Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Kekhawatiran Nepa
Ardana masuk ke ruangan itu, disuguhkan dengan keadaan Tiana yang sudah tidak beraturan lagi. Selang infus lepas, darah ngucur kemana-mana. Selimut pasien sudah tergeletak di lantai, berikut bantalnya.
"Tiana, kamu kenapa? Mbak Nepa, tolong panggil Perawat di ruang piket!"
Nepa langsung keluar ruangan, iapun terlihat sangat panik dan buru-buru berlari kecil menuju ruang piket untuk memangil Perawat.
Nepa datang bersama dua orang Perawat jaga. Di dalam, Tiana sedang dipeluk Ardana sambil menangis. Ardana mencoba menenangkan Tiana yang stresnya kambuh lagi.
"Kamu tenang dulu, ya. Biarkan Suster memasang kembali selang infus." Ardana terus membujuk, meskipun Tiana menggeleng dan menangis.
"Aku tidak mau diinfus, aku hanya mau dekat dengan Mas Arda," mohonnya sambil terisak.
Dua Perawat itu saling tatap satu sama lain. Mereka menjadi bingung dan salah tingkah.
"Tia, kalau kamu nggak mau diinfus, maka Mas akan memaksa untuk pulang dan nggak akan jagain kamu." Ardana balik mengancam.
Tiana takut, ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ardana. "Jangan, aku tidak mau."
"Ok. Sekarang kamu mau dipasang infus lagi, kan? Lihat darah kamu kemana-mana. Gimana kalau terjadi infeksi?" bujuk Ardana kembali, menakut-nakuti Tiana.
Salah satu Perawat ikut membujuk Tiana. "Bu Tiana, harus mau diinfus lagi, ya. Soalnya Ibu masih dalam tahap pengobatan. Di dalam cairan infus ini ada obat yang harus masuk ke dalam tubuh Ibu, supaya Ibu bisa tenang dan tidak tegang seperti ini."
Akhirnya Tiana menyerah, ia mengangguk pelan. Dua Perawat itupun segera menjalankan tugasnya.
Ardana mundur memberi ruang pada dua Perawat itu. Ia mendekati Nepa lalu sedikit menjauh dari ranjang Tiana.
"Dik, kenapa tadi dengan kakaknya, apa kalian bertengkar?" tanya Ardana penasaran.
Nepa diam, dia tidak mampu berkata apa-apa. Dia bingung harus berkata apa. Terus terang salah, tidak terus terang pun salah. Akhirnya dia hanya bisa menggeleng sebagai jawaban bahwa dia tidak tahu apa-apa.
"Saya tidak tahu, Mas. Lakukan saja yang terbaik buat Kakak saya," ucapnya seraya berbalik dan keluar dari ruangan itu, sebab kehadirannya di sana tidak dibutuhkan Tiana.
Nepa memutuskan untuk pulang meskipun malam sudah sangat larut. Karena jalannya tidak fokus dan sedang melamun, Nepa tiba-tiba tabrakan dengan seseorang di koridor itu.
"Akhhh...." ringisnya.
Orang yang tabrakan dengan Nepa, sama-sama terkejut. Sepertinya tadi ia memang tidak fokus dengan jalan. Dia lebih fokus dengan map yang dipegangnya.
"Eh, maaf." Pria bertubuh tegap itu meminta maaf terlebih dulu pada Nepa. "Apa ada yang sakit?" lanjutnya lagi risau.
"Sedikit."
"Tapi, tidak apa-apa. Ini hanya sebentar sakitnya," lanjut Nepa merasa tidak penting dengan tubuhnya yang sakit akibat tabrakan barusan.
"Beneran?" Pria bertubuh tegap itu meyakinkan.
Nepa mengangguk.
"Sebentar, mari duduk dulu. Sepertinya Adik ini terlihat lelah dan banyak pikiran. Apa di sini sedang menunggu pasien atau baru selesai menjenguk pasien?" ajak pria itu, tidak berhenti mengajak ngobrol lalu membawa Nepa duduk di kursi tunggu.
Nepa mengikuti ajakan pria itu, meskipun ia sedikit ragu.
"Saya tadinya mau nungguin pasien. Tapi, pasiennya tidak mau saya tungguin." Tanpa sadar Nepa berkata, setelah beberapa saat terdiam.
"Lho, kenapa pasiennya tidak mau ditungguin Mbak, apa di dalam kamar pasien sudah ada orang lain?" Pria bertubuh tegap itu keheranan.
"Iya. Pasien itu tidak mau saya tungguin karena lebih suka ditungguin orang itu," jujurnya tanpa mengatakan siapa orang itu.
