" Tolong keluarkan saya darisini...!! Saya mau keluar... Tolong bukain pintunya....!! " Triakan
keras Heru salah seorang eks pekerja pabrik garmen yang berlokasi di sentra industri terkemuka tak satupun ada yang merespon.
Entah tujuannya apa ia berkunjung ke area gudang yang sudah lama tutup akibat krisis yang berkepanjangan. Gudang kimia yang dulunya merupakan salah satu pabrik textile
terbesar yang pernah menyerap tenaga kerja
mencapai ribuan orang itu, kini tinggal nama saja karena sudah di alihfungsikan menjadi gudang penyimpanan zat kimia kain, sangat berbahaya bagi manusia . Gudang itu sendiri dulunya merupakan pabrik Garment terbesar yang pernah ada di negeri ini. Dan sekarang keberadaan gudang itu sendiri terbengkalai, tidak terawat sebagai mana mestinya. Kotor dan berdebu serta sebagian beberapa mesin operatornya banyak yang berkarat. Namun dibalik itu pun gudang kimia yang letaknya tak jauh dari deretan pabrik pabrik lainnya banyak menyimpan misteri kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martin deBs Komarudin1670, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Wisnu dan Vira mulai tersirat
Jumadi sangat geram atas ucapan
Vira yang dianggap tidak mewakili semua kaum buruh yang dipimpin Robin sebagai orang yang mengurus kaum serikat buruh. Tapi ada juga sebagian kecil kaum buruh tidak sejalan dengan apa yang dilakukan Robin yang dianggapnya lambat dalam setiap menangani persoalan kaum buruh. Ya mungkin prinsip Robin apapun permasalahan yang berkaitan dengan tuntutan sosial bagi seluruh pekerja pabrik harus sesuai dengan mekanisme yang ada atau mengikuti aturan yang sudah di sepakati bersama, antara pengurus serikat dan pemimpin perusahaan dalam hal ini Chandra lie sebagai orang yang bertanggung jawab atas krisis yang terjadi. Tidak menghilang begitu saja yang membuat sebagian pekerja pabrik bertanya-tanya atas keseriusan komitmennya untuk memberikan hak atas tuntutan yang telah disetujui bersama. Hanya pak Jumadi yang tau keberadaan orang asing bermata sipit itu berada.
" Saya yakin sekali pasti bapak tau
keberadaan Pak Chandra sekarang
dimana....Sebab saya dengar dia
sering juga datang kesini....! " Kata
Vira mengutip dari beberapa sumber yang bisa dipercaya. Jumadi marah mendengar ucapan Vira seperti itu, akhirnya ia tidak ingin membuang waktu lagi. Pak Jumadi langsung menutup pintu ruang penyimpanan zat kimia tersebut. Corong kipas angin yang menjadi sumber nafas pertahanan hidupnya langsung di matikan Jumadi. Vira terkejut kipas angin yang menjadi sumber daya pertahanan nafasnya tiba-tiba mati
ia berharap Jumadi tidak melakukan hal yang sekonyol itu.
" Tolong Pak...! Bapak jangan konyol
mematikan kipas angin ini....! Saya
bisa mati, Pak...!!! Tolong jangan di
matikan, Pak... ! Pakkk....!!!! " Triak Vira didalam ruangan gudang kimia yang sudah tertutup rapat. Jumadi tidak peduli baginya Vira sama aja dari para pekerja lainnya yang gak pernah menghargai profesi security pada masa itu. Dendam Jumadi terbalaskan, masih banyak lagi yang harus pria tua itu singkirkan, bagi siapa saja yang pernah menyakiti perasaannya di masa itu. Sementara dalam suasana lain di rumah Robin yang dijadikan sebagai tempat para berkumpulnya pengurus mantan kaum buruh pabrik garment sedang mengadakan rapat internal yang cuma diwakili beberapa orang saja, membahas permasalahan seputar nasib buruh yang menuntut para pengurus perusahaan agar menjaga komitmennya untuk memberikan pesangon yang menjadi hak bagi pekerja yang diberhentikan secara ilegal atau tidak mengikuti aturan undang undang yang berlaku di negeri ini. Imbasnya perusahaan pun wajib memberikan kompensasi dari dampak pemberhentian bagi para pekerja itu sendiri.
" Tinggal beberapa bulan saja, akan
ada keputusan dari pengadilan
soal pemberian pesangon kepada
kita semua.....Saya berharap tidak
molor lagi.... " Tegas Robin pada teman temannya yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja secara tidak adil.
" Apakah kamu yakin kesepakatan
ini akan tercapai, Bin....? " Tanya rekannya yang bernama Fadil sambil menoleh ke beberapa temannya yang lain.
" Ya harus bisalah.... Kan pak Chan
sendiri yang mengatakan , kalo
uang pesangon akan diturunkan
setelah ada keputusan dari pihak
pengadilan.... " Jelas Robin pada rekan rekannya yang sudah tidak sabar menunggu moment sangat dinantikan itu dan harus cepat di realisasikan jangan sampai para kaum pekerja mengadakan demo tuntutan ysng lebih besar lagi.
