Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Adam tidak beranjak jauh dari kamar Veronika. Setelah mendengar permintaan Gia untuk menghubungi ibunya, ia akhirnya mengizinkan perempuan itu menggunakan ponselnya tanpa pengawasan.
Sementara Gia berada di dalam kamar, Adam berdiri di lorong dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jubah hitamnya. Wajahnya tampak dingin, tetapi pikirannya masih tertuju pada penjelasan Marco mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa Veronika.
Marco berdiri di hadapannya sambil memegang sebuah kantong bukti transparan.
"Tuan, mengenai benda yang saya temukan di lokasi kecelakaan kemarin, saya sudah mendapatkan informasi lebih lanjut."
Adam menoleh, "Anting itu?"
"Benar, Tuan."
Marco mengangkat kantong bukti tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah anting dengan permata rubi yang berkilauan, meskipun sebagian permatanya telah mengalami kerusakan.
"Anting ini merupakan perhiasan khusus yang hanya dimiliki keluarga Conti. Saya sudah memastikan hal tersebut melalui toko perhiasan tempat benda ini dibeli."
Adam mendengus dingin, "Kalau begitu, sudah jelas siapa pemiliknya." Tatapannya berubah tajam.
"Itu pasti milik Gia! Siapa lagi perempuan keluarga Conti yang berada di dalam mobil tersebut?"
Marco menghela napas panjang.
"Tuan, mohon dengarkan penjelasan saya sampai selesai."
Adam meliriknya tajam, "Kau sedang mengajariku cara menyelidiki sesuatu, Marco?"
"Tidak, Tuan. Saya hanya tidak ingin kita mengambil kesimpulan sebelum mengetahui seluruh faktanya."
Marco telah bekerja bersama Adam selama bertahun-tahun. Ia tahu betul bahwa tidak ada seorang pun yang berani berbicara seperti itu kepada sang bos ketika emosinya sedang tidak terkendali. Namun, kali ini ia tidak bisa membiarkan Adam kembali bertindak berdasarkan dugaan.
Ia kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Saya mendatangi toko perhiasan yang membuat anting tersebut. Pemiliknya mengonfirmasi bahwa perhiasan itu dipesan secara khusus oleh Tuan Sadam Conti beberapa bulan lalu."
Adam terdiam sesaat, "Tuan Sadam?"
"Benar, anting dengan permata rubi pecah seribu itu dibuat berdasarkan pesanan khusus untuk hadiah ulang tahun putrinya."
Marco berhenti sejenak, memastikan Adam memperhatikan setiap perkataannya.
"Menurut catatan toko, pesanan tersebut dibuat sebagai hadiah ulang tahun untuk salah satu putri keluarga Conti. Saya juga sudah mendapatkan keterangan langsung dari pihak toko."
Kedua tangan Adam perlahan mengepal.
"Jadi, apa maksudmu? Anting itu memang milik keluarga Conti. Gia adalah putri keluarga tersebut. Bukankah semuanya sudah jelas?"
"Belum, Tuan."
Rahang Adam mengeras. Marco mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah rekaman, lalu menyerahkannya kepada Adam.
"Silakan lihat ini terlebih dahulu."
Dengan wajah tidak sabar, Adam menerima ponsel tersebut. Rekaman yang ditampilkan merupakan dokumentasi pernikahannya dengan Gia di kediaman Maxnore. Video itu diambil pada hari ketika ia menyeret perempuan tersebut ke altar dan memaksanya menjadi istrinya di hadapan banyak orang. Adam masih mengingat hari itu dengan sangat jelas.
Ia mengingat wajah Gia yang pucat, gaun pengantinnya yang kusut, serta air mata yang terus mengalir di pipinya. Ia juga mengingat bagaimana perempuan itu berulang kali mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Namun, saat ini bukan wajah Gia yang menarik perhatiannya. Melainkan kedua telinganya. Di dalam rekaman tersebut, Gia terlihat tidak mengenakan sepasang anting dengan permata rubi pecah seribu, tetapi dia mengenakan anting diamond.
Adam memperbesar gambar itu. Kedua anting tersebut tampak jelas menghiasi telinga Gia. Bentuknya tidak sama dengan anting yang ditemukan di lokasi kecelakaan. Adam mengalihkan pandangan kepada Marco.
"Apa maksudnya ini?"
Marco menunjuk layar ponsel.
"Saya sudah memeriksa rekaman pernikahan tersebut dengan teliti. Pada hari itu, Nona Gia masih mengenakan kedua antingnya. Artinya, setidaknya ketika rekaman ini diambil, kedua anting tersebut masih berada padanya, dan ini adalah anting yang beda,"
Ia kemudian mengangkat kantong bukti yang dibawanya.
"Sedangkan anting yang ditemukan di lokasi kecelakaan hanya satu dan ini rubu bukan diamond."
Adam kembali menatap benda di dalam kantong transparan itu.
"Jadi, kau mengatakan bahwa anting ini bukan milik Gia?"
