur Thames, dan bermuara di ruang bawah tanah terisolasi di sepanjang garis pantai Greenwich.
"Saluran ini bukan sekadar pembuangan air limbah biasa, Pip," ujar Hans seraya menunjuk celah jeruji besi dengan ujung tongkatnya. "Ini adalah pintu masuk menuju jaringan lorong batu kuno abad ke-17 di bawah pelabuhan Thames."
Pip menelan ludah dengan susah payah saat memandang kegelapan pekat di balik jeruji besi. "Maksud Tuan... retakan ruang itu melempar Dr. Finch ke dalam saluran air bawah tanah ini?"
"Atau ada sesuatu yang menarik tubuhnya menembus retakan tersebut lalu menyeretnya menyusuri lorong batu ini," sahut Hans dingin.
Pernyataan Hans membekukan udara di dalam laboratorium.
Belum sempat Pip membalas, sebuah suara mendadak muncul dari dalam kegelapan celah drainase.
Srettt... srettt...
Suara gesekan benda berat berlarat menyusuri lantai batu basah bergetar samar dari kedalaman lorong air. Suara itu makin dekat, diiringi oleh derak tulang yang beradu lambat dan hembusan napas parau berbau amis yang menyeruak keluar dari celah jeruji.
Hrrrgh... hrrrgh...
Dengusan parau tak wajar itu bergema pelan di dalam saluran besi, memotong keheningan malam dan memancarkan gelombang uap beku yang membekukan jeruji besi dalam hitungan detik.