Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Bawah Bunga Wisteria
Setahun telah berlalu sejak Lily meninggalkan kehidupan lamanya. Musim semi kembali menyelimuti desa kecil di Belanda dengan udara sejuk dan bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan.
Pagi itu, Lily terbangun dengan kening berkerut. Perut bagian bawah dan pinggulnya terasa nyeri. Ia menghela napas panjang sambil memegangi perutnya.
“Sepertinya aku akan datang bulan,” gumamnya.
Ia segera bangkit dari tempat tidur, mandi, kemudian memakai pembalut. Setelah selesai bersiap, Lily memilih sebuah gaun putih tanpa lengan dengan corak bunga mawar kecil. Ia memadukannya dengan kardigan merah yang membuat penampilannya tampak segar. Rambut hitamnya dikepang ke samping, sementara sedikit lipstik merah menghiasi bibirnya.
Ketika bercermin, Lily tersenyum tipis.
“Baiklah, Lily. Hari ini kita harus tetap bersemangat.”
Meskipun perutnya masih terasa nyeri, ia tidak ingin menghabiskan hari dengan berbaring di tempat tidur. Persediaan sayuran di dapurnya juga hampir habis. Karena itu, ia mengambil keranjang belanja, mengenakan sepatu datar, lalu meninggalkan rumah.
Udara musim semi terasa menyenangkan. Cahaya matahari menyinari jalanan desa, sementara aroma tanah basah dan bunga yang bermekaran memenuhi udara.
Dalam perjalanan menuju toko sayuran, Lily melewati perkebunan anggur yang cukup luas. Beberapa pemuda sedang bekerja di antara barisan tanaman merambat. Ketika melihat Lily berjalan melewati pagar perkebunan, mereka segera menyapanya.
“Selamat pagi, Lily!”
Lily menoleh dan membalas sapaan mereka dengan senyum ramah.
“Selamat pagi! Kalian sudah bekerja sejak pagi sekali?”
“Kalau kami terlambat, nanti anggurnya tumbuh lebih lambat,” sahut seorang pemuda sambil tertawa.
Pemuda lainnya segera menyela, “Jangan percaya kepadanya. Dia hanya ingin terlihat rajin di depanmu.”
Mereka tertawa bersama.
Lily menggeleng geli.
“Kalau begitu, jangan terlalu banyak bercanda. Nanti pekerjaan kalian tidak selesai.”
“Kalau kau bersedia menemani kami makan siang, kami pasti bekerja dua kali lebih cepat!”
“Kalau begitu, sepertinya aku harus segera pergi sebelum kalian benar-benar tidak bekerja.”
Lily melambaikan tangan, kemudian melanjutkan langkahnya. Para pemuda itu kembali tertawa sambil memperhatikannya menjauh.
Setelah melewati perkebunan, Lily tiba di sebuah jalan kecil yang dinaungi bunga wisteria. Rangkaian bunga berwarna ungu muda menggantung indah dari cabang-cabang yang menjulur di atas jalan. Angin musim semi bertiup lembut, membuat kelopak-kelopak kecil bergoyang dan beberapa di antaranya jatuh ke tanah.
Lily memperlambat langkahnya.
Pemandangan itu membuatnya merasa damai. Ia mengangkat wajah, memandangi bunga-bunga yang bermekaran, lalu tersenyum sambil menarik napas panjang.
Sudah setahun sejak ia memilih untuk hidup sendiri. Selama waktu itu, ia belajar banyak hal. Ia belajar menerima kesedihan tanpa membiarkannya menguasai seluruh hidupnya. Ia juga belajar bahwa kebahagiaan tidak harus datang dari seseorang yang mencintainya.
Kini, ia memiliki rumah kecil, pekerjaan menulis yang kembali berjalan lancar, dan orang-orang yang memperlakukannya dengan baik.
Ia memang masih menyimpan luka masa lalu, tetapi luka itu tidak lagi menentukan setiap langkahnya.
