"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Suara mobil yang berhenti di depan pagar rumah membuat Bu Hana menoleh. Saat itu ia sedang menyiram tanaman di halaman. Sebuah mobil mewah berwarna hitam.
Bu Hana mengernyitkan dahi. Siapa yang datang?
Belum sempat ia mematikan keran, ia melihat pintu mobil tersebut terbuka.
Seorang perempuan keluar dari mobil. Bu Hana terdiam. Wanita yang mengenakan kaca mata hitam tersebut membuka kaca matanya, menatap ke arah pintu rumahnya. Sepertinya tidak menyadari keberadaannya, terlalu fokus menatap pintu rumah.
Bu Hana mematikan keran, ia hendak menghampiri wanita itu tapi tiba-tiba, pintu rumah terbuka. Budi keluar.
"Jena!"
Begitu melihat mobil tersebut, wajah Budi langsung berubah cerah. Tadi pagi Jena bilang minta dijemput di rumah malam hari, tapi satu jam yang lalu, Jena tiba-tiba berubah pikiran, bilang akan datang sendiri ke rumah Budi. Dan baru saja, gadis itu menelepon kalau sudah ada di depan rumahnya.
Jena? Bu Hana kaget.
Budi berjalan menghampiri Jena. "Bu, Jena udah datang." Memberitahu Ibunya yang masih bengong di halaman.
Jena membuka bagasi, mengeluarkan beberapa barang dari sana, buah tangan.
Budi langsung membantu mengambil beberapa tas.
"Kenapa bawa sebanyak ini?"
"Biar disayang calon mertua."
"Nyogok nih ceritanya." Budi terkekeh.
Bu Hana mengeringkan tangan menggunakan daster rumahannya, lalu merapikan penampilan. Budi bilang Jena datang malam ini, kenapa tiba-tiba sudah ada di depan rumah saja. Ia masih berdiri di dekat tanaman, memperhatikan Budi dan Jena yang memasuki halaman, dengan beberapa bingkisan di tangan.
Bu Hana menatap Jena lagi. Calon istri Budi ternyata...orang kaya? Ia sama sekali tidak menyangka itu. Ia fikir, Jena hanya gadis biasa, sama seperti Budi. Ia meremat daster, mulai gelisah.
"Bu."
Suara Budi membuatnya tersadar. "I, iya."
"Ini Jena." Budi tersenyum.
"Jena, ini ibuku."
Jena menatap wanita tersebut, yang awalnya tadi ia fikir adalah ART di rumah Budi. Ia sampai lupa, jika calon suaminya orang biasa, yang mungkin tak punya ART seperti di rumahnya.
Bu Hana mendekat, Jena buru-buru meraih tangannya, menciumnya.
"As, assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam." Bu Hana membalas senyum, meskipun terlihat sedikit kaku.
Budi menahan tawa, mendengar suara Jena yang bergetar. Sepertinya wanita itu memang benar takut.
"Jadi kamu Jena."
"Iya, Bu."
"Ayo masuk."
Jena mengikuti Budi masuk ke rumah. Mereka bertiga duduk di ruang tamu setelah meletakkan semua oleh-oleh di atas meja.
Jena terlihat sangat sopan. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan. Sesekali ia melirik Budi, seolah mencari keberanian dari laki-laki itu.
Sementara Budi, malah pengen ketawa melihat Jena gugup. Gadis itu makin terlihat cantik kalau sopan dan bicaranya lembut seperti ini. Semoga saja, Jena gak keceplosan sombongnya.
"Kamu jangan tegang begitu." Bu Hana bisa menyadari itu. "Biasa saja."
Jena tersenyum malu. "I, iya Bu."
Bu Hana menatap oleh-oleh di atas meja. Dari brand di tasnya, ia tahu itu kue-kue mahal. Ada juga parsel buah.
"Makasih buah tangannya, tapi..."
"Tapi apa, Bu?" Jena panik.
"Apa gak terlalu banyak." Bu Hana tersenyum. "Kami hanya tinggal bertiga disini, Ibu, Budi, dan Alena, keponakan Budi. Bener kata Alena, ternyata kamu cantik sekali."
Jena tersenyum dipuji seperti itu.
Percakapan kemudian berjalan perlahan. Bu Hana bertanya bagaimana Jena bisa mengenal Budi. Biasanya, jodoh itu kurang satu circle, satu kalangan. Orang kaya dengan orang kata, miskin dengan miskin, begitulah yang ia tahu, tapi ini...
"Jena ini, dulu kakak tingkat Budi di kampus, Bu."
"Oh.." Bu Hana akhirnya faham bagaimana mereka bisa kenal. Dulu Budi memang kuliah di kampus elit, jadi wajar jika kakak tingkatnya orang kaya.
Mereka lanjut mengobrol, kali ini Bu Hana bertanya-tanya soal keluarga dan pekerja Jena. Sampai akhirnya, ia bertanya tentang sesuatu yang mengganjal di fikiran.
"Orang tua kamu...tahu hubungan kalian?"
Jena mengangguk. "Tahu, Bu."
"Apa mereka juga sudah tahu apa pekerjaan Budi?"
"Sudah."
