Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: SEMBILAN PULUH DETIK
#
Di bawah kursi Raden, lampu merah itu berubah menjadi angka.
**90.**
**89.**
Alexander yang pertama sadar. Ia menatap ponsel hitam di tangannya, lalu menempelkannya ke telinga. Wajahnya putih.
"Tuanku? Saya masih di dalam. Anak buah saya juga di dalam."
"Aku tahu," jawab suara itu, tenang. "Kamu terlalu banyak bicara, Alexander."
Alexander melempar ponselnya ke lantai. "Gandara! Keluar! *Sekarang!*"
Sebelas orang berjaket kulit bubar dalam sekejap. Mereka berebut pintu belakang, saling dorong, sepatu menginjak tegel pecah. Kenzo melihat punggung jas putih gading itu menghilang di balik pintu, ditarik Gandara seperti karung.
Ia tidak mengejar. Ia berlari ke arah sebaliknya.
**78.**
Rusuk kanannya menjerit di langkah ketiga. Ia terus berlari.
"Pergi, Nak!" Raden menggeleng keras. "Ini untuk aku, bukan untuk kamu!"
"Diam."
Kenzo menyayat tali di pergelangan Raden dengan pisau kecilnya. Tali putus, tapi ada rantai baja tipis yang melilit pinggang Raden dan terkunci ke tiang besi di belakang kursi. Kabel hitam dari bom di bawah kursi menempel ke gemboknya. Ia menyayat rantai itu. Pisaunya hanya meninggalkan goresan putih.
**61.**
"Kabelnya terhubung ke gembok," kata Raden, napasnya cepat. "Kalau rantai dipotong sembarangan, langsung meledak."
"Terus gimana?"
"Aku tidak tahu! Pergi!"
"Aku bukan Victor, Don." Suara Kenzo pecah. "Aku nggak ninggalin orang."
Pintu samping menjeblak. Silva masuk dengan dua orang Mata Senja di belakangnya. Salah satunya membawa tas kanvas panjang. Matanya menyapu ruangan dalam satu detik, ke angka merah, ke rantai, ke Kenzo.
"Aku sudah bilang jangan sendirian!"
"Aku nggak sendirian. Kamu datang."
Silva terdiam setengah detik. Lalu ia berlutut di sisi Kenzo, menyambar pemotong baut dari tas, dan membaca kabel itu seperti membaca peta.
"Ini jebakan dua lapis. Yang merah umpan." Jarinya menunjuk kabel biru tipis di balik gembok. "Potong yang ini dulu. Kenzo, tahan rantainya supaya tidak bergetar."
**34.**
Kenzo menahan rantai dengan kedua tangan. Rusuknya terasa seperti ditusuk dari dalam. Silva menggigit bibir bawah dan menekan pemotong.
*Krek.*
Tidak ada ledakan. Lampu merah berkedip dan angkanya tetap menurun.
**21.**
"Sekarang rantainya!"
*Krek. Krek.*
**13.**
Rantai jatuh berkelontang. Kenzo menyambar lengan Raden dan menariknya berdiri. Kaki lelaki tua itu lemas karena sudah dua hari diikat. Tanpa berpikir, Kenzo memanggulnya ke bahu. Ia mendengar sesuatu di dadanya patah sekali lagi.
"Kenzo, lepaskan, kamu..."
"*Lari!*"
Mereka menerjang pintu samping. Silva di depan, dua anak buahnya di belakang. Kenzo menyeret langkah keenam, ketujuh, kedelapan. Dari belakang terdengar bunyi pendek, *bip bip bip bip*, lalu sunyi.
---
Dunia putih.
Tekanan menghantam punggungnya seperti tangan raksasa. Telinga Kenzo berdenging. Ia terlempar ke aspal, Raden terlepas dari bahunya. Sesuatu yang hangat dan berat menimpanya, dan ia mencium bau kayu cendana.
Di belakang mereka Menara Jam berguncang. Atapnya runtuh, dan lonceng tua yang sepuluh tahun mati jatuh ke lantai bawah dengan dentang terakhir yang berat dan sumbang. Debu bergulung keluar dari pintu seperti napas yang terlalu lama ditahan.
Kenzo membuka mata. Wajah Silva ada tepat di atasnya, rambutnya terlepas dari sanggul, darah mengalir dari pelipis ke dagu. Ia menutupi Kenzo dengan seluruh tubuhnya.
"Kamu hidup?" suaranya serak.
"Aku yang harusnya nanya."
"Aku sudah bilang aku tidak pernah..." Silva berhenti. Tangannya yang bersarung menyentuh pipi Kenzo, menepuknya pelan, memeriksa. Ia menarik tangannya terlalu lambat. "Pendengaranmu?"
"Berdenging."
"Itu normal."
"Kamu juga berdarah."
"Itu... normal juga." Ia bangkit dengan susah payah. Telinganya merah, entah karena ledakan atau karena hal lain.
Kenzo menoleh. Raden tergeletak tiga meter darinya.
---
Ia merangkak. Kemeja putih Raden sudah merah dari pinggang sampai bahu. Pecahan baja menancap di punggungnya, dan darah mengalir pelan ke selokan.
"Don." Kenzo menarik kepala Raden ke pangkuannya. "Don, lihat aku. Dokter Wening sepuluh menit dari sini. Silva, mobilnya!"
"Kenzo." Raden terbatuk. "Cukup."
"Nggak. Belum."