"Oh begitu? Sebentar, tadinya Mbak bermaksud menjaga pasien dengan keluhan sakit apa?" telisik pria itu.
"Euhhh...." Nepa terlihat bingung, dia ragu untuk mengatakan kalau sang kakak sedang sakit stres atau gangguan psikis.
"Katakan saja, jangan ragu. Saya di sini Nakes juga, bagian terapis. Identitas pasien maupun penyakitnya terjaga kerahasiannya." Pria tegap yang lumayan tampan itu meyakinkan.
Nepa masih bingung, tapi setelah berpikir lama. Akhirnya ia bercerita. "Pasien itu Kakak saya, dia menderita gangguan psikis."
Pria itu mengerutkan keningnya, ia mencoba menebak siapa gerangan pasien yang dimaksud.
"Dirawat di ruangan Salak nomer empat, bukan?" tebaknya.
Nepa langsung mengangguk.
"Pasien bernama Nyonya Tiana, kan?"
Nepa kembali mengangguk.
"Iya...sepertinya pasien itu, siapa tadi, Kakaknya, ya? Dia hanya ingin ditungguin satu orang," sambung pria itu merasa sudah yakin.
"Iya, Mas. Dia hanya ingin ditungguin oleh satu orang. Padahal saya adalah adiknya."
"Kalau menurut saya sih, itu justru tidak masalah. Ini merupakan bagian dari usaha tim kita agar Nyonya Tiana segera sembuh. Ini juga tidak terlepas dari saran dokter yang menangani Kakak Anda," tutur pria itu lagi.
"Masalahnya, bukan hanya ingin ditungguin saja, Mas. Tapi...." Nepa tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kenapa?" Pria itu terlihat penasaran.
"Tapi, Kakak saya ingin dinikahi oleh pria itu. Sementara pria itu sudah beristri. Dan saya tidak setuju dengan sikap Kakak saya. Dia bersikeras dan yakin, kalau dinikahi pria itu, maka sakitnya akan sembuh," bongkar Nepa tidak segan lagi.
Pria tegap itu terkejut, ia tidak menyangka kalau keinginan pasien bernama Nyonya Tiana tidak hanya sekedar ingin dijagain oleh Ardana semata, melainkan ingin dinikahi secara siri.
"Oh ya? Saya pikir Nyonya Tiana hanya sekedar nyaman saja ditungguin Letnan Ardana, tapi ternyata...."
"Iya, Mas. Dan itu tidak boleh terjadi. Sebab yang menyebabkan Kakak saya seperti itu adalah orang lain. Dia...." Nepa tidak melanjutkan kalimatnya, karena ini terlalu pribadi.
Pria tegap itu paham, dia mengangguk kecil. "Tapi, memang Nyonya Tiana sudah sangat nyaman dengan Letnan Ardana. Saya juga melihat Nyonya Tiana seperti ingin mengikat Letnan Arda. Sebab...."
"Sebab apa, Mas?" Nepa langsung menyela.
Pria tegap itu tidak langsung bicara, napasnya terdengar mendesah seakan berat untuk bicara.
"Katakan saja, Mas?" desak Nepa memohon.
"Sebab...Nyonya Tiana sendiri yang meminta pada tim, agar hanya Letnan Arda yang selalu menjaganya tiap malam. Padahal biasanya yang jaga itu dirolling sesuai jadwal. Tapi, semua itu demi kebaikan Nyonya Tiana. Kalau dengan penjagaan Letnan Arda bisa segera menyembuhkan sakitnya, kenapa nggak?"
"Iya, Mas. Tapi, masalahnya bukan sekedar nyaman dijaga. Melainkan Kakak saya meminta lebih," sesal Nepa dalam.
"Letnan Amir, maaf, ditunggu di ruang piket terapi. Dokter Lukito tadi mencari."
Pria tegap yang ternyata Letnan Amir itu, terpaksa menghentikan obrolannya dengan Nepa, ia terlanjur dipanggil oleh seorang Perawat karena dicari Dokter Lukito.
"Baik, Mbak. Sepertinya obrolan kita sampai di sini. Kapan-kapan semoga kita bisa berjumpa lagi." Dengan terpaksa Letnan Amir berpamitan pada Nepa, lalu bergegas pergi menuju ruang piket terapi.
Nepa masih tertegun, bahkan kalimat pamit Letnan Amir saja tidak digubrisnya. Nepa masih kepikiran dengan Tiana yang meminta Ardana menikahinya secara siri.
"Ini tidak boleh terjadi," gumamnya seraya bangkit, dan meninggalkan tempat itu.
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...