Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam itu kembali meninggalkan luka yang sulit dijelaskan oleh Mia. Ia terbaring membelakangi Edo, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kamar kontrakan yang sempit terasa begitu sunyi, meskipun suara napas Edo terdengar jelas dari sebelahnya.
Mia menatap dinding dalam diam. Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada suaminya. Tentang rasa sakitnya. Tentang perasaannya yang selama ini sering diabaikan. Tentang bagaimana ia ingin diperlakukan bukan sekadar sebagai seorang istri yang harus selalu memenuhi keinginan suami.
Namun, setiap kali mencoba bicara, Mia selalu berakhir mengurungkan niat. Sebab Edo hampir tidak pernah benar-benar mendengarkannya. Lelaki itu hanya memikirkan dirinya sendiri.
Mia mengusap sudut matanya yang basah. "Kenapa kamu semakin berubah, Do?"
Dulu, Edo tidak seperti ini. Dulu, lelaki itu begitu perhatian kepadanya. Ketika Mia kelelahan bekerja, Edo akan bertanya apakah ia sudah makan. Ketika Mia sakit, lelaki itu bahkan pernah rela tidak masuk kerja demi mengantarnya berobat.
Namun, semua itu terasa seperti kenangan dari kehidupan yang berbeda.
Kini, Mia justru lebih sering merasa sendirian meskipun tidur di samping suaminya sendiri. Ia menarik napas panjang. "Apa aku sudah tidak berarti lagi buat kamu?" Tidak ada jawaban.
Edo sudah tertidur pulas. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Mia perlahan bangkit dari tempat tidur. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian kembali ke kamar dengan langkah pelan. Ia tidak ingin membangunkan Edo.
Setelah kembali berbaring, Mia menatap langit-langit kamar. "Ya Allah..." bisiknya nyaris tanpa suara. "Beri aku kekuatan." Ia memejamkan mata. Besok ia harus bekerja lagi. Ia tidak boleh larut dalam kesedihan.
Masih ada cicilan motor yang harus dibayar. Masih ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Masih ada impian ingin segera punya rumah yang harus ia wujudkan. Dan sebagai seorang istri, Mia merasa dirinya harus tetap bertahan.
Bagaimanapun juga, Edo adalah suaminya. Lelaki yang dulu ia pilih untuk menjadi teman hidupnya. Mia kembali mengusap pipinya. "Mungkin suatu hari nanti Edo akan berubah," gumamnya. "Allah Maha membolak-balikan hati. Dan aku yakin... Allah pasti akan membolak-balikan hati Edo juga. Dia pasti akan menjadi Edo yang dulu lagi. Yang mencintaiku dengan sepenuh hati." Dengan pikiran itu, akhirnya Mia mencoba memejamkan mata.
________
"Mi, mana duit yang seratus teh?"
Mia yang baru selesai memakai kerudung menoleh pada Edo yang sudah siap dengan seragam kerjanya. "Ada."
"Sini, buruan. Aku mau berangkat sekarang," desak lelaki itu.
"Iya." Mia memanjangkan tangan guna meraih tasnya. Mengambil dompet dan menarik dua lembar uang lima puluh ribuan dari sana. "Tapi beneran kamu bakal transfer uang yang Mama Dedah minta?"
"Beneran." Edo mengangguk mantap. "Kamu nggak usah mikirin itu," lanjutnya. "Aku berangkat ya."
"Iya."
Sebelum benar-benar pergi, Edo melirik Mia lagi. "Nanti malam aku nggak akan pulang. Aku mau menginap di rumah Ohang."
"Ada urus-"
"Jangan banyak tanya!" sela Edo menyerobot. "Aku nggak mau berdebat terus setiap pagi!"
Bibir Mia yang tadi terbuka, perlahan terkatup lagi.
"Aku pergi sekarang." Edo benar-benar keluar dari kamar.
"Huh! Sabar, Mia. Sabar..." Mia mengusap dadanya sendiri.
Beberapa menit kemudian, ia juga keluar dari kontrakan. Dan seperti kemarin, Rifki kembali menyapanya. "Mau berangkat, Teh?"
"Iya, A." Mia membalas sapaan itu. "A Iki mau berangkat juga?"