"Anak keras kepala." Bibir lelaki tua itu bergetar, hampir tersenyum. Kacamata bundarnya sudah hilang. Tanpanya wajah itu tampak jauh lebih tua. "Dengarkan aku. Dua belas detik tadi... aku sempat berpikir kamu akan lari. Orang-orang selalu lari."
"Aku bukan orang-orang."
"Ya. Kamu bukan." Raden menarik napas pendek. "Dengar. Ada dua orang. Yang bicara di pengeras suara tadi... yang membangun Menara... bukan orang yang menyuruh Victor menjagamu. Jangan samakan mereka. Yang satu membuangmu. Yang satu... tidak pernah berhenti mencarimu."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu namanya. Sungguh." Matanya bergeser ke langit pagi yang mulai abu-abu. "Papan caturku. Raja putih. Putar kepalanya. Ada yang kusimpan untuk Victor... dua puluh tahun. Dia tidak pernah datang mengambilnya."
"Don, jangan bicara dulu..."
"Aku salah soal Rendra, Nak." Suaranya tipis seperti kertas. "Aku bukan minta kamu maafkan. Cuma... jangan jadi aku."
Kenzo menggeleng. Rahangnya terkunci. Ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan, dan akhirnya hanya satu yang keluar.
"Jangan mati."
Raden tertawa kecil, basah dan pelan. Matanya menatap wajah Kenzo lekat-lekat, seperti orang yang akhirnya diberi izin meletakkan papan catur di tengah permainan.
"Tiga puluh tahun... akhirnya ada langkah."
Dadanya naik sekali, lalu diam.
Kenzo tidak bergerak. Ia sudah pernah melakukan ini di lorong rumah Budiawan dan di bawah pohon mangga. Tangannya tahu apa yang harus dilakukan. Ia menutup kelopak mata itu dengan dua jari, pelan. Matanya sendiri kering. Itu yang membuatnya takut.
Di belakangnya, Silva berdiri diam. Ia tidak mengucapkan apa pun, tidak menyentuhnya. Ia hanya melepas mantel abu arangnya dan menyampirkannya di atas tubuh Raden sampai ke dagu.
---
"Alexander kabur lewat gang belakang." Salah satu anak buah Silva berlari mendekat, napas tersengal. "Rocco kena ban kirinya, tapi Gandara tetap bawa mobilnya. Arah selatan."
"Pelabuhan," kata Silva. Wajahnya sudah dingin lagi, tapi suaranya belum. "Kapalnya Sri Mandala. Dia akan lari ke laut."
"Dia tidak akan sempat." Kenzo berdiri. Rusuknya terasa seperti dibelah dua, dan ia memaksa tubuhnya tegak. "Aku butuh orang-orangku. Jack, Vito, Tony, Dante, semuanya."
"Kenzo, kamu tidak bisa berdiri."
"Aku lagi berdiri."
"Kamu muntah darah."
Kenzo menyeka bibirnya. Telapaknya merah. Ia tidak menanggapi.
Telepon di sakunya bergetar. Nama di layar: **DANTE.** Ia menjawab.
"Bos." Suara perempuan itu, yang biasanya setenang air, kali ini tipis dan tergesa. "Aku harus bilang sekarang, sebelum kamu masuk ke apa pun lagi. Axel nggak ada."
Kenzo berhenti bernapas.
"Aku cek kamera klinik. Dia keluar dari ruang belakang jam tiga empat puluh. Sendirian. Bawa kaleng yang asli. Nggak ada yang nodong, nggak ada yang nyeret. Dia jalan keluar sendiri dan naik ke mobil hitam di ujung gang."
"Bohong."
"Aku lihat sendiri, Bos."
"Suara dia di earpiece tadi..."
"Itu pesan terjadwal. Dia pasang sebelum pergi. Tabletnya ketinggalan di meja, masih ngirim sinyal." Dante menelan ludah. "Ada catatan di sebelahnya. Tulisan tangan. Aku foto."
Telepon bergetar sekali. Foto masuk.
Selembar kertas dari buku catatan klinik. Tulisan Axel, rapi dan miring ke kanan seperti dulu waktu ia menulis jawaban di tanah dengan jari.
*Aku buka kalengnya. Aku harus tahu sendiri dulu.*
*Jangan cari aku, Kenzo. Kali ini serius.*
*— A.*
Kenzo membaca tulisan itu dua kali. Tiga kali.
"Dante," katanya pelan. "Di sekitar catatan itu. Ada piring? Gelas? Apa pun yang terbalik?"
Jeda panjang di seberang.
"Aku cek semuanya, Bos." Suara Dante mengecil. "Nggak ada yang terbalik."
Kenzo menurunkan telepon. Pagi Kota Tua perlahan terang di sekelilingnya. Orang-orang mulai berani membuka pintu, menatap debu yang naik dari puing menara dan sosok berselimut mantel di jalan. Seorang ibu menarik anaknya masuk dan menutup tirai.
Silva menatapnya dari satu meter, tidak berani mendekat.
"Kenzo?"
Ia tidak menjawab. Kode itu dibuat umur dua belas, di rumah yang kini hanya berisi tiga piring dan satu yang terbalik. Piring terbalik artinya *yang tertulis di sini bohong*. Kalau tidak ada yang terbalik, berarti Axel tidak berbohong.
Axel pergi dengan kakinya sendiri.
---
*Bersambung ke Bab 29*