Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.
Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.
Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.
Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.
Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Mereka Yang Sholat Di Tengah Malam
Aku keluar dari masjid tanpa karpet itu jam 16:30. Dahi masih perih bekas sujud di atas retakan segel.
Malik mengunci lagi pintu masjid dengan telapak tangannya. Gembok karat yang tadi meleleh, sekarang kembali muncul, terkunci.
"Ingat, Arga, malam ini Jumat Kliwon. Jangan tidur. Jangan matikan lampu petromak. Dan jangan kaget kalau rumahmu penuh tamu," kata Malik sebelum tubuhnya berubah jadi cahaya dan hilang ditelan angin.
Aku jalan pulang. 100 meter terasa sangat jauh. Karena sekarang aku bisa melihat.
Di setiap pohon, di setiap atap, di setiap sumur, ada mata merah yang mengintai. Jin Kafir. Mereka tahu aku baru saja menutup setengah retakan mereka. Mereka marah.
Sampai di rumah panggung kakek, aku lihat keluarga Kiai Jirji sudah menunggu di teras dengan wajah tegang. Cahaya mereka tidak seputih biasanya, agak kekuningan karena takut.
"Tuan, mereka sudah kumpul," bisik Kiai Jirji.
"Siapa? tanyaku.
"Jin Kafir. Di Alas. Malam ini mereka akan coba serang masjid dan rumah Tuan sekaligus. Karena Tuan sudah resmi jadi penjaga...."ucap Kiai Jirji.
Aku masuk ke dalam rumah. Aku kunci pintu, aku tutup semua jendela. Aku nyalakan dua petromak sampai terang benderang. Aku gelar sajadah kakek di ruang tengah.
Jam 18:00. Maghrib.
Azan dari masjid tanpa karpet itu terdengar lagi. Kali ini bukan satu suara, tapi ratusan suara azan bersamaan, menggema dari seluruh penjuru Alas Purwo.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Aku sholat Maghrib sendirian, tapi aku merasa tidak sendirian. Karena di belakangku, aku dengar suara kaki, banyak sekali kaki, berbaris.
Selesai salam, aku menoleh.
Ya Allah.
Ruang tengah rumah kakek yang tadinya hanya 4x6 meter, sekarang... luas. Sangat luas. Seperti masjid dan penuh.
Penuh dengan sosok berjubah putih dan Ratusan. Semuanya berdiri shaf demi shaf, rapi. Wajah mereka bercahaya, tapi tidak semua wajah manusia. Ada yang wajahnya seperti cahaya saja, ada yang janggutnya panjang sampai lantai. Ada yang anak kecil bercahaya, ada yang kakek-kakek.
Mereka semua adalah Jin Islam. Pasukan Malik.
Mereka sholat Maghrib bersamaku. Aku jadi imam, tanpa aku sadari.
Begitu aku salam kedua, mereka semua salam bersamaan. Suaranya seperti desir angin.
Lalu yang di shaf paling depan, yang paling tua, melangkah maju. Dia mirip Kiai Jirji tapi lebih tinggi, jubahnya lebih putih, sorbannya hijau.
"Assalamualaikum, Tuan Penjaga Arga. Saya Kiai Karim, ayah dari Kiai Jirji. Kami 300 keluarga Jin Islam Krajan. Malam ini kami sholat di rumah Tuan, karena rumah Tuan adalah rumah penjaga. Dan malam Jumat Kliwon, rumah penjaga adalah masjid kedua setelah masjid tanpa karpet...."ucapannya.
Aku masih duduk di sajadah, gemetar. 300 Jin Islam sholat di rumahku? Batinku.
"Kenapa... kenapa di rumah saya? tanyaku.
"Karena di luar, di halaman, sudah ada mereka," kata Kiai Karim sambil menunjuk ke luar jendela. Aku pun mengintip.
Halamanku yang tadi sore kosong, sekarang... hitam.
Bukan tanah lagi. Halaman itu penuh dengan makhluk hitam berbulu, mata merah, taring panjang, bertanduk. Jumlahnya ratusan, mungkin ribuan, berdiri mengelilingi rumahku dari jarak 10 meter. Mereka tidak bisa masuk karena pagar cahaya keluarga Kiai Jirji, tapi mereka menggeram, menggaruk tanah.
Di tengah kerumunan hitam itu, berdiri 20 anak kecil bermata hitam yang kemarin. Mereka memimpin.
