Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Trik menjatuhkan seseorang
Warning!!!
Novel ini tidak diperuntukkan untuk anak dibawah usia 20!
Mohon kebijaksanaan pembaca.
...****************...
Di sebuah pegunungan terpencil di tepi sungai, dua tenda kemping berdiri di tengah derasnya hujan badai malam hari itu.
Sebuah tenda yang lebih besar memuat 3 orang dan satu lainnya adalah tenda yang lebih kecil hanya muat untuk satu orang saja.
Jingga duduk di dalam tenda kecil sambil memeluk kedua lututnya dengan tenda yang bocor di mana-mana membuat air hujan membasahi seluruh isi tenda tersebut.
Rambut Jingga telah basah kuyup, mantel yang ia kenakan juga cukup tipis sehingga tidak bisa mencegahnya basah kuyup oleh air hujan yang menggenang masuk ke tenda.
Di tengah keputusasaannya sendirian hanya bisa memeluk diri sendiri, Jingga tiba-tiba membuka matanya dan mengerjakannya beberapa kali.
"Ini..." Jingga melihat sekitarnya sebelum menyadari sesuatu dan akhirnya mengeluarkan sebuah cermin kecil dari sakunya.
Melihat wajahnya yang tampak pucat namun luka bakar yang ada di separuh wajahnya telah hilang, Jingga akhirnya menyadari sesuatu.
"Aku benar-benar kembali ke 1 bulan sebelum hari penobatan!" Jingga tidak lagi merasa kedinginan, saat ini dipenuhi amarah dan aura balas dendam yang sangat kuat.
Tatapannya tertuju pada kancing tenda yang telah rusak membuat angin menembus masuk ke dalam tenda semakin menggigil kan seluruh tubuhnya.
Sudah basah kuyup begini, Jingga keluar dari tenda dan merasakan perihnya kulitnya terkena tetes tetes air hujan yang begitu deras.
Jingga berdiri menatap tenda besar di sampingnya, sedikit bergoyang.
Di dalam tenda itu ada adik angkat Jingga dan dua pemuda yang dari kecil dibesarkan orang tua Jingga.
Apa yang mereka lakukan? Tentu saja hal tak senonoh lagi!
"Sebelumnya mereka sengaja melakukan undian untuk menentukan posisi tempat tidur tetapi mereka memang sudah berencana untuk membuatku tidur sendirian di tenda kecil yang rusak ini. Baiklah, nikmati malam damai terakhir kalian, karena mulai besok aku akan mengambil kembali satu persatu yang seharusnya menjadi milikku!" Kata Jingga sambil tersenyum dingin lalu berbalik menerobos dinginnya hujan menuju mobil van yang berjarak 10 m dari tenda mereka.
Setelah masuk ke mobil van, Jingga menyalakan pemanas pada mobil dan segera membersihkan tubuhnya lalu berbaring beristirahat dengan nyaman.
"Dulu aku benar-benar bodoh percaya pada mereka hingga segala milikku direbut mereka. Tapi kali ini, aku tidak akan tertipu lagi! Bisa-bisanya mereka menikmati malam hangat dan membiarkanku kedinginan sendirian di tenda rusak itu. Lihat saja apa yang akan kulakukan untuk membalas kalian!" Jingga mengepal kuat tangannya dengan rencana besar di kepalanya.
Pada keesokan harinya ketika Jingga terbangun, dia mendapati dirinya sedang demam tetapi tidak mempedulikan segalanya, Dia menurunkan sedikit kaca jendelanya dan menghirup udara segar di pegunungan.
Tatapan Jingga kemudian tertuju pada tenda yang tak jauh dari mobil tempat ia berada, orang-orang di sana masih menikmati tidur mereka, tetapi itu sama sekali tidak mempengaruhi Jingga, dia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi layanan penyedia jasa kemping yang mereka sewa.
"Saya membatalkan seluruh layanan camping yang telah saya pesan sebelumnya, tolong sebelum makan siang hari ini bereskan semuanya," ucap Jingga ada orang di seberang telepon.
