Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tamu Tak Diundang
Matahari pagi baru saja menyembul di ufuk timur ketika ketenangan Paviliun Bambu dirobek oleh suara tendangan keras yang merobohkan pagar kayu halaman.
Brak!
Enam orang pemuda berjubah biru klan utama melangkah masuk dengan angkuh. Di barisan paling depan, berdiri seorang pemuda bertubuh kekar dengan bekas luka pisau di alis kirinya—Lin Hu, pengikut paling setia Lin Tianhao yang baru saja menembus Alam Pemurnian Tubuh Lapis Tujuh tiga hari lalu.
"Keluar kau, gadis penyakitan!" teriak Lin Hu dengan suara menggelegar sambil bertolak pinggang di tengah halaman. "Semalam dua penjaga patroli menghilang dan Nyonya Liu ditemukan lumpuh di parit luar! Atas perintah Tuan Muda Tianhao, mulai pagi ini Paviliun Bambu disita untuk dijadikan kandang binatang tunggangan klan utama! Cepat angkat kaki dari sini sebelum kami melemparmu ke jalanan!"
Pintu kamar utama terbuka perlahan. Lin Wan'er keluar dengan wajah cemas, namun tidak seperti biasanya yang tampak lemah dan gemetar, pagi ini gadis itu berdiri tegak di teras kayu.
"Paviliun Bambu ini adalah kediaman resmi yang diberikan mendiang Kakek Kepala Klan kepada orang tua kami," ucap Lin Wan'er dengan suara jernih. "Kalian tidak berhak mengusir kami tanpa surat perintah dari rapat tetua klan!"
Lin Hu tertawa terbahak-bahak, diikuti tawa mengejek dari lima pemuda di belakangnya.
"Rapat tetua klan? Hahaha! Kau pikir siapa yang berkuasa di Klan Lin sekarang?!" Lin Hu melangkah naik ke tangga teras dengan tatapan buas. "Tuan Muda Tianhao telah mewarisi Akar Spiritual Emas Lapis Tujuh dan sebentar lagi akan menjadi murid terhormat Sekte Awan Biru! Jangankan merobohkan paviliun rongsokan ini, sekalipun aku menyeretmu untuk dijadikan pelayan pencuci kaki di halaman depan, tak satu pun tetua klan cabang yang berani membuka mulut!"
Lin Hu mengulurkan tangannya yang besar, hendak mencengkeram kerah baju Lin Wan'er untuk menyeretnya turun dari teras.
Namun tepat pada detik itu—
"Tangan mana yang berani kau ulurkan ke arah adikku, maka tangan itulah yang akan berubah menjadi abu hari ini."
Suara tenang namun sedingin angin musim dingin itu membuat senyum di wajah Lin Hu membeku.
Dari balik kabut pagi di gerbang halaman yang roboh, seorang pemuda berjubah hitam dengan pedang hitam terikat di punggungnya melangkah masuk dengan santai. Setiap langkah kakinya tampak ringan, namun entah mengapa membuat jantung keenam pengikut klan utama itu berdegup kencang seolah sedang didekati oleh binatang buas purba.
"Lin... Lin Xuan?!"
Kelima pemuda di belakang Lin Hu mundur selangkah secara bersamaan dengan wajah pucat pasi. "Bukankah dia sudah jatuh ke Jurang Abu Api tujuh hari yang lalu?! Bagaimana mungkin dia masih hidup?!"
Lin Hu sendiri sempat terkejut hebat, namun sedetik kemudian, keterkejutannya berubah menjadi seringai kejam. Ia teringat rahasia yang dibisikkan oleh Lin Tianhao bahwa akar spiritual pemuda di depannya ini telah dicabut sampai ke akarnya!
"Heh! Aku sempat kaget mengira hantu yang datang, ternyata kau memang beruntung tersangkut di dahan pohon tebing dan merangkak pulang seperti anjing liar!" ejek Lin Hu sambil memutar pergelangan tangannya, memamerkan aura Qi kuning kecokelatan khas Pemurnian Tubuh Lapis Tujuh. "Lin Xuan, kau pikir kau masih jenius klan cabang seperti dulu? Orang cacat yang meridiancnya sudah hancur sepertimu berani berlagak di depanku?! Hari ini aku akan mematahkan kedua kakimu dan mengirimmu kembali ke dasar jurang!"
"Tangkap dia dan patahkan tulang-tulangnya!" perintah Lin Hu kepada kelima anak buahnya.
