NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 30

Di mansion, Emma sedang duduk santai di sofa ruang keluarga sambil menggulir layar Instagram di ponselnya. Sesekali ia terkekeh melihat video-video lucu yang lewat di berandanya.

Namun, senyum di wajahnya perlahan menghilang ketika matanya menangkap sebuah unggahan yang baru saja muncul.

Sebuah foto menampilkan Damian bersama seorang wanita cantik. Wanita itu terlihat begitu dekat dengan suaminya, bahkan tangannya melingkar manis di lengan Damian.

Emma terdiam.

"Siapa?" gumamnya pelan sambil memperbesar foto tersebut.

Ia memperhatikan wajah wanita itu, kemudian membaca keterangan yang tertera di bawah unggahan tersebut.

Damian dan Natalia kembali bersama? Pasangan yang akhirnya menemukan jalan kembali setelah sekian lama berpisah!

Mata Emma membelalak.

"Hah?"

Ia membaca tulisan itu sekali lagi, berharap dirinya salah memahami maksudnya.

Namun, semakin lama ia menatap foto tersebut, semakin sesak rasanya dada Emma.

Wanita bernama Natalia itu terlihat begitu akrab dengan Damian. Sementara suaminya sendiri tidak tampak berusaha menjauh dalam foto tersebut.

Emma menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan perasaan yang tiba-tiba muncul.

Jadi, mereka pernah bersama? Dan sekarang mereka balikan?

Ia menunduk, menatap layar ponselnya dengan mata mulai berkaca-kaca.

"Huaaa, kenapa sakit hati sekali, sih?" rintih Emma lirih.

Ia meletakkan ponselnya di pangkuan, lalu menepuk pelan dadanya sendiri seolah ingin menenangkan perasaan yang berantakan.

"Emma, kamu kenapa, sih? Kalian kan menikah karena keadaan. Damian juga nggak pernah bilang kalau dia mencintaimu."

Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri, tetapi senyum yang muncul justru terasa getir.

"Terus, kenapa kamu malah berharap lebih?"

Emma kembali mengambil ponselnya. Tanpa sadar, ia membuka foto itu sekali lagi dan memperhatikan tangan Natalia yang menggandeng lengan Damian dengan begitu manis.

Air matanya akhirnya jatuh.

"Aku tahu aku nggak seharusnya berharap dia mencintaiku...."

Suaranya semakin lirih.

"Tapi kenapa rasanya sesakit ini, ya?"

Emma buru-buru mengusap pipinya, kemudian mematikan layar ponselnya Ia tidak ingin menangis hanya karena seorang pria Namun, masalahnya, pria itu bukan sembarang pria Dia adalah Damian Suaminya sendiri.

Pria yang belakangan ini membuat jantungnya berdebar hanya dengan perhatian kecil, pria yang mengecup puncak kepalanya sebelum pergi ke kantor, dan pria yang tanpa disadari mulai mengisi ruang di hatinya.

Emma memeluk bantal sofa erat-erat, lalu menyembunyikan wajahnya di sana.

"Huaaa, dasar vampir galak! Kenapa kamu harus membuatku jatuh cinta kalau ternyata kamu masih punya perempuan lain?"

Tak ada yang menjawab keluhannya.

Ruang keluarga itu tetap sunyi, hanya menyisakan Emma yang berusaha menenangkan hatinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, ia menyesal telah membiarkan dirinya berharap terlalu jauh.

Sebab, meskipun cincin pernikahan terpasang di jarinya, Emma mulai takut bahwa hatinya sendirilah yang akan terluka paling dalam.

Hampir berjam-jam Emma menangis sendirian di sofa ruang keluarga. Matanya sembap, sementara ponselnya tergeletak begitu saja di samping bantal yang sejak tadi dipeluknya.

Jarum jam terus bergerak hingga menunjukkan pukul tujuh malam.

Tanpa sadar, Emma yang kelelahan karena terlalu lama menangis akhirnya tertidur di sofa. Wajahnya masih menyisakan bekas air mata, bahkan sesekali ia mengerutkan kening seolah sedang memikirkan sesuatu dalam tidurnya.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman mansion.

Damian akhirnya pulang dari kantor.

Beberapa pelayan segera menyambut kedatangannya. Damian menyerahkan jasnya kepada salah seorang pelayan, lalu melonggarkan dasinya.

"Emma di mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Salah seorang pelayan segera menundukkan kepala sebelum menjawab.

"Nyonya berada di sofa ruang keluarga, Tuan."

Damian mengernyit.

"Untuk apa dia di sana? Kenapa tidak berada di kamarnya?"

Pelayan itu tampak ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menjawab.

"Nyonya sedari tadi menangis, Tuan. Setelah itu, beliau tertidur di sofa. Kami tidak berani membangunkannya ataupun menyentuhnya karena takut mengganggu istirahat Nyonya."

Langkah Damian seketika terhenti.

"Menangis?" ulangnya dengan suara rendah.

"Benar, Tuan."

Dahi Damian berkerut semakin dalam. Ia mencoba mengingat apakah ada sesuatu yang terjadi sebelum dirinya berangkat ke kantor pagi tadi.

Namun, ia tidak menemukan jawaban.

"Baiklah. Kalian boleh beristirahat," perintah Damian singkat.