'Aku tahu kalian akan bermain ke gunung sampai sore hari, kalau begitu, pulanglah berjalan kaki. Lagi pula ramalan cuaca nanti siang akan ada hujan deras,' kata Jingga dalam hati, sudah membayangkan bagaimana penderitaan yang akan dialami ketiga orang tak tahu diri itu.
Setelah menyelesaikan panggilan telepon itu, Jingga menyimpan ponselnya lalu turun dari mobil dan memilih berjalan-jalan di pinggir sungai.
Saat sedang dia memandangi aliran air yang sudah lebih deras dari hari sebelumnya, suara langkah kaki mendekat membuat Jingga berbalik dan mendapati adik angkatnya mendekatinya.
Perempuan bernama Tasya itu tersenyum sambil berkata, "Kakak, bagaimana tidurmu semalam? Tidurku sangat nyenyak, Brian dan Arga menjagaku dengan sangat baik."
Sambil berbicara, Tasya sengaja menyingkirkan rambut yang menutupi lehernya sehingga terlihat bekas kissmark yang ditinggalkan Arga dan Brian kemarin malam.
Jingga tersenyum, "hanya ini yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan Arga dan Bryan? Kalau begitu sih, pelaccur di pinggir kota juga bisa," kata Jingga mengejek.
Wajah Tasya seketika memucat dan matanya melotot menatap perempuan di hadapannya.
Bukankah harusnya Jingga menangis mengetahui fakta dia sudah tidur bersama Bryan dan Arga?
Jingga begitu mencintai Arga, sudah sejak kecil semua orang tahu itu!
Tapi kenapa sekarang...?
Tasya memperbaiki raut mukanya, meyakinkan dirinya, 'Dia pasti hanya iri saja, sengaja berpura-pura kuat, padahal dalam hati dia sangat marah. Kalau begitu, jangan salahkan aku!'
Tasya berkata, "Arga dan Bryan sudah berjanji padaku untuk menjagaku seumur hidup, aku bahkan sudah memberikan diriku pada mereka, jadi kau sebaiknya tahu diri dan tidak usah mengganggu mereka berdua lagi. Soal perjodohan yang ditentukan keluarga Amazon itu, entah itu anak kandung atau anak angkat yang mendapatkannya, bukankah sama saja? Jadi, sadar dirilah dan jangan pernah berpikir untuk memiliki mereka berdua!"
Jingga tertawa kecil, "Hi hi... Sadar diri? kata-kata itu seharusnya ditunjukkan pada orang lain, aku adalah pewaris sejati keluarga Amazon, tidak mungkin takut pada seseorang yang hanya dipungut beberapa tahun yang lalu! Juga, kalau kau begitu menyukai mereka berdua, maka aku dengan baik hati akan membantu kalian bertiga bersama-sama seumur hidup, sampah memang cocoknya di tempat sampah!"
"Kau!" Tasya sangat marah dengan ucapan Jingga itu, dia mengangkat tangannya untuk menampar Jingga, "Beraninya kau!" tetapi sebelum mendaratkan pukulannya, Tasya melihat kancing resleting tenda kemping sedang dibuka oleh Arga jadi Tasya menahan tangannya dan beralih menarik baju Jingga.
"Kakak, tidak! Aku salah, tolong maafkan aku, tapi aku tidak bisa berenang!" suara Tasya begitu putus asa saat ia menarik Jingga ke tengah sungai.
"Apa yang kau lakukan?" Jingga sangat terkejut, saat ini aliran sungai begitu deras, mereka bisa-bisa mati kalau sampai terseret ke sana.
"Tidak kakak! aku tidak bisa berenang, tolong jangan lakukan ini!" Tasya tersenyum kecil sambil menarik tubuh Jingga hingga mereka berdua terjatuh ke aliran sungai yang paling dalam.
"Akhh!! Tolong!!!" Tasya berteriak keras membuat Arga yang berlari ke arah keduanya langsung panik melihat dua perempuan itu terbawa air sungai.
"Tasya!" teriak Arga panik membuat Bryan yang masih di dalam tenda juga akhirnya terbangun dan menyusul Arga.
"Kak Arga tolong!" Tasya berteriak dengan wajah putus asanya sambil berusaha untuk tetap menjaga kepalanya berada di atas permukaan air.