Setelah menikmati pemandangan sejenak, Lily kembali berjalan menuju toko sayuran.
Ia membeli beberapa wortel, kentang, tomat, bawang, dan sayuran lain untuk persediaan beberapa hari. Pemilik toko yang telah mengenalnya menyelipkan beberapa buah apel ke dalam keranjangnya.
“Ini untukmu, Lily. Kebetulan aku mendapatkan apel yang manis pagi ini.”
Lily tersenyum.
“Terima kasih, Nyonya Elise. Berapa harganya?”
“Tidak perlu membayar. Anggap saja hadiah kecil.”
“Tetapi—”
“Sudahlah. Kalau kau terus berdebat, nanti aku benar-benar menagihnya dua kali lipat.”
Lily tertawa kecil.
“Baiklah. Kalau begitu, lain kali aku akan membawakan kue untuk Nyonya.”
“Kesepakatan yang bagus!”
Setelah membayar belanjaannya, Lily berpamitan dan berjalan pulang.
Namun, baru beberapa menit meninggalkan toko, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Sebuah mobil hitam mewah bergerak perlahan di jalan yang sama dengannya.
Awalnya, Lily tidak terlalu memedulikannya. Jalan itu memang sering dilalui kendaraan milik penduduk desa maupun pengunjung dari kota. Akan tetapi, mobil tersebut terus berjalan di sampingnya dengan kecepatan rendah, seolah-olah pengemudinya sedang mencari seseorang.
Lily menoleh.
Mobil itu memiliki bodi mengilap dengan kaca gelap. Penampilannya terlalu mencolok dibandingkan kendaraan yang biasa melintas di desa tersebut.
Ia kembali memalingkan wajah dan mempercepat langkah.
Mobil itu tetap mengikutinya.
Kening Lily berkerut. Ia mulai merasa tidak nyaman. Tangannya mencengkeram pegangan keranjang belanja, sementara pikirannya berusaha mencari kemungkinan siapa yang berada di dalam kendaraan itu.
Apakah orang suruhan Gento?
Ataukah seseorang yang mengenali dirinya dari masa lalu?
Belum sempat ia memikirkan lebih jauh, mobil hitam itu berhenti beberapa meter di depannya.
Lily ikut berhenti.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria keluar dari kursi penumpang belakang, mengenakan setelan berwarna gelap dengan kemeja putih yang rapi. Tubuhnya masih tegap, rambut pirangnya tertata sempurna, dan wajahnya terlihat lebih tirus daripada yang Lily ingat.
Pria itu berdiri diam di samping mobil.
Lily membeku.
Keranjang belanja di tangannya hampir terlepas ketika ia mengenali wajah tersebut.
Satoshi Katagiri.
Pria yang pernah menjadi suaminya selama tiga tahun. Pria yang pernah membuat rumah terasa seperti tempat paling menyakitkan baginya. Pria yang selama bertahun-tahun mengabaikan, merendahkan, dan menyakitinya.
Pria yang telah berusaha ia tinggalkan bersama seluruh kenangan buruk mereka.
Jantung Lily berdetak begitu cepat.
Ia tidak pernah membayangkan akan bertemu Satoshi di desa kecil ini, apalagi setelah satu tahun berlalu tanpa kabar.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap.
Satoshi tampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia telah menghabiskan waktu berbulan-bulan mencari Lily, memeriksa berbagai laporan, dan mendatangi banyak tempat yang ternyata tidak berhubungan dengan keberadaan perempuan itu.
Namun, ketika akhirnya mereka bertemu, ia justru tidak tahu harus mengatakan apa.
Di hadapannya berdiri Lily dengan gaun putih dan kardigan merah. Rambutnya dikepang ke samping, wajahnya terlihat segar, dan senyumnya masih memiliki kelembutan yang sama seperti dahulu.
Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda pada tatapan perempuan itu.