"Baik, Tuan. Permisi."

Setelah para pelayan pergi, Damian segera melangkah menuju ruang keluarga.

Begitu tiba di sana, pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita yang tertidur meringkuk di sofa sambil memeluk bantal.

Emma.

Damian mendekat perlahan. Ia memperhatikan wajah istrinya yang sembap, bulu matanya yang masih sedikit basah, serta pipinya yang menyisakan jejak air mata.

Entah mengapa, pemandangan itu membuat hatinya terasa tidak nyaman.

"Emma?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Damian membungkuk sedikit, kemudian menyentuh lembut bahu istrinya.

"Hei, wanita cerewet. Bangun."

Emma hanya bergerak kecil, lalu kembali memeluk bantalnya semakin erat.

Damian menghela napas.

"Kenapa menangis sampai seperti ini, hm?" gumamnya sambil mengamati wajah Emma.

Ia kemudian melihat ponsel yang tergeletak di samping bantal. Layarnya sudah mati, tetapi Damian tidak tahu apa yang telah dilihat istrinya sebelum tertidur.

Setelah terdiam beberapa saat, Damian akhirnya duduk di tepi sofa.

Tangannya terangkat, menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Emma.

"Siapa yang membuatmu menangis, hm?" tanyanya lirih, meskipun tahu Emma tidak akan menjawab.

Damian menatap istrinya cukup lama.

Pagi tadi, Emma masih tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Bahkan, wanita itu sempat mengecup tangannya sebelum dirinya berangkat ke kantor.

Namun, sekarang Emma justru menangis sampai tertidur.

Damian menghela napas panjang, lalu menarik selimut tipis yang terlipat di ujung sofa untuk menyelimuti tubuh istrinya.

"Dasar wanita aneh," gumamnya pelan.

Meski berkata demikian, Damian tidak langsung beranjak pergi. Ia tetap duduk di sana, memperhatikan Emma yang tertidur dengan wajah sedih.

Untuk pertama kalinya malam itu, Damian berharap istrinya segera bangun. Sebab, entah mengapa, melihat Emma menangis seperti itu membuatnya merasa jauh lebih gelisah daripada yang ingin ia akui.

Cantik sekali istrinya itu.

Tanpa sadar, Damian menunduk dan mengecup dahi Emma dengan lembut. Namun, sesaat kemudian, ia tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya. Damian terdiam, menatap wajah istrinya yang masih terlelap.

"Apa yang sedang kulakukan?" gumamnya pelan.

Ia menghela napas, lalu menggelengkan kepala seolah berusaha mengusir pikiran aneh yang mengusik benaknya. Setelah itu, Damian menyelipkan satu tangan di bawah lutut Emma dan tangan lainnya di punggungnya, kemudian menggendong wanita itu menuju kamar mereka.

Entah mengapa, ia tidak rela melihat istrinya menangis. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya setiap kali mengingat wajah Emma yang sembap dan pipinya yang basah oleh air mata.

Padahal, selama ini Damian selalu menganggap tangisan manusia sebagai sesuatu yang tidak penting. Namun, ketika melihat Emma menangis, semuanya terasa berbeda.

Sesampainya di kamar, Damian melangkah mendekati ranjang, lalu membaringkan Emma dengan hati-hati.

Namun, baru saja tubuh Emma menyentuh kasur, wanita itu tiba-tiba bergerak dan meraih tubuh Damian.

"Damian..." lirihnya di sela isakan.

Damian membeku ketika Emma memeluknya erat. Wajah wanita itu tersembunyi di dadanya, sementara kedua tangannya mencengkeram kemeja yang dikenakannya.

"Hei, kenapa menangis lagi?" tanya Damian pelan.

Emma tidak menjawab. Ia hanya terisak sebentar, seolah bahkan dalam tidurnya pun hatinya masih menyimpan kesedihan.

Damian menatapnya dalam diam. Tangannya sempat terangkat, ragu untuk membalas pelukan itu. Namun, beberapa detik kemudian, ia akhirnya mengusap punggung Emma dengan gerakan canggung.

"Sudah, jangan menangis," bisiknya.

Anehnya, suara rendah Damian yang biasanya terdengar dingin justru terasa begitu lembut malam itu.

Tak lama kemudian, isakan Emma perlahan mereda. Pelukannya mulai mengendur, tetapi jemarinya masih menggenggam kemeja Damian seolah takut pria itu akan pergi.

Damian menunduk, memperhatikan wajah istrinya.

"Memangnya siapa yang membuatmu menangis sampai seperti ini, hm?" gumamnya.

Tentu saja Emma tidak menjawab.

Damian mengembuskan napas panjang. Ia kemudian duduk di sisi ranjang, membiarkan Emma tetap memeluknya.

Untuk pertama kalinya, pria yang selalu merasa tidak membutuhkan siapa pun itu justru tidak tega melepaskan diri dari pelukan seorang wanita.

Dan yang lebih mengherankan, wanita itu adalah istrinya sendiri.

"Dasar wanita cerewet," gumam Damian lirih, tetapi tangannya kembali mengusap rambut Emma dengan lembut.

"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatmu seperti ini."Ia terdiam sesaat, lalu menambahkan dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Aku lebih suka melihatmu tersenyum, Emma."

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!