NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Misteri Pria di Gang Sempit

Matahari mulai meninggi di luar RSUD Bina Husada, menyinarkan cahaya hangat yang kontras dengan suasana dingin di area pemulasaraan jenazah.

Arya duduk di bangku kayu ruang istirahat petugas. Di tangannya menggenggam secangkir kopi hitam yang sudah membeku, karena dibiarkan tak tersentuh sejak setengah jam lalu.

Pikirannya melayang kembali pada jasad pria paruh baya yang diurusnya dini hari tadi, jasad pertama yang memicu penglihatan magis ini.

"Siapa pria itu sebenarnya?"

Arya merogoh saku celananya, dan mengeluarkan catatan kecil bertinta hitam. Dini hari tadi, setelah mengolah ingatan mengerikan itu, ia sempat mencatat detail nama dan barang peninggalan almarhum sebelum dokumennya dikembalikan ke bagian administrasi.

Nama: Bambang Gunawan (54 tahun)

Pekerjaan: Jurnalis Senior / Investigator

Sebab Kematian Resmi: Serangan Jantung Mendadak

"Serangan jantung yang sempurna, Pak Tua," suara pria berjas hitam dalam penglihatannya kembali bergema di kepala Arya.

Arya mengepalkan tangannya. Itu bukan kecelakaan. Itu bukan penyakit. Itu adalah pembunuhan berencana yang sangat rapi dan dingin.

Pembunuh itu menggunakan zat kimia terlarang yang merekayasa gejala serangan jantung tanpa meninggalkan jejak kasat mata bagi pemeriksaan medis biasa.

Dan yang lebih mengerikan, Bambang Gunawan adalah seorang jurnalis investigator yang tengah mengusut kasus korupsi proyek pembangunan infrastruktur kota.

"Kamu melamun lagi, Ya?"

Suara Teguh memecahkan keheningan. Seniornya itu berjalan masuk sambil membawa berkas rekam medis baru, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Arya.

"Mas Teguh..." panggil Arya pelan, dan mencoba menyusun kalimat yang tidak menimbulkan kecurigaan. "Jasad Pak Bambang yang tadi malam... apa keluarganya sudah datang mengambilnya?"

Teguh mengerutkan dahi, dan mengingat-ingat. "Oh, Pak Bambang jurnalis itu? Sudah. Tadi pagi jam delapan langsung dibawa ambulans pihak keluarga. Tapi... agak aneh sih."

"Aneh kenapa, Mas?" cecar Arya, seraya condong ke depan.

"Prosesnya cepat sekali. Biasanya kalau ada kematian mendadak di tempat umum seperti taman kota, pihak keluarga atau polisi minta otopsi luar dan dalam. Tapi tadi ada surat penolakan otopsi yang ditandatangani langsung oleh pihak keluarga dan disetujui pejabat kepolisian sektor. Mereka bilang almarhum memang punya riwayat penyakit jantung." Teguh menggeleng-gelengkan kepala. "Seperti ada yang terburu-buru ingin jasad itu segera dimakamkan."

Dada Arya berdesir. Konspirasi ini sudah merambah ke aparat. Pihak pembunuh tidak hanya mengeksekusi Bambang, tetapi juga memastikan jalur hukum ditutup serapat mungkin agar tidak ada otopsi yang bisa membongkar racun di dalam tubuhnya.

Pukul 15.00 WIB, shift kerja Arya akhirnya selesai. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian kasual, kaus hitam berlapis jaket denim dan celana jeans Arya melangkah keluar dari area RSUD Bina Husada.

Bukannya langsung pulang ke rumah untuk beristirahat, langkah kakinya justru menuntunnya menuju lokasi kejadian yaitu Taman Kota Wijaya.

Taman itu tidak terlalu ramai di sore hari. Hanya ada beberapa warga yang berolahraga ringan dan pedagang kaki lima.

Arya menyusuri jalan setapak berpapir hingga sampai di area belakang taman, sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding beton tinggi dan rimbunnya pohon beringin tua.

Ini adalah tempat yang persis sama dengan apa yang ia lihat dalam penglihatan ingatan Bambang.

Arya berdiri di sudut gang, dan merasakan bulu kuduknya berdiri. Suasana remang dan bau kelembapan tanah membuat ingatan malam itu membayang jelas. Ia berjalan perlahan, meneliti setiap senti tanah dan dinding bata di sekitarnya.

"Di sini tempat Pak Bambang tersudut... dan di sini tempat pembunuh itu berdiri."

Tiba-tiba, mata Arya menangkap kilatan kecil di selokan kering di bawah tumpukan daun gugur. Arya berlutut, dan menggunakan ranting kayu kecil untuk menyingkap dedaunan kering tersebut.

Sebuah tutup botol ampul kaca berukuran sangat kecil, merek obat medis yang biasanya digunakan untuk cairan injeksi dosis tinggi tergeletak di sana. Tampaknya pembunuh itu menjatuhkannya saat terburu-buru melarikan diri setelah menyuntikkan racun ke leher Bambang.

Arya menyapu pandangan ke sekeliling, dan memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya.

Dengan menggunakan sapu tangan kain dari sakunya, ia mengambil tutup ampul kaca itu tanpa menyentuh permukaan secara langsung, lalu membungkusnya rapi dan menyimpannya di saku jaket.

Saat Arya berdiri dan hendak melangkah keluar dari gang sempit itu, sebuah mobil SUV hitam berkaca gelap perlahan berhenti tepat di mulut gang, dan memotong jalan keluarnya.

Jantung Arya berdegup kencang secara mendadak.

Kaca mobil bagian depan perlahan turun. Seorang pria berbadan tegap dengan kacamata hitam menatap lurus ke arah Arya. Meski pria itu tidak turun dari mobil, aura intimidasinya terasa begitu mencekam.

"Mas," panggil pria itu dengan suara berat dan dingin. "Sedang cari apa di dalam gang? Area ini sedang dalam pemantauan."

Arya memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia menurunkan pandangan, dan bersikap berpura-pura seperti warga biasa yang kebingungan.

"Maaf, Pak. Kunci motor saya tadi sepertinya jatuh waktu saya lewat sini," jawab Arya dengan nada polos yang dibuat-buat.

Pria di dalam mobil menatap Arya dari atas ke bawah selama beberapa detik yang terasa begitu menyiksa. Keheningan itu pun sangat menekan.

"Segera pergi dari sini. Jangan berkeliaran di area ini lagi kalau tidak mau ada masalah," ujar pria itu datar sebelum mengangkat kembali kaca mobilnya dan melaju pergi meninggalkan kepulan asap knalpot.

Arya menghela napas panjang, seraya meremas jemarinya yang dingin. Pria berjas dan berbadan tegap itu... gaya bicaranya, cara menatapnya, sama persis dengan aura pembunuh yang ia lihat dalam ingatan Bambang.

Mereka sedang membersihkan area. Dan jika Arya tidak berhati-hati, ia tidak hanya akan menjadi penemu rahasia orang mati, tapi ia bisa menjadi mayat berikutnya yang menyimpan rahasianya sendiri di atas meja pemulasaraan.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!