NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Curhatan Tengah Malam

Pukul sebelas malam, kamar Rendra yang super luas itu hanya diterangi oleh pendaran lampu RGB dari PC gaming-nya. Alih-alih tidur demi menjaga ketampanan paripurnanya besok pagi, sang pangeran sekolah malah sedang bergulingan di atas karpet bulu. Kakinya menendang-nendang udara dengan frustrasi.

"Mati gue. Mati asli. Kenapa harus ada ujian praktik pidato besok?!"

Rendra menjambak rambut pirang gelapnya sendiri sampai berantakan. Wajah blasterannya yang biasa terlihat angkuh di sekolah kini kusut masai. Baginya, disuruh berdiri di depan kelas dan ditatap oleh tiga puluh pasang mata itu setara dengan hukuman pancung di depan umum.

Dengan tangan gemetaran, Rendra menyambar ponselnya. Satu-satunya tempat mengadu saat dunianya runtuh adalah aplikasi berlogo robot biru. Dia langsung membuka ruang obrolan privat dengan akun NIGHTMARE.

King_Ren:Nay... P

King_Ren: Nayaaaaaa plis bales

King_Ren: Gue mau pingsan sekarang juga, Nay. Jemput jiwa gue.

Dua menit yang terasa seperti dua abad bagi Rendra berlalu. Akhirnya, status lingkaran hijau di profil Nightmare berkedip.

NIGHTMARE: Apaan sih lu nyepam malam-malam? Gue lagi war di game, keganggu notif lu babi. Ketikan lu ngerusak fokus macro gue.

King_Ren: Besok ada ujian praktik pidato bahasa Indonesia di kelas gue.

NIGHTMARE: Terus? Hubungannya sama gue apa? Lu mau gue jaminin asuransi jiwa atau lu mau gue daftarin ke agen kuburan?

King_Ren: Nay, lu ga paham! Gue harus berdiri di depan kelas sendirian! Tanpa meja, tanpa teks yang boleh dibaca full! Lu tahu kan gue punya social anxiety? Gimana kalau pas gue maju, lutut gue gemeteran terus gue ngompol di tempat? Reputasi pangeran sekolah gue runtuh, Nay! Gue bisa didepak dari silsilah keluarga!

Di seberang sana, di dalam kamar kosnya yang berantakan, Naya mendengus geli membaca pesan bertubi-tubi dari @King_Ren. Cewek itu bersandar di kursi kerjanya sambil mengunyah keripik pedas tingkat dewa.

NIGHTMARE: Ya makanya lu ga usah sok ngide pasang topeng pangeran cool tiap hari di sekolah. Kebanyakan gengsi lu. Tinggal maju, hapalin dikit, bacotin apa yang lu inget, selesai. Lu pikir penonton lu itu juri Indonesian Idol yang bakal ngomentari cengkok lu? Kagak ada yang peduli juga kali.

King_Ren: Peduli, Naya! Cewek-cewek di kelas gue itu toxic-nya beda jalur. Kalau gue kedip aja mereka langsung heboh bikin status, apalagi kalau gue tiba-tiba gagap terus nangis pas pidato! Gue bisa jadi bahan meme satu angkatan di base Twitter sekolah.

NIGHTMARE: Pede bener lu. Emang seganteng apa sih lu di dunia nyata? Dari kemarin komplain muka terus. Palingan muka lu bentukan kayak keset welcomed yang ditaruh di depan minimarket.

Rendra langsung memanyunkan bibirnya di depan layar HP. Mukanya yang keturunan Jerman-Sunda ini selalu dibilang mirip model majalah, tapi di mata Naya nilainya setara keset kaki. Tapi anehnya, Rendra malah suka dikasari begini oleh Naya. Rasanya nyata, bukan pujian palsu.

King_Ren: Pokoknya gue ganteng! Tapi itu ga penting sekarang. Kasih gue tips dong, pawangku yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung... Biar gue ga mati berdiri besok. Gue beneran udah sesak napas ini.

NIGHTMARE: Gila lu, geli gue dibaca. Gausah pake emot sujud gitu. Ya udah, nih tips dari gue. Pas lu maju, mata lu jangan liat mata orang-orang di kelas lu.

King_Ren: Terus gue harus liat apa? Tembok belakang? Nanti guru gue mengira gue lagi kerasukan atau ngajak ngomong hantu.

NIGHTMARE: Bego dipelihara. Kambing tuh dipelihara biar gemuk. Maksud gue, lu liat jidatnya atau ubun-ubun kepala mereka. Dari jarak beberapa meter, tatapan lu bakal keliatan kayak lu lagi natap mereka dengan penuh kharisma dan keyakinan. Padahal aslinya lu lagi ngitungin ketombe atau komedo mereka.

King_Ren: Eh... Serius bisa gitu? Ga bakal ketahuan?

NIGHTMARE: Bisa, kunyuk. Gue dulu pas presentasi kelompok geografi sering pake trik itu karena males liat muka audiens yang komat-kamit. Satu lagi, kalau lu ngerasa deg-degan parah sampai tangan lu tremor, remes pulpen di kantong celana lu sekencang mungkin. Biar rasa panik dan energi negatif lu tersalurkan ke benda mati.