Dan di belakang mereka semua, di ujung jalan dusun, ada sosok yang sangat besar, tingginya empat meter, tubuhnya api hitam, kepalanya seperti kepala kerbau tapi ada mahkota dari tulang. Itu Banaspati. Raja Jin Kafir.
Dia tidak mendekat. Dia hanya berdiri, menatap rumahku dengan mata api.
"Dia tidak bisa masuk ke rumah penjaga, Tuan," kata Kiai Jirji. "Tapi dia bisa buat Tuan keluar dengan ketakutan. Makanya kami semua sholat di sini malam ini, agar Tuan tidak sendirian. Selagi kami sholat, mereka tidak bisa jebol pagar..."ucap Kiai Jirji lagi.
Jam 19:00. Waktu Isya.
Kiai Karim mengumandangkan azan di dalam rumahku. Suaranya menggelegar, membuat makhluk-makhluk hitam di luar menutup telinga dan menjerit.
Lalu kami sholat Isya berjamaah. Aku lagi-lagi jadi imam untuk 300 makhluk gaib.
Rasanya... tidak bisa dijelaskan. Aku yang 10 tahun tidak sholat, tiba-tiba jadi imam Jin.
Selesai Isya, mereka tidak bubar. Mereka duduk. Dzikir bersama.
"Lailahaillallah... Lailahaillallah..."
Rumahku bergetar karena dzikir 300 Jin Islam. Lampu petromak bergoyang. Lantai kayu berderit.
Dan di luar, ratusan Jin Kafir juga berteriak, mengimbangi, "Buka... buka... buka..."
Dua suara bertarung. Dzikir cahaya vs teriakan kegelapan.
Jam 01:00 dini hari. Waktu Tahajud.
Kiai Karim berbisik, "Tuan Penjaga, sekarang waktunya Tahajud. Tahajud penjaga adalah kunci terakhir segel masjid malam ini. Jika Tuan tahajud, retakan sejari di masjid tadi akan tertutup total sampai Jumat Kliwon depan. Jika Tuan tidak kuat, retakan itu akan jebol dan mereka akan masuk kampung..."ucap Kiai Karim.
Aku lemas. Aku tidak tidur 2 hari. Tubuhku capek.
Tapi aku lihat ke luar. Aku lihat wajah Pak Min, Bu Lastri, yang mengintip dari celah jendela rumah mereka yang terkunci, menatap rumahku dengan harapan. Mereka percaya padaku, walau mereka tidak bisa keluar.
Aku berdiri. Ambil wudhu lagi.
Aku sholat Tahajud, 2 rakaat.
Saat sujud terakhir tahajud itu, lebih lama dari sujud manapun. Aku menangis di atas sajadah. Aku doa, "Ya Allah, saya bukan orang baik, saya bukan santri, tapi saya cucu Suro, saya anak kampung ini, tolong bantu saya jaga mereka..."
Begitu dahiku menyentuh sajadah...
JEDERRRR!
Petir menyambar Pohon Beringin Kembar di ujung dusun. Bukan petir biasa, petir putih.
Dari masjid tanpa karpet, aku dengar suara keras seperti batu besar jatuh menutup lubang.
Segel itu tertutup!
Ratusan Jin Islam di rumahku serentak mengucap Allahu Akbar sampai atap rumahku terangkat sedikit.
Di luar, ratusan Jin Kafir menjerit kesakitan, termasuk 20 anak bermata hitam. Tubuh mereka berasap terkena cahaya tahajud.
Banaspati yang besar itu meraung sangat keras, suaranya membuat semua pohon pisang di dusun roboh.
Dia berbalik, berjalan kembali masuk ke Alas Purwo, pasukannya mengikutinya.
Mereka kalah malam ini.
Jam 03:00. Rumahku kembali sepi. 300 Jin Islam itu satu per satu pamit, mencium tanganku, dan hilang jadi cahaya masuk ke dinding.
Tinggal keluarga Kiai Jirji dan Kiai Karim.
Kiai Karim tersenyum, wajahnya lelah tapi bahagia.
"Selamat, Tuan Arga. Malam pertama sebagai penjaga resmi, Tuan berhasil. Mereka yang sholat di tengah malam tadi bukan kami yang menjaga Tuan. Tapi Tuan yang menjaga kami dengan tahajud Tuan..."ucap Kiai Karim.
Aku jatuh tertidur di atas sajadah, dengan dahi masih menempel di lantai.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, aku tidur tanpa mimpi buruk. Karena rumahku dijaga oleh mereka yang sholat di tengah malam.