Lily tampak lebih tenang. Ia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang selalu menunggu pengakuan dari suaminya. Ada kemandirian dalam caranya berdiri, seolah-olah ia telah membangun kehidupan yang tidak membutuhkan kehadiran siapa pun untuk membuatnya utuh.
Satoshi merasakan tenggorokannya mengering.
“Lily...” bisiknya.
Nama itu keluar begitu lirih, hampir tenggelam oleh embusan angin.
Lily menelan ludah. Sebagian dirinya ingin berbalik dan pergi. Ia tidak ingin kembali berhadapan dengan masa lalu yang telah susah payah ia tinggalkan.
Namun, ia juga tidak ingin membiarkan ketakutan menentukan tindakannya.
Ia menarik napas perlahan, lalu mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu sekali lagi.
Lily memberikan senyum kecil yang sopan, kemudian menyapa dengan suara lembut.
“Tuan, kau masih saja setampan dahulu.”
Satoshi tertegun.
Suara itu.
Suara yang telah setahun tidak didengarnya secara langsung.
Suara yang terkadang hadir dalam mimpinya, tetapi selalu menghilang ketika ia terbangun.
Mata Satoshi seketika berkaca-kaca. Ia menatap Lily seolah-olah takut perempuan itu akan menghilang apabila ia berkedip.
Senyum Lily membuat dadanya terasa sesak. Untuk sesaat, ia ingin percaya bahwa perempuan itu telah memaafkannya. Ia ingin menganggap sapaan tersebut sebagai tanda bahwa semua penderitaan mereka telah berakhir.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa senyum sopan tidak berarti pengampunan.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Lily.
Dan ia tidak berani bertanya.
Satoshi mengingat kembali perjalanan bisnisnya ke Belanda. Perusahaannya sedang menjajaki kerja sama ekspor anggur dari beberapa perkebunan lokal. Ia datang untuk menghadiri pertemuan dengan pemilik usaha setempat, tanpa pernah membayangkan bahwa perjalanan itu akan membawanya kepada perempuan yang selama ini dicarinya.
Takdir telah mempertemukan mereka ketika ia hampir kehilangan harapan.
Air mata akhirnya mengalir di pipinya.
“Lily...”
Kali ini, suaranya bergetar.
Ia melangkah mendekat, kemudian tanpa mampu menahan emosinya, berlari menuju perempuan itu dan memeluknya dengan sangat erat.
“Lily, akhirnya aku menemukanmu!”
Keranjang belanja Lily terayun ketika tubuhnya mendadak ditarik ke dalam pelukan. Beberapa buah apel jatuh ke jalan dan menggelinding ke dekat kaki mereka.
Lily terkejut. Tubuhnya menegang, dan kedua tangannya sempat terangkat tanpa tahu harus berbuat apa.
Aroma parfum Satoshi yang dahulu sangat dikenalnya kembali tercium. Aroma itu membawa begitu banyak kenangan yang selama ini berusaha ia simpan jauh-jauh.
Satoshi memejamkan mata, membenamkan wajahnya di dekat bahu Lily. Kedua lengannya memeluk perempuan itu seolah-olah ia takut kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya sekali lagi.
“Aku merindukanmu,” bisiknya dengan suara pecah. “Aku benar-benar merindukanmu, Lily.”
Air matanya membasahi bahu kardigan merah yang dikenakan Lily.
Namun, di tengah kelegaan yang meluap, Satoshi tidak menyadari bahwa tubuh perempuan dalam pelukannya justru semakin kaku.
Lily memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya. Ia tidak membalas pelukan itu.
Untuk beberapa saat, keduanya berdiri dalam keheningan. Angin musim semi berembus melewati jalan, menggoyangkan bunga wisteria yang menggantung di atas mereka.
"Aku terus mencarimu Li."
Satoshi memeluk lebih erat lagi, wajahnya terbenam diceruk leher Lily.
"Tuan ....
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