King_Ren: Oh wow... Filosofi meremas pulpen. Menarik.

NIGHTMARE: Serah lu dah. Intinya, lu fokus ke diri lu sendiri. Anggap aja isi kelas lu itu cuma pajangan manekin baju yang ga bisa ngomong.

Rendra membaca deretan pesan itu dengan mata berbinar-binar. Perasaan cemas yang tadi mencekik dadanya sampai membuatnya mual mendadak menguap begitu saja. Tips dari Naya selalu terdengar nyeleneh, tapi anehnya selalu berhasil menyelamatkan kewarasannya.

King_Ren: Naya... Lu beneran malaikat penyelamat hidup gue yang dikirim dari server Discord. Kok lu pinter banget sih mengatasi mental breakdown gini? Kenapa lu ga kuliah jurusan psikologi aja nanti?

NIGHTMARE: Males, ribet dengerin keluhan manusia. Mending jadi admin Discord, kalau ada yang rewel atau toxic, tinggal klik kanan, terus ban permanen. Kelar idupnya. Lebih instan.

King_Ren: Gue serius, Nay. Kalau ga ada lu di internet yang mau dengerin curhatan gue tiap malam, mungkin gue udah pindah ke kutub utara demi menghindari peradaban manusia.

NIGHTMARE: Halah, bacot lu kebanyakan drama. Udah sana tidur, besok kesiangan mampus lu. Inget ya, kalau besok lu gagal pidato dan bikin malu nama server gue, gue kick lu dari role pro-player anonim seminggu.

King_Ren: JANGAN! JANGAN DI-BLOCK ATAU DI-KICK! Iya ini gue merem sekarang! Good night, Naya! Semoga mimpiin desktop shortcut kesayangan lo ini!

NIGHTMARE: Najis. Bye.

Rendra melempar ponselnya ke kasur dengan senyum selebar samudra. Dia langsung menarik selimut tebalnya dengan perasaan damai yang luar biasa. Baginya, Naya adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menerimanya apa adanya tanpa tuntutan harus selalu menjadi sosok sempurna yang tanpa celah.

Keesokan paginya di kelas XI-A, atmosfer terasa begitu mencekam bagi sebagian murid. Bu Retno, guru bahasa Indonesia senior yang terkenal dengan kacamata tebal dan tarikan garis bibirnya yang galak, sudah duduk tegap di mejanya. Buku nilai bersampul merah sudah terbuka lebar di depannya, lengkap dengan sebuah pulpen merah yang siap memberi angka mati.

"Baik, anak-anak. Hari ini kita mulai ujian praktik pidato tanpa teks dengan tema 'Pemuda dan Masa Depan'. Urutan majunya acak ya, Ibu yang panggil namanya langsung," ujar Bu Retno tegas, suaranya menggema di seisi ruangan yang mendadak hening.

Rendra duduk tegak di kursinya yang berada di barisan tengah. Wajah blasterannya kembali ke mode pabrikan: dingin, misterius, angkuh, dan tak tersentuh oleh bumi. Namun, di bawah kolong meja, tepatnya di dalam saku celana abu-abunya, tangan kanan Rendra sudah meremas sebuah pulpen gel hitam erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih dan memerah, persis seperti instruksi yang diberikan Naya semalam.

“Ayo, Rendra. Fokus. Liat jidat, remes pulpen. Liat jidat, remes pulpen,” batin Rendra berulang-ulang seperti sedang merapal mantra pengusir setan.

Dia melirik tipis-tipis ke arah pojok kanan belakang kelas. Naya di sana sedang menopang dagunya dengan malas dengan satu tangan, matanya sayu menatap papan tulis, terlihat mengantuk berat seolah-olah ujian pidato yang ditakuti satu kelas ini tidak ada harganya sama sekali bagi dia.

"Urutan pertama untuk hari ini..." Bu Retno membalik halaman buku nilainya, membuat detak jantung Rendra berhenti sesaat. "...Rendra Adijaya. Silakan maju ke depan."

Bisik-bisik kagum dan pekikan tertahan langsung terdengar riuh dari barisan siswi di kelas.

"Wah, Rendra pertama!"

"Keren banget, pasti pidatonya bakal berwibawa kayak pejabat."

"Ganteng banget gila, pas mau maju aja auranya beda."

Rendra menghela napas panjang dalam diam. Dia bangkit dari kursinya dengan gerakan lambat yang sengaja diatur sedemikian rupa agar terlihat tenang dan penuh karisma di mata publik, padahal jiwanya sudah melompat keluar dari tubuh. Dia melangkah mantap menuju podium di depan kelas.

Bom waktu di kepalanya siap meledak, badai cemasnya mengamuk, tetapi Rendra tidak pernah tahu bahwa badai yang sesungguhnya—badai yang akan mengubah total hidupnya—justru akan dimulai setelah jam pelajaran ini usai, tepat saat dia menemukan sesuatu di meja cewek pojok kelas itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!