"Saya tidak mengatakan bahwa perhiasan itu bukan milik keluarga Conti, Tuan. Saya mengatakan bahwa kita belum memiliki bukti yang menunjukkan bagaimana anting ini bisa berada di lokasi kecelakaan."
Marco berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Jika Nona Gia mengenakan kedua antingnya ketika berada di kediaman Maxnore setelah kecelakaan itu, berarti kita harus mencari tahu siapa yang sebenarnya kehilangan anting ini di lokasi kejadian. Bisa saja anting itu milik anggota keluarga Conti lainnya."
Lorong tersebut mendadak sunyi. Adam menatap layar ponsel tanpa berkedip. Selama ini, ia begitu yakin bahwa Gia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Veronika. Ia bahkan menggunakan keberadaan perempuan itu di dalam mobil sebagai dasar untuk menuduhnya. Namun, bukti yang disodorkan Marco mulai menggoyahkan keyakinannya.
"Kalau begitu, kita pergi ke kediaman Conti sekarang."
Marco mengangkat wajah, "Tuan?"
Adam mengembalikan ponsel itu dengan gerakan kasar.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Sadam Conti. Jika memang ada seseorang dari keluarganya yang terlibat dalam kematian Veronika, aku akan memastikan mereka bertanggung jawab."
Sorot matanya menggelap.
"Biarkan mereka tahu siapa Adam Lorenzo Maxnore."
Marco tidak segera menjawab. Ia memahami kemarahan majikannya, tetapi masih ada satu hal penting yang belum disampaikannya.
"Tuan, ada satu hal lagi."
Adam menoleh tajam, "Apa lagi?"
Marco mengeluarkan perangkat penyimpanan kecil dari saku jasnya.
"Saya juga sudah memeriksa mobil yang digunakan Nona Gia pada hari kecelakaan. Kami menemukan rekaman yang tersimpan di sistem dasbor kendaraan tersebut."
Kali ini, Adam benar-benar terdiam, "Rekaman apa?"
"Rekaman percakapan." Marco menatap Adam dengan serius.
"Sistem dasbor mobil itu ternyata masih menyimpan rekaman suara dari dua orang yang berada di dalam kendaraan sebelum kecelakaan terjadi. Kami sedang memastikan keseluruhan isi rekamannya, tetapi bagian yang berhasil kami pulihkan menunjukkan bahwa ada percakapan antara dua orang perempuan."
Adam menatap perangkat penyimpanan di tangan Marco.
"Dua orang perempuan?"
"Benar, Tuan."
"Apakah kau tahu siapa mereka?"
"Belum bisa dipastikan hanya dari suara tersebut. Namun, saya sedang mencocokkannya dengan rekaman suara yang tersedia."
Adam mengulurkan tangannya, "Berikan kepadaku."
Marco menyerahkan perangkat itu, tetapi tidak langsung melepaskannya.
"Tuan, ada sesuatu yang perlu Anda pertimbangkan."
"Apa?"
"Saya yakin Nona Gia bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab pada kecelakaan ini,"
Tatapan Adam berubah semakin tajam. Marco melanjutkan dengan hati-hati.
"Keberadaan anting di lokasi kecelakaan, rekaman percakapan dua orang perempuan, dan keterangan saksi mengenai seseorang yang meninggalkan tempat kejadian setelah tabrakan, semuanya menunjukkan bahwa masih ada bagian dari kejadian itu yang belum kita ketahui."
Ia berhenti sejenak, "Karena itu, saya meminta izin untuk melanjutkan penyelidikan sebelum kita mengambil tindakan terhadap keluarga Conti."
Adam tidak menjawab. Pikirannya kembali tertuju pada Gia yang berada di dalam kamar. Ia teringat wajah pucat perempuan itu, suaranya yang semakin lemah, dan bagaimana ia tidak lagi memohon agar dibebaskan.
Adam mengepalkan tangannya. Selama ini, ia menganggap sikap diam Gia sebagai bentuk pengakuan atas kesalahannya. Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak. Ia belum bisa mempercayai Gia begitu saja. Kematian Veronika tetap merupakan luka yang tidak akan pernah bisa ia terima. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan bukti yang mulai bermunculan.
"Baik," ucap Adam akhirnya, suaranya rendah dan tegas. "Lanjutkan penyelidikan. Periksa rekaman itu sampai tidak ada satu pun bagian yang terlewat."
Marco mengangguk, "Baik, Tuan."
"Dan jangan katakan apa pun kepada Gia tentang temuan ini."
"Apakah Tuan masih mencurigainya?"
Adam terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
"Aku belum mengubah pendirianku."
Ia menatap pintu kamar di belakangnya.
"Tapi aku ingin tahu siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Veronika."
Marco menunduk hormat, "Saya akan menemukan jawabannya, Tuan."
Setelah Marco pergi untuk melanjutkan penyelidikan, Adam tetap berdiri di lorong.
mau tau apa itu Marco....,, japri emak yaaa 🤣🤣🤣🤣🤫