NovelToon NovelToon
Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.

​Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.

​Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.

​“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”

​Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Sisi Gelap Dalam Pelukan Manis

​"Siapa yang mengajarimu cara membujuk seperti ini, Gabriel?" tanya Aira sambil berjalan perlahan melewati barisan bebek karet kuning di lantai.

​Gabriel dengan sigap bangkit dari duduknya. Celemek pink bergambar kelinci itu terlihat sangat kekecilan di tubuhnya yang tegap dan berotot, membuat penampilannya semakin mengocok perut.

​"Felix!" jawab Gabriel tanpa rasa dosa sedikit pun. "Dia membaca artikel di forum internet tentang '10 Cara Membuat Istri Meleleh Kembali'. Tapi bebek karetnya aku yang usul! Lucu, kan?"

​Aira akhirnya tidak sanggup lagi menahan tawanya. Suara tawa renyah dan halus tersembur dari bibirnya, membuat suasana penthouse yang tadinya tegang seketika menjadi hangat.

​Melihat Aira tertawa, Gabriel tertegun sejenak. Matanya menatap wajah Aira yang berseri-seri dengan binar kekaguman yang teramat dalam. Rasa lega yang luar biasa menjalar di dada Gabriel. Tawa Aira adalah suara favoritnya di seluruh dunia.

​"Kamu tidak marah lagi padaku?" tanya Gabriel pelan, melangkah mendekat dengan canggung seperti anak sekolah yang takut dipanggil guru BP.

​Tawa Aira perlahan mereda. Ia menatap pria tinggi di depannya. Di balik tawa dan tingkah konyol Gabriel, Aira tahu bahwa kejadian semalam adalah kenyataan. Pria di depannya ini benar-benar memimpin dunia yang penuh dengan darah dan bahaya.

​"Aku tidak marah, Gabriel," ucap Aira lembut. Ia menatap mata cokelat gelap milik suaminya. "Tapi aku takut."

​Gabriel terpaku. Raut wajah konyolnya perlahan menghilang, digantikan oleh keseriusan yang mendalam. "Takut padaku?"

​"Aku takut pada dunia yang kamu jalani," aku Aira jujur, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Semalam... orang-orang itu membawa senjata. Bagaimana kalau lain kali mereka menyerangmu saat aku tidak ada? Atau bagaimana kalau mereka menjadikanku umpan untuk menghancurkanmu?"

​Gabriel melangkah pelan hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Ia mengangkat tangannya yang besar dan hangat, menangkup pipi Aira dengan sangat lembut—seolah Aira adalah porselen paling rapuh yang bisa pecah jika ditekan terlalu keras.

​"Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, Aira. Tidak akan pernah," ucap Gabriel dengan suara berat dan dalam yang penuh dengan kepastian mutlak. "Dunia bawah itu memang gelap dan kotor. Tapi alasan aku berada di sana adalah untuk memastikan bahwa kegelapan itu tidak akan pernah menyentuh hidupmu."

​Aira menatap mata Gabriel. Di sana tidak ada lagi jejak pura-pura atau tingkah konyol. Yang ada hanyalah kejujuran dan rasa perlindungan yang begitu besar.

​"Lalu... kenapa kamu selalu berakting konyol dan manja di depanku?" tanya Aira penasaran. "Kenapa tidak menjadi dirimu yang biasa saja?"

​Gabriel terkekeh pelan, ibu jarinya mengusap lembut pipi Aira. "Karena di luar sana, aku harus menjadi monster agar orang-orang takut padaku. Tapi di rumah ini, di depanmu... aku hanya ingin menjadi Gabriel. Pria biasa yang beruntung bisa memiliki wanita secantik kamu."

​Hati Aira berdesir hebat. Kata-kata sederhana itu merayap masuk ke dalam dadanya, menghangatkan rasa canggung yang sempat membeku. Tanpa disadari, Aira mencondongkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel.

​Gabriel sempat tertegun kaget saat Aira bersandar padanya. Namun detik berikutnya, senyum lebar yang sangat bahagia terpatri di wajahnya. Lengan berototnya merengkuh pinggang Aira dengan erat namun lembut, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Aira.