" Tapi apakah pak Hansen bisa kita
percaya Bin..... Sebab pengacara
pak Chan itu tetap ngotot akan
tuntutannya tidak akan keluarkan
uang perusahaan berapa pun bagi
para pekerja.... Alasannya isi surat
perjanjian Chan itu berada dalam
tekanan kita, Bin.... " Tegas Fadil yang mengeluhkan soal keberadaan si pengacara handal itu.
" Sebenarnya ini bukan karena kita
menekan atau menuntut mereka....
Ini soal komitmen perusahaan
yang semestinya mengikuti undang
undang Ketenagakerjaan yang
telah dikeluarkan.... Dan kita hanya
menagih janji mereka.... " Tegas Robin dengan berapi-api didepan forum kecil itu. Beberapa peserta diam sejenak namun tiba-tiba ada yang meng intruksi.
" Itu benar, Robin....Tapi yang jadi
masalahnya disini, ada beberapa
teman kita yang mengambil cara
masing-masing..... Mereka seperti
gak percaya apa yang sedang kita
perjuangkan.... ? " Kata salah satu yang tidak ingin disebutkan identitas dirinya. Robin nampak tenang dan berusaha tidak terprovokasi dengan laporan yang sebetulnya ia sendiri juga sudah tau. Dan itu sah sah aja selagi memang itu benar. Ini kan jaman demokrasi, jadi kalo ada soal
pro dan kontra, menurutnya biasa. Asalkan siap dengan resiko yang akan dihadapi.
" Tapi yang menjadi anehnya, Mas...
Setiap mereka datangi kawasan
pabrik kita dulu....Mereka langsung
gak terdengar lagi beritanya.... "
Kata salah satu peserta forum lagi
menambahkan. Yang lain nampak mengangguk anggukan kepala saja sebagai pertanyaan serius yang harus di kompensasikan.
" Itu juga menjadi pertanyaan untuk
kita.... Cuma yang saya tau, pabrik
Garment kita dulu sudah berubah
fungsi menjadi gudang kimia.... "
Ucap Robin menjawab pertanyaan dari beberapa peserta forum.
" Dan Pak Chandra juga sepertinya
pernah mendatangi gudang kimia
itu....Entah apa urusannya saya gak
tau.... Tapi menurut sumber yang
saya dengar, gudang kimia itu
masih ada keterkaitan dengan
perusahaan Pak Chand...." Kata Robin yang membuat para peserta diskusi bertanya tanya. apa jangan jangan mereka yang sudah datang ke bekas area pabrik itu sudah sukses menemui pak Chandra dan mungkin juga mereka berhasil untuk mendapatkan apa yang menjadi hak mereka selama ini.
" Maksudnya...? " Tanya peserta lain yang sepertinya penasaran dengan ucapan yang dilontarkan Robin, termasuk soal pernah datangnya pak Chandra yang menurutnya kini dianggap sebagai buronan para pekerjanya dulu. Dan angan angan mereka yang menjadi peserta forum
semakin kuat untuk mengikuti jejak sebagian temannya yang berhasil mendatangi gudang itu dan mungkin saja langsung dibayarkan Pak Chan
secara individual. Ada perasaan iri juga terhadap temannya yang sudah tak terdengar lagi setelah mereka datang ke area gudang kimia itu.
" Ya, gudang itukan sebagai bahan
baku garmen juga.... Mungkin saja
sementara waktu pak Chandra
sedang menjadi pemasok zat kimia
untuk perusahaan garmen lain
yang masih bisa bertahan meski
dalam keadaan krisis.... Mungkin
hal itu bisa saja tapi secara garis
besarnya, gudang kimia itu area
tertutup, jadi gak sembarangan
juga orang bisa datang kesana....
Karena zat itu sangat berbahaya..." Kata Robin menjelaskan sebatas yang ia tau. Namun dirinya gak yakin
beberapa temannya yang pernah mendatangi area gudang kimia itu berhasil menemukan Pak Chandra dan sukses pula mendapatkan hak mereka sebagai pekerjanya dulu.
Sebab Robin tau betul tipe Pak Chan orangnya seperti apa. Apalagi yang berurusan dengan keuangan sangat detail sekali dan rumit. Selanjutnya kabar dari Vira dan Wisnu baru saja tersirat, terutama dari beberapa rekannya yang memang mengetahui kalo mereka sedang mengadakan penyelidikan seputar pak Chandra yang menurut kabar suka datang ke area pabrik yang kini sudah berubah fungsi menjadi gudang kimia.
" Wisnu dan Vira gak ada kabar...
Katanya mereka ingin mendatangi
bekas pabrik kita dulu.... " Tanya Supri sambil mencicipi makanan, berupa gorengan di kedai warung pinggir jalanan kampung.