Lima pemuda klan utama yang berada di Alam Pemurnian Tubuh Lapis Lima itu segera menerjang maju secara serempak, mengayunkan tinju dan pedang pendek mereka ke arah dada serta kepala Lin Xuan.
Di teras paviliun, Lin Wan'er menahan napas khawatir. Namun Lin Xuan bahkan tidak mengangkat tangannya ke gagang pedang di punggungnya.
"Sekelompok lalat yang berisik."
Wussh!
Tubuh Lin Xuan lenyap dari pandangan kelima penyerang itu melalui langkah Jejak Tanpa Bayangan. Hanya terdengar lima bunyi hantaman tumpul yang beruntun dalam waktu kurang dari satu kedipan mata!
Bak! Buk! Krak!
Kelima pemuda itu terpental ke segala arah seperti karung pasir yang dihantam kereta perang. Saat tubuh mereka jatuh menghantam tanah halaman, kelimanya langsung memuntahkan darah segar dengan tulang dada retak, tak sanggup bangkit lagi!
Senyum di wajah Lin Hu lenyap seketika. Keringat dingin langsung membasahi punggungnya.
"Mustahil! Kultivasimu... bagaimana mungkin kultivasimu tidak hilang?!" teriak Lin Hu panik sekaligus marah. Ia segera menggigit ujung lidahnya untuk memacu seluruh kekuatan Pemurnian Tubuh Lapis Tujuh miliknya ke kedua kepalan tangannya yang kini dilapisi cahaya batu cadas. "Tinju Pemecah Batu!"
Lin Hu melompat menerjang ke arah kepala Lin Xuan dengan kekuatan penuh yang sanggup meremukkan batu giling.
Lin Xuan menatap tinju yang mendekat itu dengan tatapan datar tanpa emosi. Kali ini, tangan kanannya bergerak memegang gagang Pedang Abu Hitam di punggungnya, lalu mencabut dan menebaskannya dalam satu garis miring yang tampak hening.
Cring!
Kilatan garis abu-abu gelap membelah udara pagi.
Pertahanan batu cadas di kedua kepalan tangan Lin Hu yang sangat ia banggakan hancur berkeping-keping bagaikan tahu lembut yang ditebas pisau panas. Qi Abu yang berat dan melapukkan langsung merangsek masuk melewati lengan Lin Hu, menghancurkan meridian di bahu kanannya sebelum meledak di dadanya!
"Aaaarghhh!"
Jeritan mengerikan Lin Hu menggema di seluruh halaman belakang Klan Lin. Tubuh kekarnya terlempar sejauh sepuluh tombak, menabrak dinding batu halaman hingga runtuh. Lengan kanannya terkulai patah tak berbentuk, sementara Dantian-nya bergetar hebat akibat terserang hawa abu yang melumpuhkan separuh kultivasinya!
Lin Xuan melangkah mendekati Lin Hu yang merintih di tengah tumpukan puing batu, lalu menginjak dada pemuda itu dengan satu kaki. Ujung Pedang Abu Hitam menempel tepat di antara kedua alis Lin Hu.
"T-Tuan Muda Xuan... ampuni nyawaku!" Lin Hu menangis ketakutan, seluruh keangkuhannya menguap tak berbekas saat merasakan hawa kematian dari ujung pedang hitam itu. "Lin Tianhao yang menyuruhku! Dia dan Tetua Agung yang merencanakan semuanya!"
"Aku tahu," jawab Lin Xuan dingin. "Jika aku membunuhmu di sini, itu terlalu mudah bagimu. Merangkaklah kembali ke aula utama bersama kelima sampah itu, dan sampaikan pesanku kepada Lin Tianhao serta Lin Zhen."
Lin Xuan menekan ujung pedangnya sedikit hingga darah mengucur di dahi Lin Hu.
"Katakan pada mereka: apa yang mereka curi dariku di malam hujan tujuh hari lalu, akan kutagih kembali seratus kali lipat pada hari Upacara Leluhur. Dan siapa pun dari klan utama yang berani melangkah masuk radius seratus tombak dari Paviliun Bambu sebelum hari itu... akan kupastikan tidak menyisakan sepotong tulang pun untuk dikuburkan!"
Dengan satu tendangan keras, Lin Xuan melontarkan tubuh Lin Hu keluar dari gerbang halaman yang hancur.
Kabar bahwa Lin Xuan belum mati—dan bahkan menghancurkan Lin Hu beserta lima penjaga elit hanya dalam satu gebrakan—segera menyebar bagaikan badai api yang mengguncang seluruh kediaman Klan Lin pagi itu!