Bu Hana terdiam sebentar. Namun dari wajahnya, Jena bisa melihat ada sesuatu yang sedang dipikirkan perempuan itu.
Jawaban Jena tadi, membuat Bu Hana sedikit lega, tapi belum benar-benar lega.
"Jena..." Bu Hana menatap Jena dalam.
"Iya, Bu."
"Apa...kalau nanti Budi datang melamar, orang tua kamu akan menyetujuinya?" Wanita kaya menikah dengan laki-laki miskin, menurutnya itu sangat jarang terjadi.
Jena tersenyum kaku. "Insyaallah, Bu." Sebenarnya ia sendiri belum yakin, tapi tak mungkin mengatakan itu.
Bu Hana mengangguk, tapi wajahnya masih terlihat gelisah. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tentang keluarga Jena. Tentang kehidupan mereka. Tentang apakah keluarga itu benar-benar bisa menerima Budi. Namun ia menahan diri. Ia tidak ingin pertemuan pertama berubah menjadi sesi tanya jawab yang membuat Jena semakin tidak nyaman.
Bu Hana hanya berkata pelan. "Terus terang, tadi waktu melihat mobil kamu, Ibu sempat kaget."
Jena tertawa kecil.
"Ibu baru tahu kalau ternyata kamu orang kaya. Budi tak ada cerita soal itu." Ia menatap Budi sekilas. "Jujur Jena, Ibu kepikiran soal itu."
"Maksud Ibu?" Jena mengernyit.
Bu Hana menghela napas pelan. "Jena, Ibu mau bilang sesuatu."
Nada suara Bu Hana membuat Jena kembali duduk lebih tegak. Suasana yang tadi sudah mulai menurunkan ketegangannya, kini kembali lagi.
"Kondisi keluarga kami ya seperti ini." Bu Hana mengedarkan pandangan ke ruang tamu sederhana itu. "Enggak kaya. Rumah juga biasa saja. Budi sampai sekarang masih kerja keras dari pagi sampai malam. Ngojek, jualan roti bakar, kadang ambil pekerjaan lain kalau ada."
Jena hanya mendengarkan.
"Ibu enggak mau setelah menikah nanti kamu kaget. Kehidupan Budi ya seperti ini. Enggak bisa memberikan kemewahan seperti yang mungkin selama ini kamu dapatkan."
Bu Hana kemudian bertanya dengan hati-hati. "Kamu yakin, mau menikah sama Budi?"
Jena menoleh pada Budi. Ia memang tak ada niatan menikah dengan Budi awalnya, tapi semua sudah berjalan cukup jauh, tak mungkin ia bilang tidak. Jena mengangguk. "Yakin."
Bu Hana tersenyum kecil. "Enggak mau berpikir dulu?"
Jena menggeleng. "Saya sudah memikirkannya." Melirik Budi.
Jawaban sederhana itu membuat Bu Hana terdiam.
Budi yang duduk di samping Jena tersenyum kecil.
"Astaga!" Bu Hana baru teringat sesuatu. "Ibu sampai lupa tidak membuatkan kamu minum." Ia tertawa pelan, begitu pun dengan Jena dan Budi. "Maaf ya, Jena."
"Tidak perlu minta maaf, Bu. Saya gak haus kok."
"Yakin gak haus?" Budi menatap Jena yang duduk di sampingnya. "Dari tadi aku lihat, kamu nelen ludah sambil basahin bibir terus."
"Hehehe, sedikit sih." Jena tak bisa bohong.
"Aku ambilin minum buat kamu ya." Budi bangkit, berjalan menuju dapur.
"Jena, sekali lagi maaf ya. Budi bilang kamu datangnya malam, tahunya masih sore gini. Ibu jadi belum nyiapin apa-apa. Kamu gak buru-burukan?"
"Enggak, enggak kok, Bu."
"Baguslah, kalau gitu, ikut makan malam disini ya. Sekalian nanti kenalan sama Alena, ponakannya Budi, anaknya masih les sekarang."
Jena mengangguk.
Budi kembali dengan segelas air putih di tangannya. "Mau aku bikinin teh, takutnya kamu gak minum manis, takut gemuk."
"Halah, alesan. Bilang aja kamunya males, Bud." Bu Hana geleng-geleng.
Jena menerima gelas yang disodorkan Budi, meneguk isinya sampai habis tak tersisa.
"Katanya gak haus." Budi menahan tawa.
"Hah!" Jena menatap gelas kosong di tangannya, lalu tersenyum malu-malu. Sejujurnya, ia haus sekali. Gugup membuat tenggorokannya terasa kering.
"Ya udah, kalian ngobrol aja dulu, Ibu ke dapur dulu, masak."
"Mau Jena bantuan gak, Bu?"
Mata Budi seketika membulat. Jena mau membantu Ibunya masak? Apa gak salah? Kemarin megang spatula untuk panggang roti aja, kaku banget, yakin bisa masak?
"Boleh, ayo ke dapur."
Mampus! Jena tersenyum kaku. Padahal ia hanya basa-basi, kirain Bu Hana bakal bilang gak usah. Astaga, kalau seperti ini, apa namanya gak bunuh diri?
Nanti kalian saling jatuh cinta 🌹🌹🌹