"Iya, Teh." Mulut Rifki sudah bersiap melontarkan perkataan lagi, tapi keburu terpotong oleh seruan dari seorang penghuni kontrakan yang baru pulang shift pagi.
"Teh Mia, kalau mau ke pabrik, mending jangan naik angkot!"
Mia dan Rifki menoleh serentak ke arah suara. "Memangnya kenapa A Jamal?" tanya Mia heran.
"Ada kecelakaan beruntun di depan, Teh. Angkot sama bus, terus nabrak dua mobil pribadi," jelas Jamal.
"Innalillahi!" Mia dan Rifki sontak memekik secara bersamaan, kemudian saling melirik.
"Ada korban, nggak?" tanya Rifki mengalihkan pandangan lagi pada Jamal.
"Banyak, Ki. Makanya macet. Polisi dan ambulans datang silih berganti. Belum lagi para warga yang melihat."
"Ya Allah..." Lagi-lagi dua orang itu berkata kompak.
"Teh Mia mending naik ojek saja," saran Jamal. "Kalau pakai motor kan masih bisa lewat jalan pintas. Nggak perlu ikut terjebak macet di jalur utama."
Mia tersentak kecil. "Ojek?" Pikirannya langsung tertuju pada isi dompet yang tinggal seratus dua puluh ribu. Hanya itu uang yang tersisa setelah tadi ia memberikan seratus ribu kepada Edo.
Kalau sebagian uang itu dipakai untuk ongkos ojek, belum tentu cukup sampai gajian minggu depan.
Mia terdiam cukup lama. Di satu sisi, ia takut terlambat masuk kerja. Namun, di sisi lain, ia juga tidak mungkin menghabiskan uang yang tinggal sedikit itu.
Rifki angkat bicara. "Teh, kita berangkat bareng saja, ya?" Mia langsung menoleh. Rifki tersenyum ramah. "Daripada Teteh naik ojek. Harus nunggu lama, ini juga udah siang. Nanti Teteh telat."
Mia menggigit bibir bawahnya. Selama ini, ia selalu menolak setiap kali Rifki menawarkan tumpangan. Bukan karena tidak percaya kepada lelaki itu, melainkan karena ia ingin menjaga batas sebagai perempuan yang sudah bersuami. Ia tidak mau menjadi bahan pembicaraan penghuni kontrakan.
Namun, melihat keadaan sekarang, Mia benar-benar berada dalam posisi sulit.
"Mending begitu, Teh." Jamal memberikan komentar. "Bareng saja sama Iki. Lagian pabrik kalian kan masih satu kawasan. Daripada Teteh telat."
Rifki mengangguk. "Iya, Teh. Itu pun kalau Teteh bersedia."
Mia menatap jalanan sejenak, akhirnya, ia menghela napas. "Ya sudah, A. Aku ikut."
Rifki tampak lega. "Sip!" Lelaki berjaket hitam itu buru-buru masuk kembali ke kontrakannya. Tidak lama kemudian, ia keluar sambil membawa sebuah helm berwarna biru muda. Helm itu masih terlihat mengilap, seolah jarang digunakan. "Pakai helm ini, Teh."
Mia menerima helm tersebut dengan sedikit canggung. "Terima kasih, A."
"Sama-sama."
Mia memasang helm itu di kepalanya. Meski sudah mengambil keputusan, hatinya masih diliputi rasa waswas. Semoga tidak ada yang berpikiran macam-macam. Ia hanya menumpang karena keadaan. Tidak lebih.
Sementara itu, Rifki sudah duduk di atas motornya. Mesin kendaraan tersebut dinyalakan. "Naik, Teh." Mia mendekat. "Bisa nggak naiknya?"
"Bisa, A." Mia memegang ujung jok dengan hati-hati.
"Sudah, Teh?"
"Sudah, A." Mia menyahut pelan.
"Pegangan ya, Teh. Supaya nggak jatuh," titah Rifki hati-hati.
"Iya, A." Mia mengangguk kecil, memegang ujung jaket yang dipakai Rifki. Namun, sebelum motor Rifki benar-benar bergerak, ia sempat menoleh ke arah kontrakannya. Entah kenapa, perasaan tidak enak tiba-tiba muncul di dadanya. Ada rasa cemas yang menyelinap. "Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga hal ini tidak menimbulkan fitnah."
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