​"Terima kasih sudah tidak meninggalkanku, Aira..." bisik Gabriel penuh haru.

​Namun, momen romantis dan manis itu tiba-tiba terganggu oleh suara perut yang berbunyi sangat nyaring.

​Kruuukkk~

​Aira merona merah. Suara itu jelas bukan berasal dari perutnya.

​Aira mendongak, menatap Gabriel yang kini membeku dengan wajah memerah sampai ke telinga.

​"I-itu... itu suara bebek karet tadi!" kilah Gabriel cepat dengan wajah panik, berusaha membela diri.

​"Gabriel, bebek karet tidak bisa berbunyi nyaring begitu," goda Aira sambil menahan senyum. "Kamu belum makan dari semalam, ya?"

​Gabriel cemberut, memasang raut wajah manis yang kekanak-kanakan lagi. "Habisnya aku panik sekali! Dari semalam aku tidak bisa makan dan tidur karena takut kamu minta cerai..."

​Aira menggeleng-gelengkan kepala melihat perubahan sifat kilat suaminya. "Ya sudah, ayo lepas celemek kelincimu itu. Aku yang akan masakkan makanan untukmu."

​Mata Gabriel langsung berbinar-binar seperti anak kecil yang dijanjikan permen. "Beneran?! Istriku mau memasakkan makanan untukku?!"

​"Iya, tapi ada syaratnya," potong Aira seraya menunjuk ke arah lorong. "Bereskan semua bebek karet dan karpet merah itu sekarang juga!"

​"Siap, Kanjeng Ratu! Dalam tiga puluh detik semuanya bersih!" seru Gabriel penuh semangat.

​Sang ketua mafia yang ditakuti seluruh kota itu langsung berbalik dan berlutut di lantai, mengumpulkan bebek-bebek karet kuning itu satu per satu dengan kecepatan kilat, membuat para pengawal yang mengintip dari balik tembok lorong hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan ajaib tersebut.

​Namun, di tengah keriangan itu, ponsel dekripsi khusus milik Gabriel di dalam saku celananya bergetar pelan.

​Gabriel mengambilnya sebentar tanpa sepengetahuan Aira. Layar ponselnya menampilkan sebuah pesan singkat bersandi dari Felix:

​[Tuan Besar, dalang di balik penyerangan semalam sudah ditemukan. Dia adalah Edward dari Klan Carlone. Apa perintah Anda selanjutnya?]

​Mata Gabriel menyipit. Dalam sepersekian detik, aura dingin dan mematikan kembali terpancar tajam dari tatapannya. Ia mengetik balasan singkat dengan jemarinya:

​[Ratakan seluruh bisnisnya di pelabuhan malam ini. Jangan tinggalkan sisa. Tapi pastikan tidak ada berita yang masuk ke media—aku tidak mau istriku terganggu saat makan malam.]

​Setelah mengirim pesan itu, Gabriel kembali memasukkan ponselnya ke saku, lalu tersenyum lebar dan riang sambil memeluk belasan bebek karet di dadanya.

​"Aira! Bebeknya sudah aku kumpulkan semua! Ayo kita ke dapur!" seru Gabriel manja, melompat menghampiri istrinya tanpa rasa dosa sedikit pun.

​Aira tersenyum melihat suaminya yang berlari kecil ke arah dapur. Ia tahu, kehidupannya bersama Gabriel tidak akan pernah menjadi kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun di balik segala bahaya dan rahasia yang melingkupi pria itu, Aira tahu satu hal pasti: Gabriel akan melakukan apa saja demi melindunginya.

​[Bersambung ke Bab 6...]

​Bagaimanakah pembalasan dendam Gabriel terhadap Klan Carlone tanpa sepengetahuan Aira? Dan kejutan manis apa lagi yang disiapkan sang ketua mafia untuk istri tercintanya?

1
Chenyu Wang
mantap awal cerita sudah seru..
Chenyu Wang: sama2
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!